MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 23


__ADS_3

Zoya menaiki taksi, dia pamit jika dirinya ingin pergi keluar membeli sesuatu pada kedua orang tua Yaya. Padahal, sekarang Zoya berada di depan kediamannya.


Dimana dirinya dilahirkan dan dibesarkan. Zoya tetap berada di dalam taksi. "Apa kabar diriku di dalam." gumamnya.


Tanpa terasa, air matanya menetes ke pipi. "Elo harus kuat Zoya." cicitnya.


Ingin sekali Zoya keluar dari dalam taksi. Masuk ke dalam. Memeluk sang mama. Dan melihat keadaan tubuhnya.


Tapi Zoya tak segila itu. Yang ada dirinya pasti akan diusir dan dianggap menganggu ketentraman mereka.


Zoya berkali-kali menghela nafas. Dadanya terasa sesak. Zoya tak kuat lagi menahannya. Ditutupnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kedua pundak Zoya bergerak naik turun. Menandakan jika dirinya sedang menangis terisak. "Menangislah Nona. Luapkan semuanya. Bapak yakin, meski tidak sembuh, setidaknya rasa sakit itu akan berkurang." tutur sopir taksi, menoleh ke belakang.


"Maaf pak." Zoya membuka kedua telapak tangannya. Wajahnya telah basah terkena air mata.


Pak sopir memberikan tisu pada Zoya. "Terimakasih pak." tutur Zoya, menerima dan memakai tisu yang diberikan oleh pak sopir.


Zoya melihat ada yang berbeda dengan taksi tersebut. "Loh pak, kenapa mesin penghitungnya dimatikan. Bapak nyalakan saja. Nanti saja akan membayar semuanya." pinta Zoya merasa tidak enak hati.


Sang sopir tersenyum samar. "Sudah Non, jangan dipikirkan. Tadi bapak sudah dapat penumpang banyak. Jadi Non tidak perlu khawatir." tukas sang sopir.


Zoya tersenyum samar. Ini pertama kalinya dia merasakan kebaikan dari orang lain. "Rasanya membuat perasaan gue menghangat." batin Zoya.


"Terimakasih pak." cicit Zoya.


"Sama-sama Non."


Baru saja Zoya ingin meminta pak sopir untuk menjalankan taksinya kembali, dan meninggalkan tempat mereka berhenti.


Tapi suara Zoya tercekat di tenggorokan, melihat sesuatu yang pastinya sangat menyesakkan dadanya. "Milly. Elo benar-benar harus segera di singkirkan." geram Zoya.


Tampak Milly keluar dari rumahnya bersama sang papa. Keduanya berada di dalam mobil yang sama. "Pak,,, ikuti mobil itu. Tapi jangan sampai ketahuan mereka." pinta Zoya.


"Baik Non." ucap pak sopir.


"Mama. Aku harus segera mencari bukti. Kasihan mama." ujar Zoya, terdengar jelas di telinga pak sopir.

__ADS_1


Zoya memandang mobil di depannya dengan tajam. Seakan dirinya tidak mau sampai kehilangan kemana mereka akan pergi.


"Pak, jangan sampai kehilangan mereka." pinta Zoya dengan suara serak, karena baru saja menangis.


"Baik Non." Sang sopir sepertinya bisa menebak apa yang terjadi di sini.


Mobil papa dari Zoya berhenti di sebuah rumah yang tidak begitu besar, tapi tetap saja terlihat mewah. Karena desainnya yang sangat bagus.


"Rumah siapa ini?" tanya Zoya menebak-nebak.


Sebab, yang Zoya tahu Milly tinggal di sebuah apartemen. Bukan sebuah rumah. Lantas rumah siapa yang mereka datangi. "Pak, jalan." pinta Zoya.


Zoya berniat akan mencari tahu mengenai rumah yang baru saja dia lihat tersebut. "Jangan sampai, rumah itu rumah milik Milly yang dibelikan oleh papa." tebak Zoya.


Zoya tersenyum sinis. "Brengsek. Jika benar, gue akan merebutnya. Milly,,,, elo sudah sangat keterlaluan. Gue benar-benar tidak ikhlas." dengus Zoya.


Zoya meminta taksi untuk menurunkannya di depan sebuah gedung kebugaran. "Terimakasih pak." ucap Zoya sembari memberikan uang pada pak sopir.


