MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 32


__ADS_3

Antara senang dan sedih, Zoya termenung seorang diri di dalam taksi yang berjalan menuju ke rumah yang sekarang menjadi tempat tinggalnya.


Berkali-kali Zoya menarik pelan nafasnya. Menghembuskan secara perlahan, sembari menyenderkan kepalanya di senderan kursi.


Kedua rasa yang sangat berbeda, tapi Zoya rasakan secara bersamaan. Membuat otaknya terasa ingin pecah karena memikirkan dua rasa yang sangat berbeda.


Zoya merasa senang, karena meski belum memperoleh hasilnya, namun setidaknya Zoya sudah memiliki seseorang yang bisa dia hasut untuk membuat kehidupan Milly tidak akan aman lagi.


Tapi, secara bersamaan rasa sedih juga merayap ke dalam hatinya. Pasalnya, Zoya melihat sendiri bagaimana keadaan tubuhnya yang sangat memprihatinkan. Hidup segan, matipun enggan.


Otak Zoya penuh dengan berbagai pemikiran. Mulai dari cara dia mengetahui jika Milly dan sang papa yang pasti di usir dari rumah yang baru saja dia datangi. Yang artinya rencana Zoya berjalan dengan mulus tanpa hambatan.


Hingga kehidupannya kelak. Sebab, Zoya tak mungkin selamanya berada di dalam tubuh Yaya. Tapi, dengan keadaan tubuh Zoya yang begitu memprihatinkan, apakah Zoya akan bertahan hidup, hingga waktu dimana jiwanya keluar dari tubuh Yaya, dan kembali pada tubuhnya sendiri.


"Zoya bodoh, kenapa tadi elo nggak minta nomor ponsel bapak yang tadi." gumam Zoya pada diri sendiri, memikirkan cara agar dia mengetahui perkembangan hasutan yang dia berikan pada tetangga Milly.


"Pasti menyenangkan, jika melihat sendiri Milly dan papa di usir paksa dari rumah itu." Zoya tersenyum sinis.


"Ehh,,, jangan. Bisa jadi dia sudah beristri. Bisa-bisa malah menimbulkan masalah buat gue. Tapi,,,, astaga, kepala gue serasa mau pecah." keluh Zoya.


"Coba saja gue seperti lakon di novel sebelah, dimana peran perempuannya pandai memainkan perangkat lunak. Pasti gue sudah menyabotase kamera CCTV jalan di depan rumah Milly." dengus Zoya, sembari membayangkannya.


Sang sopir taksi hanya sekilas melihat tingkah Zoya dari kaca pantau yang ada di atasnya. Beliau juga mendengar semua yang diucapkan Zoya. Tapi sang sopir hanya diam dan tersenyum.


Kedua pundak Zoya merosot ke bawah. "Lantas, bagaimana nasib gue ke depannya." Zoya teringat akan keadaan badannya.


Zoya memandang sendiri tubuh Yaya, yang di mana sekarang, jiwanyalah yang sedang menempati. "Jika suatu saat Yaya pengen kembali, lalu gue bagaimana?" lirih Zoya, tertunduk lesu.


Zoya segera mengangkat kepalanya. Mengedipkan kedua matanya dengan lucu. "Yaya kembali. Memang ada cara. Lalu gue, bagaimana cara gue keluar dari tubuh ini." ucap Zoya.


"Aaa.....!" teriak Zoya mengusap wajahnya berkali-kali juga mengacak-acak rambutnya sendiri merasa frustasi dengan semua yang dia hadapi.


"Kenapa semua jadi seperti ini...!!" kesal Zoya, merasa berada dalam kehidupan yang sangat membingungkan.

__ADS_1


"Belum masalah Milly dan papa. Lalu masalah gue sendiri. Tuhan,,, apa otak kecil gue bisa menampung semua masalah ini." keluhnya terdengar begitu menderita.


"Maaf mbak,,, sudah sampai." tukas pak sopir, membuyarkan pikiran Zoya, menghentikan taksinya di depan rumah pak Endri.


"Hah,,, cepat sekali." ujar Zoya sambil menghembuskan nafas kasar. Perjalanan yang lumayan jauh, menjadi tak terasa karena otak Zoya memikirkan banyak hal.


Zoya mengambil uang dari dalam tasnya. "Ini pak." memberikan ongkos taksi pada pak sopir dari kursi belakang, dengan raut wajah kacau.


Pak sopir memutar setengah posisi duduknya. Menerima uang yang diberikan oleh Zoya. "Terimakasih mbak." ujarnya.


"Mbak,,, jalani saja apa yang ada di depan. Jangan memikirkan hal yang tidak masuk akal. Pergunakan kesempatan hidup sebaik mungkin." tutur pak sopir.


Zoya mengangguk polos. Keluar dari taksi. Zoya menampilkan ekspresi wajah yang aneh, saat taksi tersebut melaju meninggalkannya.


