MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 38


__ADS_3

Pak Endri duduk dengan tidak tenang. Beliau sama sekali tidak fokus dengan apa yang sedang mereka bicarakan bersama.


"Pak,,, pak Endri..." panggil ketua RW, beliau merasa pak Endri tidak sama seperti sebelum-sebelumnya.


"Maaf pak, maaf semuanya." ujar pak Endri merasa tidak enak dengan semua orang yang berada di tempat perkumpulan tersebut.


Seharusnya pak Endri memberikan pendapatnya seperti biasa. Dan memberi masukan dengan apa yang sedang mereka bahas. Tapi, beliau malah tidak fokus pada topik pembicaraan dan melamun.


Padahal, biasanya pak Endri warga yang sangat peka dan juga selalu memberikan kontribusi pada lingkungan jika ada kegiatan.


"Tidak apa-apa pak." sahut pak RW.


"Pak Endri, apa bapak baik-baik saja?" tanya warga yang lain, sebab ekspresi wajah pak Endri terlihat cemas.


"Maaf, tiba-tiba saya merasa tidak enak badan." ujar pak Endri beralasan. Tidak mungkin beliau mengatakan yang sejujurnya. Jika pikirannya memikirkan keluarganya yang saat ini berada di rumah.


"Ya ampun pak,,, kenapa tidak mengatakan sedari tadi. Sebaiknya bapak pulang saja. Istirahat di rumah." saran warga yang lain.


"Benar pak. Mari saya antar bapak pulang." timpal warga yang lain. Merasa khawatir dengan keadaan pak Endri jika pulang seorang diri mengendarai sepeda motor.


"Tidak perlu pak, insya Alloh saya masih kuat. Rumah saya juga tidak terlalu jauh." tukas pak Endri, karena membawa motor. Tidak berjalan kaki.


Pak Endri berpamitan pada semua dan meminta maaf. Segera beliau melajukan motornya untuk pulang ke rumah.


"Bukankah ini mobilnya nak Zain?" tanyanya pada diri sendiri saat beliau memarkirkan motornya di depan rumah.


Pak Endri langsung masuk ke rumah tanpa mengucap salam seperti biasanya. Beliau mengira jika semua orang berada di ruang tamu.


"Loh,,, mereka kemana?" gumam pak Endri.


Beliau berjalan ke kamar Zoya. Pintu kamar Zoya tidak tertutup dengan rapat. Sehingga pak Endri bisa mengintip keduanya yang sedang berbincang dengan Zoya dan Zain duduk di ranjang.


"Apa Zoya sakit lagi?" tanyanya.


Pak Endri mencari keberadaan sang istri. Dan dapur adalah tujuan pertamanya. Beliau menebak jika sang istri sedang membuatkan minum untuk Zain.


Pak Endri melihat sang istri duduk di kursi yang berada di dapur, sembari menangis. "Bu,,,," panggil pak Endri yang sudah berdiri di belakang bu Murni.


"Bapak sudah pulang?" tanya bu Murni menghapus air matanya.


Pak Endri menggeser kursi dan duduk di samping sang istri. "Di dalam kamar Zoya ada nak Zain? Lalu mengapa ibu di sini?"

__ADS_1


Bu Murni menceritakan semuanya. Dari Zoya yang tiba-tiba merasa kesakitan. Dan Zain yang datang tepat waktu.


Bu Murni juga menceritakan apa yang tak sengaja dia dengar. Tentang apa yang dialami Zoya di luar sana.


Bu Murni kembali menangis dalam pelukan sang suami. "Apa yang harus kita lakukan pak?" tanyanya sembari menangis.


Tangan pak Endri mengelus punggung sang istri. Rahang pak Endri mengeras sempurna. Beliau tentu saja juga syok mendengar semua cerita sang istri.


Tapi beliau mencoba berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. Mencoba berpikir logis dan berpikir dalam keadaan tenang.


Marahpun percuma. Semua sudah berlalu. Dan hanya tersisa rasa sesal. Dan bukan itu yang saat ini harus mereka rasakan.


Pak Endri mengurai pelukannya. "Bu, tenang. Jangan sampai Zoya melihat ibu seperti ini. Zoya pasti akan merasa bersalah." tutur pak Endri.


Bu Murni mengangguk pelan. Pak Endri menghapus air mata sang istri. "Pak, apa sebaiknya kita suruh Zoya berada di rumah saja." saran bu Murni merasa ketakutan.


"Bu, Zoya bukan anak kecil. Dan tidak selamanya kita akan selalu menemani dia."


"Lalu kita harus bagaimana pak?"


"Husssttt,,, jangan menangis. Yang harus kita lakukan, hanya mendukung Zoya. Memberikan semangat. Dan kita harus selalu ada untuk dia."


"Ibu takut, Zoya akan mengalami hal yang lebih buruk di luar sana." tukas bu Murni.


"Zoya." cicit keduanya bersamaan. Dan langsung berdiri dari duduknya.


Bu Murni memeluk tubuh besar sang putri. "Tenang Yaya, gue akan membuat elo tak lagi di hina. Dan gue akan menjaga orang tua elo." batin Zoya.


