
Milly tahu, jika dirinya tidak mungkin kembali ke ruangan dengan keadaan seperti ini. Yang ada dirinya akan menjadi bahan ledekan karyawan lain.
"Yaya gendut sialan. Beraninya dia....!!" geram Milly menatap separuh badannya bagian atas dari pantulan cermin di depannya.
Sangat menyedihkan. Make up yang luntur kemana-mana. Membuat wajah Milly terlihat menyeramkan. Rambut acak-acakan dan basah. Serta pakaiannya juga basah karena terkena air yang jatuh dari rambutnya yang basah.
"Huh.... Beruntung gue bekerja di sini." seringai Milly, menemukan ide untuk mengganti pakaian yang dia kenakan.
Milly membuka sedikit pintu kamar mandi. Memastikan tidak ada orang di luar. Setelah merasa keadaan sepi dan aman, Milly langsung keluar.
Ruangan Tuan Darwin adalah tujuan Milly satu-satunya. "Yaya sialan. Gue akan membalas apa yang telah elo lakukan. Lihat dan tunggu saja. Apa yang akan gue lakukan untuk membalas elo. Ba**." umpat Milly dengan berlari kecil, sembari melihat ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada karyawan yang melihatnya.
Sampai di lorong yang sepi, Milly memperlambat larinya. Dia berjalan seperti biasa, tapi agak cepat sedikit. Sebab di ujung lorong tersebut hanya ada satu ruangan. Yakni ruangan Tuan Darwin.
Dan hanya sedikit atau bahkan jarang ada karyawan yang melalui lorong tersebut. Jika bukan karena ingin bertemu dengan Tuan Darwin yang notabennya pemilik perusahaan, atau tamu dari pemilik perusahaan.
"Apa...!!" ketus Milly saat sekertaris yang berada di depan ruangan Tuan Darwin menatapnya dengan penuh tanya, pasti karena penampilan Milly yang aneh.
Milly berjalan dengan mengabaikan sang sekertaris. Seperti biasa, tanpa meminta izin, Milly masuk begitu saja ke dalam ruangan Tuan Darwin. "Pasti tebakan ku benar. Jika Tuan Darwin ada main dengan Milly." batin sang sekertaris, melihat Milly yang bisa menemui sang atasan kapanpun dia mau tanpa bertanya pada dirinya.
Tapi dia hanya diam tanpa berani bertindak atau berbuat apa-apa. Sang sekertaris tahu di mana tempatnya. Sehingga tidak mungkin dia seberani itu untuk menegur atasannya. Meski sang atasan berbuat salah.
Apalagi kesalahan yang dilakukan sang atasan adalah masuk ke ranah pribadi. Bukan ranah pekerjaan. Jika saja pekerjaan, sang sekertaris biasanya akan mengingatkan beliau. Tapi jika masalah pribadi, dia tak berani mencampurinya.
"Kasihan Nyonya Ratna. Mana sekarang Nona Zoya masih belum sadarkan diri." batinnya, menatap ke arah pintu ruangan Tuan Darwin yang baru saja tertutup dari dalam dengan pandangan sendu.
"Milly. Perempuan jahat yang tidak tahu terima kasih. Nona Zoya sudah mengangkat derajatnya, tapi dia malah melakukan hal seperti ini. Huufft....." ucap sang sekertaris yang hanya berani dia ucapkan di dalam hati.
Lantaran dia juga tahu bagaimana Milly yang hanya lulusan SMA bisa masuk bekerja di perusahaan dan langsung berada di divisi keuangan bagian inti, bersama dengan Zoya.
Meski dirinya yakin akan hubungan terlarang sang atasan dengan sahabat putrinya, tapi sang sekertaris tidak pernah mengatakan sepatah katapun pada siapapun terkait dugaannya tersebut pada orang lain.
"Semoga Tuan Darwin segera sadar. Jika apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar. Apalagi jika Nyonya Ratna sampai tahu. Pasti hatinya akan hancur." batin sang sekertaris, sebagai sesama perempuan, merasa kasihan terhadap Nyonya Ratna.
