
"Zoya, kamu dandan seperti tadi dong." pinta bu Murni pada Zoya.
Bu Murni ingin Zoya memakai riasan di wajah seperti saat Zoya hendak pergi bekerja. Membuat Zoya terlihat sangat cantik dan berbeda.
Zoya tersenyum manis, tapi tampak jelas raut wajahnya yang kaku. Sehingga semua pasti tahu jika Zoya terpaksa menampilkan senyumnya.
"Nggak keburu bu." ujar Zoya beralasan. Ngapain dandan cantik. Hanya pergi beli ponsel.
Yang sebenarnya, Zoya sangat malas pergi berdua dengan Zain. Meski sang dokter termasuk lelaki dengan paras tampan. Sebelas dua belas dengan kekasihnya yang dulu. Reiner.
Tapi hal tersebutlah yang membuat Zoya memandang rendah Zain. Lelaki tampan, pasti bisanya hanya menyakiti pasangannya. Kalimat itulah yang sekarang tertanam dalam benak Zoya.
Bu Murni ingat, jika sang putri hendak pergi keluar untuk membeli ponsel. Awalnya, bu Murni yang ingin ikut pergi Zoya.
Tapi semua berubah karena kedatangan dokter tampan yang bernama Zain. Tentu saja, bu Murni ingin sang putri dekat dengan lelaki. Meski hanya sebagai teman.
Bu Murni juga sadar diri. Jika tidak mungkin seorang dokter tampan seperti Zain mau dengan sang putri. Bukannya Bu Murni menghina fisik putrinya sendiri. Tapi memang itulah kenyatannya.
Ditambah lagi, starta sosial yang sangat berbeda diantara mereka. Bu Murni bisa menebak, jika dokter Zain berasal dari kalangan atas. Sementara keluarganya hanyalah orang biasa.
Mustahil jika bu Murni mempunyai angan-angan untuk menjodohkan sang putri dengan dokter tampan tersebut. Cukup sebagai seorang teman. Sudah membuat bu Murni senang.
Sebab, selama ini Zoya sama sekali belum pernah sekalipun membawa temannya pulang ke rumah. Entah teman perempuan atau teman laki-laki.
Apalagi selama ini, bu Murni selalu melihat sang putri sendiri. Bahkan di dalam ponselnya saja, hanya ada beberapa kontak nama. Milik sang ayah, dan milik teman kerjanya.
"Masa kamu berpakaian seperti itu." ujar Bu Murni, melirik ke arah sang dokter yang berpakaian dengan rapi dan bagus.
Zoya memutar kedua matanya dengan jengah. "Bu, Zoya hanya ingin pergi membeli ponsel."
Zain tersenyum mendengar perdebatan anak dan ibu yang berada di depannya. Rasanya begitu menghangatkan perasaannya.
"Sudah begitu lama, aku tidak merasakan hal seperti ini." batinnya.
"Bu, sudahlah. Biarkan Zoya memakai pakaian seperti itu. Lagi pula, itu terlihat sopan." ujar pak Endri.
Zoya mengangguk dengan cepat. Zoya merasa penampilannya tidaklah buruk. Memakai kaos oblong berwarna biru muda, dengan celana jeans kombor.
Tapi memang, dengan berpakaian seperti itu, membuat tubuh Zoya terlihat bertambah besar.
"Jadi pergi apa tidak sih. Keburu malam." ketus Zoya.
"Zoya..." tegur pak Endri dan bu Murni bersamaan.
__ADS_1
Zoya membuang wajah ke arah lain. Merasa apa yang dia katakan tidaklah salah. "Salah gue di mana coba." lirih Zoya, terdengar di telinga Zain.
Bu Murni dan pak Endri hanya bisa menggeleng melihat sikap dan tingkah sang putri, yang dirasa berbeda setelah terbangun dari tidur panjangnya.
"Baiklah pak, bu. Kami pergi dulu." pamit Zain dengan sopan.
"Iya nak Zain. Titip Zoya." tukas Pak Endri.
"Memang Zoya barang. Pakai dititipin." tutur Zoya, mendapat pelototan dari sang ayah.
"Jika Zoya sulit di kendalikan, nak Zain tegur saja. Jangan sungkan." timpal bu Murni.
Karena Zain menolak dipanggil dengan embel-embel dokter, akhirnya kedua orang tua Yaya memutuskan untuk memanggil Zain dengan sebutan nak Zain.
"Astaga ibu. Zoya berasa seperti kuda. Masa dikendalikan." celetuk Zoya.
Zain ingin tertawa mendengar perkataan Zoya, tapi dia menahannya. Tentu saja dirinya tetap menjaga pembawaannya, yang dikenal dengan dokter tampan, kalem, dan murah senyum.
Zoya dan Zain berpamitan kepada kedua orang tua Yaya. Dan segera pergi ke tempat dimana menjual berbagai macam jenis dan semua produk ponsel.
Di teras, bu Murni dan pak Endri duduk di kursi. Keduanya memandang ke arah jalan, di mana mobil yang dinaiki Zoya dan Zain menghilang setelah berbelok di tikungan.
"Ibu merasa, Zoya banyak berubah." tukas bu Murni.
Bu Murni mengangguk. "Tapi, Zoya sekarang lebih cuek ya pak. Dia juga tidak seperti dulu. Pemalu."
Bu Murni teringat, saat ada pemuda yang membeli rokok di toko, Zoya melayaninya dengan wajah tertunduk malu.