"Non,,, ini kebanyakan." ucap pak sopir.


"Tidak apa-apa pak. Ambil saja." tukas Zoya, meninggalkan pak sopir tersebut.


"Sialan." ucap Zoya dalam hati.


"Mbak, saya mau daftar." ujar Zoya, tapi tetap saja pegawai tersebut acuh. Dan malah sibuk dengan ponsel yang berada di tangannya.


"Mbak...!!" panggil Zoya menaikkan nada suaranya.


Diletakkannya dengan kasar ponsel yang ada di tangannya. "Gue nggak budek. Nggak usah teriak." serunya dengan judas.


Suara keduanya membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. Juga dengan seseorang yang Zoya kenal. Dia adalah pemilik sekaligus mentor di tempat kebugaran ini.


"Ada apa ini?" tanya seorang lelaki yang Zoya kenal sebagai pemilik gym.


Zoya ingin membuka mulutnya, tapi keduluan oleh petugas yang berada di meja pendaftaran. "Maaf kak, dia mau mendaftar. Tapi malah ngegas dan tidak sopan." ujarnya malah memfitnah Zoya.


Zoya membuka mulutnya tak percaya. Ingin Zoya berteriak, memaki perempuan di depannya. Tapi dia sadar, jika dirinya bukan Zoya. Tapi Yaya.

__ADS_1


Zoya menghela nafasnya perlahan. Lalu tersenyum. "Maaf, bukankah itu kamera CCTV. Pasti tidak rusak kan?" ujar Zoya tersenyum miring.


Wajah perempuan tersebut langsung terlihat pucat. "Langsung saja. Saya datang untuk mendaftar. Bukan untuk bertengkar. Dan saya memilih tempat ini, karena rekomendasi dari teman kerja saya." ujar Zoya to the point.


Pemilik gym tersebut memandang tajam ke arah karyawannya. Dirinya bisa menebak siapa yang bersalah di sini. "Bekerjalah dengan baik. Jika memang sudah bosan, kamu bisa mencari pekerjaan di tempat lain." ucap sang pemilik gym.


Sang perempuan tersebut hanya diam menundukkan kepalanya. "Maaf Nona, atas apa yang dilakukan karyawan saya. Jika boleh tahu, siapa yang merekomendasikan pada anda, untuk datang ke tempat ini?"


"Zoya. Mazoya. Putri Tuan Darwin." sahut Zoya, melirik ke arah perempuan yang sempat meremehkannya.


"Zoya. Astaga. Kenapa tidak langsung masuk. Gue teman Zoya. Santai saja. Elo nggak perlu mendaftar. Biar gue sendiri nanti yang mengaturnya."


Sang pemilik gym mengajak Zoya untuk masuk. Keduanya berbincang sambil berjalan. "Sayang sekali, Zoya sekarang sedang sakit. Dan gue dengar, keadaannya lumayan parah."


Zoya mengangguk. "Dia tak sadarkan diri."


"Elo sudah melihatnya?"


Zoya menggeleng. Zoya tersenyum kecut. "Gue memang teman sekaligus rekan kerja Zoya. Tapi, orang tuanya sama sekali tidak menyukai gue. Terutama papanya." jelas Zoya berbohong.


"Maaf." dia bisa menebak, kenapa papa dari Zoya tidak menyukai perempuan yang saat ini berjalan di sampingnya.


Zoya mengangguk. Keduanya lantas segera berbincang tentang jadwal yang akan Zoya ambil untuk melakukan penurunan berat badan di tempat ini.


"Tapi elo harus ingat. Jaga pola makan. Percuma elo berolah raga, jika tidak menjaga pola makan." tekan pemilik gym tersebut.


"Pasti." sahut Zoya.


"Gue sendiri yang akan langsung menjadi pembimbing elo."


"Terimakasih."


Setelah semuanya jelas, kapan Zoya akan memulai melakukan senam, dsn juga waktunya, Zoya meninggalkan tempat ini.


Sang pemilik gym menatap punggung Zoya yang semakin menjauh. "Zoya. Nama mereka sama." gumamnya.


"Gaya berbicaranya juga sama dengan Zoya. Jika tak melihat orangnya, pasti gue akan mengira sedang berbicara dengan Zoya." cicitnya.

__ADS_1


Tanpa dia sadari, jika memang Zoyalah yang sebelumnya berbincang dengannya.


__ADS_2