
"Bagaimana? Apa elo bisa membantu gue?" tanya Zoya pada Miko.
Miko diam, menatap Zoya dengan penasaran. Bagaimana Miko tidak merasa penasaran, sebab selama ini Milly memang tidak menyukai Zoya, perempuan berbadan gemuk tersebut. Dan Zoya hanya diam saja, seolah tak peduli.
Zoya memutar kedua matanya dengan jengah. "Ayo, jawab." bentak Zoya kehilangan rasa sabarnya menunggu Miko mengeluarkan suara.
"Apa tujuan kamu?" tanya Miko.
Zoya membuang nafas kasar. Menyandarkan tubuh besarnya di tembok. "Balas dendam." ungkap Zoya dengan singkat.
Terlalu rumit jika Zoya membuat alasan lainnya. Jika Zoya menyebutkan kata dendam, masih sangat rasional. Karena Miko sendiri juga tahu bagaimana perlakuan Milly selama ini pada Zoya.
"Ckk,,,, jika elo nggak bisa, gue akan cari orang lain. Buang-buang waktu saja." decak Zoya.
"Tunggu." Miko menghentikan Zoya yang hendak pergi meninggalkan dirinya sendiri.
"Akan aku bantu. Jadi kamu jangan meminta bantuan orang lain." tutur Miko, mengulurkan tangannya.
Zoya menerima uluran tangan Miko, dengan mengaitkan jari kelingking Miko dengan jari kelingking miliknya. "Kayak anak kecil saja." ketus Zoya.
Zoya menatap jarinya yang gemuk. "Jari gue yang besar, apa jari elo yang kecil." cicitnya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Miko untuk kembali ke ruang kerja.
Miko tersenyum sembari menatap jari kelingkingnya juga. "Sekarang elo mulai berani menatap wajah lawan bicara elo." lirih Miko melihat perubahan pada diri Zoya.
Tanpa mereka ketahui, sesosok asing berdiri di dekat keduanya. Siapa lagi jika bukan Yaya. Dia melihat serta mendengar semuanya. "Karena dia Zoya, bukan Yaya yang selama ini kamu kenal." ucap Yaya dengan tatapan sedih.
Selama ini, Yaya memendam rasa suka pada Miko. Hanya saja, dia sadar diri dan tahu diri. Siapa dia dan siapa Miko. Tak mungkin, lelaki setampan Miko mau dengan dirinya.
"Jika saja aku tahu, selama ini kamu memperhatikan aku secara diam-diam. Aku pasti akan mengungkapkan perasaanku pada kamu." ujar Yaya.
Selama menjadi arwah, Yaya juga selalu memperhatikan Miko. Dimana Miko selalu mencuri pandang ke arah Zoya saat mereka berada di dalam ruang kerja.
Miko mengusap-usap lengannya. "Aneh, kenapa gue merasa ada yang memperhatikan gue." lirih Miko, segera pergi ke arah hang berlawanan dengan Zoya. Karena Miko hendak menuju toilet.
Sedangkan, langkah Zoya terhenti saat melihat Milly berjalan dari lorong yang berlawanan arah dengannya. Dan Zoya dapat menebak, dari mana Milly. Sebab, di ujung hanya ada satu ruangan. Yakni ruang pemilik perusahaan. Papa dari Zoya, Tuan Darwin.
"Calon ibu tiri. Pantas, papa begitu tergila-gila sama kamu. Pasti goyangan kamu di ranjang sangat hebat." gumam Zoya menatap sinis ke arah Milly.
Zoya kembali melangkahkan kakinya, tapi dia kembali menghentikan langkahnya melihat sesuatu yang akan membuatnya mengerti, kenapa Reiner memintanya untuk menjauhi Milly.
"Reiner, ngapain dia ke sini?" tanya Zoya pada diri sendiri.
Entah apa yang Reiner dan Milly bicarakan, Zoya tidak bisa mendengarnya karena jarak mereka yang jauh. "Sial, apa yang mereka bicarakan." geram Zoya merasa kesal sendiri.
Zoya hanya bisa melihat gerak gerik keduanya. Zoya tak menyembunyikan badannya, sebab percuma jika dia bersembunyi di balik tiang di depannya. Badannya yang besar pasti akan terlihat. Meski berada di balik tiang.
