
"Aaagghh.... Segarnya. Pagi yang indah." cicit Zoya masih duduk di atas ranjang dengan merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya karena baru saja bangun dari tidurnya. Zoya merasa tadi malam dia tidur dengan sangatlah nyenyak.
Ceklek...
Zoya melihat ke arah pintu, dimana sang ibu muncul dari balik pintu. "Ibu kira kamu belum bangun. Ayo,,, cepat mandi. Nanti kamu terburu-buru." ujar bu Murni mengingatkan Zoya.
Zoya masih di atas ranjang. Melihat bu Murni membuka gorden yang menutupi jendela. Membuat cahaya matahari masuk ke dalam kamar Zoya dengan bebas.
Zoya tersenyum samar. Tapi ada rasa perih di dalam hatinya. "Entah apa yang seharusnya gue ucap. Bersyukur, atau merasa bersalah." batin Zoya.
Sadar jika seharusnya Yaya lah yang berada di posisinya sekarang. Menikmati kasih sayang bu Murni dan pak Endri. Bukan dirinya.
Yang dimana, seharusnya dirinya berada di dalam tubuh yang sekarang berbaring tak berdaya di atas ranjang.
"Loh.... Malah melamun. Ayo... Bangun." tegur bu Murni, melihat Zoya yang menatapnya.
Zoya tersenyum. Memeluk erat bu Murni. "Drama pagi apa lagi yang mau kamu mainkan. Ayo,,, bangun." ujar bu Murni, membelai rambut Zoya yang sedikit berantakan karena baru saja bangun dari tidurnya.
"Tidak. Gue harus bersyukur. Mungkin ini semua sudah takdir gue dan Yaya. Dengan begini, gue bisa membalas orang-orang yang jahat pada keluarga gue, serta pernah jahat pada Yaya. Coba saja gue tetap di tubuh gue. Maka gue hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apapun. Juga dengan Yaya. Dia akan tetap di tindas." batin Zoya.
Zoya berpikir ke arah positifnya. Mengambil sisi baik dari kejadian yang sekarang dia alami. Dan Zoya tidak menyesal dengan semua yang terjadi. Dia berpikir, mungkin inilah jalan yang harus dia lewati. Dan dia akan mempergunakan waktu berharga ini dengan sangat baik.
"Zoya..." panggil bu Murni, karena tidak mendengar suara sang putri.
"Iya..." terdengar suara serak khas bangun tidur dari mulut Zoya.
"Sana kamu mandi,,,, biar ibu rapikan." pinta Bu Murni, segera merapikan tempat tidur Zoya, begitu Zoya masuk ke kamar mandi.
Saat Zoya keluar dari kamar mandi, ranjang tempat tidurnya sudah dangat rapi. Zoya tersenyum samar. "Jadi kangen mama. Pasti Yaya sekarang juga kangen sama bu Murni." cicit Zoya.
Segera mengambil pakaian dan memakainya. "Ckk,,, semua sekarang jadi kebesaran di badan gue. Kayaknya gue harus pergi ke tukang jahit. Mermak semua baju di lemari." ujar Zoya melihat penampilannya di kaca full body yang ada di depannya.
Seperti yang dia katakan semalam. Jika Zoya harus mengirit atau menghemat. Sehingga dirinya tidak mungkin membeli baju. Dan pilihan terbaiknya adalah mengecilkan sebagian baju Yaya yang ada di lemari.
"Tak apalah. Ini saja." tukas Zoya, tetap memakai baju yang terlihat sangat longgar di tubuhnya.
Zoya memakai riasan di wajahnya seperti biasa. Tipis tapi terlihat begitu anggun. "Sebenarnya Yaya mempunyai kulit yang bagus. Padahal nggak pernah pergi ke salon." puji Zoya, sembari mengoleskan bedak ke wajahnya.
Zoya membuka laci. Ingin mengambil gelang sebagai aksesoris. Tapi kedua matanya melihat sebuah kotak. Dimana dia menyimpan semua emas milik Yaya di dalam kotak tersebut.
Zoya masih ingat betul, berapa jumlah uang yang akan dia dapat jika menjual semua perhiasan Yaya. "Jika uang perhiasan di tambah uang tabungan gue. Maka akan cukup. Bahkan masih sisa sedikit. Dan bisa buat bantu bapak bayar angsuran." ujar Zoya menghitung semuanya.
