
Nyonya Ratna meninggalkan rumah setelah memastikan sang suami berangkat untuk bekerja. "Mbok, jika Tuan telepon dan bertanya, katakan jika saya berada di dalam kamar Zoya." pinta Nyonya Ratna.
"Baik Nyonya."
"Terimakasih. Jangan lupa sampaikan pada semua. Saya titip Zoya sebentar. Ada hal yang harus saya lakukan."
"Baik Nyonya. Silahkan."
"Segera hubungi saya jika ada apa-apa dengan Zoya."
"Baik Nyonya, jangan khawatir. Kami akan menjaga Nona Zoya dengan baik."
Para pembantu mengetahui jika majikan mereka sedang menghadapi masalah besar. Dan mereka juga tahu masalah apa yang menimpa Tuan dan Nyonyanya.
Mereka berharap, Tuan Darwin membatalkan keputusannya untuk menikah lagi dengan alasan apapun. Jujur, mereka tidak tega melihat Nyonya mereka yang selama ini selalu memperlakukan mereka dengan baik tersakiti hatinya.
"Kami hanya bisa mendo'akan Nyonya. Semoga Nyonya dan Nona Zoya selalu dalam lindungan-Nya." lirih sang pembantu merasa iba.
Nyonya Ratna dengan hati tenang meninggalkan rumah. Mempercayakan sang putri pada perawat serta pembantu. Dirinya yakin, jika mereka akan menjaga Zoya dengan baik.
Nyonya Ratna pergi kerena ingin bertemu dengan seseorang dan berkonsultasi dengan orang tersebut.
Semua Nyonya Ratna lakukan setelah mendapatkan pesan tertulis dari Zoya, seorang perempuan yang mempunyai nama sama dengan putrinya, tapi memiliki tubuh gendut.
Tanpa Nyonya Ratna ketahui, jika perempuan tersebut memanglah Zoya. Putri kandungnya yang berada di dalam tubuh perempuan lain.
Nyonya Ratna pergi menggunakan taksi online yang sudah dia pesan sebelumnya. Tidak menggunakan mobil dan sopir yang memang sudah disediakan sang suami seperti biasanya.
Tentu saja Nyonya Ratna tidak ingin sang suami menaruh rasa curiga atas kepergiannya kali ini. Apalagi, beliau tidak meminta izin seperti biasanya.
"Maaf, saya mengganggu." tutur Nyonya Ratna saat dirinya bertemu dengan seorang pengacara perempuan di kantor saung pengacara tersebut.
"Sama sekali tidak. Silahkan duduk." tuturnya dengan sopan dan ramah.
"Ratna, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kamu sampai menghubungiku dan ingin bertemu secara pribadi?" tanya perempuan di depannya.
Gina. Perempuan tersebut bernama Gina. Sahabat Nyonya Ratna yang berprofesi sebagai pengacara. Keduanya berada di fakultas yang sama. Hanya saja berbeda jurusan.
Jika Gina berada di jurusan hukum, dan sekarang sukses sebagai seorang pengacara. Berbeda dengan Nyonya Ratna yang harus menghentikan pendidikannya di fakultas kedokteran karena terbentur masalah biaya.
"Katakanlah, itupun jika kamu percaya dengan aku. Tapi aku berjanji, akan menjadi seorang pengacara yang profesional. Dan juga sebagai sahabat kamu." tekan Gina menginginkan Nyonya Ratna percaya padanya.
Gina bisa melihat dari ekspresi sang sahabat yang terlihat kusut dan banyak pikiran dan juga, sepertinya ada tekanan batin.
Selama ini, dia melihat Nyonya Ratna sebagai perempuan ramah dan cerdas. Yang memiliki keluarga bahagia bersama Tuan Darwin. Terlihat di setiap momen, di saat keduanya menghadiri atau datang di acara-acara tertentu secara bersama.
Nyonya Ratna menghela nafas panjang. "Minumlah." tukas Gina menyodorkan sebotol minuman mineral yang masih tersegel tutupnya.
Gina membiarkan Nyonya Ratna untuk menenangkan diri. Dia yakin, jika sahabatnya tersebut pasti akan menceritakan apa yang dia alami. Buktinya dia sudah ada di depannya saat ini.
"Suamiku ingin menikah lagi." itulah kalimat pertama yang diucapkan Nyonya Ratna.
Gina yang terkejut sampai berdiri dari tempat duduknya. Menatap ke arah Nyonya Ratna dengan tatapan tak percaya.
"Gila. Tidak mungkin." ujar Gina menolak untuk percaya dengan apa yang dia dengar. Dia mengambil sebotol air minum, membukanya dan langsung meneguk separuh air di dalamnya.