Zoya membulatkan kedua matanya, melihat Milly tiba-tiba meraih tangan Reiner dan menggenggamnya. Meski dari jauh, Zoya melihat ekspresi sendu dari Milly.
''Apa yang mereka bicarakan?!" geram Zoya penasaran.
"Eh...." ekspresi wajah Zoya seketika berubah, dirinya baru ingat jika dia sekarang memakai tubuh Yaya. Tak masalah jika dia mendekat. Bahkan berjalan melalui keduanya.
"Ya,,, benar. Kenapa gue khawatir." Zoya menatap tubuh gemuk milik Yaya.
Zoya memegang perutnya yang seperti sedang hamil. "Kapan elo akan lahir. Lemak." sungut Zoya.
Pasalnya, niat Zoya untuk melakukan diet terhalang dengan segudang rencananya demi menyelidiki Milly. "Cckkk,,,, entahlah. Jalanin saja. Yang terpenting gue menjaga pola makan." cicitnya sambil berjalan semakin dekat dengan Reiner dan Milly.
Semakin dekat, indera pendengaran Zoya sedikit demi sedikit bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan.
"Aku mohon Reyy,,,, kamu maukan?" tanya Milly mengiba, masih memegang lengan Reiner. Entah apa yang mereka perbincangkan sebelumnya. Sehingga Milly memohon pada Reiner.
__ADS_1
Reiner mengibaskan tangan Milly dengan kasar. "Lepas murahan...!!" geram Reiner.
Tak mungkin dirinya membuat keributan di perusahaan milik Tuan Darwin. "Murahan." gumam Zoya semakin penasaran.
Reiner dan Milly tak melihat jika Zoya mendekat ke arah mereka. Pasalnya keduanya fokus pada apa yang mereka bicarakan. "Minggir.... jangan halangi jalan gue." usir Reiner menatap tajam Milly.
"Reiner...!! Sadar...!! Zoya tidak akan pernah bangun lagi. Tidak akan...!!" seru Milly.
Zoya langsung menghentikan langkah kakinya mendengar namanya disebut. Beruntung, lorong sedang dalam keadaan sepi.
Lantara semua karyawan berada di ruangan masing-masing. Apalagi, lorong tersebut memang jarang dilewati oleh karyawan, sebab hanya menuju satu ruangan. Ruang kerja sang pemilik perusahaan.
"Apa yang mau elo harapkan. Lebih baik elo terima gue. Reiner....!! Gue sahabat baik Zoya. Gue yakin, Zoya akan merestui hubungan kita." lanjut Milly.
Zoya terdiam seketika. Detak jantungnya seakan berhenti sejenak. Aliran nafasnya seakan tersekat di tenggorokan.
"Jangan harap. Sampai kapanpun, gue nggak sudi menyentuh perempuan seperti elo. Murahan." sinis Reiner tersenyum jijik menatap Milly.
Zoya tersenyum kecut. "Jadi, ini alasannya, kenapa Reiner menyuruh gue menjauhi Milly." batin Zoya merasa dadanya seperti ada batu yang menghimpitnya.
Zoya menghela nafas perlahan. Mengatur kembali deru nafas dan detak jantungnya yang baru saja menggila. "Kenapa elo harus terkejut. Reiner dan Milly. Keduanya sama. Mereka berdua pengkhianat. Ingat, air mata elo sangat berharga." lirih Zoya menatap penuh benci kearah mereka berdua.
"Milly, ternyata elo serakah sekali. Elo sudah mengambil papa dari mama. Dan sekarang, elo juga mau menguasai Reiner. Benar-benar hebat." cicit Zoya.
Zoya melihat letak kamera CCTV yang berada di sekitar mereka. Salah satu sudut bibir Zoya terangkat ke atas. "Milly,,, elo akan mendapatkan hadiah atas kelakuan elo. Lihat saja."
Dengan langkah tenang dan santai, Zoya mendekat ke tempat keduanya. Milly menatapnya dengan tajam. Sedangkan Reiner menatap Zoya tanpa ekspresi.
