
Prang.... Prang....
"Aaa.....!! Kenapa bisa seperti ini...?!!" teriak Milly mengamuk, membanting semua barang yang ada di ruang tamu apartemennya. Bahkan kursi dan meja tak lagi berada di tempatnya yang semula.
"Aa.....!" seru Milly mengacak rambutnya dan nampak terlihat bagai rambut singa. Sangat berantakan.
Milly berjalan bagai setrika. Mondar-mandir ke kanan dan kiri. "Nggak boleh. Gue belum bisa mendapatkan Reiner. Dan gue nggak boleh melepaskan Darwin. Nggak bisa seperti ini." oceh Milly.
Hanya satu malam. Dan Milly sudah sampai seperti ini. Dirinya benar-benar tidak menyangka. Imbas datang ke restoran akan sangat besar untuk dirinya.
Milly bukan datang karena nomor yang mengundangnya adalah nomor Zoya. Sahabatnya yang sekarang berbaring lemah tak berdaya.
Melainkan karena dia menyebutkan nama Reiner. Sehingga Milly merasa harus datang, guna mencari perhatian pada Reiner. Sekaligus Milly juga merasa penasaran.
Tapi apa yang terjadi. Semua tak seindah yang dia pikirkan. Tak seperti yang dia bayangkan. Bahkan dirinya dihadapkan pada setiap perkataan mereka yang selalu menyudutkannya.
Bahkan, Nyonya Ratna juga beberapa kali mengatakan kalimat yang mampu membuatnya panas dingin.
"Gue harus bisa menyakinkan Darwin, jika Reiner yang menggoda gue. Jika Reiner yang mengejar gue. Iya benar,,, baru setelah itu gue pikirkan rencana lain." ujar Milly.
Milly bermaksud menempatkan Reiner sebagai tersangka untuk menyelamatkan dirinya. Saat ini, Milly tidak bisa lebih memilih Reiner.
Apalagi, jelas-jelas Reiner masih menolak kehadirannya. "Jangan salahkan gue Rey... Karena elo selalu mengacuhkan gue. Jadi gue harus mengorbankan elo untuk saat ini."
Mana mungkin Milly memutuskan hubungannya dengan Tuan Darwin begitu saja. Meski dirinya sudah mendapatkan banyak harta dari Tuan Darwin.
Tapi Milly tetap merasa kurang dan kurang. Dirinya menginginkan hidup mewah tanpa harus bekerja dengan keras. "Bahkan dia sampai lupa, jika dia sedang berharap ada janin di dalam perut gue."
"Dan yang lebih penting, gue harus lebih hati-hati. Dia ternyata juga bisa emosi dan bahkan lepas kendali." Milly memegang lehernya yang masih terasa sakit, bekas cekikan Tuan Darwin.
"Gue yakin, jika dia akan tetap berada di dalam genggaman gue, selama gue menginginkannya." seringai Milly, dengan yakin mengatakan jika Tuan Darwin akan tetap menjadi miliknya.
Milly menatap ke arah perut ratanya sejenak. Mengingat bagaimana seramnya seorang Tuan Darwin jika sedang marah. "Sepertinya gue nggak hamil." ujar Milly, merasa tidak ada perubahan pada dirinya.
Tapi Milly merasa senang. Sebab dengan tidak hamil, itu artinya dia bisa menggunakan alasan tersebut untuk menunda pernikahan yang diinginkan Tuan Darwin.
Meski dirinya ingin selalu berada di samping Tuan Darwin, bukan berarti Milly ingin dinikahi oleh Tuan Darwin. Milly tidak membutuhkan status. Dia hanya membutuhkan uang Tuan Darwin.
"Lagian, siapa yang mau dijadikan istri kedua. Lagi pula, pasti semua orang akan memandang gue rendah. Dan gue tidak mau semua itu terjadi." ujar Milly yang memang mempunyai otak busuk.
"Dan gue akan menjalankan rencana gue untuk membuat Reiner berada di tangan gue." tukas Milly, tak ada kata menyerah. Padahal sudah berkali-kali ditolak oleh Reiner.
Tapi memang dasarnya Milly bermuka tebal. Sehingga dia tidak pernah merasakan malu saat ditolak. Yang terpenting, bagi Milly adalah bisa mendapatkan lelaki incarannya. Bagaimanapun caranya.