Gina kembali duduk, menatap Nyonya Ratna dengan senyum yang terlihat kebingungan. Pasalnya, seluruh orang tau bagaimana mesranya Tuan Darwin setiap bersama Nyonya Ratna.
Dan hal tersebut keharmonisan mereka berdua membuat para pasangan lainnya iri. Sebab, di usianya yang saat ini, Tuan Darwin dan Nyonya Ratna masih terlihat begitu mesra dan saling menyayangi.
"Itulah yang terjadi." tukas Nyonya Ratna.
Tubuh Gina terasa lemas mendengar kabar tersebut. "Astaga...!! Darwin...!" ujarnya masih tidak menyangka akan hal ini.
"Dan aku terpaksa menandatangi surat izinnya." ujar Nyonya Ratna.
Gina menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Maksud kamu?"
Sebagai seorang pengacara dia bisa menebak surat apa yang dia maksud oleh sahabatnya tersebut. Hanya saja, dirinya masih belum bisa percaya sepenuhnya. Rasanya seperti mustahil semua ini terjadi.
"Dia tidak mau menceraikan saya. Dan jika saya meminta cerai, dia akan menghentikan pengobatan Zoya." jelas Nyonya Ratna.
Tak ada air mata saat Nyonya Ratna menjelaskan apa yang terjadi. Tapi tampal jelas raut kecewa dan sedih di wajahnya.
"Egois sekali dia. Apa mau Darwin sebenarnya." geram Gina.
__ADS_1
Kedua mata Gina berkaca-kaca. Air mata sudah terkumpul di kedua kelopak matanya. Dia menggeleng tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Dipeluknya tubuh sahabatnya tersebut. "Ratna." cicitnya, tak tahan membendung air mata di kelopaknya.
"Darwin, apa yang ada di dalam pikiran kamu..!!" geram Gina mengutuk perbuatan Tuan Darwin.
Gina mengurai pelukannya. Menghapus air mata di kedua pipinya. Mengatur nafasnya yang sempat tersengal. "Oke. Kamu tahu, siapa perempuan itu?" tanya Gina.
Nyonya Ratna mengangguk pelan. "Ratna." cicitnya, kembali menangis.
Dirinya saja yang tidak merasakan sakit hati sedalam Nyonya Ratna merasa terpukul dan sedih. Gina tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan sahabatnya tersebut.
"Siapa dia? Apa aku kenal?" tanya Gina sembari menghapus air mata di kedua pipinya.
"Kamu tidal kenal. Dan mungkin hanya tahu."
Gina semakin penasaran dengan perempuan yang telah memberi luka seumur hidup untuk sahabatnya tersebut. "Siapa?" tanyanya penuh rasa penasaran.
Sangat berat rasanya mulut Nyonya Ratna untuk menyebut nama perempuan tersebut. Tapi Nyonya Ratna mau tak mau harus menyebutnya. "Milly."
Kening Gina berkerut. "Nama yang tidak asing. Tapi,,, siapa dia?" tanyanya.
"Dia teman Zoya. Dia juga bekerja di perusahaan suamiku." jelas Nyonya Ratna, mempu membuat Gina tercengang.
Gina tersenyum hambar. "Gila. Teman Zoya. Dia masih sangat muda. Dan dia bekerja di perusahaan. Hebat sekali." cicit Gina merasa semua ini benar-benar tidak masuk akal.
"Ya... Aku tahu dia. Yang waktu itu kita bertemu di restoran. Dia makan bersama kalian. Bahkan, saat itu Zoya sudah dalam keadaan koma." ujar Gina mengingat wajah Milly.
Nyonya Ratna mengangguk. "Dia, dia sudah aku anggap seperti putriku sendiri. Zoya juga sudah menganggapnya seperti saudarinya sendiri. Tapi siapa yang menduga, ternyata dia serigala berbulu domba."
"Kamu baru tahu, berarti hubungan mereka masih baru saja terjalin." tebak Gina.
Sungguh Gina tidak menduga jika Darwin akan terjerat dengan perempuan yang berusia sama dengan putrinya.
Nyonya Ratna menggeleng. "Kemungkinan sudah lama. Hingga detik ini, mereka belum menyadari, jika aku mengetahui hubungan mereka."
"Darwin sialan. Dan perempuan itu,,,,!! Benar-benar,,,, pagar makan tanaman. Sama sekali tidak tahu diuntung. Sudah diberi hati, malah minta jantung." geram Gina, rasanya ingin menjambak rambut Milly.
"Jadi, aku orang pertama yang kamu beritahu?" tanya Gina memastikan.