Tangan Zoya enggan untuk mengambil kotak tersebut. "Tapi itu bukan milik gue. Itu milik Yaya. Apa pantas, gue menjual barang hang bukan milik gue. Tapi, uangnya untuk beli kendaraan buat bapak. Dan pak Endri juga bapaknya Yaya." ujar Zoya penuh pemikiran.
Zoya menutup laci. "Cckk,,, gue pikirkan nanti saja. Bagaimana baiknya. Sekarang gue harus segera berangkat kerja."
Zoya mengambil tas yang sudah dia persiapkan sejak semalam. Sebab di dalam tas juga ada beberapa berkas yang semalam Zoya kerjakan. Dan hari ini harus dia bawa ke kantor untuk di serahkan pada Miko, sebagai ketua divisi keuangan.
Oleh sebab itu, Zoya memasukkannya semalam. Supaya dia tidak lupa. Dan tinggal berangkat bekerja. "Bu,,, boleh Zoya minta tolong." pinta Zoya saat mereka berada di meja makan.
"Apa?" tanya bu Murni.
"Semua baju Zoya sekarang kebesaran. Zoya tidak nyaman memakainya. Terlalu longgar. Apa ibu ada kenalan seorang penjahit?" tanya Zoya.
"Ada."
"Syukurlah. Apa rumahnya jauh?" ujar Zoya lega, sekaligus bertanya.
"Kenapa kamu tanya. Bu Agus kan seorang penjahit. Pake tanya." cicit bu Murni heran.
Zoya berpura-pura lupa. Dia segera memukul dahinya pelan. "Oh iya. Zoya lupa. Tolong ibu bawa kesana ya. Beberapa potong saja. Nanti jika Zoya suka dengan hasilnya, ibu bawa ke sana lagi baju Zoya yang lain." ujar Zoya, yang sebenarnya memang tidak tahu jika bu Agus, atau istri dari pak Agus adalah seorang penjahit.
Zoya berdiri di depan bu Murni. "Segini nih bu." Zoya merentangkan kedua tangannya. Membuat Bu Murni tertawa, sebab pakaian yang Zoya kenakan benar-benar membuat Zoya terlihat lucu.
"Bu,,, jangan tertawa." rajuk Zoya kesal.
"Iya sayang, nanti ibu bawa ke sana." sahut bu Murni menahan tawanya.
"Lagian kenapa meski dikecilin. Itu,,, seperti itu malah bagus kamu pakai. Longgar, nggak sesak di dada." celetuk pak Endri.
"Iiihh... Bapak. Nggak ah. Lihat, Zoya sudah kayak orang-orangan sawah. Malulah..... Nggak modis." ujar Zoya cemberut.
"Iya,,,, jangan ngambek. Nanti ibu bawa ke sana." tutur bu Murni.
"Kenapa kamu nggak beli baju baru saja? Apa uang kamu habis?" tanya pak Endri.
"Nggak pak, uang Zoya banyak. Masih banyak." sahut Zoya.
"Lalu?"
"Emmm... Pakaian yang ada di dalam lemari masih bagus-bagus semua. Mubadzir jika tidak dipakai." ujar Zoya beralasan. Dan tentu saja alasan tersebut adalah bohong.
"Bijaknya anak bapak." puji pak Endri.
Zoya menaruh tangannya di dagu. "Zoya." ujarnya dengan gaya sombong, membuat pak Endri dan bu Murni tertawa melihat tingkahnya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, sepasang mata melihat apa yang mereka lakukan. Siapa lagi jika bukan Yaya. Tak ada lagi rasa iri atau rasa kesal saat kedua orang tuanya kini tersenyum karena Zoya.
Tak ada rasa menyalahkan dari Yaya pada Zoya, karena tubuhnya dipakai oleh Zoya. Yaya tersenyum senang melihat ketiganya.
"Zoya,,, bahkan kamu memilih memermak pakaian aku, dari pada beli." cicit Yaya, tahu alasan Zoya melakukan hal tersebut.
Hati Yaya merasa tersebut dengan niat tulus dari Zoya. "Terimakasih banyak. Karena kamu membuat bapak dan ibu selalu tertawa bahagia. Terimakasih, karena kamu telah memikirkan kedua orang tuaku. Tenang saja. Aku akan membalas kebaikan kamu." tukas Yaya tersenyum bahagia.
Zoya berangkat kerja setelah dia sarapan bersama pak Endri dan bu Murni. "Bu,,, pak,,, Zoya nanti pulang agak telat. Mau pergi daka teman." pamit Zoya, sebab nanti dirinya akan bertemu dengan Nyonya Gina.
