MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 61


__ADS_3

Jam makan siang telah tiba. Semua karyawan meninggalkan ruangan kerja mereka untuk memberi makan cacing-cacing yang ada di perut mereka.


Juga dengan Zoya. Bedanya, Zoya tidak pergi mencari makanan atau minuman. Melainkan pergi ke toilet untuk buang air kecil.


Sebab seperti biasa, Zoya sudah membawa bekal makan siang dari rumah. Dan beberapa potong buah segar. Sehingga dia tidak perlu repot-repot mencari makanan untuk mengisi perut.


Zoya tersenyum samar. Dia menyadari jika ada yang mengikutinya dari belakang. "Milly." batin Zoya menebak siapa yang mengikutinya.


Ingat, dia Zoya. Bukan Yaya. Jadi, tak ada rasa takut sama sekali di dalam dirinya. Yang ada, Zoya semakin senang jika Milly mengikutinya dan membuatnya berada dalam masalah.


Dengan begitu, Zoya tak perlu repot-repot memikirkan rencana untuk membuat Milly dalam kesulitan. Hanya dengan membalikkan keadaan seperti kemarin, dan Milly akan terkena tulah dari perbuatannya sendiri.


Zoya masuk ke dalam kamar kecil, dimana di dalamnya masih ada beberapa perempuan yang juga sedang buang air kecil, atau hanya sekedar membenarkan riasan wajah mereka serta penampilan mereka.


"Gue ingin lihat. Apa yang akan elo lakukan?" batin Zoya masuk ke dalam toilet dengan tenang.


Dengan santai, Zoya mengeluarkan air yang sudah terkumpul di kandung kemih. "Rasanya tubuh ini semakin kurus." cicit Zoya, merasakan perbedaan saat dia melakukan jongkok ketika buang air kecil.


Zoya menepuk perutnya pelan. "Yaya lihatlah, lingkar perut elo semakin berkurang." batin Zoya tersenyum melihat ke arah perutnya yang masih membuncit. Meski tak sebesar sebelumnya.


Krek...


Zoya membuka pintu bilik toilet. Sepi. Hanya ada Milly yang berdiri dengan menyandarkan punggungnya di tembok. Kedua tangan bersedekap di depan perutnya dengan mata menatap lekat ke arah Zoya.


Zoya tahu jika saat ini Milly menatap dirinya, layaknya seekor kera melihat pisang. Zoya acuh, dan tak peduli. Atau lebih tepatnya berpura-pura tidak peduli.


Zoya berdiri di depan cermin. Membasuh wajahnya dengan air mengalir dari kran di depannya yang baru saja dia nyalakan.


"Aaiisshhh..." desis Zoya, saat dirinya baru saja menyingkirkan kedua telapak tangannya dari wajah, merasakan rambut bagian belakang ada yang menarik dengan kuat.


Zoya melihat Milly tepat di belakangnya. Keduanya saling bersitatap dari pantulan cermin. Milly menatap Zoya dengan ekspresi kesal dan sadisnya. "Apa yang sudah elo katakan pada mereka?!" tanya Milly, semakin menarik rambut Zoya ke belakang.


Zoya menahan rasa sakit di kepalanya. Dia tersenyum remeh melihat Milly dari pantulan cermin di depannya. "Jika elo sudah tahu, kenapa elo harus bertanya. Apa memang otak elo kosong." ejek Zoya.


Zoya tahu maksud pertanyaan Milly. Pasti karena dirinya tadi pagi mengatakan perihal dirinya yang sempat koma beberapa minggu. Dan semua mengarah pada Milly sebagai pelakunya.


Milly menggunakan tangannya yang bebas untuk memegang dagu Zoya dan menekannya. "Gue peringatkan. Untuk elo tutup mulut. Atau,,, gue akan buat elo selamanya tidak bisa berbicara." ancam Milly.


"Iiiihhh....!! Takut....!! Apa elo pikir gue takut calon Nyonya Darwin." tekan Zoya tersenyum sinis.


Milly terkejut dengan kalimat yang dilontarkan Zoya. Dan Zoya, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membalikkan keadaan di saat Milly lengah karena rasa keterkejutannya.


"Aa....!" seru Milly, yang kini sudah berada di depan Zoya. Keduanya bertukar posisi dengan begitu cepat.


Zoya menahan serta mencekal kedua tangan Milly di belakang tubuhnya. Zoya juga menggunakan kakinya untuk menekan kaki Milly ke depan. Sehingga Milly tidak bisa bergerak bebas.


"Lepas,,,!? Brengsek...!!" seru Milly berontak.