"Siapa?"
"Zoya."
"Zoya." tukas Gina terkejut.
"Bukan Zoya putriku. Dia memang mempunyai nama yang sama dengan Zoya putriku. Dia juga yang membuat aku menjadi kuat seperti sekarang."
"Siapa dia?"
"Sahabat Zoya, putriku."
"Zoya sahabat Zoya." cicit Gina tersenyum samar. "Suatu kebetulan yang luar biasa. Mempunyai teman yang namanya sama. Bahkan sekarang dia juga yang memberikan dukungan untuk kamu." lanjut Gina.
"Baiklah, apa yang kamu inginkan?" tanya Gina, sebab Nyonya Ratna dari awal mengatakan jika dia sudah menandatangi surat izin untuk Tuan Darwin menikah lagi.
Dan juga pengobatan Zoya yang akan dihentikan jika Nyonya Ratna kekeh ingin bercerai. Yang berarti Nyonya Ratna menginginkan hal lain, selain perceraian.
"Perempuan seperti dia, mendekati lelaki yang sudah berumur dan mempunyai istri. Ditambah kamu tahu sendiri jika Darwin termasuk pengusaha sukses dengan banyak harta. Apa yang kamu pikirkan mengenai perempuan seperti dia?" tanya Nyonya Ratna, atau lebih tepatnya memberikan sebuah jawaban.
"Uang. Harta Darwin. Sebab dia menginginkan kehidupan yang enak, tanpa bersusah payah." tebak Gina mendapat anggukan dari Nyonya Ratna.
Nyonya Ratna menyodorkan ponselnya, dimana di layarnya ada sebuah gambar. Lebih tepatnya surat warisan. Yang saat ini, surat warisan tersebut berada di tangan Zoya.
"Ini." Gina menatap ke arah Nyonya Ratna.
"Zoya, sahabat putriku yang mengirimkannya."
"Tunggu, bagaimana bisa surat sepenting ini ada di tangan orang lain." tukas Gina merasa ada yang aneh.
"Zoya,,, putriku. Sebelum berangkat ke luar negeri menemui Reiner, kekasihnya. Ternyata dia sudah mengetahui hubungan gelap papanya dengan sahabatnya. Karena itulah dia memutuskan untuk pergi menemui Reiner. Dia ingin meminta saran dari Reiner. Tapi ternyata, sebelum dia bertemu Reiner, dan berbicara dengannya, Zoya mengalami kecelakaan terlebih dahulu."
"Dan untuk foto itu. Zoya, sahabat putriku mengatakan jika dirinya dikirimi foto itu oleh putriku sebelum dia berangkat ke luar negeri." jelas Nyonya Ratna, dimana dirinya mendapat semua perkataan itu dari kebohongan yang sengaja dirancang oleh Zoya.
"Mungkin Zoya sudah mempunyai firasat. Makanya dia mengirimkan foto ini pada sahabatnya. Dia sengaja tidak memberitahu kamu. Karena memikirkan perasaan kamu. Anak itu, dia sangat menyayangi kamu." tukas Gina.
__ADS_1
"Benar. Dia memang putri ku yang paling hebat." sahut Nyonya Ratna.
"Lalu, dimana yang asli?"
"Tidak tahu. Kami tidak tahu. Makanya Zoya menyuruh saya menemui seorang pengacara untuk meminta saran. Dan saya memutuskan untuk menemui kamu."
"Keputusan yang tepat. Ingat, jangan sampai ada yang tahu tentang surat ini." ujar Gina mengingatkan.
"Apa mungkin, surat itu disimpan oleh Zoya, putriku?" tanpa Nyonya Ratna menebak.
"Bisa jadi. Tapi masalahnya akan berat pada kita, jika... Maaf, jika Zoya tetap belum sadarkan diri. Dan surat tidak ada di tangan kita, maka semua akan terasa sulit."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Nyonya Ratna.
"Tenang saja. Saya akan mempelajari surat ini. Dan kamu, jangan pernah putus semangat. Meski sekarang keadaan Zoya sedang tidak baik. Ada aku. Mengerti. Dan juga Zoya, sahabat putri kamu." tukas Gina memberikan semangat untuk Nyonya Rindi.
"Sekarang, kita harus mencari bukti perselingkuhan mereka. Bila kemudian mereka tetap menikah, setidaknya perempuan binal itu tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Benar. Aku tidak akan membiarkan dia mengambil hak yang seharusnya menjadi milik Zoya." sahut Nyonya Ratna yang percaya jika sang putri akan kembali sadar.
"Apa otak Darwin sudah rusak." geram Gina.
