MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 52


__ADS_3

Tanpa mengatakan sepatah katapun, Nyonya Ratna keluar dari mobil. Dirinya tak peduli jika sang sopir mengatakan pada sang suami apa yang dilakukannya hari ini.


Baginya, tak perlu ada yang harus dia sembunyikan dari sang suami. Terlebih Tuan Darwin dengan jujur mengatakan padanya apa yang dia inginkan dak apa yang akan dia lakukan.


Cukup mendatangi salah satu alamat rumah yang diberitahu oleh Zoya, sudah membuat Nyonya Ratna percaya jika Milly adalah perempuan yang akan menjadi madunya.


Nyonya Ratna belum sanggup untuk mengunjungi salah satu alamat Milly yang diberikan oleh Zoya. Beliau belum siap melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri.


Seandainya ternyata di dalam rumah yang satunya, sang suami sedang bersama dengan Milly. Dimana keduanya tengah memadu kasih. Pasti akan membuat luka hatinya yang ingin dia pulihkan, akan kembali terasa sakit lagi.


Jika saja perempuan tersebut bukanlah Milly, kemungkinan besar Nyonya Ratna tak akan terluka sedalam ini. Sebab, awalnya beliau sudah mengikhlaskan jika sang suami menikah lagi. Asalkan biaya pengobatan Zoya tetap berjalan.


Namun luka dihatinya bertambah terbuka lebar saat mengetahui jika perempuan yang akan menjadi madunya adalah Milly.


Perempuan yang selama ini telah diperlakukan seperti putrinya sendiri. Bahkan, saat Nyonya Ratna membelikan sesuatu untuk Zoya, beliau juga kepikiran pada Milly. Dan juga membelikannya untuk Milly.


Nyonya Ratna juga melihat jika sang suami juga menyayangi Milly layaknya Tuan Darwin memperlakukan Zoya, putrinya sendiri.


Nyatanya, semua yang dia lihat memang benar adanya. Tuan Darwin benar menyayangi Milly. Hanya saja, rasa yang ada antara Nyonya Ratna dan Tuan Darwin berbeda jauh.


Sesampainya di rumah, Nyonya Ratna memanggil salah satu pembantu di rumahnya. ''Mbok,,, pindahkan semua bajuku ke kamar Zoya. Minta beberapa orang untuk membantu." pinta Nyonya Ratna dengan senyum tetap tersungging di bibirnya.


Si mbok hanya mengedipkan kedua matanya dengan lucu. "Nyonya..." panggi si mbok, manakala Nyonya Ratna berjalan ingin menaiki anak tangga


Nyonya Ratna kembali membalikkan badan dan menghentikan langkahnya. "Maksud Nyonya bagaimana. Apa hanya sepasang saja, untuk tidur nanti malam?" tanya si mbok yang sebenarnya bingung.


Bukannya marah, Nyonya Ratna tersenyum manis. Beliau tahu mengapa sang pembantu bertanya seperti itu. Sebab, semalam beliau juga tidur di kamar Zoya. "Semua. Bukan sepasang atau sehelai. Semua pakaian saya. Semua pindahkan ke kamar Zoya."


"Baik Nyonya." sahut si mbok yang masih bingung, tapi tak berani bertanya lebih jauh. Dirinya sadar diri. Jika dirinya hanyalah seorang pembantu. Dan yang akan ditanya adalah majikan mereka.


"Nanti kalian tata baju Zoya. Jadi baju milik saya bisa masuk ke dalam. Tak perlu membawa lemari yang baru." tukas Nyonya Ratna.


"Baik Nyonya."


"Saya tunggu di kamar Zoya ya mbok."


"Baik Nyonya."


Sang pembantu segera memanggil rekannya sesama pembantu untuk membantu dirinya memindahkan semua pakaian Nyonya Ratna ke kamar Zoya.


"Apa terjadi sesuatu mbok?" tanya seorang pembantu yang membantu si mbok memasukkan pakaian Nyonya Ratna ke dalam koper. Supaya mudah mereka bawa ke kamar Zoya.


"Entahlah." sahut si mbok. Padahal beliau juga merasakan ada yang berbeda dengan kedua majikannya beberapa bulan terakhir. Terutama Tuan Darwin.


Setelah beberapa bulan Zoya tak sadarkan diri dan hanya berbaring bagai mayat hidup di atas ranjang, Tuan Darwin tak pernah sekalipun masuk ke dalam kamar Zoya. Meski hanya sekedar melihat perkembangan sang putri.


Selain itu, si mbok juga selalu memperhatikan perilaku sang majikan mereka yang lelaki. Dimana Tuan Darwin selalu pulang lewat tengah malam, bahkan hampir menjelang subuh. Dan akan meninggalkan rumah setelah sarapan. Membuat kedua majikannya dipastikan tak punya waktu hanya untuk sekedar berbincang.