"Reiner. Alice. Jadi mereka berdua dijodohkan. Brengsek. Gue pikir setelah Zoya tidak ada, Reiner akan menjadi milik gue. Ternyata gue salah." geram Milly, seketika teringat perempuan yang duduk di sebelah Reiner.
Apalagi Milly bahkan sampai menyuruh Tuan Darwin memutuskan kontrak kerja sama dengan papa Reiner, Tuan Renggo. Supaya rencana berjalan lancar.
Nyatanya, rencananya gagal sebelum Milly melakukannya. "Padahal gue sengaja meminta Darwin memutuskan kontrak kerja sama secara sepihak. Gue ingin datang kepada mereka, menawarkan bantuan. Ternyata gue terlambat bertindak." gerutu Milly menyalahkan dirinya karena tidak datang sebagai seorang penolong bagi keluarga Reiner.
__ADS_1
"Seharusnya gue nggak lupa. Bagaimana matrenya kedua orang tua Reiner. Ckk... Sekarang semua malah semakin runyam dan ribet."
"Alice. Gue harus mencari tahu tentang dia. Sepertinya dia juga sangat menginginkan Reiner. Bedebah, semua perempuan memang menginginkan lelaki seperti Reiner." cicit Milly.
Seketika Milly teringat dengan Zoya yang juga berada di tempat yang sama dengannya. "Zoya. Gendut itu,,,,, dia berada di sana. Makan semeja dengan lelaki tampan. Dan kelihatannya dia juga kaya."
Milly mencoba mengingat wajah dari lelaki yang makan bersama Zoya. "Dia,,,, bukankah dia lelaki yang waktu itu. Benar. Dia lelaki yang nggak sengaja gue tabrak mobilnya. Benar. Gue nggak salah mengenali. Gila... Dia bahkan sama tampannya dengan Reiner." Milly tersenyum mengingat wajah tampan Zain.
"Gue harus mendekati dia juga. Masa gue kalah dengan tubuh seperti badak. Pasti dia lebih milih gua. Secara, gue lebih baik dan lebih segalanya dari si gendut, Zoya." ujar Milly dengan percaya diri.
Satu malam. Dengan tiga kejadian yang mampu membuat Milly merasakan sakit kepala. Dan semua itu karena rencana dari Zoya.
"Gue harus menebar jaring. Terserah nanti siapa yang tersangkut di jaring gue. Yang terpenting tampan dan juga kaya. Jika gue sudah mendapatkan lelaki yang gue mau. By by bandot tua. Darwin." oceh Milly dengan mudah.
Selepas pergi dari apartemen Milly, Tuan Darwin pulang ke rumah utama. Beliau menghela nafas panjang, duduk di kursi ruang tamu dengan wajah kusut.
Tanpa Tuan Darwin sadari, seorang perempuan yang sudah memakai pakaian tidur melihatnya dengan senyum miring. Sebuah senyum kepuasan karena apa yang diinginkan sebagai langkah pertama berhasil dengan sempurna. Bahkan dia juga mendapatkan bonus.
"Kamu telah menghancurkan perasaan ini. Menodai kesetiaan ini. Dan sekarang kamu akan merasakan rasanya sakit hati berkali-kali lipat dari apa yang telah kamu berikan pada aku dan Zoya." lirih Nyonya Ratna dengan tatapan penuh benci pada sang suami.
"Bagaimana rasanya, saat kamu tahu. Jika perempuan yang sangat kamu sukai ternyata menginginkan lelaki lain. Pasti sangat sakit saat dikhianati. Dan aku melihat itu dari wajah kamu, Darwin." Nyonya Ratna memegang besi pembatas di lantai dua pagar dengan erat.
"Aku harus kembali menghubungi Yaya. Siapa tahu Yaya mempunyai rencana selanjutnya. Dan mulai sekarang, aku akan dengan senang hati terlibat dalam setiap rencana Yaya." ujar Nyonya Ratna memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya.
"Ternyata sangat bahagia, melihat orang yang menyakiti kita terlihat sedih. Kasihan, ingin sekali aku menghiburnya. Tapi maaf, hati aku tidak seluas samudera." cicit Nyonya Ratna. Memilih kembali ke dalam kamar Zoya.