"Lepas. Apa memang elo selemah itu. Hingga harus merengek minta untuk dilepaskan. Tidak bisa melepaskan diri dengan kekuatan sendiri. Lemah." ejek Zoya tertawa senang.


"Elo tadi mengancam gue kan. Tapi sayang, gue bukan seperti elo. Gue nggak suka mengancam. Dan gue, lebih senang melakukannya tanpa memberi peringatan." tukas Zoya, memandang Milly dari pantulan kaca.


Tampak raut wajah Milly yang sangat kesal. "Uuhhh..... Pasti sekarang tubuh elo panas. Uppss,,, apa otak elo juga panas." cicit Zoya.


Zoya menggunakan tangannya yang bebas untuk menyalakan kran air di depan Milly. "Apa yang mau elo lakukan?!" tanya Milly dengan nada tinggi.


"Cckk,,, ternyata otak elo memang kosong. Pasti elo sudah tahu. Pura-pura tanya." sahut Zoya dengan santai.


Dan..... Haaaapppp...


Zoya menekan kepala Milly ke bawah, membuat kepala Milly basah terkena air yang mengucur dari kran di atas kepala Milly.


Milly berusaha untuk berontak. Tapi Zoya menggunakan kekuatan kakinya untuk menekan kaki Milly, tangannya untuk menggenggam erat kedua tangan Milly, dan tangan yang satunya menekan kepala Milly ke bawah kran.


"Hah.... hah.... hah...." Milly bernafas dengan tersengal-sengal, setelah Zoya menarik kepalanya kembali ke atas.


"Bagaimana, dingin bukan." ejek Zoya melihat wajah Milly yang terlihat pucat.


Lagi,,,


Zoya melakukan kembali apa yang dia lakukan. Menekan kembali kepala Milly ke bawah keran. Membuat Milly gelagepan, susah bernafas karena air yang terus mengucur membasahi kepalanya.

__ADS_1


"Hah... Hah... Uhuk.... Uhuk...."


Zoya kembali menarik kepala Milly ke atas. Zoya tertawa tepat di samping telinga Milly, melihat wajah Milly yang bertambah pucat.


Zoya juga merasakan jika tubuh Milly melemas. "Lemah." hina Zoya.


Zoya melepaskan cekalan tangannya pada tangan Milly. Mendorong Milly, hingga tubuh Milly tersebut tembok di belakangnya. "Aiiss..." ringis Milly.


"Hanya beberapa detik. Dan elo hampir sekarat. Dan elo, dengan sengaja mengunci gue di atas. Semalam terkena air hujan. Sekarang, elo tahukan, siapa yang,,,, lemah." ejek Zoya lagi.


"Aauuu..." seru Milly, saat Zoya menendang kakinya dengan sengaja.


"Perempuan murahan. Jangan elo pikir gue nggak tahu, jika elo menusuk Zoya, sahabat elo dari belakang, dengan bermain api bersama Tuan Darwin. Perempuan binal." ejek Zoya tersenyum remeh.


"Cih...." Zoya meludah ke samping. Meninggalkan Milly seorang diri di dalam kamar mandi dengan keadaan yang sangat buruk.


"Aaaaa....!!" seru Milly, hanya mampu berteriak lirih. Sebab tenaganya sudah habis.


"Zoya.... Elo benar-benar menguji kesabaran gue." geram Milly semakin membenci Zoya. Dan semakin besar pula niat Milly membuat Zoya hancur.


"Dari mana dia mendapatkan keberanian sebesar itu." batin Milly, perlahan mulai berdiri. Khawatir jika sampai ada yang melihatnya.


Milly melihat keadaannya yang sangat buruk di depan cermin. "Zoya sialan....!" serunya sembari memukul wastafel di depannya.


Zoya berjalan meninggalkan toilet dengan tenang. Seakan tidak terjadi apapun di dalamnya. Ekspresi wajahnyapun juga terlihat datar. "Gue harus mencari tahu keluarga Milly. Dari mana dia berasal." batin Zoya, yang selama ini sama sekali tidak pernah mengetahui keluarga dari Milly.


Meski keduanya bisa dikatakan cukup dekat, bahkan Milly yang juga dekat dengan keluarga Zoya, tapi Milly sama sekali tidak pernah mengenalkan keluarganya pada Zoya.


Milly hanya mengatakan jika kedua orang tuanya sudah tidak ada. Dan dia tinggal di panti asuhan, karena hidup seorang diri.