Tanpa dia tahu, jika sekarang keadaan keluarga Tuan Darwin bersama Nyonya Ratna dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dimana apa yang dia khawatirkan telah terjadi untuk saat ini.
"Ckk,,, pasti sebentar lagi ponsel ini akan berdering." tebak sang sekertaris.
Sebelum ponsel berdering, dia terlebih dulu mengeluarkan ponselnya. Memesan satu set baju serta ********** dan juga sepatu untuk Milly.
Tentu saja sang sekertaris tahu semua ukuran yang akan digunakan oleh Milly. Sebab dirinya pernah diminta Zoya untuk membelikan hal yang sama untuk Milly.
Sang sekertaris juga bisa menebak bagaimana selera berpakaian dari seorang Milly. Mahal dan bermerk. "Pantas saja semua yang melekat di badannya barang mahal." cibir sang sekertaris.
Karena tak mungkin Milly hanya mengandalkan uang gaji dari perusahaan, untuk mencukupi dan memenuhi kehidupannya yang super glamor tersebut. Yang ada, Milly tidak akan bisa makan.
"Make up. Pasti dia juga membutuhkannya." cicit sang sekertaris memesankan perlengkapan make up yang sama merk nya seperti milik Zoya.
"Kamu kenapa Milly?" tanya Tuan Darwin yang terkejut, saat ada yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Dan ternyata itu adalah Milly.
Tuan Darwin segera berdiri dari duduknya. Menghampiri Milly. "Jangan terlalu dekat. Aku basah dan kotor." pinta Milly dengan bibir manyun.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Tuan Darwin penasaran. Sebab Milly benar-benar terlihat begitu kacau.
Milly masih diam. Dia berpikir apa yang akan dia katakan. Jujur, atau berbohong. Tapi akhirnya, dia memilih untuk berbohong. "Aku terjatuh di kamar mandi." cicit Milly dengan memasang ekspresi wajah sedih.
Entah apa yang ada dalam benak Milly. Sehingga dia memilih untuk berbohong. Padahal, jika dia jujur, pasti Zoya akan berada di dalam masalah.
Bukti. Mungkin itu yang menjadi pemikiran seorang Milly. Sebab dirinya sama sekali tidak mempunyai bukti jika Zoya yang telah melakukan perbuatan ini. Hingga dirinya sekarang terlihat seperti gembel.
Kamera CCTV yang ada di depan kamar mandi. Tidak mungkin dia menggunakannya. Yang ada dirinya malah akan terkena masalah.
Karena Zoya masuk lebih dulu dari Milly. Dan terlihat jika Milly mengikuti Zoya. Yang ada, Milly malah akan di tuduh memfitnah. Dan merekayasa kejadian tersebut.
"Astaga Milly. Kenapa kamu tidak berhati-hati. Sebaiknya kita ke rumah sakit." ajak Tuan Darwin dengan ekspresi cemas.
Milly mengernyitkan keningnya. "Untuk apa? Aku tidak sakit. Aku hanya membutuhkan pakaian ganti saja. Kenapa repot-repot ke rumah sakit. Buang-buang waktu saja." tukas Milly menolak ajak Tuan Darwin.
"Bukan itu masalahnya. Tentu saja kamu harus berganti pakaian. Tapi setelah itu, kita akan pergi ke rumah sakit."
"Untuk apa?" tanya Milly bingung.
__ADS_1
"Bagaimana jika ternyata di dalam perut kamu sudah ada janin. Bukankah itu sangat berbahaya. Kita harus segera memeriksanya." kekeh Tuan Darwin, setelah mendengar jika Milly terjatuh di kamar mandi.
Milly menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar. "No...!! Tidak akan. Bulan depan. Seharusnya om ingat itu. Perjanjian kita bulan depan." tekan Milly tidak bisa dirubah sedikitpun.
"Tapi...."
"Tidak ada tapi,,, tapi,,, dan tapi...!!" sela Milly memotong kalimat Tuan Darwin. Kekeh dengan pendiriannya.
Milly memutar kedua matanya dengan jengah. "Lebih baik sekarang perintahkan sekertaris om untuk membelikan saya pakaian serta make up. Saya kedinginan om." perintah Milly.