"Ibu takut." cicit bu Murni, mengurai pelukannya.


"Ibu tenang saja. Ini Zoya, bukan Yaya." tekan Zoya dengan sorot mata yang benar-benar berbeda.


Pak Endri dan bu Murni merasa bingung dengan apa yang dikatakan putrinya. Bukankah Yaya dan Zoya adalah orang yang sama. Hanya berbeda panggilan saja. Tapi kenapa sang putri berkata demikian.


Zoya memandang pak Endri dan bu Murni secara bergantian. "Bu, pak. Yaya yang dulu lemah telah tiada. Dia sudah tak ada lagi. Dan sekarang, yang berada di depan kalian adalah Zoya. Zoya yang tidak akan membiarkan orang menghina dan menindas dia." jelas Zoya berkata yang sejujurnya.


Tapi sayangnya, semua orang yang ada di sekitar Zoya mengartikan jika Zoya dan Yaya satu orang yang sama. Hanya saja, Zoya mengubah karakter dan rasa beraninya.


Pak Endri memegang pundak sang istri. "Percaya dengan Zoya, bu." tukas pak Endri menyakinkan sang istri. Jika sang putri sekarang sudah berubah.


Tentu saja pak Endri tidak ingin sang istri merasa cemas dengan keadaan Zoya di luar rumah. Yang nantinya sang istri malah akan mengekang Zoya.

__ADS_1


Padahal, di usia Zoya. Seharusnya Zoya sudah mempunyai teman lelaki yang bisa menjaganya. Sekarang pak Endri hanya bisa mendukung sang putri.


"Bu, percaya dengan Zoya." tutur Zoya mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Bu Murni memukul pelan bahu sang putri yang malah mengajaknya bercanda. "Gitu dong, tersenyum." goda Zoya, dimana bu Murni menaikkan kedua sudut bibirnya.


Kembali, Zoya dan bu Murni berpelukan. Pak Endri mengelus kepala sang putri dengan lembut. Zain tersenyum melihat pemandangan hangat di depannya.


"Apa kamu sudah membaik?" tanya bu Murni.


Zoya mengangguk. "Tadi Zoya hanya masuk angin bu. Dokter Zain sudah memberikan Zoya obat. Langsung sembuh." tukas Zoya berbohong.


Zain diam, tak menyahuti ucapan Zoya. Sebab dirinya sama sekali tidak memberikan obat pada Zoya. Dan Zain tidak ingin terlibat dalam kebohongan yang diciptakan Zoya.


Zoya mengantarkan Zain ke depan, saat Zain hendak pulang. "Jika ingin berolah raga, katakan saja. Kebetulan saya punya tempat kebugaran pribadi. Kamu bisa menggunakannya." tutur Zain.


Zoya mengangguk pelan. "Baik. Dan terimakasih." ujar Zoya, masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Tidak menunggu Zain masuk ke dalam mobil.


Zoya mengintip Zain dari balik gorden jendela. Zoya menghela nafas panjang. "Nak Zain orangnya baik ya." tukas bu Murni menggoda Zoya, melihat sang putri mengintip Zain dari balik gorden.


"Jangan mudah percaya dengan orang bu. Apalagi kita baru mengenalnya. Menganggapnya baik boleh, tapi jangan percaya. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan."


"Maksud kamu?"


"Bu, lelaki sempurna seperti dokter Zain, mustahil mendekati Zoya. Jika tidak mempunyai niat lain. Ibu lihat Zoya, lalu lihatlah dokter Zain. Kita bagaikan bumi dan langit." jelas Zoya.


Bu Murni sekarang paham maksud perkataan Zoya. Apa yang dikatakan Zoya memang benar. "Siapa tahu, nak Zain melihat hati kamu yang tulus."


Zoya terkekeh pelan. Mencubit gemas lengan sang ibu. "Bu, jaman sekarang. Yang dilihat pertama kali pastilah fisik. Apalagi seseorang dengan gelar dokter seperti Zain. Tampan, pekerjaan mapan, dan kaya. Bisa dibilang sempurna." Zoya menjeda kalimatnya sesaat.


"Coba ibu bayangkan. Saat dia menghadiri acara, pastilah yang ada di sampingnya perempuan dari keluarga kaya yang cantik dan seksi. Juga pintar." lanjut Zoya.


"Benar juga."


"Bu,,, ibu. Tapi ibu tenang saja. Kita bisa berteman. Ingat ya bu,,, berteman. Hanya berteman. Tidak lebih." tegas Zoya.


Dirinya takut jika sang ibu mempunyai harapan lebih pada keduanya. Dan Zoya, bukan perempuan bodoh. Dia Zoya, bukan Yaya.


Perempuan yang pernah merasakan sakit hati. Karena melihat sang kekasih berciuman dengan perempuan lain dengan mesra.


Rasa sakit yang tak akan mudah hilang, meski ada pangeran tampan yang datang. Menyodorkan sebuah obat untuk mengobati lukanya.

__ADS_1


Mungkin bisa sembuh. Tapi, rasa akan sakit karena hal tersebut tak akan pernah bisa dilupakan. Dan akan tetap membekas.


__ADS_2