Tapi sekarang, berhadapan dengan dokter Zain, Zoya bisa bersikap santai dan tenang. Seakan Zoya terbiasa berhadapan dengan lelaki sebelum ini.
"Benar." sahut pak Endri, yang juga merasa sang putri sekarang lebih berani dari pada sebelumnya. Hingga ada ibu-ibu yang melabraknya ke rumah.
Namun, insiden tersebut tidak pak Endri dan Bu Murni ceritakan pada Zoya. Mereka tidak ingin, Zoya malah memikirkannya. Dan membuat kondisi Zoya drop lagi.
Kenyataannya, Zoya sama sekali tidak peduli. Bagi Zoya, asal mereka tidak membuat masalah dengannya, Zoya juga tidak akan berulah.
Zain menghentikan mobilnya di depan pusat perbelanjaan. "Jangan di sini. Kita ke konter saja." ajak Zoya, menolak di ajak ke mall besar.
"Kenapa. Di sini saja, di sini malah banyak pilihannya." tolak Zain, melepas sabuk pengamannya.
Zoya memandang kesal ke arah Zain. Dia yang ingin membeli ponsel. Dan Zain hanya mengantar. "Tahu begini, gue pergi sendiri." batin Zoya, merasa Zain malah mengatur dirinya.
Masalahnya, Zoya hanya membawa uang sedikit. Dirinya harus berhemat untuk satu bulan ke depan. Tentunya, Zoya tidak ingin menyusahkan kedua orang tua Yaya.
__ADS_1
Zain melihat Zoya yang hanya diam, tak segera membuka sabuk pengamannya. Dan malah menatap ke depan dengan ekspresi wajah yang ditekuk.
"Kamu tidak bisa membuka sabuk pengamannya?" tanya Zain.
Tanpa menjawab, Zoya membuka sabuk pengaman yang berada di badannya dengan kasar. "Ayo." ajak Zain yang sudah memegang gagang pintu mobil.
"Ckkk..." decak Zoya, yang terdengar jelas di telinga Zain.
Zoya menghela nafas panjang. "Ada apa?" tanya Zain, mengurungkan diri keluar dari dalam mobil. Dan kembali duduk di kursi belakang kemudi.
"Antar saya ke konter saja. Jangan ke sini." pinta Zoya.
"Memang kenapa. Bukankah sama saja?" tanya Zain yang memang tidak mengerti alasan Zoya.
"Tuan dokter, saya memang mau membeli ponsel. Tapi dengan harga yang terjangkau." Zoya menjeda kalimatnya.
"Saya ingin membeli ponsel yang sudah bekas." lanjut Zoya berbicara terus terang.
Zain terdiam. Yang dia pikirkan hanyalah mengantar Zoya membeli ponsel. Dirinya seakan lupa, jika pastinya, setiap orang mempunyai kemampuan finansial masing-masing.
"Aku ada uang. Kamu pakai saja." tawar Zain.
Sontak, Zoya langsung menatapnya dengan kesal. "Tunggu. Jangan salah paham. Maksudnya, kamu bisa meminjam uang saya. Pakai dulu. Kamu bisa kembalikan jika kamu sudah punya uang. Di cicil juga tak apa." saran Zain.
Zain tahu, Zoya pasti akan merasa direndahkan. Jika Zain tiba-tiba membelikannya ponsel. Apalagi mereka baru kenal. Zain cukup tahu karakter dari Zoya seperti apa.
Zoya masih terdiam. Belum menjawab saran yang Zain berikan. "Dari pada membeli ponsel bekas. Kita juga tidak tahu, keadaan ponsel tersebut sebelumnya. Lalu kenapa ponsel tersebut dijual. Bukankah membeli yang baru lebih terjamin." bujuk Zain.
Zoya setuju dengan apa yang dikatakan Zain. Akan lebih baik membeli barang baru dari pada bekas.
"Bagaimana?" tanya Zain, melihat Zoya sepertinya tengah berpikir.
Zoya mengangguk pelan. Membuka pintu mobil dadi dalam. "Huffft... gila, hanya menunggu Zoya berkata iya saja, rasanya seperti sedang melakukan operasi besar." lirihnya sembari menggeleng.
"Anda nggak apa-apa, jalan berdua dengan saya?" tanya Zoya, sebelum keduanya meninggalkan area parkir.
Zoya kembali mengeluarkan suara, sebelum Zain menjawab pertanyaannya. "Anda bisa memberikan uang anda pada saya. Untuk saya pinjam. Saya hanya membeli ponsel. Tidak membutuhkan waktu lama." jelas Zoya.
Zain tersenyum. Dirinya bisa menebak ke mana arah perkataan Zoya. "Pertama. Jangan panggil saya dengan kata anda. Kamu bisa memanggil dengan hanya menyebut nama saja, atau dengan kata kamu." pinta Zain.
"Kedua, kenapa saya harus memberikan uang saya ke kamu. Saya tidak akan menunggu kamu di dalam mobil. Daya akan mengikuti kamu masuk ke dalam." jelas Zain.
Zoya memandang ke arah lain. "Baru di parkiran saja, mereka memandang dengan tatapan hina. Sialan. Ingin sekali gue smack down mereka." geram Zoya dalam hati.
__ADS_1
Tanpa bicara, Zoya melangkahkan kakinya. Zain tersenyum, dan segera mensejajarkan dirinya untuk melangkah di samping tubuh Zoya.