"Dia menginginkan keturunan." ujar Nyonya Ratna memberitahu alasan yang dikatakan Tuan Darwin saat beliau mengatakan jika ingin menikah lagi.
"Anak. Bukankah sudah ada Zoya."
Nyonya Ratna tersenyum pahit. "Dengan keadaan Zoya saat ini, dia sepertinya sudah menganggap jika Zoya sudah tidak ada di dunia."
"Tapi mana bisa, dia bertindak seenaknya sendiri. Tidak memikirkan perasaan kamu."
"Aku sudah tidak bisa memberikan keturunan lagi. Setelah melahirkan Zoya, ada suatu kejadian yang mengharuskan rahimku di angkat." tukas Nyonya Ratna kembali mengenang masa-masa pahit tersebut.
"Maaf, saya tidak tahu. Tapi Darwin benar-benar sudah tidak waras. Pasti hanya alasan saja."
"Aku rasa juga seperti itu. Apalagi, perempuan itu masih muda. Cantik dan masih segar." tutur Nyonya Ratna tertawa kecut.
"Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan. Sekarang, kamu hanya perlu fokus pada kesehatan kamu. Bukan hanya kesehatan badan yang terpenting. Melainkan kesehatan mental juga. Jangan sampai kamu terpuruk. Ingat, ada Zoya yang masih memerlukan keberadaan kamu." cicit Gina.
"Tenang saja. Aku sudah tidak terlalu memikirkan hal itu. Hanya saja, aku tidak rela, jika perempuan itu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah."
"Tenang saja. Aku akan berusaha membantu kamu." ujar Gina.
"Oh iya, kamu bilang jika kemungkinan besar mereka tidak tahu, jika kamu sebenarnya sudah mengetahui siapa perempuan yang akan dinikahi Darwin. Benar?" tanya Gina membutuhkan kepastian.
Nyonya Ratna mengangguk yakin. "Jika begitu, tetaplah berpura-pura seperti itu, jika nanti kamu bertemu dengan perempuan iblis itu. Meski itu pastinya sangat sulit kamu lakukan. Setidaknya, biarkan mereka mengira jika kamu tidak tahu apa-apa." pinta Gina.
"Iya. Zoya juga mengatakan hal yang sama." sahut Nyonya Ratna.
"Ingin sekali aku menemui perempuan baik itu. Zoya." tukas Gina.
Segera Nyonya Ratna pulang setelah tujuannya untuk bertemu sahabatnya yang juga pengacara telah terpenuhi.
Dirinya tidak ingin kepergiannya sampai diketahui oleh sang suami. Yang mana malah akan membuatnya berada dalam masalah.
"Sebaiknya kamu lewat pintu belakang saja." saran Gina, dirinya juga tidak ingin kedatangan Nyonya Ratna diketahui oleh seseorang, dan akan memicu masalah baru.
"Baik." Nyonya Ratna kembali menggunakan kacamata dan masker untuk menutupi wajahnya.
"Lain kali, kamu cukup menghubungi aku jika ingin bertemu. Tidak perlu datang ke sini. Aku takut, Darwin akan curiga. Biar aku yang memikirkan cara bertemu dengan kamu."
"Baiklah. Aku juga khawatir, jika ponsel ku di sadap Darwin. Makanya aku menghubungi kamu lewat telepon rumah." ujar Nyonya Ratna merasa resah.
"Tunggu." tahan Gina, supaya Nyonya Ratna tidak meninggalkan ruangannya.
Gina menyodorkan sebuah ponsel pada Nyonya Ratna. "Gunakan ini untuk menghubungi ku dan menghubungi Zoya. Kamu tinggal membeli nomor yang baru."
"Baiklah. Terimakasih. Ini aku bawa." sahut Nyonya Ratna mengambil ponsel tersebut.
"Hati-hati." ujar Gina, mendapat anggukan dari Nyonya Ratna.
Sepeninggal Nyonya Ratna, Gina duduk di kursi dengan ekspresi kesal. "Darwin. Laki-laki macam apa dia. Tega sekali menyakiti hati istrinya. Padahal selama ini, Ratna selalu setia dengannya." ujar Gina tidak habis pikir.
"Dan Milly. Padahal Ratna memperlakukannya dengan baik. Perempuan hina, tidak tahu caranya berterimakasih. Malah menusuk dari belakang." geram Gina masih saja kepikiran dengan masalah Nyonya Ratna.
"Aku harus menemui perempuan bernama Zoya. Astaga,,, kenapa aku tasi tidak meminta nomor ponselnya pada Ratna." sesal Gina, karena melupakan sesuatu yang penting.
__ADS_1