Sungguh, sejujurnya hati Nyonya Ratna juga masih terluka. Tapi sebisa mungkin, beliau ingin membalut luka tersebut agar tidak berdarah kembali. Sebab beliau sudah merasakan bagaimana perasaan sakitnya saat itu.
Tak lupa Nyonya Ratna mengunci pintunya dari dalam. Dirinya sungguh tak ingin lagi berhubungan apapun dengan sang suami dalam bentuk apapun. Terserah jika dia dicap sebagai istri durhaka. Tapi bagi Nyonya Ratna, kesehatan mentalnya jauh lebih dia utamakan.
"Besok saja. Kasihan Yaya. Pasti dia juga sedang istirahat." ujar Nyonya Ratna memutuskan untuk menunda menghubungi Zoya, karena malam sudah larut.
Nyonya Ratna tersenyum manis, mengingat momen malam ini yang menurutnya sangat langka. "Yaya dan Zain. Bagaimana mereka bisa seakrab itu." ujar Nyonya Ratna merasa penasaran, kenapa keduanya bisa makan malam di sana.
"Tapi mereka cocok. Meski tubuh Yaya sedikit berisi, tapi dia cantik. Dan yang paling penting, dia baik." puji Nyonya Ratna. Tanpa beliau tahu, yang dia puji adalah sang putri.
Nyonya Ratna juga mengingat tatapan yang Milly berikan pada keduanya. Dan sepertinya Nyonya Ratna bisa menebak dengan mudah jalan pikiran Milly.
"Dia memang perempuan murahan. Tidak puas dengan satu lelaki. Astaga,,, Bagaimana bisa suamiku terikat dengan perempuan seperti dia." tutur Nyonya Ratna merasa heran.
Nyonya Ratna menatap ke arah ranjang di sampingnya. Dimana sang putri masih betah terbaring di sana. "Zoya,,, sayang... Lihatlah. Yaya, sahabat kamu. Dia membantu mama sejauh ini. Jika nanti kamu bangun, jangan lupa untuk berterimakasih. Bahkan uang berapapun jumlahnya, tidak akan pernah bisa menggantikan kebaikannya yang dia berikan pada kita."
"Oh iya sayang, tadi mama dapat tawaran untuk kembali aktif di arisan serta kegiatan istri pengusaha lainnya. Apa mama terima saran Nyonya Zahwa ya. Mama bingung. Menurut kamu, apa yang harus mama lakukan. Tapi, mama tidak bisa sering-sering meninggalkan kamu." cicit Nyonya Ratna merasa bingung memilih serta memutuskannya.
Nyonya Ratna membaringkan badannya dengan posisi miring. Menghadap ke arah Zoya, menarik selimut hingga dadanya. "Mungkin besok mama bertanya pada Yaya saja. Siapa tahu dia punya solusinya. Dia gadis yang cerdas. Sama seperti kamu."
Di saat Nyonya Ratna mulai masuk ke dalam dunia mimpinya, Tuan Darwin masuk ke sebuah ruangan yang sangat lama tidak dia kunjungi. Dan sepertinya malam ini Nyonya Ratna akan tertidur dengan sangat nyenyak.
Ruangan yang tidak terlalu besar. Dimana ada sebuah meja bundar dengan kursi empuk mengelilingi separuh meja.
__ADS_1
Di sudut-sudut ruangan terdapat beberapa rak tempat menaruh sesuatu. Dimana, di rak-rak tersebut tersusun rapi beberapa minuman beralkohol dengan merk yang mendunia dan pastinya mahal.
Tuan Darwin melepas jasnya dan menaruhnya dengan asal. Dipilihnya dua buah botol dengan kadar alkohol sedikit tinggi untuk dibawa duduk bersamanya.
Beliau memutuskan untuk masuk ke ruangan ini, untuk melampiaskan emosi di dalam dirinya. Sebab tal mungkin dia pergi ke tempat hiburan malam. Yang ada dia akan menjadi sasaran empuk mencari berita.
Selain itu, beliau tak tahu harus melakukan apa yang mengadu pada siapa. Tak mungkin dia mengadu atau bercerita pada sang istri. Hubungannya tak sama seperti dulu.