"Astaga... Maaf. Saya sampai lupa." sahut Tuan Darwin.
Segera Tuan Darwin menghubungi sang sekertaris. Memerintahkannya untuk membelikan apa yang diminta Milly.
"Bersihkan badan kamu di dalam ruang pribadi saya. Jika apa yang kamu minta datang, saya akan mengantarkannya." pinta Tuan Darwin.
"Oke." Milly melenggang masuk ke dalam ruang pribadi Tuan Darwin. Berlagak bagaikan seorang putri.
Tuan Darwin menghela nafasnya secara perlahan. Meminum air putih yang tersedia di mejanya, menghabiskannya dalam sekali minum.
"Ckk.. Ada-ada saja. Semoga calon anakku baik-baik saja." gumamnya. Berharap jika di dalam perut Milly sudah ada benih calon anak yang dia harapkan.
Di ruang tamu, Zoya dengan tenang dan sabar duduk di kursi. Menunggu si pemilik rumah datang untuk menemuinya. ''Nona Zoya, Nyonya Ratna menyuruh saya untuk mengantar Nona ke kamar Nona kami. Silahkan. Nyonya sudah menunggu di sana." papar sang pembantu memberitahu pada Zoya.
Dia sengaja tidak menyebut nama putri majikannya. Sebab keduanya mempunyai nama yang sama. "Baik. Terimakasih." tutur Zoya.
"Kenapa dulu Nona Zoya tidak pernah bermain ke sini. Kami hanya mengenal Nona Milly. Tapi maaf, jika boleh jujur, saya dan teman-teman saya tidak menyukai dia." ujar sang pembantu dengan nada rendah.
Zoya hanya tersenyum menanggapi perkataan sang pembantu. Mana mungkin Zoya mengatakan jika pemilik tubuh ini dulunya adalah perempuan yang selalu dia sakiti.
"Dia angkuh. Suka menyuruh kami dengan nada yang tidak sopan. Bahkan, Nona kami saja tidak seperti itu." bisik sang pembantu, takut di dengar Nyonya Ratna. Sang majikan.
Zoya sebenarnya sedikit terkejut, pasalnya yang dia tahu, Milly selalu bersikap sopan dan ramah pada semua orang di rumahnya. "Apa dia bersikap baik hanya saat ada gue dan kedua orang tua gue." batin Zoya menebak.
Zoya tersenyum miring. Dirinya percaya dengan apa yang dikatakan sang pembantu. Buktinya, sekarang Milly menjalin hubungan dengan sang papa. "Gue harus berhati-hati. Dia benar-benar ular yang penuh bisa racun." lanjut Zoya dalam hati.
Seperti yang dia katakan pada bu Murni, jika dia tidak akan langsung pulang setelah bekerja. Sebab dia akan menjenguk teman kerjanya yang sedang sakit. Yakni putri pemilik perusahaan.
Zoya mengekor di belakang sang pembantu yang membawanya ke kamarnya sendiri. "Silahkan Non." tutur sang pembantu, setelah mereka sampai di depan sebuah kamar.
Sang pembantu membuka pintu kamar, mempersilahkan Zoya untuk masuk ke dalam. "Terimakasih mbok."
"Sama-sama. Oh iya Non, Nona Zoya mau minum apa?" tanya sang pembantu. Sebab tadi Zoya belum dia buatkan air minum.
"Apa saja mbok. Yang penting jangan kopi." sahut Zoya.
"Baik. Akan saya buatkan."
Zoya tersenyum, dan masuk ke dalam. "Tante Ratna." panggil Zoya dengan ramah.
Nyonya Ratna tersenyum. "Kenapa kamu repot-repot datang. Jika ada yang ingin dibicarakan, telepon saya saja." cicit Nyonya Ratna meras sungkan.
"Tidak apa-apa tante. Sekalian saya melihat keadaan Zoya." cicit Zoya, melihat tubuhnya yang berbaring di atas kasur semakin kurus.
