
Sementara di kediaman Tuan Darwin, bersamaan dengan Yaya yang membuka kedua matanya, keadaan Zoya juga sedang mengalami penurunan. Zoya dalam keadaan kritis.
Nyonya Ratna menangis tersedu di pelukan Tuan Darwin. Di dekat mereka, berdiri Reiner dan kedua orang tuanya yang juga merasa khawatir akan keadaan Zoya.
Juga dengan Milly, dia terus meneteskan air mata. Seolah dirinya sedang bersedih. Layaknya yang lain. Reiner menyenderkan badannya di tembok, dengan jari jemari memijat pangkal hidungnya.
"Zoya, semoga ini akhir hidup elo. Dan semua ini, akan menjadi milik gue." batin Milly.
Mereka semua berada di luar kamar Zoya. Karena di dalam, Zoya sedang ditangani oleh dokter dan para petugas medis.
Tuan Darwin menenangkan sang istri dalam pelukannya. "Tenang ma, kita do'akan saja, Zoya baik-baik saja."
"Tapi pa, kenapa Zoya seperti itu." ucap Nyonya Ratna, melihat Zoya kejang-kejang. Padahal sebelumnya keadaan Zoya baik-baik saja. Meski kedua matanya tertutup.
Milly tersenyum samar. "Karena anak elo akan selamanya meninggalkan elo." ucap Milly dalam hati.
Reiner yang tak sengaja melihat perubahan ekspresi Milly, mengerutkan keningnya. Reiner merasa ada yang aneh dan janggal pada Milly.
Reiner mengacuhkannya. Sekarang, dirinya hanya fokus pada kesembuhan Reiner. Bahkan, Reiner juga tidak ingin kembali ke luar negeri. Hanya ingin memastikan keadaan sang kekasih.
Jujur saja, ada rasa bersalah pada diri Reiner. Kecelakaan yang Zoya alami, meski tak langsung adalah karena dirinya.
Krek.... pintu kamar Zoya terbuka. "Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Nyonya Ratna mengurai pelukannya dari sang suami.
Sang dokter melepas kacamata yang bertengger di hidungnya. "Tuan, Nyonya. Keadaan Nona Zoya tidak ada perubahan. Masih sama seperti sebelumnya."
"Lalu kenapa, putri saya mengalami kejang?" tanya Tuan Darwin, ingin penjelasan dari sang dokter.
Sang dokter menjelaskan kenapa Zoya mengalami kejang. Membuat semua rasa khawatir semua orang seketika hilang. Meski sebenarnya, mereka menginginkan kesembuhan untuk Zoya.
"Milly, bagaimana kalau kamu tidur di sini saja." saran Nyonya Ratna.
Sebab saat ini, waktu menunjukkan tengah malam. Tentu saja Nyonya Ratna merasa khawatir. Karena beliau sudah menganggap Milly sebagai putrinya. Sama seperti Zoya.
"Maaf tante, tapi Milly meninggalkan tugas di rumah. Ada pekerjaan dari perusahaan yang belum Milly selesaikan." ujar Milly mencari alasan.
"Milly, kenapa kamu membawa pekerjaan ke rumah?" tanya Nyonya Ratna, khawatir akan kesehatan Milly.
"Tante, ada dua pekerja yang tidak masuk. Yaya dan Zoya. Makanya, Milly mengambil alih pekerjaan mereka." ujar Milly. Tentu saja semua yang dia katakan adalah sebuah kebohongan.
__ADS_1
"Baiklah. Reiner, tante bisa minta tolong?" tanya Nyonya Ratna.
"Berhasil." batin Milly. Sebab inilah yang diinginkan oleh Milly. Satu mobil bersama dengan Reiner.
"Apa tante?" tanya Reiner, yang sebenarnya tahu apa yang diinginkan mama dari sang kekasih.
"Tolong, kamu antarkan Milly. Bisakan?" pinta Nyonya Ratna.
"Tidak perlu Tante. Milly bisa pulang naik taksi saja." tolak Milly, tentunya hanya berpura-pura.
"Benar. Biar Reiner yang mengantar Milly." sahut mama dari Reiner.
"Berhasil." batin Milly tersenyum bahagia.
Tuan Darwin menampilkan ekspresi datar. Cemburu. Tentu saja. Milly memilih pulang, alih-alih tidur di rumahnya.
Tuan Darwin manahan emosinya. Dirinya tidak ingin perilaku bobroknya ketahuan oleh semua orang. Terutama sang istri.