"Iya. Kamu hati-hati. Tetap aktifkan ponsel. Segera hubungi bapak atau ibu jika ada sesuatu." sahut bu Murni, mendapat anggukan dari Zoya.
"Jangan pulang terlalu malam." timpal pak Endri mengingatkan.
"Oke." sahut Zoya dengan senyum di bibir.
Zoya pergi berangkat bekerja setelah berpamitan dengan kedua orang tua Yaya. Seperti biasa, dia pergi bekerja menggunakan sepeda motor bebeknya. Tak lupa, Zoya membawa bekal yang setiap hari selalu disiapkan oleh bu Murni.
"Pak, sekarang Zoya sering pergi ya." tukas bu Murni, saat keduanya masih berada di meja makan. Sementara Zoya sudah berada di jalan menuju ke perusahaan tempatnya bekerja.
"Tidak apa bu. Biarkan saja. Kelihatannya sekarang Zoya juga sedikit berubah. Jika perubahan itu baik untuk dia, kita biarkan saja. Tapi jika kita melihat perubahan itu membawa dampak negatif untuk Zoya, kita akan menegur dan melarangnya." sahut pak Endri.
"Iya. Ibu juga berpikir begitu." ucap bu Murni.
Keduanya melanjutkan sarapan mereka yang belum selesai. Sebelum melakukan aktifitas seperti biasanya.
"Pagi mbak Zoya." sapa pak satpam yang sedang berada di area parkir kendaraan para karyawan.
"Pagi pak." sahut Zoya dengan senyum tulusnya.
"Wah... Ada yang berbeda dengan mbak Zoya."
"Iyakah. Memang apa?" tanya Zoya sembari melepas helm yang ada di kepalanya.
"Kelihatannya tubuh mbak Zoya sedikit lebih kurus." tutur pak satpam dengan bahasa yang lebih halus.
Zoya memainkan bibirnya dengan lucu. "Sedikit. Hanya sedikit ya pak." sahut Zoya kurang puas dengan perkataan pak satpam. Padahal Zoya hanya bercanda.
"Ehh... Tidak mbak. Tidak sedikit. Bajunya saja sekarang malah terlihat kebesaran." ralat pak satpam.
"Iya dong pak. Zoya program diet. Biar sedikit seksi. Dan nggak engap."
"Benar mbak. Hidup sehat memang sangat diperlukan."
"Iya mbak. Semoga hari ini menjadi hari yang menyenangkan."
"Makasih pa." sahut Zoya, berjalan meninggalkan area parkir.
Kedua mata pak satpam masih menatap ke arah Zoya yang berjalan semakin menjauh darinya. "Mbak Zoya,,, semoga tidak ada lagi yang berniat jahat sama mbak." lirih sang satpam.
Beliau juga mendengar perubahan sifat dan sikap Zoya di dalam perusahaan. Jujur, beliau merasa senang. Sebab selama ini, dia tahu jika Zoya selalu dipandang sebelah mata oleh para karyawan lainnya.
"Hay Zoya....!!" sapa seorang karyawan, yang dibalas senyum dan lambaian tangan oleh Zoya.
Kini, semua karyawan yang berpapasan atau bertemu dengan Zoya selalu menyapa Zoya. Memperlakukan Zoya dengan baik. Tak seperti dulu lagi.
Sampai di ruang kerja, Zoya melihat Miko duduk seorang diri. Rekan kerjanya yang lain belum datang. Kesempatan ini segera Zoya pergunakan dengan baik.
Zoya langsung mendekat ke meja Miko, tanpa menaruh tas serta paper bag yang berisi bekal makanan di tangannya. "Apa elo sudah mendapatkan apa yang gue minta?" tanya Zoya dengan suara lirih.
Miko diam, tak segera mengatakan apapun dan menatap Zoya dengan ekspresi datar. Lalu Miko menggeleng. "Sorry, aku belum mendapatkannya. Tapi aku akan berusaha mendapatkan apa yang kamu minta." sahut Miko.
Zoya hanya mengangguk pelan. "Oke. Nggak masalah. Gue juga nggak terlalu berharap." sahut Zoya terlihat santai.
"Zoy,,,, kamu tenang saja. Aku akan mencari tahu." ujar Miko menyakinkan Zoya jika dia akan kembali berusaha.
Zoya hanya mengangguk pelan sembari tersenyum. Tak ada raut kecewa atau kesal karena Miko belum bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Santai saja. Jangan paksakan. Kalau nggak bisa, ya nggak apa. Gue juga nggak terlalu perlu-perlu banget." jelas Zoya berbohong.
