MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 73


__ADS_3

Langkah kaki Milly terhenti langsung saat melihat seorang lelaki berumur duduk di atas kursi dengan tatapan mengarah padanya dengan tajam.


"Om..." ujar Milly menelan ludahnya dengan sulit.


Milly tahu kenapa Tuan Darwin mendatanginya, padahal mereka baru bertemu beberapa menit yang lalu.


Milly melepaskan high hell nya dengan asal. Menaruh tasnya di atas meja dengan pelan. Tentu saja Milly tidak ingin salah satu tas kesayangannya yang berharga mahal lecet sedikit saja.


Milly langsung duduk dipangkuan Tuan Darwin. Mengalungkan kedua tangannya di leher Tuan Darwin. "Apa om langsung ke sini, setelah mengantar pulang tante Ratna?" tanya Milly dengan manja.


Cup.... Milly mengecup singkat pipi Tuan Darwin.


"Iishhh... Om." seru Milly, secara tiba-tiba Tuan Darwin mencengkeram pipi Milly dengan satu tangannya.


"Sakit om..." cicit Milly dengan ucapan sedikit lucu di dengar, karena pipinya masih dicengkeram oleh Tuan Darwin.


"Apa hubungan kamu dengan Reiner?!" tanya Tuan Darwin dengan kencang. Hingga Milly memejamkan kedua matanya karena terkejut.


"Lepas om...." pinta Milly, berusaha melepaskan tangan Tuan Darwin di kedua pipinya. Sebab Milly merasakan kedua rahangnya terasa ingin retak.

__ADS_1


Tuan Darwin melepaskan tangannya dengan kasar. Hingga membuat wajah Milly berpaling darinya karena terdorong olehnya. "Katakan...!! Sialan...!!" seru Tuan Darwin.


Jantung Milly berdetak dengan kencang. Berdetak secara tak beraturan bukan karena sedang merasakan jatuh cinta. Melainkan karena dirinya merasakan ketakutan.


Ini pertama kalinya bagi Milly melihat Tuan Darwin marah. Dan itupun langsung membuat nyali Milly menciut. "Apa maksud om? Milly tidak mengerti." tukas Milly masih saja berpura-pura bodoh dan lugu.


Padahal dirinya tahu kenapa Tuan Darwin bertanya seperti itu. "Tua bangka ini, bagaimana dia bisa mempunyai mata yang sangat jeli." batin Milly, menebak jika Tuan Darwin tahu saat dirinya memandang Reiner dengan penuh damba.


"Milly.... Katakan...!! Atau aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat kamu menyesal." ancam Tuan Darwin.


Milly menyingkir dari pangkuan Tuan Darwin. "Om,,,, kenapa om berkata seperti itu. Memang salah Milly dimana?" tanya Milly melankolis.


Tuan Darwin bukan lelaki bodoh yang mudah ditipu. Dia menjadi salah satu pebisnis sukses dan handal karena cara berpikirnya yang cerdas dan instingnya yang tajam dalam bisnis.


Tuan Darwin tersenyum miring. "Jangan berbohong Milly. Katakan,,,! Atau aku akan mencari tahu sendiri." seru Tuan Darwin tetap tidak percaya dengan bualan Milly.


"Sial....!! Lelaki tua bangka ini ternyata susah juga ditaklukkan jika sedang marah. Ayo Milly,,, pikirkan. Jangan sampai elo kehilangan aset berharga elo. Atau elo akan menjadi gelandangan." batin Milly memikirkan alasan yang akan dia berikan pada Tuan Darwin.


"Milly...!!" panggil Tuan Darwin, karena Milly masih berdiri sembari memandang ke arah lain.

__ADS_1


"Oke... Milly akan berkata jujur..." sahut Milly dengan ekspresi sedih.


"Reiner,,,, dia yang mendekati aku. Dia selalu mengancam aku, jika aku tidak melakukan apa yang dia inginkan, dia akan mengatakan pada Zoya. Jika aku sengaja mendekati dia. Dan aku terpaksa melakukan apa yang Reiner inginkan." ujar Milly beralasan.


"Sial. Jangan sampai Reiner kenapa-kenapa. Atau malah kebohongan gue yang akan terbongkar." batin Milly merasa cemas.


Tuan Darwin berdiri. "Gue yakin. Tua bangka ini akan mudah luluh. Lihat saja, sebentar lagi dia akan memeluk gue dan menenangkan gue." batin Milly dengan percaya diri.


"Aaa...!!!" seru Milly saat tangan kanan Tuan Darwin yang kekar berada di lehernya.


"Ingat Milly,,,, jangan sampai kamu berani bermain api di belakangku. Karena kamu adalah calon Nyonya Darwin. Paham...!!" bentak Tuan Darwin.


"Uhuk.... Uhukk..... Uhuk...." Milly langsung memegang lehernya dan terbatuk saat Tuan Darwin melepaskan tangannya di leher Milly.


Tuan Darwin pergi begitu saja. Membiarkan Milly masih terus terbatuk dengan ekspresi kesakitan.


"Milly... Kamu memang ular." ujar Yaya, yang melihat semua adegan di apartemen Milly.


Yaya tersenyum sempurna. "Aku harus memberitahukannya pada Zoya. Pasti dia akan senang. Dan bisa merencanakan apa yang akan dia lakukan selanjutnya." cicit Yaya, perlahan menghilang dari apartemen Milly.

__ADS_1


__ADS_2