
"Aku tidak mau terusir dari perusahaan. Lakukan sesuatu sayang." rengek Milly pada Tuan Darwin.
Niat hati ingin menjaga jarak dengan Tuan Darwin dan mendekati Reiner, Milly malah terjebak sendiri dalam rencananya untuk membuat Zoya dalam masalah.
Milly menahan rasa kesalnya di dalam hati karena diabaikan oleh Tuan Darwin. "Siall..!! Apa yang sedang lelaki tua ini pikirkan." umpat Milly dalam hati, merasa ada yang berbeda dengan Tuan Darwin.
Sesampainya di apartemen, Milly tidak membuang waktu. Menghubungi Tuan Darwin untuk datang ke apartemennya. Mengatakan ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
Tentu saja Tuan Darwin segera tancap gas untuk pergi menemui Milly. Beliau berpikir jika Milly ingin membicarakan masalah pernikahan mereka.
Ternyata tebakan Tuan Darwin salah. Milly malah membicarakan masalah yang melibatkan dirinya di perusahaan siang tadi. "Om... Jawab..!! Jangan diam saja...!" bentak Milly sembari berdiri menatap Tuan Darwin dengan kesal.
"Ckk...." bukannya menjawab, Tuan Darwin malah beranjak dari duduknya dan berniat pergi.
"Selangkah saja kamu melewati pintu itu. Maka kamu akan menemukan mayatku besok pagi." ancam Milly terlihat sungguh-sungguh.
Sontak ancaman Milly mampu membuat langkah kaki Tuan Darwin berhenti. Tuan Darwin menghela nafas panjang, membalikkan badan. Memandang Milly yang menatapnya penuh amarah.
Tuan Darwin memijat pelipisnya. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Tuan Darwin dengan nada pelan.
Tampak ekspresi Tuan Darwin sangat lelah dan terlihat kusut. "Aku tidak ingin dikeluarkan dari perusahaan." pinta Milly.
"Oke. Kamu tidak akan dikeluarkan."
Milly tersenyum. Mendekat ke arah Tuan Darwin. Bergelayut manja di lengannya. "Juga dengan kedua teman aku. Enggar dan Meta."
"Mana bisa. Mereka berdua bisa kamu jadikan kambing hitam. Supaya kamu bebas dan tidak bersalah." jelas Tuan Darwin.
Bukan itu yang Milly inginkan. Milly ingin keduanya tetap berada di perusahaan. Dengan begitu, dirinya bisa memanfaatkan mereka kembali untuk membuat Zoya dalam kesulitan.
"Tidak bisa. Mereka berdua teman baik aku. Kami tidak bersalah. Ckk,,, kenapa kamera CCTV nya pake mati segala. Jika saja kamera itu tidak rusak, pasti semua orang akan melihatnya. Kami tidak bersalah. Gendut itu yang bersalah." Milly berusaha menggiring pikiran Tuan Darwin untuk tetap berada di pihaknya.
"Baiklah. Tapi ada syaratnya."
"Syarat. Katakan, apa yang harus aku lakukan. Bermain di ranjang, dengan senang hati." tukas Milly, tersenyum lebar.
Jika persyaratan Tuan Darwin untuk meluluskan permintaannya dengan memanjakan Tuan Darwin di atas ranjang, tentu saja Milly akan melakukannya dengan senang hati. Sebab hal tersebut memang telah dia lakukan sejak lama.
"Kita menikah minggu ini." ujar Tuan Darwin mengatakan syarat yang harus di penuhi Milly.
Milly segera melepaskan tangannya di lengan Tuan Darwin. "Gila...!! Kenapa kamu memaksa sekali. Bukankah kita sudah membicarakannya. Keputusannya akan diambil bulan depan. Dan itu jika saya hamil." seru Milly menahan amarahnya.
Melihat Tuan Darwin hanya diam dan terlihat cemas bercampur bingung, segera Milly menggunakan akal liciknya untuk membuat Tuan Darwin menyetujui apa yang dia inginkan.
