MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 68


__ADS_3

Reiner dan kedua orang tuanya sudah duduk di sebuah kursi yang melingkar di meja lumayan besar. Sesampainya di restauran, Tuan Renggo bertanya pada salah satu pelayan, bertanya letak meja yang sudah dipesan atas nama Tuan Benyamin.


Dengan ramah dan sopan, sang pegawai restoran membawa mereka ke sebuah sudut ruangan. Dimana di sanalah sebuah meja berukuran lumayan besar di letakkan sedikit menjauh dari meja lainnya.


Seorang pelayan membawakan segelas air mineral untuk diletakkan di depan Reiner dan kedua orang tuanya. "Maaf, kami belum bisa mengeluarkan makanan yang sudah dipesan Nona Alice." tutur sang pelayan dengan ramah.


"Kami mengerti. Terimakasih." sahut Nyonya Pipit dengan ramah, mengambil segelas air putih di depannya dan menyeruputnya sedikit.


Di depan publik, Nyonya Pipit memang dikenal sebagai pribadi yang ramah dan sangat mempunyai jiwa sosial tinggi.


Reiner acuh melihat sikap sang mama yang bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya selalu dia perlihatkan padanya. Hanya dirinya dan para pembantu di rumah yang mengetahui sifat asli sang mama.


Bunglon. Mungkin itulah nama binatang yang bisa menggambarkan sifat dari Nyonya Pipit. Bisa berubah sesuai kondisi yang dia inginkan.


"Syukurlah, kita datang lebih cepat dari mereka." ujar Nyonya Pipit terasa lega.


Nyonya Pipit mengeluarkan kaca yang menjadi satu dengan bedak padat miliknya. Melihat make up di wajahnya melalui pantulan kaca kecil tersebut.


Tangannya dengan terampil membenahi riasan yang dia rasa kurang. Lalu dimasukkan lagi benda kecil tersebut ke dalam tas merk terkemuka dengan harga selangit.


"Reiner,,,, ingat. Jangan membuat malu kami. Bersikaplah dengan baik." ujar Tuan Renggo. Untuk kesekian kalinya mengingatkan sang putra.


Reiner hanya mengangguk pelan. Mulutnya terasa malas untuk terbuka. "Kenapa papa dan mama jadi seperti ini. Lagian apa papa tidak tahu, bagaimana liciknya Benyamin. Padahal, jika papa mau, gue bisa meminta tolong pada om Darwin kembali untuk beliau mau membantu perusahaan papa lagi." batin Reiner.


Tanpa Reiner tahu, jika orang yang menyuruh Tuan Darwin memutuskan kerja sama dengan Tuan Renggo adalah Milly.


Entah apa yang ada di otak licik Milly hingga nekat melakukan hal tersebut. Dan entah apa yang Milly katakan, hingga Tuan Darwin melakukan apa yang Milly inginkan. Hanya Milly yang tahu.


Sebab, biasanya Tuan Darwin selalu bersikap profesional dalam bisnis. Beliau tidak pernah meminta persetujuan Milly di dalam pekerjaan. Dan tidak pernah mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan.


Pasti di sini, Milly sedang mempunyai rencana yang sudah dia susun. Dan itu tak jauh-jauh dari rencananya untuk mendekati seorang Reiner. Kekasih sahabatnya sendiri. Hanya saja, dia belum merealisasikan rencana tersebut.


"Itu mereka." cicit Nyonya Pipit berdiri dari duduknya, begitu melihat Alice beserta kedua orang tuanya berjalan ke arah mereka.


Tuan Renggo juga mengikuti apa yang dilakukan sang istri untuk terlihat jika dirinya menghormati pemilik acara. "Reiner." panggil Nyonya Pipit, sebab Reiner masih duduk, menikmati permainan di ponselnya.


"Heemm....." Reiner menyimpan ponselnya ke dalam saku. Dengan malas dia berdiri. Menyambut kedatangan keluarga Alice.


Reiner tersenyum kecut. Dan ini pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini. "Gue berharap ini akan menjadi terakhir kalinya gue melakukan hal menjijikkan ini." batin Reiner.


"Maaf,,, kami baru datang. Apa kalian sudah lama?" tanya Nyonya Zahwa bercipika-cipiki dengan keluarga Reiner satu persatu. Berpura-pura ramah.