Tentu Zoya sengaja berkata seperti itu. Zoya tak ingin Miko curiga pada dirinya jika dia terlihat kesal dan kecewa. Apalagi jika Zoya terkesan menekan Miko untuk Miko harus mendapatkan informasi yang dia perlukan.
"Serius?" tanya Miko dengan hati-hati.
Zoya mengangguk. "Iya. Gue hanya iseng. Gue penasaran. Bagaimana keluarkan Milly. Di berasal dari keluarga macam apa. Sehingga bertingkah semenyebalkan itu." jelas Zoya.
"Hanya karena itu, kamu menginginkan informasi tentang Milly?" tanya Miko menyelidik.
Zoya kembali mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja iya. Lalu untuk apa. Elo pikir gue mau ngapain dengan informasi itu. Elo pikir gue mau menghancurkan keluarga Milly. Gue nggak punya power buat itu. Seharusnya elo tahu."
Zoya berjalan ke tempat duduknya. Dia tidak ingin ada rekan kerjanya yang melihat saat dia berbincang dengan Miko.
"Sial,,, ternyata Miko tidak bisa gue andalkan. Terpaksa gue harus cari tahu sendiri. Tapi bagaimana caranya?" batin Zoya berpikir keras.
"Sepertinya gue tidak perlu melibatkan Miko. Gue juga belum tahu siapa dia. Bagaimana sifat aslinya. Atau malah dia seperti Milly. Terlihat seperti domba. Ternyata serigala." batin Zoya, memilih berhati-hati dalam memutuskan sesuatu.
__ADS_1
Zoya hanya bersikap waspada. Dia tidak ingin semua rencananya gagal berantakan karena kecerobohannya. Dia tidak ingin semua usahanya sia-sia.
Zoya harus tahu dari mana Milly berasal. Atau lebih tepatnya keluarga macam apa yang Milly punya. Bahkan hingga detik Milly, dirinya sama sekali belum pernah mendengar Milly membicarakan kedua orang tuanya.
Beruntung Zoya segera duduk di kursinya, sebab beberapa detik kemudian, Meta dan Enggar masuk ke ruang kerja dengan tawa kecil. Tapi seketika mereka memasang wajah masam saat melihat ke arah Zoya.
"Pagi semua." sapa Beni dengan ekspresi bahagianya.
Tepat di belakang Beni, Milly juga masuk ke ruangan. Tampak cara berpakaian Milly kali ini sungguh unik. Dia memakai aksesoris berupa kain di lehernya.
"Milly,,, elo kenapa?" tanya Meta.
"Elo nggak sakitkan?" lanjut Enggar.
Keduanya pasti merasa aneh dengan penampilan Milly yang tidak seperti biasanya. Zoya tersenyum samar. Dia tahu kenapa Milly memakai benda tersebut di lehernya.
"Mungkin ada sesuatu di leher Milly." celetuk Zoya, sebelum Milly mengatakan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Enggar dan Meta.
"Sesuatu apa?" tanya Beni yang kepo.
"Bekas..... Bekas ciuman. Mungkin." sahut Zoya dengan santai.
"Ciuman tangan papa." batin Zoya.
"Ya elaaaa Zoya,,,,, elo polos banget. Jika bekas seperti itu, bisa ditutupi dengan bedak atau apa gitu. Gue juga nggak paham. Gue cuma lihat pacar gue saja." cerocos Beni tidak terkendali.
Seolah membuka aib sendiri. Jika dirinya dan sang kekasih sudah biasa melakukan hal semacam itu. "Mana gue tahu. Gue belum pernah melakukannya. Guekan gendut. Jelek. Jadi nggak ada cowok yang mau sama gue." tutur Zoya dengan nada dibuat-buat.
Milly hendak menghampiri Zoya, tapi suara deheman dari Miko menghentikan langkahnya. "Jam kerja sudah mulai. Jangan makan gaji buta." tegur Miko.
"Elo suruh buka saja Ben,,, elo beritahu cara menyamarkan bekas ciuman. Mungkin Nona Milly belum tahu caranya." sindir Zoya.
"Zoya." panggil Miko, menegur Zoya untuk diam.
Zoya berdiri, dengan memegang map di tangannya. "Elo lihat lagi. Siapa tahu ada yang salah. Ntar gue benerin." ujarnya sembari menaruh apa yang dia pegang di atas meja kerja Miko.
Yakni beberapa berkas yang semalam Zoya kerjakan di ruman. Karena kemarin Zoya belum selesai mengerjakannya.