"Jika om tidak setuju, oke. Tidak masalah. Silahkan keluar dari apartemen saya. Keluarkan saya dari perusahaan. Dan saat itu juga, om akan melihat mayat saya." ancam Milly menggebu-gebu.
Milly sadar, jika dirinya belum bisa meninggalkan Tuan Darwin begitu saja. Pasalnya, lelaki yang dia inginkan belum berada di dalam genggaman tangannya. Sehingga dia tidak bisa melepaskan tambang uangnya begitu saja.
"Milly,,,,!! Jangan katakan itu." ujar Tuan Darwin memelas.
"Hanya itu yang saya minta." tegas Milly tak terbantahkan.
"Bunuh diri. Enak saja. Percuma gue mengeruk semua harta elo. Apalagi gue sudah berhasil menyingkirkan putri kesayangan elo. Mana mungkin gue rela meninggalkan dunia ini. Reiner, dia target hidup gue selanjutnya." batin Milly.
__ADS_1
"Oke...!! Saya akan turuti semua kemauan kamu." ujar Tuan Darwin pasrah.
Rasa sukanya pada Milly telah mengubah seluruh hidupnya. Bahkan Tuan Darwin rela menghancurkan perasaan sang istri hanya untuk bisa menikah dengan Milly.
Milly kembali mendekat pada Tuan Darwin. Memeluk tubuh Tuan Darwin dengan erat. "Terimakasih om,,,, Milly senang." cicit Milly tanpa malu.
"Tapi kalian tetap harus mendapatkan hukuman."
"Oke,,, Milly terima. Tapi jangan berat-berat. Bagaimana jika ternyata di perut Milly sekarang ada calon benih anak kita." rajuk Milly.
"Iya,,, aku mengerti."
Seringai iblis tercetak jelas di bibir Milly. Dirinya tentu saja sudah merencanakan kejahatan lainnya untuk membalas kekalahan yang diterimanya hari ini dari Zoya. "Zoya.... Lihatlah. Bahkan gue nggak dikeluarkan. Elo hanya gendut pecundang. Selamanya tidak akan bisa menyentuh gue." batin Milly.
Tanpa mereka berdua bisa lihat, sepasang mata melihat apa yang terjadi. "Milly,,, ternyata elo menusuk sahabat elo dari belakang." ujar Yaya menggeleng tak percaya.
"Aku pikir, kalian hanya bermain gila. Ternyata, kalian bahkan ingin menikah. Pantas saja Zoya ingin membalas apa yang kamu perbuat pada keluarganya." lanjut Yaya.
Dan malam ini, Tuan Darwin tidak menginap kembali di apartemen Milly. Beliau memilih untuk pulang. Mengistirahatkan tubuhnya di rumah utama.
"Waooww.... Waow.... Waow..." seru Milly memutar badannya seolah sedang menari, setelah dia sendirian di dalam apartemen
"Elo lihat gendut, gue nggak akan dikeluarkan dari perusahaan. Dan gue akan membalas apa yang telah elo lakukan hari ini." tukas Milly tersenyum sinis.
"Jika perlu, gue akan buat elo berbaring selamanya seperti putri Tuan Darwin. Mazoya. Haa...."
Milly tertawa lepas, merasa begitu bahagia. Sebab selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. "Dan elo, Zoya. Elo akan selamanya berbaring di ranjang. Dan Reiner,,, dia akan menjadi milik gue." cicitnya, membelai pipinya dengan pelan. Membayangkan wajah tampan Reiner.
Yaya yang masih berada di ruangan tersebut terkejut, setelah mendengar apa yang Milly katakan. "Reiner. Bukankah dia kekasih Zoya. Astaga.... Tapi, bukankah dia sudah menjalin hubungan dengan papanya Zoya. Dan kemungkinan dia sekarang hamil. Tapi,,, kenapa Milly malah mengatakan jika dia menginginkan Reiner." Yaya merasa bingung sendiri.