"Zoya." panggil Nyonya Ratna, melihat perempuan yang memiliki nama yang sama dengan sang putri, nampak menatap sang putri dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Panggil Yaya saja tante. Biar lebih enak." pinta Zoya, untuk membedakan dirinya dan juga tubuhnya yang sekarang berbaring tak berdaya.
"Baiklah. Yaya. Dan Zoya." Nyonya Ratna tersenyum pahit.
Zoya meminta Nyonya Ratna memanggilnya dengan sebutan Yaya hanya saat dirinya bersama dengan Zoya. Supaya lebih mudah saat berbicara dan tidak salah mengucapkan kata. Karena nama mereka yang sama.
"Bagaimana keadaan Zoya tante, apakah ada kemajuan? Atau,, tetap sama?" tanya Zoya penasaran.
Tentu saja Yaya menginginkan berita yang akan dia dengar adalah berita baik. Sebab yang berbaring di atas ranjang itu adalah dirinya. Tubuhnya.
Nyonya Ratna duduk di samping Zoya yang terbaring tak berdaya. "Masih sama. Sama sekali tidak ada kemajuan. Tante sampai bingung. Tante juga pernah meminta pada papa Zoya, untuk membawa Zoya berobat ke negara lain lagi. Siapa tahu Zoya akan menunjukkan perubahan lebih baik. Alih-alih menyetujuinya, dia malah menolak." ujar Nyonya Ratna berbicara panjang lebar.
Yaya duduk di sebelah Nyonya Ratna, memegang telapak tangannya dengan pelan. "Padahal uangnya juga tidak akan habis hanya untuk berobat Zoya." lanjut Nyonya Ratna merasakan sesak di dadanya.
"Mungkin karena perempuan di samping dia menghalanginya. Dia tidak mengizinkan Darwin membuang-buang uang untuk putri saya." imbuh Nyonya Ratna tersenyum pahit.
__ADS_1
Zoya menatap ke arah tubuhnya. "Apa gue akan mati." batin Zoya melihat tubuh di depannya yang terlihat akan menghentikan nafas jika alat bantu yang tertempel di seluruh tubuhnya di lepas.
"Apa ini alasan Tuhan meletakkan saya pada tubuh Yaya." batin Zoya.
Jika dirinya sekarang bisa membuka kedua matanya. Itu percuma. Sebah badannya yang seperti ini tidak bisa bergerak dengan bebas seperti dulu.
Dan itu artinya, Zoya akan kesulitan membalaskan rasa sakit hatinya pada mereka yang telah membuatnya kecewa. Terutama Milly.
"Tuhan, biarkan hamba tetap di tubuh ini sampai apa yang saya inginkan terlaksana. Sehingga saat itu tiba, saya akan dengan senyum bahagia bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang." batin Zoya berharap.
Zoya tidak menginginkan hal yang muluk melihat keadaannya sekarang. Dia juga tidak mungkin percaya diri dan yakin, jika dia akan bangun dan kembali ke kehidupan semula secara normal. Melihat bagaimana keadaannya.
"Cacat permanen." batin Zoya melihat kedua kakinya yang sudah tidak dibalut perban. Tapi dia melihat jika ada bengkokan pada kedua tulang kakinya.
Lamunan Zoya buyar saat Nyonya Ratna kembali bersuara. "Dia benar-benar perempuan iblis. Tante menyayanginya dengan sepenuh hati. Tapi ternyata, dia membalas kebaikan kami dengan cara seperti ini."
"Benar juga. Kemungkinan papa tidak peduli padaku karena setan iblis yang ada di dekatnya. Milly sialan." geram Zoya dalam hati.
Apalagi yang Zoya tahu, jika sang papa sudah beberapa bulan terakhir tidak pernah melihat dirinya di dalam kamar. Atau sekedar menanyakan perkembangan kesehatan Zoya.
Seakan-akan Tuan Darwin telah lupa, jika dia masih memiliki seorang puteri. Yang kini sangat membutuhkan dukungan moril nya.
"Yaya, tadi tante sudah bertemu pengacara. Tante juga memperlihatkan foto yang kamu kirimkan pada tante." ujar Nyonya Ratna memberitahunya.
"Tapi, apakah dia bisa dipercaya, tante?" tanya Zoya sedikit khawatir jika sang mama akan dalam bahaya.