"Memang mbok nggak tahu apa yang terjadi?" tanyanya penasaran. Sebab, dirinya dan juga para pembantu lain tahu jika si mbok sangat dekat dengan majikan mereka yang perempuan. Sebab beliau bekerja lama di sini.


"Saya nggak tahu. Sudahlah. Sebaiknya kita segera menyelesaikan pekerjaan kita. Pasti Nyonya sudah menunggu di kamar Nona Zoya." tegur si mbok, supaya rekannya tidak terus bertanya.


Sementara Nyonya Ratna duduk di tepi ranjang dimana sang putri berbaring. "Cantiknya mama, kapan kamu akan membuka mata kamu, sayang?" tanya Nyonya Ratna sembari mengelus lembut pipi tirus sang putri.


"Sus,, mulai malam ini kamu tidur di kamar lain ya. Biar saya yang menemani Zoya setiap malam." perintah Nyonya Ratna.


"Baik Nyonya." sahutnya, sembari menyiapkan air untuk mengelap badan Zoya.


"Biar nanti mbok yang menyiapkan kamar untuk sus." ujar Nyonya Ratna.


"Baik Nyonya." sahut suster yang sebenarnya merasa curiga. Tapi dirinya sama halnya dengan sang pembantu yang sadar diri, mereka siapa.


Tak lama berselang, dua orang pembantu masuk ke kamar Zoya dengan membawa beberapa koper yang berisikan pakaian Nyonya Ratna. "Astaga,,, apa semua ini pakaian saya?" tanya Nyonya Ratna tidak percaya.


"Iya Nyonya."


"Gusti,,, kenapa banyak sekali. Kayak mau membuka toko pakaian saja." tukas Nyonya Ratna, tak menyangka jika sebanyak itu pakaiannya.

__ADS_1


"Jangan di masukkan dulu ke dalam almari. Biar saya pilah dulu. Mana yang mau saya pakai." jelas Nyonya Ratna.


"Baik Nyonya." sahut salah satu pembantu.


"Mbok,,, bersihkan salah satu kamar ya, karena mulai malam ini saya akan tidur dengan Zoya, biar suster tidur di kamar lain." pinta Nyonya Ratna.


"Baik Nyonya."


Seperti yang diinginkan Nyonya Ratna, dirinya memilah pakaian mana yang sering dia pakai. Lalu dimasukkan dan di tata dengan rapi di dalam almari.


Sementara pakaian yang Nyonya Ratna anggap tidak akan dia pakai lagi, dia berikan pada para pembantunya. Entah akan mereka pakai, atau mereka buang.


"Mbok,,, saya mau makan malam di kamar saja." ujar Nyonya Ratna memberitahu. Yang artinya Nyonya Ratna tidak akan turun untuk makan malam.


"Baik Nyonya. Apa saya perlu menyiapkan makan malam untuk Tuan?" tanya si mbok.


Sejenak Nyonya Ratna terdiam. Tak segera menjawab apa yang ditanyakan oleh si mbok. "Tidak perlu mbok. Belum tentu juga Tuan akan makan malam di rumah." ujar Nyonya Ratna.


Sebab, sudah hampir sebulan Tuan Darwin bisa dihitung tangan berapa kali makan malam di rumah. Dan Nyonya Ratna selalu makan sendiri tanpa pernah protes.


"Baik Nyonya." para pembantu meninggalkan kamar Zoya, meninggalkan suster dan Nyonya Ratna.


"Sus,, beristirahatlah. Aktifkan ponsel kamu. Sewaktu-waktu saya membutuhkan bantuan, saya akan menghubungi kamu." jelas Nyonya Ratna.


"Baik Nyonya. Maaf sebelumnya,,, saya di sini bekerja. Dan digaji. Sudah kewajiban saya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan." tutur suster dengan senyum di bibirnya.


"Iya sus." sahut Nyonya Ratna.


"Nyonya tenang saja. Saya yakin. Nona Zoya pasti akan sembuh. Jangan patah harapan. Kita harus terus berdo'a. Jangan putus asa." cicit sang suster dengan menyemangati Nyonya Ratna.


Nyonya Ratna mengangguk pelan. Sang suster sepertinya tahu jika Nyonya Ratna sedang dalam masalah.


"Saya keluar dulu Nyonya, permisi." pamitnya.


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Pak Endri, Zoya cemberut dengan duduk di depan televisi. Entah kenapa dirinya merasa kesal dengan Zain.


"Nggak ada apa-apa." tukas Zoya dengan sinis.


Pak Endri yang duduk di samping Zoya dan bu Murni, tapi beda kursi tersenyum samar. Juga dengan bu Murni.


Apalagi ini pertama kalinya Zoya bersikap seperti ini. Sebab, biasanya dia selalu tersenyum dan bergelayut manja pada sang ibu.