Di tempat lain, Zoya berdiri di dekat jendela. Memegang selembar kertas di tangannya. "Pasti papa kebingungan mencari ini." ujar Zoya tersenyum senang.
"Milly. Elo nggak akan mendapatkan sepeserpun harta kekayaan papa. Dan gue akan terus membuat elo dalam penderitaan, selama sisa hidup elo." ujar Zoya memandang tajam keluar jendela.
Tanpa Zoya tahu, saat ini arwah Yaya berdiri tepat di belakangnya. "Aku harus mencoba. Siapa tahu bisa." cicit Yaya, berharap Zoya melihat semua apa yang dia lihat di apartemen.
Yaya menggerakkan tangannya, dia ingin menyentuh tubuh Zoya. Tapi sangat sulit. Tangannya melalui tubuh Zoya begitu saja tanpa berhenti. "Kenapa... Kenapa tidak bisa." ujar Yaya bingung.
Di saat Yaya mengikuti kemanapun Zoya pergi, dan terus berusaha memegang tubuhnya, Zoya mulai membaringkan tubuhnya atas ranjang untuk bersiap tidur. Setelah kembali menyimpan selembar kertas tersebut di tempat yang dia rasa aman.
Sampai Zoya terlelap, Yaya bahkan masih berusaha untuk mencoba memberitahu Zoya apa yang dia lihat di apartemen Milly.
"Ayolah... Yaya... Kamu pasti bisa." tukas Yaya.
Yaya merasa tenaganya terkuras habis. Karena terlalu lelah, Yaya duduk di samping Zoya. Tanpa dia sadari, tangannya berada di atas paha Zoya.
Keajaiban terjadi. "Zoya,,, kamu kenapa?" tanya Yaya terkejut, melihat kepala Zoya bergerak ke kanan dan kiri. Di dahinya, keringat sebesar biji jagung mulai terlihat.
"Zoya... Bangun.... Kamu kenapa..?!" seru Yaya yang pastinya tidak akan bisa di dengar Zoya.
Yaya tidak tahu, jika saat ini Zoya sedang bermimpi. Memimpikan hal yang sama dengan apa yang dia saksikan di apartemen Milly.
Zoya tiba-tiba bangun dan langung duduk dengan nafas terengah. "Zoya..." panggil Yaya untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Ingin Yaya menolong Zoya dengan mengambilkan air minum, sayangnya dia tidak bisa melakukannya. "Ada apa Zoya?" lagi-lagi Yaya bertanya. Meskipun dia sendiri tahu jika semua itu percuma.
Zoya turun dari tempat tidur. Mengambil segelas air di atas nakas, meminumnya hingga tandas. "Huh........ Seperti nyata." cicit Zoya meletakkan kembali gelas kosong tersebut di atas nakas.
Zoya menyeka keringat di dahinya. Duduk di tepi ranjang untuk menenangkan diri setelah bermimpi buruk. "Kenapa gue bisa memimpikan papa dan Milly. Dan,,,, dan mereka berdua di apartemen." cicit Zoya yang pastinya di dengar oleh Yaya.
"Syukurlah. Terima kasih Tuhan." ucap Yaya merasa lega, Zoya bermimpi apa yang dia lihat di apartemen.
Zoya tersenyum. "Apa tadi itu pertanda. Jika papa tidak akan mengeluarkan Milly dari perusahaan." cicit Zoya.
"Ya... Memang itu yang gue inginkan. Dengan Milly tetap berada di perusahaan. Bekerja di sana, akan membuat gue lebih mudah melakukan semua rencana gue." tukas Zoya.
Yaya terdiam sejenak. Sama sekali tidak mengerti pikiran Zoya. "Kenapa kamu malah senang. Bukankah jika Milly keluar, hidup kamu akan lebih tentram." tukas Yaya bingung.
