
"Gue berasa jalan dengan majikan gue." Zoya melirik ke arah Zain yang berjalan di sampingnya.
Zoya beberapa kali menghela nafas panjang. Rasanya sungguh memuakkan. Sepanjang jalan, semua mata mengarah kepada dirinya.
Zoya tersenyum kecut. Baru kali ini, Zoya merasa sama sekali tidak percaya diri. "Seperti itik buruk rupa dengan sang pangeran." gumam Zoya mendesah. Membandingkan dirinya dengan Zain.
"Ada apa?" tanya Zain, merasa Zoya mengatakan sesuatu.
Zoya menghentikan langkahnya. "Bisa jaga jarak." pinta Zoya menampilkan wajah judasnya.
"Jaga jarak. Memangnya kenapa?" tanya Zain yang memang tidak tahu apapun.
Zoya lagi-lagi menghela nafas panjang. Memutar kedua matanya dengan jengah. "Apa anda tidak sadar, sedari tadi semua mata mengarah pada kita." geram Zoya, merasa sebal ketidakpekaan Zain.
Jujur, ada rasa tak nyaman saat dirinya berjalan bersama Zain. Jika saja Zoya menjadi dirinya sendiri, pasti dia akan melangkah dengan dagu terangkat.
Tapi bentuk badan Yaya membuat Zoya menjadi bahan tontonan. Sekarang Zoya merasakan apa yang Yaya rasakan dulu. Benar-benar ingin marah pada semua orang. Ingin membentak mereka. Bahkan mencukil bola mata mereka. Tapi harus menahannya.
Sebab, apa yang akan mereka katakan jauh lebih menyakitkan hati. Jika Zoya membentak mereka.
"Maafkan gue Yaya. Maaf." batin Zoya, teringat saat dia selalu mengatakan tentang body shamming saat Yaya masih ada.
"Elo tenang saja, gue akan merubah bentuk badan elo. Meski perlahan." batin Zoya tersenyum samar.
Zain menoleh ke kanan dan kiri. Apa yang dikatakan Zoya benar adanya. "Ehh..." Zoya terkejut, saat mendapati tangannya tiba-tiba di pegang oleh Zain.
"Biarkan saja. Jangan hiraukan mereka. Ayo." ajak Zain dengan tenang, melangkahkan kakinya kembali dengan tangan menggandeng lengan Zoya.
"What." batin Zoya.
Zoya hanya diam, berjalan dengan santai. Seolah dirinya cuek dengan keadaan sekitar. Padahal sejujurnya, perasaan Zoya sangat tidak baik-baik saja.
"Jangan hiraukan mereka. Biarkan saja. Anggap mereka patung." tukas Zain.
Zoya memasang ekspresi aneh. "Mana bisa." batin Zoya.
__ADS_1
"Elo mah enak. Tampan, badan bagus. Gue." lirih Zoya, terdengar di telinga Zain.
"Jangan erat-erat, tangan saya sakit." keluh Zoya.
"Maaf." tukas Zain.
Keduanya memasuki sebuah toko yang menjual berbagai merk ponsel beserta perlengkapannya. Mata Zoya memindai semua ponsel yang ada di etalase.
"Jika saja gue masih Zoya yang dulu. Gue nggak perlu memikirkan tentang uang." batin Zoya.
Beruntung, meski dulu Zoya hidup berkecukupan. Namun dirinya tidak suka berbelanja atau menghamburkan uang sang papa.
Dia hanya akan berbelanja barang yang yang diperlukannya saja. Dan semua itu karena sang papa memberi jatah bulanan pada dirinya.
Dimana, jika uang bulanan itu habis sebelum waktunya, maka sang papa tidak akan memberikannya. Makanya Zoya bisa mengatur keuangan dengan baik.
Hanya yang berbeda adalah jumlah uangnya. Jika dulu dirinya mendapat jatah bulanan yang lumayan banyak. Sekarang dirinya harus bisa mengelola gaji perbulan yang dia dapat dari bekerja.
"Zoya,,, kamu pilih yang mana?" tanya Zain, membuyarkan lamunan Zoya.