"Bisa minggir. Jika ingin bermesraan, pesan hotel. Gue rasa kalian orang yang nggak akan kekurangan uang." sindir Zoya.
"Gendut,,, tutup mulut busuk elo." sahut Milly dengan kasar.
"Memang bau. Ya,,,, nafas gue memang bau. Tapi..." Zoya menjeda kalimatnya, lebih mendekat ke tempat Milly berdiri.
"Di sini, tercium bau yang sangat menyengat sekali. Bau-bau pengkhianat." cibir Zoya tersenyum remeh.
Milly mengangkat tangan, hendak menampar Zoya. Tapi Reiner dengan sigap menahan tangan Milly. Lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Upss,,,, makasih Tuan muda Reiner." ujar Zoya tersenyum.
"Lihat nona Milly, orang setampan Tuan Reiner saja bisa membedakan. Mana bau mawar, mana bau bunga bangkai." ejek Zoya berjalan melenggang melewati mereka berdua, untuk menuju ke ruangan Tuan Darwin.
Tahang Milly mengeras, menatap tajam punggung Zoya yang menjauh dari mereka. Dan Reiner, tanpa pamit atau mengatakan sesuatu, dia juga meninggalkan Milly. Mengikuti kemana arah Zoya melangkah. Sebab dirinya juga ingin bertemu dengan Tuan Darwin.
"Gendut sialan... Berani sekali dia mempermalukan gue di depan Reiner..!!" geram Milly.
Tampak jelas Milly akan membalas apa yang dilakukan oleh Zoya pada dirinya. "Semakin hari, dia semakin berani." gumam Milly.
Mengingat bagaimana dulu Zoya selalu menundukkan kepalanya. Menuruti setiap apapun yang dia katakan. "Benar, sejak dia sadar dari koma, dia seperti bukan Yaya yang dulu. Bahkan, dia meminta untuk dipanggil Zoya." lirih Milly merasa heran.
Milly menghembuskan nafas kasar. "Sial,,,, bagaimanapun caranya, gue akan membuat gendut menyesal, karena semakin berani dengan gue." tukas Milly tersenyum penuh makna.
Tanpa Milly tahu, tepat di sampingnya ada sosok tak kasat mata. Jiwa dari Yaya. "Jadi, Zoya membenci Milly karena ternyata Milly menyukai, bahkan ingin merebut Reiner." ujar Yaya, yang hanya tahu masalah itu.
"Wanita tak tahu malu. Tak tahu balas budi." geram Yaya. Sebab Yaya tahu bagaimana Zoya beserta keluarga Zoya memperlakukan Milly.
Dengan amarah, Yaya mengangkat tangan kirinya. Mendorong tubuh Milly ke belakang dengan kencang. "Aaaaa,,,, astaga. Ada apa ini?" tubuh Milly terdorong ke belakang.
Tapi Milly masih bisa menyeimbangkan badannya. Sehingga dia tidak terjatuh. Milly menengok ke kanan dan kiri. Dimana lorong tampak sepi.
"Nggak mungkin ada hantu. Tapi,,,, bisa juga." segera Milly bergegas meninggalkan tempat tersebut dengan rasa takut.
__ADS_1
Sedangkan Yaya masih berada di tempatnya, menatap tangannya dengan ekspresi bingung. "Aku,,,, aku, aku bisa menyentuh orang. Ba-ba-bagaimana mungkin." tuturnya merasa kebingungan.
Kemungkinan besar, amarah Yaya yang membuat Yaya bisa melakukan apa yang dia inginkan. Sehingga dia bisa menyentuh tubuh Milly dengan mudah.
Langkah Zoya terhenti di depan meja sekertaris Tuan Darwin. "Loh,,, kenapa belum mbak kasih ke Tuan Darwin?" tanya Zoya, pasalnya berkas yang dia titipkan pada sang sekertaris masih ada di atas mejanya.
"Beliau belum datang."
Zoya mengerutkan keningnya. Biasanya, jam segini sang papa pasti sudah berada di perusahaan. "Papa kemana?" batin Zoya. Apalagi Milly juga ada di perusahan. Sehingga tak mungkin sang papa pergi menemui Milly.
"Maaf, jika boleh tahu. Memang Tuan Darwin kemana?" tanya Zoya.