Sayangnya Zoya tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. "Dan Reiner. Gue harus mencari tahu rencana Milly. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya." tukas Zoya.
Zoya merasa jika Milly pasti memiliki rencana besar. Dirinya saat ini masih bersama sang papa. Tapi sudah menargetkan Reiner.
"Itu berarti, Milly ingin meninggalkan papa. Dan mengejar Reiner. Tapi,,, bukankah papa ingin menikah dengan Milly." lirih Zoya.
"Ckk... Gue harus mencari tahu rencana Milly." ucap Zoya, kembali membaringkan tubuhnya untuk tidur lagi.
Zoya membalikkan bantalnya terlebih dahulu, sebelum dia gunakan. Dia masih sedikit percaya dengan mitos, jika membalikkan bantal, maka dia tidak akan bermimpi buruk untuk kedua kalinya.
Langkah kaki Tuan Darwin terhenti di dekat meja makan. Tak terlihat sajian makanan yang biasanya dia lihat saat pulang ke rumah. "Tuan,,, apakah Tuan ingin makan?" tanya seorang pembantu membuyarkan lamunan Tuan Darwin.
"Maaf, Nyonya mengatakan tidak perlu menyiapkan makan malam." lanjutnya, mengatakan perintah Nyonya Ratna.
"Apakah Nyonya sudah makan?" bukannya menjawab apa yang pembantu tanyakan, Tuan Darwin malah balik bertanya.
"Sudah Tuan. Tadi sekitar jam setengah tujuh, saya membawakan makanan untuk Nyonya ke kamar Nona Zoya." jelasnya.
Kening Tuan Darwin mengerut. "Pergilah." pinta Tuan Darwin sembari menggerakkan tangannya.
Tuan Darwin menaiki anak tangga dengan lambat. Berhenti tepat di kamar sang putri, Zoya. Beliau hanya menatap ke arah pintu.
Hanya sebentar, lalu pergi ke kamarnya sendiri. Tampak sepi dengan ranjang tempat tidur yang terlihat rapi tak tersentuh.
Tuan Darwin melemparkan tas yang ada di tangannya ke atas kursi dengan asal. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tanpa melepaskan sepatu dan tanpa mengganti pakaian.
Di tatapnya langit-langit kamar. "Apa mama akan merestui, jika dia tahu. Bahwa aku akan menikahi Milly." cicit Tuan Darwin.
Beliau menebak, jika sang istri akan berbesar hati jika mengetahui bahwa yang akan menjadi madunya adalah Milly. Kenyataannya, Nyonya Ratna memang sudah mengetahuinya.
Lambat laun, Tuan Darwin memejamkan kedua matanya. Terlelap dalam tidurnya tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.
Dan Nyonya Ratna, beliau juga membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Di kamar Zoya. Hanya saja, dia tidak tidur seranjang dengan Zoya.
Nyonya Ratna tidur di ranjang berbeda. Dimana ranjang tersebut baru beliau taruh di dalam kamar Zoya malam ini.
Nyonya Ratna khawatir jika dia akan menyentuh peralatan medis yang tertempel di seluruh tubuh sang putri, jika dia tidur seranjang dengan Zoya.
Nyonya Ratna membaringkan tubuhnya dengan posisi miring. Kedua matanya menatap ke arah Zoya yang masih betah memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
"Mama yakin, kamu akan membuka kembali kedua mata kamu. Dan selama penantian itu, mama akan melakukan apapun untuk kamu, sayang." lirih Nyonya Ratna, yang seharian ini sama sekali tidak keluar dari kamar Zoya.
"Zoya. Perempuan itu mempunyai nama seperti kamu. Hanya saja, tubuhnya lebih subur. Mama berharap, dia benar-benar tulus membantu kita, sayang." cicit Nyonya Ratna, mengingat sosok Zoya yang mempunyai tubuh gendut.