MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 14


__ADS_3

"Sakit....." Zoya memegang kepalanya yang terasa bagai dipukul batu berukuran besar dengan kuat.


Zoya menjambak sendiri rambutnya dengan kuat, untuk mengurangi rasa sakit tersebut. "Pak,,, bagaimana ini?" tanya bu Murni cemas melihat keadaan putrinya saat ini.


"Sakit... !!!" seru Zoya.


Beberapa bayangan berkelebat di benaknya. Tanpa bisa Zoya kendalikan. "Apa ini..." keluhnya, dengan tangan memegang kepalanya dengan kuat.


Bayangan di mana, Yaya selalu di jadikan bahan ejekan dan selalu ditindas saat di SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Bahkan juga di perusahaan tempat Yaya dan Zoya bekerja.


Ada banyak suara ejekan serta hinaan dan caci maki ditujukan untuk Yaya masuk ke dalam telinga Zoya. Seakan Zoya merasakan betapa sakitnya menjadi Yaya selama ini.


Pak Endri segera keluar dan menelpon sang dokter, sesuai apa yang diperintahkan oleh sang dokter. Setelah selesai, beliau kembali masuk ke kamar Yaya. "Bagaimana pak?" tanya bu Murni yang tidak tega melihat raut kesakitan dari sang putri.


Beruntung, Yaya mendapatkan dokter baik. Dokter yang sama sekali tidak pamrih saat menjalankan tugas. Padahal, sang dokter sama sekali tidak mendapatkan gaji tambahan untuk merawat Yaya di rumah.


Hati yang tulus dari seorang dokter yang tidak tega melihat keluarga Yaya dalam kesulitan ekonomi. Serta iba akan keadaan Yaya, yang menurut instingnya, Yaya adalah korban dari buli. Membuat sang dokter dengan ikhlas membantu mereka tanpa mengeluh sedikitpun.


"Aaaawwww.... !!!" jerit Zoya, terdengar sangat kesakitan. "Apa ini...?!" teriaknya.


Merasa suara ejekan dan hinaan bergantian masuk ke dalam telinga. Hingga bayangan-bayangan dimana Yaya diperlakukan tidak adil dan disakiti seperti terlihat jelas oleh kedua matanya.


Zoya berbaring tak berdaya. Dengan tangan masih menjambak rambutnya. Serta ekspresi kesakitan terlihat jelas di wajahnya. Tak kuat menahan rasa sakit itu.

__ADS_1


"Pantas, Yaya tidak mau kembali ke badannya. Tapi kenapa malah aku yang terjebak di sini." batin Zoya.


"Yaya... elo seharusnya yang merasakan semua ini. Bukan gue." teriak Zoya histeris. Tentu saja Zoya tak mau merasakan menjadi Yaya.


Bu Murni memeluk erat sang putri. Berharap rasa sakit yang Yaya rasakan bisa hilang, dan berpindah ke dirinya. "Hamba ikhlas Tuhan, hamba ikhlas. Biarkan hamba yang merasakan sakit ini. Jangan putri hamba Tuhan." air mata bu Murni menetes tak terbendung.


Zoya yang melihatnya, serta mendengar bagaimana rasa sayang kedua orang tua Yaya, ikut terenyuh. Dirinya teringat akan papa dan mamanya di rumah. "Pasti mereka berdua juga sangat sedih." batin Zoya dalam hati.


Sang dokter datang, dan segera memeriksa tubuh Yaya. Sementara Bu Murni segera memberi temat untuk sang dokter.


Zoya memandang ke arah sang dokter dengan tatapan sayu. Rasanya, semua kekuatannya terkuras habis merasakan rasa sakit itu.


Sang dokter terpaksa memasukkan obat penenang ke dalam tubuh Yaya. Bermaksud agar Yaya bisa beristirahat. "Maaf sebelumnya dok, kami selalu menyusahkan dokter." tutur pak Endri merasa tidak enak hati.


"Terimakasih. Bagaimana dengan kondisi Yaya? Kenapa Yaya seperti sangat kesakitan sekali dok." tanya pak Endri merasa cemas.


Beberapa jam yang lalu, mereka merasa senang. Sebab Yaya sudah kembali membuka kedua matanya. Tapi saat ini, mereka dibuat ketar-ketir dengan keadaan Yaya yang mengkhawatirkan.


"Kita akan tunggu saat Yaya bangun lagi. Kita akan lihat. Apa Yaya masih kesakitan, atau sudah lebih baik." jelas sang dokter.


"Jika Yaya masih sama seperti tadi, kita harus segera membawa Yaya ke rumah sakit. Untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh."


"Baik dok. Apapun, asal putri kami selamat. Dan kembali seperti sebelumnya." sahut pak Endri.

__ADS_1


Yaya tertidur sampai malam hari. Sama sekali tidak terbangun. Dan pak Endri, beliau akan bergantian menjaga Yaya bersama bu Asri. Sedetikpun, mereka tidak membiarkan Yaya sendirian.


Yaya mang memejamkan kedua matanya. Tapi dia menggerakkan tangan dan kepalanya dengan pelan. "Papa.... Milly...." Zoya melihat apa yang pernah Yaya lihat sebelum kejadian ini.


Dimana sang papa dan teman dekatnya sedang bercumbu layaknya sepasang kekasih di lorong kantor yang sedang dalam keadaan sepi. Dan hanya ada Yaya di sana.


"Mereka." gumam Zoya, seolah dirinya berada di sana saat kejadian berlangsung. Bahkan, Zoya melihat Yaya di tekan oleh Milly, serta di ancam oleh Milly.


"Perempuan hina." geram Zoya.


Sedetik kemudian, tubuh Zoya berpindah tempat. Dimana, Zoya juga melihat Milly bertemu dengan Yaya di gedung paling atas.


Zoya dengan jelas mendengar semua yang diucapkan Milly pada Yaya. Semuanya. Bagaimana Milly mengancam Yaya. "Elo, ternyata elo ular." geram Zoya.


Zoya hanya berdiri diam tak bisa bergerak. Tapi melihat dan mendengar semuanya. Zoya juga melihat, bagaimana Milly dengan tega mengurung Yaya di lantai paling atas yang ada di gedung.


Zoya mendengar dan melihat, Yaya berteriak meminta tolong. Menggedor pintu dan kehujanan. Hingga Yaya terpeleset tak sadarkan diri di tengah derasnya hujan yang mengguyur tubuh Yaya.


"Milly, ternyata elo iblis. Gue memang suka memberikan tugas gue ke Yaya untuk dikerjakan. Tapi gue bukan seperti elo. Pembunuh." desis Zoya.


Sungguh, Zoya tak menyangka. Jika teman baiknya yang selama ini selalu ada bersamanya. Dan juga sagat di sayang oleh sang mama, ternyata menikamnya dari belakang.


"Yaya... Maafkan gue." lirih Zoya merasa bersalah. Ternyata, selama ini dia bertindak sangat kejam pada Yaya.

__ADS_1


__ADS_2