
"Motor ini." batin Zain, melihat sebuah motor bebek yang dia kenali berada di halaman rumah Tuan Darwin.
Zain menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin dia. Lagi pula, di kota ini banyak yang mempunyai motor seperti ini." lanjut Zain dalam hati, meninggalkan halaman rumah Tuan Darwin dan segera masuk ke dalam.
Sebenarnya, sang papa lah yang bertugas merawat putri dari Tuan Darwin dan Nyonya Ratna. Tapi untuk hari ini, sang papa tidak bisa melakukan tugasnya karena berada di luar kota.
Alhasil, Zain lah yang harus menggantikan pekerjaan sang papa. "Beruntung hari ini gue nggak terlalu sibuk." batin Zain, sembari membunyikan bel rumah.
Pintu dibuka dari dalam. Memperlihatkan sosok perempuan yang sudah berumur. "Putranya pak dokter ya?" tanya si mbok sekaligus menebak sosok lelaki dengan badan tinggi tegap nan tampan di depannya.
Pembantu di rumah Nyonya Ratna mengetahui jika hari ini, putra sang dokter yang datang. Sebab Nyonya Ratna sudah memberitahu mereka terlebih dahulu.
Zain tersenyum sembari mengangguk. "Silahkan masuk Tuan dokter. Sudah ditunggu oleh Nyonya Ratna." lanjut si mbok, mempersilahkan Zain untuk masuk ke dalam rumah.
"Katakan pada Nyonya Ratna, jika saya menunggu di sini." pinta Zain, sebab ini pertama kalinya dia datang ke rumah Tuan Darwin. Tak pantas rasanya jika dia langsung masuk ke kamar pasien yang selama ini di tangani oleh sang papa.
Meski dia juga mengenal sosok Nyonya Ratna, yang biasa dia panggil dengan sebutan tante. Sebab sang papa dan Nyonya Ratna dahulu adalah teman. Juga dengan sekarang, keduanya masih menjalin hubungan baik.
"Baiklah. Saya akan memberitahu Nyonya Ratna terlebih dahulu." tukas si mbok.
Zain duduk di ruang tamu. Kedua matanya memandang sekeliling. Pandangannya langsung terpaku pada sebuah foto yang berukuran besar, terpasang di dinding.
"Cantik." batin Zain, memuji sosok Zoya di dalam foto tersebut. Dimana di dalam foto, terdapat Tuan Darwin dan sang istri, Nyonya Ratna. Juga sang putri, Zoya.
"Apa dia yang dirawat papa selama ini." batin Zain menebak. Jujur, Zain memang mengetahui nama putri Tuan Darwim dan Nyonya Ratna. Tapi belum pernah sekalipun mereka bertemu.
Dirinya juga sempat beberapa kali berbincang dengan sang papa. Membicarakan kondisi dari putri Tuan Darwin yang tidak ada kemajuan sama sekali selama di rawat.
"Seperti apa dia sekarang." batin Zain penasaran. Sebab sudah berbulan-bulan lamanya Zoya terbaring di atas ranjang dengan keadaan tidak sadarkan diri. Pastinya keadaan tubuhnya juga tak sama seperti dulu. Saat Zoya masih sehat.
Lamunan Zain buyar saat sang pembantu kembali dan memanggilnya. "Tuan dokter, Nyonya Ratna menyuruh anda untuk masuk ke dalam kamar. Beliau menunggu anda di sana. Mari saya antar." tukas sang pembantu dengan sopan.
Sampai di depan sebuah pintu sang pembantu berhenti. Lalu mengetuk pintu. Terdengar suara sang Nyonya dari dalam. "Silahkan Tuan dokter." ujar sang pembantu, membukakan pintu.
Sang pembantu segera minggir dan memberikan akses jalan untuk Zain agar bisa masuk ke dalam. "Terimakasih." tukas Zain.
Zain masuk ke dalam. Pandangannya terpaku pada sosok yang sangat dia kenal. "Zoya. Ternyata benar. Motor di depan milik dia." batin Zain.
Begitu pula dengan Zoya yang terkejut dengan kedatangan Zain. Tapi dia segera menetralkan rasa keterkejutannya tersebut. Dirinya tidak ingin terlihat salah tingkah untuk sesuatu yang tidak perlu dilakukan olehnya.
"Zain,,, selamat datang. Maaf, saya tidak turun ke bawah untuk menjemput kamu." cicit Nyonya Ratna, yang terlihat sudah kenal dengan Zain.
"Tidak apa-apa tante. Zain paham."
"Zain, kenalkan. Dia Yaya. Sahabat Zoya." ujar Nyonya Ratna memperkenalkan Zoya pada Zain.
__ADS_1
"Kita sudah saling kenal tante." ujar Zoya dengan jujur.