"Pasti karena lelaki." celetuk pak Endri menggoda Zoya, tapi tak menatap ke arah Zoya. Melainkan memandang ke layar televisi yang menyala.


"Idiiihh,,, ayah...!! sok tahu..!!" seru Zoya dengan nada rendah.


Bu Murni tersenyum samar. Beliau juga semakin tertarik untuk menggoda Zoya. "Siapa lelakinya. Beritahu ibu dong." goda Bu Murni.


"Ibu....!!" seru Zoya dengan kesal.


Pak Endri dan bu Murni tertawa pelan. Keduanya tak bisa lagi menahan tawa mereka sedari tadi. "Jujur saja, siapa yang mendekati kamu?" tanya Bu Murni dengan tangan mencolek dagu Zoya.


"Ibu...." kesal Zoya.


Tiba-tiba ponsel Zoya berdering. Kali ini, Zain menelpon Zoya, bukan lagi mengirimkan pesan tertulis. "Orang ini kenapa sih,,, tadi ngirim pesan. Sekarang telepon. Nggak ada kerjaan banget." kesal Zoya hanya melihat ke layar ponselnya.


Bu Murni mengintip siapa yang menghubungi sang putri, hingga Zoya begitu marah. "Zain." ucap bu Murni pada sang suami tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya saja.


Pak Endri tersenyum samar. Keduanya lantas berpura-pura tak tahu jika Zoya sedang kesal pada Zain. "Mungkin cowok itu suka dama kamu." goda pak Endri.


Zoya menatap tajam pada pak Endri. "Ayah kok tahu, kalai cowok?" tanya Zoya menyelidik.


Zoya dengan kilat mengalihkan pandangannya ke samping. Dimana bu Murni duduk tepat di sampingnya. Sama seperti Zoya, bu Murni juga segera mengalihkan pandangannya ke layar televisi.


Zoya dengan bibir cemberut mendekap ponselnya. "Ibu,,,, pasti ngintip ya.... Bintitan low matanya nanti." rajuk Zoya dengan manyun.


"Jangan menuduh jika tidak ada bukti." tukas bu Murni.

__ADS_1


Zoya lantas beranjak dari duduknya. Ditatapnya dengan tajam bu Murni dan pak Endri secara bergantian. "Awas ya..." dengan bibir cemberut Zoya meninggalkan keduanya dan masuk ke dalam kamar.


Pak Endri dan bu Murni langsung tertawa lepas sepeninggal Zoya. "Bapak ngrasa nggak sih, setelah bangun dari tidur panjangnya Zoya sekarang berubah. Tapi ibu suka." cicit bu Murni tersenyum menatap pintu kamar Zoya.


Pak Endri mengangguk. "Benar. Awalnya bapak takut jika perubahan Zoya akan membuat Zoya tidak baik. Tapi jika bapak lihat, Zoya malah semakin baik. Tidak penakut seperti dulu." sahut pak Endri.


"Benar,,, sampai ada ibu-ibu yang datang melabrak kita." ujar Bu Murni.


"Huusstt... Jangan keras-keras bu, bapak takut Zoya mendengarnya." ujar Pak Endri yang mendapat anggukan dari sang istri.


Mengenai ibu-ibu yang datang memarahi pak Endri dan bu Murni karena tingkah Zoya yang menjewer anak kecil, keduanya sepakat untuk tidak memberitahu Zoya.


Baik pak Endri atau bu Murni mempunyai alasan untuk tidak memberitahu Zoya. Keduanya takut jika Zoya akan kembali berubah menjadi penakut dan hanya berdiam diri di rumah.


Dan alasan kedua, dengan perubahan Zoya yang menjadi pemberani serta galak, keduanya juga khawatir Zoya malah akan mencari ibu dari anak tersebut. Dan malah keadaan akan semakin runyam.


Tanpa keduanya tahu, tepat di samping pak Endri berdiri sosok yang tak bisa dilihat oleh mata. Siapa lagi jika bukan Yaya. Anak pak Endri dan bu Murni.


Yaya memasang tampang sedih dan muram. Apalagi jika bukan karena mendengar perbincangan kedua orang tuanya.


Yang mengatakan jika mereka suka dengan perubahan sifat dan sikap sang putri. ''Pak,,, bu,,, dia memang Zoya. Bukan Yaya. Dia bukan putri ibu dan bapak.'' ucap Yaya yang sayangnya tidak bisa di dengar oleh siapapun dengan raut sedih.


Bagaimana Yaya tidak sedih, keduanya sangat menyayangi Zoya. Seperti keduanya menyayangi dirinya. Bahkan keduanya lebih menyukai sifat dan sikap Zoya ketimbang Yaya.