Tapi anehnya, saat Zoya mencoba bertanya mengenai panti asuhan tersebut, Milly selalu menghindar. Dia selalu beralasan jika dia pasti akan sedih jika teringat kehidupannya yang dulu.


"Bodohnya gue, percaya begitu saja dengan manusia sampah seperti Milly." geram Zoya, yang sekarang bisa menebak jika semua yang Milly ceritakan padanya hanyalah sebuah kebohongan belaka.


Zoya menghentikan langkahnya. "****..." umpat Zoya merasa kesal pada dirinya sendiri.


Teringat dirinya yang merengek pada sang papa untuk membiarkan Milly bekerja di perusahaan bersamanya, meski Milly hanya lulusan SMA.


"Miko,,,, ya, hanya dia yang bisa membantu gue." batin Zoya, kembali melangkahkan kakinya.


Zoya tidak bisa bergerak leluasa di perusahaan. Karena dirinya hanya karyawan rendahan. Berbeda dengan Miko yang menjabat sebagai kepala divisi keuangan.


"Gue akan menyuruh Miko mencari tahu identitas Milly dari ruang penyimpanan berkas para karyawan. Semoga Miko mau membantu gue." cicit Zoya semakin mempercepat langkah kakinya untuk segera sampai di ruang kerja. Berharap Miko sudah ada di sana.


Pucuk di cita ulam pun tiba. Ternyata Miko sudah ada di ruang kerja. "Dari mana?" tanya Miko melihat Zoya masuk ke dalam ruangan.


"Toilet." sahut Zoya.


"Ada apa?" tanya Miko, pasalnya Zoya malah berdiri di depan meja kerjanya alih-alih membuka bekal makan siangnya.


"Apa tawaran elo masih berlaku?"


"Tawaran apa?"


"Elo bilang mau membantu gue, jika gue membutuhkan bantuan elo."


"Emmm... Masih. Katakan saja, apa yang bisa aku bantu?" tanya Miko tersenyum senang. Akhirnya Zoya membutuhkan dirinya.


Zoya menundukkan sedikit badannya. Membuat wajah Zoya dan Miko semakin dekat. Bahkan Miko sampai menahan nafasnya. Ada rasa yang aneh menjalar ke dalam rubuhnya saat dia sedekat itu dengan Zoya.


"Gue mau elo mencari tahu identitas Milly. Keluarga Milly." lirih Zoya.


Zoya menarik kembali tubuhnya dan berdiri tegap. Miko menaikkan sebelah alisnya, mendengar permintaan Zoya. "Cukup jawab bisa atau tidak. Gue tidak membutuhkan pertanyaan." lanjut Zoya.


"Baik. Aku akan lakukan." sahut Miko yakin. Meski dirinya sangat penasaran untuk apa Zoya membutuhkan biodata Milly.


"Terimakasih. Gue harap elo bisa secepatnya mencari tahu. Dan memberikan informasinya pada gue."


Zoya membalikkan badan, hendak berjalan kembali ke kursinya. Tapi suara Miko menahan langkah kakinya. "Tapi ada syaratnya." pinta Miko.


Zoya menghela dan menghembuskan nafas pendek. Kembali membalikkan badan untuk bersitatap dengan Miko. "Bukankah sudah gue katakan. Tidak ada pertanyaan." tekan Zoya.

__ADS_1


"Bukan pertanyaan. Tapi permintaan."


Zoya manggut-manggut. "Oke. Katakan."


"Satu,,,"


"Tunggu." ujar Zoya memotong kalimat Miko yang baru satu kata.


"Satu,,, berarti elo mau meminta lebih dari satu hal."


Miko mengangguk sembari tersenyum. "Dengarkan dulu. Jika kamu setuju, kita akan membuat kesepakatan. Jika kamu tidak setuju, kesepakatan kita yang tadi tidak akan terjadi." ujar Miko dengan licik.


"Aaaw.... Aw.... Rubah. Licik sekali otak anda. Bukankah elo yang menawarkan. Dan tadi elo mengatakan oke, akan gue bantu. Tapi,,, apa sekarang yang terjadi. Jangan mengada-ada." tukas Zoya merasa kesal.


Miko tersenyum samar. Melihat ekspresi Zoya yang kesal menjadi kesenangan tersendiri untuknya. Sebab, Zoya malah terlihat begitu menggemaskan saat kesal. Apalagi dua pipi cabinya yang sedikit mengembang.


"Makanya, kamu dengarkan dulu." pinta Miko dengan sabar.


"Oke cepat." sahut Zoya, khawatir karyawan lainnya akan segera datang.