Zain sempat terkejut sesaat dengan pengakuan Zoya. Sebab biasanya sosok seperti Zoya akan memilih berpura-pura belum mengenal.
Tapi ternyata tebakan Zain salah. Zoya langsung mengatakan jika mereka saling kenal dengan santai. Padahal selama ini, Zoya tidak terlalu menyukainya.
"Loh,,, kok bisa?" tanya Nyonya Ratna terkejut.
"Saya pernah sakit. Dan beliau, dokter Zain lah yang merawat saya." jelas Zoya singkat. Tanpa menjelaskan sakit apa yang dia alami.
Nyonya Ratna mengangguk pelan. "Kalau begitu, Yaya pamit dulu ya tante." pamit Zoya ingin segera pulang setelah tahu jika dokternya Zain.
"Kok pulang. Bukannya kamu tadi bilang ingin dengar perkembangan Zoya dari dokternya langsung." tukas Nyonya Ratna membuat mulut Zoya tak bisa mengelak lagi untuk mencari alasan yang masuk akal.
Zain membuang wajahnya ke arah lain. Sungguh, dirinya ingin tertawa melihat ekspresi Zoya saat ini. Tapi tentu saja dia tahan. Karena tidak ingin terlihat sebagai dokter yang cengengesan.
Zoya tersenyum kaku. "Iya tante." ujar Zoya pasrah. Dan memilih untuk tetap tinggal.
Zain melirik ke arah Zoya yang sama sekali tidak melihatnya. "Sebenarnya kenapa dia tidak menyukai gue. Padahal gue nggak pernah membuat dia berada dalam masalah." batin Zain merasa apa yang dilakukan Zoya padanya sangatlah aneh.
Dan lagi, dirinya yang menjadi dokter pengganti saat dokter yang menangani Zoya tak lagi bisa merawat Zoya di saat Zoya koma. "Seharusnya dia yang mengucapkan terimakasih. Dan berhutang budi sama gue. Aneh." batin Zain.
Zain mengeluarkan beberapa alat medisnya. "Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Zain, pada perawat yang memang selalu berada di samping Zoya.
"Tidak ada dok." sahut sang perawat. Yang artinya kondisi kesehatan Zoya sama sekali tidak ada perkembangan sama sekali. Dan Zain taku akan hal tersebut.
"Ambilkan obat yang biasanya kamu berikan pada pasien." pinta Zain pada sang perawat.
"Baik dok." dengan cepat sang perawat mengambilkan obat cair yang selalu dia berikan pada Zoya melalui suntikan yang dia masukkan dari selang infus.
Zain mengamati obat tersebut satu persatu dengan teliti. "Sebentar." ujar Zain, menaruh obat tersebut di atas ranjang.
Zain menjauh dari ranjang Zoya. Mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi seseorang. "Apa yang dia lakukan?" tanya Zoya dalam hati.
Hanya sebentar, lalu Zain mengakhiri panggilan telepon dan kembali ke samping Zoya yang berada di atas ranjang. "Saya akan mengganti obat untuk pasien. Dan saya sudah mengatakannya pada papa. Beliau setuju." jelas Zain.
Tampak raut khawatir di wajah Nyonya Ratna. "Apa akan baik-baik saja?" tanya beliau.
"Kita harus mencobanya tante. Selama ini, putri tante sama sekali tidak menunjukkan perubahan dengan menggunakan obat ini. Dan saya rasa, ada baiknya kita menggunakan obat lainnya. Dan saya jamin, jika obat yang akan saya berikan tidak kalah bagusnya dengan obat sebelumnya." jelas Zain menyakinkan Nyonya Ratna.
Zoya yang sedari tadi melihat tingkah Zain, percaya jika Zain ingin berusaha yang tebaik untuk kesembuhan dirinya. Buktinya Zain juga merawat Yaya dengan baik.
"Tante." panggil Zoya dengan lembut. Membuat Zoya dan Nyonya Ratna saling bersitatap. Zoya bisa melihat dengan jelas pancaran rasa cemas dari kedua mata Nyonya Ratna.
Zoya menggenggam kedua telapak tangan Nyonya Ratna dengan penuh kasih sayang. "Tante, kita harus percaya dengan dokter Zain. Biarkan dia bekerja sesuai keahliannya. Dan tugas kita adalah berdo'a untuk kebaikan dan kesembuhan Zoya." tutur Zoya menyakinkan sang mama supaya setuju dengan rencana Zain.
__ADS_1
"Tapi tante khawatir Yaya. Tante merasakan kecemasan. Bagaimana jika obat yang baru malah membuat kondisi Zoya memburuk." tukas Nyonya Ratna tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya yang sangat amat sangat.
Zoya menghela nafas panjang. Dia tidak bisa menyalahkan perasaan sang mama. Pasti beliau sedang dalam keadaan yang sulit untuk mengambil keputusan.