Nyonya Ratna mengangguk yakin. "Dia bernama Gina. Sahabat tante. Jadi jangan khawatir." tukas Nyonya Ratna menyakinkan Yaya.
"Sahabat." lirih Yaya tersenyum miring. Teringat akan Milly yang juga sahabat terdekatnya. Bahkan Zoya sudah menganggapnya seperti saudara. Memperlakukan dia dengan sangat baik.
Tapi dia malah menusuknya dari belakang. Dan sekarang dia malah menghancurkan keluarganya tanpa mengingat apa yang pernah dia terima dari Zoya dan Nyonya Ratna.
"Dia bukan Milly. Dan saya percaya, dia tidak akan mempunyai sifat seperti Milly. Tante kenal dia. Tante juga kenal keluarganya." jelas Nyonya Ratna, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan muda di depannya tersebut.
Zoya tersenyum mendengar kalimat sang mama. "Iya tante. Yaya percaya dengan pilihan tante."
"Oh iya, tante punya nomor ponsel baru. Nanti, biar tante hubungi kamu terlebih dulu." jelas Nyonya Ratna.
"Sekalian, Yaya minta nomor ponsel pengacara itu ya,, tante." pinta Zoya.
"Iya, nanti akan Tante kirimkan ke nomor kamu." sahut Nyonya Ratna.
"Tante,,,, Yaya mau tanya. Apa selama ini, Milly pernah membicarakan keluarganya. Soalnya, Zoya pernah mengatakan pada saya, jika Milly orangnya sangat tertutup. Sama sekali tidak menyinggung keluarganya." ujar Zoya.
Nyonya Ratna menggeleng. "Tidak pernah. Perempuan itu hanya mengatakan jika dirinya anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Saat saya bertanya mengenai panti tersebut, dia juga tidak mengatakannya. Dia hanya berkata, tidak ingin mengingat kehidupannya dulu yang pahit." jelas Nyonya Ratna.
"Sama." batin Zoya. Apa yang dikatakan Milly pada dirinya dan sang mama sama.
Tak lama, seorang pembantu masuk dengan nampan di tangannya. Sebuah gelas berisi berisi air berwarna kuning ada di atas nampan. "Silahkan Nona. Saya buatkan jus jeruk." cicit sang pembantu.
"Terimakasih mbok. Taruh saja di atas meja. Biar nanti saya ambil sendiri." pinta Yaya, sebab dirinya dan Nyonya Ratna duduk di kursi dekat ranjang Zoya.
"Baik." sahut sang pembantu, melakukan apa yang diminta Yaya.
"Nyonya, di bawah ada putra dari pak Dokter." ujar sang pembantu memberitahu sang majikan.
"Antar masuk ke sini mbok. Sekalian buatkan minum." pinta Nyonya Ratna.
"Baik Nyonya."
"Zoya mau diperiksa tante?" tanya Zoya.
Nyonya Ratna mengangguk. "Benar. Tapi dia akan diperiksa anak dari dokter yang biasanya memeriksa Zoya. Kebetulan, beliau sedang berada di luar kota. Sehingga menyuruh putranya untuk menggantikannya hari ini."
"Keluarga dokter." tukas Zoya, mendengar jika bapak dan anak mempunyai profesi yang sama.
"Yaya, kedua orang tua kamu bekerja di mana?" tanya Nyonya Ratna yang memang belum tahu sama sekali mengenai keluarga Yaya.
Zoya terdiam sesaat. Ingin rasanya mulutnya menjawab dengan jujur. Tapi dia tidak mungkin melakukannya.
"Bapak sama ibu membuka toko kelontong di depan rumah, tante." jelas Zoya yang mendapat anggukan dari Nyonya Ratna.
__ADS_1
Terdengar pintu di buka dari luar. Baik Zoya maupun Nyonya Ratna menoleh ke arah pintu, melihat sang dokter yang baru saja datang.
Senyum di bibir Zoya lenyap seketika melihat siapa yang datang. Berbeda dengan Nyonya Ratna yang langsung menyambut kedatangan dokter muda tersebut.