"Belum jeng, baru beberapa menit." sahut Nyonya Pipit.


Diikuti oleh Alice yang bercipika-cipiki dengan keluarga Reiner. Mereka melihat gelas air mineral di atas meja masih utuh. Dan hanya ada satu gelas yang berkurang sedikit. Yang menandakan jika mereka memang baru saja datang.


"Apa mereka memang semiskin itu." batin Nyonya Zahwa menghina keluarga Reiner. Sebab bisa saja keluarga Reiner memesan minuman sendiri yang dibayar oleh mereka sendiri untuk menunggu kehadiran mereka. Bukan malah meminum air mineral yang memang disediakan secara gratis oleh pihak restoran.


"Silahkan." cicit Tuan Benyamin sembari duduk.


"Alice,,,, kamu cantik sekali." puji Nyonya Pipit memandang Alice dengan senyum sempurna.


Nyonya Zahwa yang mendengar kalimat pujian tersebut hanya mencebik samar. "Terimakasih tante. Reiner juga tampan." sahut Alice.


Reiner hanya acuh. Kaki Nyonya Pipit menyenggol kaki Reiner yang memang duduk tepat di sampingnya. Segera Reiner tersenyum paksa. "Terimaksih." timpal Reiner dengan malas.


Sejak melihat betapa tampan dan gagahnya Reiner, kedua mata Alice seolah tak lepas menatap lelaki tersebut. Bahkan, Alice tak sabar ingin membuat Reiner menjadi miliknya, seutuhnya.


"Terimakasih, kalian sudah mau datang." ujar Tuan Benyamin.


"Seharusnya kami yang mengucapkan terimakasih. Karena anda mau dan sudi mengundang kami." sahut Tuan Renggo.


"Pa... Apa perlu kita menyuruh pelayan mengeluarkan makanan sekarang?" tanya Nyonya Zahwa.


Sedangkan beberapa pelayan restoran sudah berdiri rapi dengan berbaris. Menunggu tugas mereka untuk menyediakan makanan untuk tamu VVIP tersebut.


"Sebentar ma. Kita tunggu teman papa. Nanti yang ada beliau mengira jika kita menyediakan makanan sisa." tutur Tuan Benyamin.


Tuan Renggo dan Nyonya Pipit tetap tersenyum. Meski di dalam hati, mereka sedang mengumpat. Sebab terlihat jika Tuan Benyamin sangat menghormati dan memperlakukan tamu yang belum datang dengan sangat baik.


Sementara mereka, yang notabennya adalah calon besan, sama sekali tak ada nilainya di mata mereka. "Benyamin sialan. Lihat saja, jika perusahaan ku sudah berjaya lagi. Dan aku tidak membutuhkan bantuan kamu, aku bersumpah akan membuat kamu menyesal dengan perlakuan kamu ini." batin Tuan Renggo, tidak terima karena merasa direndahkan.

__ADS_1


"Jika bukan karena kami membutuhkan uang kalian, kami juga tidak akan mau makan semeja dengan orang macam kalian. Menyebalkan." batin Nyonya Pipit, merasa dia tidak dihargai kedatangannya.


"Rey... Setelah makan, bagaimana jika kita keluar berdua. Jalan-jalan." ajak Alice.


"Benar. Lagi pula, kamu selalu berada di rumah. Sekali-kali kamu memerlukan tempat untuk merilekskan diri. Jangan bekerja terus." timpal Nyonya Pipit mendukung keinginan Alice.


"Beruntung sekali kami, mendapatkan menantu seperti Reiner. Pekerja keras. Alice,,, kamu harus memperlakukan Reiner dengan baik." tukas Nyonya Zahwa.


"Pasti ma." sahut Alice, memandang Reiner penuh hasrat memiliki. Bahkan Reiner saja merasa risih akan tatapan yang diberikan Alice pada dirinya.


"Maaf, tapi gue nggak bawa mobil." tolak Reiner beralasan. Rasanya sangat malas keluar hanya berdua dengan perempuan gatel di depannya.


Tampak ekspresi kecewa dari Alice. "Ya... Sama. Aku juga datang ke sini satu mobil dengan mama dan papa." ujar Alice dengan nada sedih.


Nyonya Pipit tersenyum sempurna. "Reiner,,, kamu pakai saja mobilnya. Biar papa dan mama pulang naik taksi." saran Nyonya Pipit.