Kini Tuan Darwin dan Nyonya Ratna bagaikan orang asing. Meski mereka tinggal dalam satu atap. "Semua tidak seperti dulu. Semua sudah berubah." batin Tuan Darwin.
Tanpa mengatakan apapun, Tuan Darwin membuka salah satu botol tersebut. Meminumnya langsung dari botol tanpa menuangkannya di dalam gelas.
Glek.... Glek... Glek....
Tuan Darwin minum air beralkohol tersebut seperti sedang minum air mineral. Meneguknya tanpa jeda.
"Hah...." tampak wajah Tuan Darwin perlahan memerah karena beliau sudah terpengaruh oleh alkohol.
Setelah satu botol kosong, Tuan Darwin membuka botol yang satunya. Dan kembali meneguknya seperti botol pertama.
Tapi sayangnya, pada botol kedua Tuan Darwin tidak mempu menghabiskan air tersebut. Dia langsung tumbang. Tergeletak dengan pantat duduk di lantai, dan kepala di atas sofa.
Sesekali Tuan Darwin menyebut beberapa nama dalam keadaan tidak sadar. Dari nama sang istri, sang putri, hingga perempuan yang selalu menjadi temannya beberapa tahun terakhir di atas ranjang.
Sedangkan sisa minuman yang masih ada di dalam botol mengalir ke lantai dengan bebas, sebab botolnya jatuh menggelinding, menjauh dari tangan Tuan Darwin.
Di tempat lain, di sebuah apartemen mewah dan besar, seorang lelaki tampan berdiri di dekat jendela. Memandang keindahan kota yang penuh dengan gemerlap lampu, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Zoya." lirih Zain.
Merasa ada yang berbeda dari Zoya, setelah dia merasa sedikit mengenalnya. Apalagi setelah dia makan malam bersama Zoya.
"Cara makan. Cara memegang sendok dan garpu. Serta semua yang dilakukan saat makan. Dia sepertinya sudah terbiasa makan di tempat mewah dan privasi." tukas Zain menilai.
Padahal Zain tahu, jika tidak mungkin Zoya sering makam di tempat seperti itu. Dilihat dari keluarganya. "Apa Zoya belajar menjadi perempuan yang anggun." batin Zain menebak..
Semakin ke sini, Zain merasa semua yang ada pada diri Zoya membuat dirinya merasa penasaran. Dimulai saat kedua orang tua Zoya. Pak Endri dan Bu Murni berkonsultasi padanya setelah Zoya baru saja tersadar dari komanya.
"Mereka bilang, Zoya bukan Zoya yang dulu lagi. Bahkan dia juga menginginkan nama panggilannya dirubah. Dari Yaya menjadi Zoya." batin Zain.
"Semua berubah. Bahkan, kata mereka. Sikap serta pembawaan Zoya juga tidak seperti dulu. Berubah seratus persen. Apa yang terjadi?" tanya Zain pada dirinya sendiri.
Zain mencoba menelisik serta mencari tahu apa yang salah dan apa yang terjadi. "Gue dulu menebak, jika perubahan itu sementara. Karena dia baru saja tersadar dari tidur panjangnya. Dan masih dalam masa penyesuaian. Tapi sekarang, itu bukan sebuah efek dari tidur panjangnya. Tapi memang itulah sifat Zoya. Dan itulah watak Zoya. Tidak ada yang berubah." oceh Zain.
Zain menghela nafas panjang, meminta pelan keningnya yang malah terasa pusing saat ingin mencari tahu perubahan sifat serta sikap Zoya dengan cara medis. "Lalu kenapa sifat dan watak pernah bisa berubah drastis. Apa bisa seperti itu?"
"Sudahlah, semakin gue pikirkan dan cari tahu, gue malah semakin pusing." cicit Zain menyerah untuk sekarang. Tapi entah besok.
"Tunggu, kenapa Zoya begitu marah hanya karena Reiner lewat secara sembarangan. Padahal, mereka baik-baik saja. Tidak ada yang terluka. Tapi sikap Zoya terlalu berlebihan." tutur Zain, masih terekam jelas saat Zoya membentak Reiner dan mengeluarkan beberapa kalimat pedasnya.
__ADS_1
"Zoya... Kamu membuat aku semakin merasa penasaran dengan kamu." tukas Zain.