"Bekas cekikan, mungkin. Jadi sedikit sulit disamarkan." lirih Zoya, tapi terdengar oleh semuanya.
Hening. Keadaan seketika menjadi sunyi. Dimana semua mata memandang ke arah Zoya. "Apa mau elo..??!" tanya Milly dengan sarkas, berdiri dari duduknya.
Zoya yang belum duduk di kursinya dan masih berdiri, menatap Milly sembari bersikap dada. "Elo tanya gue." ujar Zoya menunjuk ke wajahnya sendiri.
"Yakin,,, mau dengar apa yang gue inginkan." lanjut Zoya dengan ekspresi menantang Milly.
Milly menggenggam telapak tangannya dengan erat. Kedua rahangnya mengeras sempurna. "Jangan pernah memancing emosi gue...!!" bentak Milly, mulai kehilangan kendali.
Zoya tersenyum samar. "Ayo Milly, marah. Serang gue. Dan gue akan mempunyai alasan untuk bertemu dengan pemilik perusahaan. Papa gue." batin Zoya.
Entah apa yang sedang Zoya rencanakan. Hingga dia ingin bertemu dengan sang papa. "Hey,,,, Nona...!! Santai. Tenang. Gue hanya asal bicara. Tapi kenapa elo malah emosi. Jika perkataan gue nggak benar, elo nggak harus emosi. Atau,,,,, sebaliknya. Apa yang gue katakan benar." cicit Zoya memandang Milly dengan senyum menghina.
Enggar dan Meta segera berdiri. "Milly,,, sudah. Jangan ribut. Ini masih terlalu pagi." ujar Enggar mengingatkan.
Meta memegang lengan Milly. "Biarkan saja badak itu bicara. Jangan elo tanggapi." timpal Meta tak ingin Milly sampai ribut dengan Zoya.
Apalagi mereka baru saja kena teguran beberapa hari yang lalu. Tentunya Enggar dan Meta takut jika terjadi sesuatu dengan Milly.
Tanpa mereka ketahui, jika Milly tidak akan dikeluarkan dari perusahaan apapun yang terjadi. Karena dia memegang senjata yang ampuh untuk tetap berada di perusahaan. Bersikap semaunya. Tanpa rasa takut.
"Sial... Kenapa dua budak ini ikut campur." ucap Zoya dalam hati.
"Apa yang kalian lakukan?! Zoya kembali ke kursi kamu. Dan kamu Milly, duduk kembali. Jangan membuat keributan...!!" seru Miko merasa pusing menghadapi para perempuan ini.
Zoya menampilkan ekspresi mengejek saat menatap Milly. Seakan Zoya sama sekali tidak takut dengan Milly. Dan malah menantangnya.
Dengan terpaksa, Milly kembali ke kursinya. Tapi pandangan matanya tetap menatap intens ke arah Zoya. "Sudah Milly, jangan sekarang. Kita cari waktu yang tepat." lirih Enggar.
"Benar. Elo tenang saja. Kita akan membantu elo." sahut Meta.
Meta dan Enggar saling pandang. Sebenarnya mereka juga merasa aneh. Kenapa Milly semarah itu, hanya perkataan asal dari Zoya. Apakah yang dikatakan Zoya benar adanya.
Tapi tentu saja mereka berdua tidak berani untuk bertanya. Mereka tidak berani untuk melawan Milly. Atau mencari masalah dengan Milly.
"Enggar dan Meta. Gue harus melakukan sesuatu. Supaya mereka tidak lagi mencampuri urusan Milly. Benar, gue harus membuat mereka berdua sibuk dengan urusan mereka." batin Zoya yang sudah mempunyai rencana untuk mereka berdua.
Beni hanya acuh. Dan lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaannya. Dari pada mengurusi pertengkaran mereka. "Terserah kalian mau ngapain." lirihnya dengan tangan sibuk mencoretkan pena di atas kertas.
Dari tempat duduknya, Miko menatap lekat kepada Zoya. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" batin Miko merasa penasaran.
Miko sadari, jika Zoya memang sengaja memancing kemarahan dari Milly. Dan Miko juga tahu, Zoya menginginkan Milly marah serta membuat keributan dengannya.
Bukan hanya Miko yang menatap intens ke arah Zoya. Milly pun melakukan hal yang sama. Tapi Milly merasa penasaran, dari mana Zoya tahu tentang cekikan yang dia terima.
"Tidak mungkin. Pasti dia hanya asal bicara." batin Milly.
__ADS_1