Sopir di keluarga Tuan Renggo memang tinggal seorang saja. Bahkan Nyonya Pipit juga mengurangi jumlah pembantu di rumah. Semua karena keuangan sang suami yang semakin memburuk.


Bukan hanya itu saja. Mobil mereka yang sebelumnya bagai di dealer, kini hanya tersisa tiga. Satu untuk Tuan Renggo, satu untuk Nyonya Pipit. Dan sebuah mobil yang memang milik Reiner sendiri.


Reiner yang dulu mempunyai koleksi mobi, terpaksa menjual semuanya. Dan hanya menyisakan sebuah mobil yang sekarang selalu dia pakai kemana saja. Semua itu dikarenakan, Reiner membutuhkan uang untuk membuat perusahaan kecilnya seperti sekarang ini.


Dan usaha serta perjuangan Reiner memang tidak mengecewakan. Reiner berhasil membuat perusahaan kecil tersebut bangkit lagi. Dan kini semakin membaik.


Itulah kenapa, nama Reiner terkenal di kalangan pebisnis, sebagai pebisnis muda yang berbakat. Sebab mampu mengembalikan roda perusahaan yang sudah berada di bawah.


Serta alasan tersebutlah, Tuan Benyamin merestui snag putri mengejar Reiner. Dia berpikiran, jika dirinya dan Reiner berjalan di jalan yang sama. Tidak mustahil perusahaannya akan semakin maju pesat. Dan tidak tertandingi.


Tuan Renggo menatap ke arah Tuan Benyamin yang nampak sibuk dengan ponselnya. Beliau berharap Tuan Benyamin mengeluarkan suara. Sebab di rumah Tuan Benyamin pasti banyak sopir dan mobil.


"Benar kata mama kamu, Reiner. Gunakan saja mobil kedua orang tua kamu." timpal Nyonya Zahwa, yang malah setuju dengan saran Nyonya Pipit.


Nyonya Pipit tersenyum ramah. "Sialan. Padahal mobil dan sopir mereka banyak di rumah. Malah menyuruh kita naik taksi." batin Nyonya Pipit. Salah sendiri menawarkan hal tersebut.


Nyonya Zahwa menepuk pelan lengan sang suami. "Pa,,,, Tuan Darwin dan istrinya sudah datang." cicit Nyonya Zahwa melihat sepasang suami istri yang menyita perhatian pengunjung restoran lainnya.


Segera Tuan Benyamin dan Nyonya Zahwa berdiri, melihat tamu yang mereka tunggu datang. "Ratna memang sangat cantik." puji Tuan Benyamin dalam hati, tidak berkedip memandang istri dari Tuan Darwin.


Wajah mereka langsung berubah seketika, saat mengetahui siapa rekan kerja Tuan Benyamin yang akan makan malam dengan mereka.


Bahkan, wajah Reiner tampak pucat. "Pasti,,, mereka sudah merencanakan sejak awal. Sial...!! Kenapa gue nggak mencari tahu dulu. Siapa rekan kerja Benyamin." batin Reiner, melirik ke arah Alice yang tampak berseri-seri.


Deg.....


Kedua orang tua Reiner tak kalah terkejutnya dengan sang putra. Saat mereka berdua melihat siapa yang sedang berjalan ke arah mereka. "Pa..." panggil Nyonya Pipit berbisik.


"Bersikaplah dengan wajar. Lagi pula kita tidak berbuat salah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." bisik Tuan Renggo.


Kenyataannya, Tuan Renggo sendiri merasa jika dia berbuat salah. Beliau juga merasakan kegugupan yang bercampur rasa cemas mendera dalam diri mereka.


Tuan Renggo dan Nyonya Pipit serta Reiner merasa tidak nyaman, sebab ketiganya belum datang ke rumah Tuan Darwin dan memutuskan baik-baik hubungan Reiner dengan Zoya.


Dan sekarang, mereka berada di meja ini, bersama dengan keluarga Tuan Benyamin. Mereka yakin, jika kedua orang tua Zoya busa menebak apa yang terjadi.


Padahal, baik Tuan Darwin atau Nyonya Ratna sama sekali tidak pernah menekan Reiner untuk terus menunggu Zoya. Bahkan keduanya malah menyuruh Reiner untuk mencari perempuan pengganti Zoya.