Yaya hanya bisa bersedih seorang diri. "Yaya sebenarnya ingin sekali kembali ke tubuh Yaya lagi bu, tapi bagaimana caranya." ujar Yaya, apalagi tubuhnya sudah ditempati oleh jiwa milik Zoya.


"Tapi,,,, Yaya juga takut. Yaya masih belum berani menghadapi mereka yang selalu merendahkan Yaya. Yaya ingin sekali seperti Zoya.'' cicit Yaya, teringat kejadian di perusahaan hari ini.


Emosi Yaya menjadi sedih, juga bercampur rasa takut dan bingung. Semua emosi bercampur aduk menjadi satu. Tentu saja membuat Yaya menjadi frustasi. Dan tak bisa mengendalikan diri.


"Hiksss,,, hikss,,,, Aaa....!!" teriak Yaya sembari menangis.


Prang.... prang..... tiga buah pigura yang terdapat fotonya terjatuh dari tempatnya. ''Astaghfirulloh....'' seru bu Murni terkejut sembari menaruh telapak tangannya di depan dada.


Juga dengan pak Endri yang juga terkejut, beliau langsung berdiri dari duduknya. Memandang ke arah pigura yang terjatuh. "Pak..." panggil bu Murni seketika perasaannya merasa tak enak.


Bukan hanya bu Murni dan pak Endri yang terkejut. Bahkan Zoya saja sampai keluar dari dalam kamar. "Ayah,,, ibu,,,, apa yang jatuh?" tanya Zoya langsung berlari menghampiri keduanya.


"Kalian jangan mendekat. Biar ayah yang membersihkannya." tukas pak Endri, takut sang istri dan sang putri terkena pecahan kaca.


Bu Murni langsung memeluk Zoya dengan erat. "Tidak apa-apa. Hanya piguranya yang pecah. Nanti ibu ganti lagi yang baru." bu Murni mencoba menenangkan Zoya yang wajahnya terlihat tegang.


Padahal, sebenarnya bu Murni merasakan hal yang aneh. Tapi beliau sebisa mungkin tetap terlihat tenang di depan Zoya. "Mungkin fotonya tahu, jika piguranya minta ganti." tukas pak Endri bermaksud membuat suasana menjadi cair.


Zoya hanya tersenyum. Sama dengan bu Murni, Zoya merasakan ada yang tidak beres. Pandangan Zoya menyapu ke sekitar mereka.


"Gue merasa, hari ini semua berjalan tak normal. Seperti ada yang mengawasi gue." batin Zoya.


"Yaya." lanjut Zoya dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba dirinya teringat dengan Yaya. "Tidak,,, mana mungkin Yaya berada di sekitar kita." lanjut Zoya menolak keberadaan Yaya yang mungkin saja ada di dekatnya.


Perasaan Yaya dan Zoya sebenarnya memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama menginginkan kembali ke dalam tubuh mereka. Hanya saja mereka tak tahu bagaimana caranya.


Dan keduanya juga memiliki ketakutan yang sama. Jika Yaya takut menghadapi mereka yang selalu menghinanya, Zoya takut kembali ke dalam tubuhnya karena keadaan tubuh Zoya sendiri.


Sebab, jika jiwa Zoya kembali ke dalam tubuhnya sendiri. Pasti Zoya tak bisa berbuat banyak. Sebab Zoya melihat sendiri bagaimana keadaan tubuhnya yang sangat memprihatinkan.


Dan seandainya Zoya benar-benar kembali ke dalam tubuhnya, dapat dipastikan jika Zoya tak akan bisa membalas apa yang dilakukan sang papa dan Milly terhadap sang mama.


Zoya menghela nafa panjang. Menormalkan kembali perasan yang tak enak dalam dirinya. "Jika elo memang berada di sekitar gue, gue mohon. Pinjamkan tubuh elo pada gue. Sampai gue bisa membalas apa yang Milly lakukan pada elo. Dan juga pada mama gue." batin Zoya.


Dan anehnya, jiwa Yaya mendengar apa yang baru saja Zoya katakan dalam hati. Amarah yang sempat menggebu, perlahan menghilang.


Yaya menatap Zoya dengan lamat. "Milly. Membalas Milly. Membalas perbuatan Milly pada gue. Dan pada elo."


Yaya juga menjadi penasaran, apa yang sudah Milly lakukan pada Zoya. Sehingga membuat Zoya ingin membalas apa yang dilakukan Milly pada dia. Sebab, selama ini yang dia tahu, mereka berdua mempunyai hubungan yang baik. Bahkan seperti saudara kandung.


"Aku harus mencari tahu. Apa yang Milly perbuat."

__ADS_1


Dengan Yaya bertekad mencari tahu apa yang Milly perbuat, itu artinya Yaya alan terus mengikuti Zoya kemanapun Zoya melangkahkan kaki.


__ADS_2