Apalagi dalam keadaan seperti ini. Sendirian. Sementara sang suami malah sibuk sendiri dengan dunia barunya.
"Zoya tahu, apa yang mama takutkan. Pasti mama takut jika kondisi Zoya malah akan semakin memburuk. Atau bahkan Zoya tidak bisa bertahan hidup. Dan mama tidak akan mempunyai alasan untuk melanjutkan hidup. Tapi, Zoya tidak akan membiarkan itu terjadi." batin Zoya.
Zain memandang Zoya dengan tatapan datar. Entah apa yang ada dalam benak Zain melihat sisi lembut dari seorang Zoya. Sebab selama ini, Zain selalu melihat betapa galaknya Zoya dengan sikap acuhnya yang selalu dia perlihatkan padanya.
"Pilihan kita hanya ada dua tante. Tetap seperti sekarang. Tanpa ada perubahan sama sekali. Atau kita berani mengambil keputusan besar. Dengan mencoba hal baru. Yang kita tidak tahu, apa hasil dari percobaan hal baru tersebut. Bisa jadi mendapatkan hasil baik, atau tetap seperti sebelumnya. Atau malah mendapatkan hal yang yang sama sekali tidak kita inginkan." jelas Zoya dengan lembut.
"Sekarang, keputusan ada di tangan tante. Tetap stay di tempat. Dan kita tahu apa yang akan kita dapatkan. Atau mencoba hal baru, dengan berbagai hasil. Hanya tante yang bisa memutuskan. Hanya tante. Bukan Tuan Darwin sekalipun." lanjut Zoya penuh penekanan.
Nyonya Ratna menatap ke arah Zoya dengan bingung. Dan Zoya sadar, jika sang mama kesulitan memutuskan. "Jika mama tidak bisa memutuskan. Izinkan Zoya sendiri yang memutuskan." batin Zoya, melihat tubuhnya di atas ranjang.
Zoya melepaskan tangan Nyonya Ratna. Beralih menatap tubuhnya sendiri dengan lekat. "Saya yakin, jika Zoya akan memilih mencoba obat yang baru. Dari pada memakai obat yang lama. Tapi kondisinya sama sekali tak ada perubahan. Jika pun akhirnya dia akan mendapatkan hasil yang buruk karena pilihannya. Saya yakin dia tidak akan pernah menyesal." tekan Zoya denhan tegas.
Zain merasakan ada yang berbeda dengan tatapan yang Zoya berikan pada pasiennya. "Dia. Dia seperti memiliki ikatan batin dengan putri Tuan Darwin." batin Zain.
Nyonya Ratna merenungkan sejenak apa hang dikatakan oleh Zoya. Lalu dia menatap Zoya, sang putri yang berbaring tak berdaya di atas ranjang.
"Mungkin benar apa yang kamu katakan. Jika putri saya jauh lebih berani dari pada saya." cicit Nyonya Ratna.
Nyonya Ratna memejamkan kedua matanya sesaat sembari menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. "Zain,,, lakukan yang menurut kamu terbaik untuk putri tante. Tante percaya dengan kamu." tukas Nyonya Ratna memutuskan untuk mengikuti saran Zain.
Zain tersenyum. "Baik tante. Semoga keputusan saya mengganti obat untuk putri tante adalah keputusan yang tepat." sahut Zain.
Zain menulis sebuah resep di kertas. Memberikannya pada sang perawat. "Belikan di apotik." pinta Zain, menyodorkan selembar kertas tersebut pada sang perawat.
"Baik dok." ujarnya sembari mengambil kertas tersebut dari tangan sang dokter.
Zoya memeluk tubuh Nyonya Ratna. "Terimakasih tante. Semoga Zoya segera membaik." tukas Zoya berharap dirinya akan mendapatkan keajaiban.
Tak berselang lama, Zoya pamit pada Nyonya Ratna untuk pulang. Begitu juga dengan Zain, yang segera menyusul Zoya untuk meninggalkan rumah Tuan Darwin.
"Zoya...!! Tunggu...!!" panggil Zain, saat Zoya sudah bersiap di atas sepeda motornya.
"Terimakasih sudah membantu saya menyakinkan tante Ratna." ujar Zain.
"Iya." sahut Zoya singkat, sembari membenarkan letak helm di kepalanya.
"Saya baru tahu, jika kamu kenal dengan putri tante Ratna."
"Kami bekerja di tempat yang sama. Perusahaan Tuan Darwin." sahut Zoya.
__ADS_1
Zoya menyalakan mesin sepeda motonya. "Saya duluan. Permisi." pamit Zoya langsung menjalankan sepeda motornya meninggalkan rumah Nyonya Ratna.
Zain tersenyum manis. "Ternyata hati kamu tidak sekeras yang saya pikirkan." batin Zain melihat bagaimana cara Zoya membujuk Nyonya Ratna supaya setuju dengan rencananya.