"Jeng.... Selamat datang. Astaga,,, cantik sekali." sapa Nyonya Zahwa menyambut kedatangan sepasang suami istri tersebut dengan semangat.


"Jeng juga cantik." sahut Nyonya Ratna.


Nyonya Pipit tetap seperti awal. Menampilkan senyum menawannya. Meski dia sedang mengoceh di dalam hati. "Sialan....!" umpatnya dalam hati. Merasakan perbedaan sikap Nyonya Zahwa pada dirinya dan pada Nyonya Ratna.


Keduanya lantas saling menyapa dengan bercipika-cipiki. "Selamat datang." lanjut Tuan Renggo pada Tuan Darwin dam Nyonya Ratna.


"Reiner,,, loh, kalian juga di sini?" tanya Tuan Darwin.


"Om,,, tante." sapa Reiner.


"Jeng,,, Tuan Darwin." sapa Nyonya Pipit.


Dilanjutkan dengan Tuan Renggo yang bersalaman dengan keduanya. "Sepertinya mereka akan menjadi bagian dari keluarga Benyamin." cicit Tuan Benyamin, menjawab pertanyaan Nyonya Ratna.

__ADS_1


Nyonya Ratna tersenyum. Meski hatinya seperti dicubit. Seketika beliau teringat akan keadaan snag putri yang berbaring tak sadarkan diri di rumah. Tapi Nyonya Ratna berpikir logis. Dan tidak memaksakan Reiner untuk setiap pada Zoya.


Alice tersenyum. Dia menebak jika sebentar lagi Reiner akan kena marah dari kedua orang tua Zoya. "Dan gue akan menjadi perempuan baik hati." batin Alice, akan berperan membela Reiner jika hal yang dia tebak akan terjadi.


Nyonya Ratna menepuk pelan bahu Reiner sembari tersenyum. "Zoya pasti juga akan merasakan kebahagian, jika melihat kamu bahagia. Betulkan pa?" Nyonya Ratna memandang Tuan Darwin yang juga tersenyum dan mengangguk.


Seperti yang Tuan Darwin dan Nyonya Ratna sepakati bersama. Jika mereka akan tetap terlihat mesra dan bahagia jika berada di luar, dan saat semua mata menatap mereka.


Sehingga tidak akan ada yang tahu, jika keluarga mereka sedang diterpa badai besar. "Benar. Putri Benyamin sama cantiknya dengan Zoya. Bahkan, bukan parasnya saja yang cantik, pasti hatinya juga secantik parasnya." sahut Tuan Darwin.


"What...!! Mereka tidak marah. Helooo....!! Reiner mengkhianati Zoya. Dia meninggalkan Zoya. Dia tidak setia. Memilih perempuan lain di saat kekasihnya sakit." batin Alice masih belum percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengar.


Nyonya Zahwa juga menatap ke arah Nyonya Ratna dengan ekspresi yang tak dapat ditebak. Datar tanpa senyum. Tapi yang jelas, ada rasa iri saat melihat penampilan Nyonya Ratna.


Jauh. Nyonya Zahwa dan Nyonya Pipit terbanting cukup jauh, saat mereka disandingkan dengan Nyonya Ratna.


Berbeda dengan sang suami, Tuan Benyamin yang tersenyum menatap Nyonya Ratna. Tentu saja karena kecantikan yang terpancar dari wajah Nyonya Ratna, mampu membuat Tuan Benyamin tak bisa menatapnya secara terus menerus.


Reiner memeluk hangat Nyonya Ratna. "Jika saja mama seperti tante. Pasti sekarang gue akan masih bersama dengan tante. Merawat Zoya bersama-sama." batin Reiner.


Nyonya Pipit memutar kedua matanya dengan jengah. Dia merasa Nyonya Ratna juga sedang bersandiwara. Menyamakan Nyonya Ratna dengan dirinya.


"Rubah. Di depan terlihat kalem. Paling hatinya bau." batin Nyonya Pipit, menghina Nyonya Ratna. Padahal apa yang dia katakan adalah cerminan dirinya sendiri.


Nyonya Ratna mengurai pelukannya. Membelai sebentar wajah Reiner dengan tulus. "Jaga diri kamu. Jaga kesehatan kamu. Ingat pesan tante. Zoya juga akan bahagia, jika kamu bahagia. Kamu seharusnya tahu. Sebesar apa cinta Zoya pada kamu." cicit Nyonya Ratna.