Dirinya baru tersadar, dengan apa yang diucapkan pak sopir tadi. Zoya berpikir, kenapa pak sopir berkata seperti itu pada dirinya. Padahal beliau sama sekali tidak tahu masalah hidup yang dirinya sedang alami.


"Jangan memikirkan hal yang tidak masuk akal." gumam Zoya, mengucapkan kembali perkataan pak sopir.


"Tidak masuk akal." cicit Zoya, menatap tubuh Yaya.


Sedangkan Yaya, Zoya sendiri tidak tahu keberadaan jiwa Yaya saat ini. Sebab, dirinya bertemu jiwa Yaya saat dirinya juga belum masuk ke dalam tubuh Yaya, dimana Zoya melihat Yaya menangis di bawah pohon seorang diri.


"Memang, semua yang gue alami tidak masuk akal. Sungguh, jika gue bercerita pada orang lain apa yang terjadi sama gue dan sama Yaya, tentu saja mereka tidak akan percaya. Dan malah menganggap gue gila." lirih Zoya.


Zoya terdiam sesaat. "Gunakan kesempatan hidup sebaik mungkin." lagi, Zoya mengatakan apa yang dikatakan pak sopir taksi.


Melihat keadaan dirinya yang hanya berbaring tak berdaya di atas ranjang, membuat Zoya sadar. Jika dia sangat beruntung masuk ke dalam tubuh Yaya yang sehat tanpa cacat.


Apalagi, Zoya juga tahu. Tubuhnya pasti akan mengalami cacat seumur hidup. Dan tidak bisa beraktifitas normal seperti sebelumnya, jika dia sembuh.


Kedua tulang kaki yang patah. Tulang punggung yang retak. Di bagian kepala mengalami pendarahan, karenanya rambut Zoya harus di cukur habis. Dan masih banyak luka fisik lainnya yang membuat tubuh Zoya tak bisa beraktifitas seperti dulu, meski sembuh.


"Jika gue masuk ke dalam tubuh gue sendiri. Gue nggak akan pernah tahu, kebusukan Milly dan papa. Gue malah akan dijadikan boneka mainan oleh Milly. Dan selamanya gue akan dibohongi, juga mama." dengus Zoya, mengingat perselingkuhan yang dilakukan sang papa.

__ADS_1


Zoya menghela nafas panjang, menengadahkan kepalanya. Menatap langit yang sebentar lagi akan berubah menjadi gelap, karena matahari perlahan menyembunyikan diri.


"Kesempatan hidup." lirih Zoya.


Zoya memandang ke arah, dimana taksi tersebut melaju. Sayangnya, pandangan Zoya tak lagi menemukan keberadaan taksi.


"Terimakasih Yaya, elo sudah memberi gue tempat. Dan gue akan pergunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk membalas orang yang telah menyakiti kita. Menyakiti elo, dan juga menyakiti gue. Serta mengkhianati mama gue." geram Zoya.


"Zoya...."


Zoya segera membalikkan badan, mendengar suara teriakan yang memanggil namanya. "Ibu." cicit Zoya, melihat bu Murni menangis sampai terisak, berdiri di teras rumah.


Zoya tersenyum. "Elo tenang saja. Gue akan menyayangi kedua orang tua elo. Gue akan menjaga mereka. Seperti gue menyayangi mama gue." batin Zoya, berjalan mendekat ke rumah.


Bu Murni langsung memeluk tubuh gemuk sang putri. "Sudah, ibu lihat, Zoya baik-baik saja. Sudah,,, jangan menangis." pinta pak Endri.


Awalnya Zoya kebingungan, kenapa bu Murni menangis seperti ini. Tapi sekarang, Zoya mengerti. Pasti kerena beliau mengkhawatirkan dirinya.


"Pasti ibu trauma. Takut jika kejadian yang dulu menimpa Yaya lagi." batin Zoya.


Zoya mengelus punggung bu Murni. "Maaf, Zoya belum mempunyai ponsel. Jadi Zoya tidak bisa memberitahu ibu, jika Zoya pulang terlambat."


Zoya mengurai pelukannya. Menghapus air mata di kedua pipi bu Murni. "Zoya janji. Mulai hari ini, Zoya akan menjaga diri Zoya dengan baik. Jadi, ibu tidak perlu khawatir lagi."


"Te-tap saja i-bu kha-wat-tir." ucap bu Murni sesegukan.


Zoya memegang kedua pundak bu Murni. "Nanti malam, Zoya akan keluar. Zoya akan membeli ponsel baru." tukas Zoya.


Sebab ponselnya yang dahulu telah rusak terkana air hujan. Dan sama sekali tak bisa digunakan.


"Ibu ikut." pinta bu Murni.


Zoya mengangguk. "Iya." sahut Zoya, mengajak bu Murni masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Sementara pak Endri kembali ke toko yang ada di depan rumah untuk kembali menjaganya. Sebab toko masih buka.


__ADS_2