Milly segera mengalihkan pandangannya, saat bersitatap dengan pandangan Tuan Darwin yang menatapnya dengan tajam.
"Brengsek. Kenapa gue nggak kepikiran si bandot tua." batin Milly dalam hati. Yang tidak memikirkan perasaan Tuan Darwin.
Milly tersenyum dalam hati. Dirinya sudah tahu, apa yang harus dia lakukan. "Tante, Milly pulang dulu. Biar Milly naik taksi saja." pamit Milly.
"Reiner." panggil mama dari Reiner.
"Iya." dengan langkah malas, Reiner membuntuti Milly.
Milly mengirimkan pesan pada Tuan Darwin sambil berjalan. Milly beralasan, jika dirinya takut tidak bisa mengendalikan diri, jika tidur satu atap dengan Tuan Darwin. Dan semua malah akan terbongkar.
Milly juga mengatakan ingin bertemu dengan Tuan Darwin, hanya berdua. Di tempat bisanya.
Milly tersenyum. Dimasukkan kembali ponselnya ke dalam tas yang dia selempangkan di pundaknya. Dirinya yakin, jika Tuan Darwin akan luluh oleh ucapannya.
Reiner dan Milly masuk ke dalam mobil. "Terimakasih Rey, sudah mau mengantarkan aku." ujar Milly dengan tutur kata yang manis dan lembut.
Reiner fokus mengemudi. Sama sekali tidak mengindahkan apapun yang diucapkan oleh Milly. Reiner tahu, bagaimana liciknya akal Milly.
Sebab, beberapa kali Reiner pernah digoda oleh Milly. Tapi Reiner sama sekali tidak tergoda oleh Milly.
__ADS_1
"Reyyy..." panggil Milly, dengan tangan terulur pelan ingin mengelus paha milik Reiner.
"Sampai tangan elo berada di atas paha gue. Turun dari mobil sekarang juga." ancam Reiner.
Milly langsung kicep, duduk diam dengan menahan rasa jengkel. Milly tersenyum samar. Dengan pelan, dinaikkan rok span yang dia pakai. Memperlihatkan paha mulusnya.
Reiner tersenyum sinis. Dia memang pemain. Tapi entah kenapa, Reiner sama sekali tidak tergoda dengan Milly.
"Turun." perintah Reiner, saat mereka sudah berhenti di depan rumah Milly.
"Sial." umpat Milly dalam hati. Karena merasa perjalanan mereka sangatlah cepat.
"Reyy,,, kamu nggak mampir dulu." masih dengan begitu tak tahu malunya, Milly memepet Reiner.
Reiner menghela nafas panjang. "Turun. Jangan memaksa gue untuk menyeret elo keluar dari mobil." bentak Reiner muak dengan tingkah teman sang kekasih.
Bukannya turun, Milly malah menggoda Reiner. Meracuni pikirannya, supaya Reiner melupakan Zoya. "Reiner, gue tahu. Zoya itu terlalu munafik. Dia nggak pernahkan, ngasih elo jatah."
Milly mencoba memancing Reiner dengan obrolan perihal ranjang. Sebab, Milly tahu, meski berpacaran, Zoya dan Reiner tidak pernah melakukan hal yang melebihi batas.
Mungkin, itulah yang membuat Reiner mencari pelampiasan di luar. "Zoya itu terlalu munafik. Apa elo percaya, jaman sekarang masih ada perempuan perawan."
Hilang sudah kesabaran Reiner. "Milly,,,,!! hue bilang turun, *****." Reiner memandang tajam Milly.
"Dan satu lagi. Zoya, bukanlah elo. Murahan. Keluar...!!" bentak Reiner, hingga Milly terjengkat kaget.
Brak..... Dengan keras dan kencang, Milly menutup pintu mobil Reiner dari luar.
Segera Reiner melajukan mobilnya. "Astaga. Kenapa Zoya bisa sepercaya itu sama Milly." gumam Reiner.
"Benar-benar. Serigala berbulu domba." tukas Reiner.
Milly melemparkan tasnya begitu saja di atas kursi. "Brengsek. Sampai kapan elo akan jual mahal Reiner." geram Milly.
Sebab, sampai detik ini, dirinya belum bisa meluluhkan hati Reiner. "Apa sih bagusnya Zoya. Cantikan gue. Lebih seksi gue." puji Milly pada dirinya sendiri
"Gue harus mendapatkan Reiner. Bagaimanapun caranya." seringai Milly.
"Dan jika Reiner sudah berada di tangan gue. By,,, by,,, bandot tua." ucapnya tertawa lepas.
__ADS_1