Alice membuang wajahnya. Dirinya merasa muak melihat adegan melankolis di depannya. Atau lebih tepatnya merasa panas melihat keakraban yang ditunjukkan Reiner dengan Nyonya Ratna.


Sebab sampai detik ini, Alice bahkan belum bisa menyentuh tubuh Reiner. "Genit sekali dia. Tua bangka." umpat Alice dalam hati, mengutuk sikap manis penuh sayang yang diberikan Nyonya Ratna pada Reiner.


Dasar manusia sampah. Tidak bisa membedakan kasih sayang seorang ibu pada putranya. Bahkan mengira jika Nyonya Ratna menggoda Reiner.


"Sudah ma,,, nanti Reiner malah semakin bersalah." Tuan Darwin memegang kedua pundak sang istri, dan membawanya untuk duduk di kursi.


"Tenang Reiner, kami merestui apapun yang bisa membuat kamu bahagia." cicit Tuan Darwin.


"Terimakasih om. Dan seharusnya om juga tahu. Siapa yang bisa membuat saya bahagia." timpal Reiner menohok. Mengenai Alice secara langsung.


"Bagaimana jika kita segera makan makanan pembuka. Bukankah waktu makan malam sudah tiba." tukas Tuan Benyamin mengalihkan pembicaraan mereka.


"Silahkan." sahut Nyonya Ratna terlihat begitu anggun.


Makanan secara bertahap dikeluarkan dan dihidangkan di atas meja oleh pelayan yang sedari tadi sudah bersiap.


Saking terpana nya pada penampilan Nyonya Ratna yang mempesona, Tuan Benyamin bahkan sampai lupa tujuan dia mengadakan acara malam malam ini.


Dan hal tersebut tentu saja disadari oleh sang istri. Nyonya Zahwa. "Dasar lelaki." batinnya merasa kesal. Dirinya berada di sampingnya, tapi dengan terang-terangan menatap perempuan lain seperti itu.


Kedua orang tua Reiner hanya diam, tak berani banyak bicara. Mereka takut salah bicara, dan juga merasa tidak nyaman karena keberadaan Tuan Darwin dan Nyonya Ratna.


Berbeda dengan Tuan Benyamin yang selalu mengajak Tuan Darwin dan Nyonya Ratna bercakap ringan. Tapi tetap saja, kedua mata Tuan Benyamin selalu mencari kesempatan menatap Nyonya Ratna.


Sementara Nyonya Zahwa hanya mengimbangi percakapan mereka. Dirinya tidak ingin terlihat begitu bodoh di hadapan yang lain.


Dan merasa masa bodo pada sang suami yang selalu menatap Nyonya Ratna dengan pandangan takjub. Sebab yang terpenting, dialah yang menjadi Nyonya Benyamin.


Dalam beberapa kesempatan, Reiner dan Nyonya Ratna berbincang cukup intens. Tentunya mereka membicarakan kesehatan Zoya saat ini.


Alice,,, jangan tanyakan. Dia merasa tersisihkan. Meski Reiner duduk di sebelahnya, tapi dia tidak pernah menganggapnya. Dan lebih memilih untuk berbincang dengan Nyonya Ratna.


"Brengsek." umpat Alice dalam hati.


Rencananya gagal berantakan. Tak ada yang berjalan dengan baik. Alice menahan emosinya. Sebab tak mungkin dia meluapkannya saat ini juga.


Beberapa kali, Nyonya Ratna memandang sekitar. "Semoga Zoya berhasil membawa Milly ke sini." batin Nyonya Ratna ingin sekali memperlihatkan, siapa Nyonya besar satu-satunya yang tepat untuk duduk di samping Tuan Darwin.


"Tante kenapa?" tanya Reiner, melihat Nyonya Ratna seakan mencari sesuatu.


Nyonya Ratna menggeleng pelan. "Tidak. Hanya saja, tadi saya merasa melihat seseorang yang familiar." sahut Nyonya Ratna berbohong.


"Apa Zoya juga akan datang?" batin Nyonya Ratna menebak.

__ADS_1


"Aku harus bisa menahan emosiku. Ingat Ratna. Zoya sekarang berbaring di tempat tidur. Dan Zoya satunya, membantu kamu dengan ikhlas. Jangan kecewakan mereka berdua." cicit Nyonya Ratna di dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri.


__ADS_2