Karyawan toko memandang mereka dengan senyum yang menurut Zoya aneh. Dan Zoya tahu pasti penyebabnya. "Lihat saja jika badan Yaya sudah langsing. Pasti akan jauh lebih cantik dari pada elo." batin Zoya kesal.
Zoya melihat sebuah ponsel berharga miring, dan dia tidak perlu meminjam uang pada Zain. "Mbak, coba lihat yang ini." pinta Zoya, menunjuk ke sebuah ponsel.
"Kenapa yang itu, kami pilih yang sedikit lebih bagus." cicit Zain, karena Zoya memilih ponsel yang menurutnya biasa
Zoya tersenyum manis ke arah Zain. "Tidak, ini saja. Yang terpenting bisa buat telepon ibu di rumah." jelas Zoya.
Zain tersenyum, melihat senyum manis di bibir Zoya. Dan ini pertama kalinya, Zain melihat senyum tersebut. Sebab, biasanya Zoya tersenyum palsu saat memandangnya.
Keduanya meninggalkan toko, setelah Zoya selesai memilih serta membeli ponsel yang dia pilih sendiri.
"Bagaimana kalau kita makan dulu." tawar Zain.
"Tapi ini malam hari. Lagian saya tadi sudah makan di rumah." tolak Zoya dengan sopan.
__ADS_1
"Ayolah. Temani aku. Perutku terasa lapar. Kamu bisa makan salad." saran Zain merayu Zoya.
Zoya terdiam. Lalu mengangguk. "Itung-itung terimakasih karena dia sudah nganterin gue." batin Zoya.
Keduanya memilih tempat makan yang juga sudah tersedia di mall tersebut. Sehingga tidak perlu mencari ke tempat lain.
"Zain..." panggil seorang perempuan dengan dandanan anggun. Terlihat begitu cantik.
Zain berdiri, bersalaman dengan perempuan yang menyapanya tersebut. "Hay, apa kabar? Kenapa elo bisa ada di sini? Elo sama siapa?" tanya Zain berentet.
Perempuan tersebut duduk di kursi. "Tanyanya satu persatu dong. Gue jadi bingung, jawab yang mana dulu." sahut ya sembari terkekeh.
Dia memandang ke arah Zoya dengan tatapan aneh. "Siapa?" tanyanya pada Zain.
"Dia...."
"Pembokat di rumah elo." ujarnya menyela kalimat Zain yang belum selesai.
Zain menatap ke arah Zoya dengan tatapan tidak enak. "Iya, saya pembantu di rumah Tuan Zain." sahut Zoya dengan santai.
Zain ingin membuka mulutnya, mengatakan yang sejujurnya. Tapi perempuan tersebut sudah mengeluarkan suaranya. "Elo baik banget sih, membiarkan pembantu makan dan duduk semeja sama elo." pujinya.
Perempuan tersebut melirik ke arah Zoya. Tapi, Zoya tampak acuh. Dirinya sibuk memainkan ponsel barunya.
Zain berbincang dengan perempuan yang baru saja bergabung dengan mereka. Berkali-kali Zain mencuri pandang ke arah Zoya.
Seorang pelayan datang membawa pesanan Zain dan Zoya. "Zain, ini buat gue." tanya perempuan tersebut melihat ada salad sayur.
"Bukan. Itu milik Zoya. Elo pesan saja." Zain menggeser piring berisi salad serta segelas minuman ke depan Zoya.
Perempuan tersebut tersenyum miring. Segera dia memesan makanan pada pelayan. "Pembantu sialan. Kenapa Zain sepertinya memperlakukan dia dengan spesial. Padahal dia hanya seorang pembantu." batinnya.
Saat makan, Zain memandang Zoya dengan intens. Semua dikarenakan cara makan Zoya yang terlihat anggun dan berkelas. "Dia, tidak terlihat seperti anak keluarga yang kurang mampu." batin Zain.
Berkali-kali perempuan yang ternyata sahabat kuliah Zain selalu mencari perhatian pada Zain. Tapi Zain hanya menanggapinya dengan biasa.
__ADS_1
Sementara Zoya, dirinya menikmati makanan di depannya. Zain tersenyum samar, setiap kali menatap wajah polos Zoya.