"Pertama, aku ingin bermain ke rumah kamu. Sebagai teman kerja. Lalu kedua, aku ingin mengajak kamu keluar untuk makan malam. Bagaimana?" tanya Miko setelah mengatakan persyaratannya sebagai upah membantu Zoya.


Zoya masih diam. Memainkan bibirnya sembari berpikir dan menatap ke arah Miko. "Yang pertama, aku ingin melakukannya nanti. Tepatnya hari ini. Yang kedua, setelah aku mendapatkan apa yang kamu inginkan. Bagaiman, kamu setuju?" tanya Miko lagi, sebelum Zoya menjawab pertanyaannya yang pertama.


"Jika nanti, gue nggak bisa. Gue ada urusan pribadi setelah pulang kerja." ujar Zoya memberitahu.


"Kamu mau kemana?" tanya Miko.


"Oke. Besok. Bagaimana?" lanjut Miko bertanya, sebab bukannya menjawab, Zoya malah menatapnya dengan lekat.


"Oke. Besok. Tapi elo jangan lupa, segera lakukan apa yang gue minta." tukas Zoya.


"Siap bos." sahut Miko.


Zoya tersenyum samar. Dan senyum itu terlihat oleh kedua mata Miko. "Sangat manis." batin Miko memuji.


Zoya duduk kembali di kursinya. Mengeluarkan bekal makanan yang dia bawa dari rumah. Zoya tersenyum sembari memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya. Dia mengingat apa yang baru saja dia lakukan pada Milly.


"Reiner. Dia juga menjadi target Milly selanjutnya. Apa yang harus gue lakukan?" batin Zoya, sebab dirinya tahu jika Reiner menyukai perempuan cantik dan seksi.


Sedangkan dirinya tidak memungkinkan untuk mendekati Reiner. "Dengan postur tubuh gue yang sekarang, pasti Reiner malah akan menghina gue seenak jidatnya." batin Zoya memikirkan sesuatu.


"Ehh,,,, bagaimana kabar Reiner. Apa jangan-jangan dia sudah mempunyai perempuan lain." batin Zoya menebak.


Zoya memegang garpu di tangannya dengan erat. Menancapkan garpu ke buah dengan tenaga kuat. "Laki-laki sialan. Ada perempuan cantik dan mulus, langsung dia berpaling. Lihat saja, gue akan membalas rasa sakit yang gue terima dari elo. Pengkhianat." geram Zoya dalam hati.


Memasukkan buah ke dalam mulutnya dengan ekspresi kesal. Serta mengunyah buah seakan dia sedang mengunyah benda keras.


Tak berselang lama, Meta dan Enggar, serta Beni masuk ke ruangan. Meta dan Enggar memandang sekilas ke arah Zoya dengan tatapan sinis.


"Milly.... Loh, elo ganti baju?" tanya Meta yang melihat Milly memakai pakaian yang berbeda dari sebelumnya.


"Kenapa dengan baju elo yang tadi?" tanya Enggar penasaran.


Bukannya menjawab pertanyaan Enggar dan Meta, Milly malah menatap kesal ke arah Zoya yang juga sedang menatapnya sembari menikmati buah segar.


Tampal jelas senyum mengejek diberikan Zoya pada Milly. "Segarnya.... Emmmm." cicit Zoya sembari memasukkan sepotong buah apel ke dalam mulutnya.


Brak... Milly duduk di kursi dengan kasar. Bahkan tangannya sempat menggebrak meja kerjanya sendiri. Membuat mereka yang ada di ruangan terjingkat. Tapi tidak dengan Zoya yang masih melanjutkan makannya dengan santai.


Meta dan Enggar saling pandang. Keduanya lalu menatap Zoya yang terlihat bahagia. "Apa semua ada hubungannya dengan Zoya?" bisik Meta, yang memang meja kerjanya berdekatan dengan Enggar.


"Entahlah. Tapi sepertinya iya." sahut Enggar.


Pemandangan tersebut tak luput dari pengamatan mata Miko. Dia merasakan ada perbedaan Zoya yang sekarang dengan yang dulu.


"Tapi memang lebih baik seperti ini. Siapa tahu, Zoya tidak lagi ditindas." batin Miko.


"Kerja woeeyy..... kerja.... Cari uang halal. Jangan jual diri." sindir Zoya, memasukkan wadah bekalnya ke dalam paper bag. Lalu membuka laptopnya.


Milly menggenggam erat telapak tangannya. Menahan emosinya yang seketika kembali membuncah karena perkataan Zoya yang tentunya di sengaja. Dan itu ditujukan untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2