Sang sekertaris mengangkat kedua pundaknya. "Beliau hanya mengatakan jika ada kepentingan." ujarnya mengatakan apa yang disampaikan Tuan Darwin padanya.
"Jika begitu, Milly tadi nggak ketemu Tuan Darwin?"
"Nggak." sahut sang sekertaris.
Zoya mengangguk. "Ya sudah mbak, saya kembali ke ruangan saya dulu.
Baru saja Zoya membalikkan badan, hendak meninggalkan meja sekertaris Tuan Darwin, dia berhadapan dengan salah satu lelaki yang saat ini sangat dia benci. Reiner.
"Berhenti...!!" seru Reiner menginterupsi Zoya.
Tanpa mengeluarkan suara untuk bertanya pada Reiner, Zoya menatap Reiner tanpa ekspresi. "Bukankah kamu seharusnya berterimakasih." tukas Reiner, karena dirinya merasa telah menolong Zoya dari Milly.
Sang sekertaris ikut ketar-ketir melihat keduanya. Apalagi yang diketahui, Zoya sangatlah lemah dan pendiam. Dia hanya takut jika Zoya ditindas oleh Reiner. Yang menjadikan Zoya akan terkena masalah.
Sang sekertaris ingin membantu Zoya dengan menengahi keduanya, tapi apalah daya, dirinya tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk melawan putra dari teman atasannya tersebut. Yang juga rekan bisnis Tuan Darwin.
Zoya bersedekap dada. Ingin sekali dia mencabik-cabik wajah tampan Reiner dan meneriakinya sebagai lelaki pengkhianat.
Namun Zoya menahan diri. Dia sadar betul, siapa dirinya sekarang. Dia berdiri sebagai Yaya, bukan Zoya. "Berterimakasih, untuk apa?" tanya Zoya tersenyum sinis.
Reiner menaikkan sebelah alisnya. Merasa sejak pertama bertemu, Zoya sangat terlihat tidak menyukainya. Padahal sebelumnya, Reiner tidak merasa pernah mempunyai masalah dengan Zoya.
Dan lagi, Reiner juga merasa sedikit menaruh rasa penasaran pada Zoya. Semua perempuan pasti akan tersenyum ramah dan mencoba mencari perhatian padanya.
Tapi Zoya sejak pertama dia sama sekali tak pernah memandangnya. Bahkan Reiner merasa jika Zoya ingin membunuhnya dengan kedua matanya.
"Saya sudah menolong anda Nona. Saya rasa anda masih ingat." tukas Reiner.
Zoya tertawa pelan. "Siapa yang meminta pertolongan kamu. Tanpa kamu bantu, saya bisa melindungi diri saya sendiri." sengit Zoya menatap sinis pada Reiner.
Reiner hanya diam. Ini pertama kalinya dia mendapatkan perlakuan kasar dari lawan jenis. Zoya membalikkan badan, meninggalkan meja sekertaris dengan perasaan kesalnya.
"Reiner,,, Milly,,, kalian berdua, benar-benar sama-sama menjijikkan." gumam Zoya sembari berjalan.
Reiner hanya bisa diam seraya menatap punggung Zoya yang semakin menjauh. Sama seperti sang sekertaris, dia menatap Zoya dengan tatapan tak percaya.
"Apa dia benar-benar Yaya. Perempuan gendut yang selama ini aku kenal." batinnya merasa Zoya berubah menjadi seorang perempuan pemberani.
"Khem...." Reiner segera mengembalikan sikap. Berusaha untuk tak terjadi apapun sebelumnya.
Segera sang sekertaris tanggap dengan tingkah Reiner. Sehingga dia segera mengalihkan keadaan. "Maaf Tuan Reiner, Tuan Darwin belum datang. Beliau mengatakan jika ada kepentingan. Dan akan terlambat datang." jelas sang sekertaris.
Reiner mengangguk pelan, mengarahkan pandangannya ke arah pergelangan tangannya. Dimana terdapat sebuah gelang jam mahal melingkar di pergelangan tersebut.
"Baiklah. Hubungi saya jika Tuan Darwin datang." pinta Reiner.
"Baik Tuan Reiner." sahut sang sekertaris.
__ADS_1