MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 55


__ADS_3

Di kediaman Tuan Darwin, beliau terlambat bangun. Apalagi jika bukan karena tak ada yang membangunkannya. Sehingga membuat semua jadwal kerjanya berantakan.


Para pembantu juga tak berani mengganggu tidur Tuan Darwin. Sebab, setiap hari Nyonya Ratna sendiri yang membangunkan serta membantu sang suami bersiap.


Ditambah Nyonya Ratna yang hanya diam. Seakan acuh dengan sang suami. Beliau juga tak berpesan pada sang pembantu untuk membangunkan majikan mereka.


Sikap aneh Nyonya Ratna tersebut lantas menjadi topik bisik-bisik para pembantu di rumah. Dari Nyonya Ratna yang tiba-tiba berpindah tempat tidur, dan sikap acuh Nyonya Ratna pada sang suami.


Bahkan, Nyonya Ratna tidak seperti pagi sebelumnya. Dimana beliau turun ke bawah. Menyiapkan sendiri sarapan yang akan disantap oleh Tuan Darwin.


Bukan hanya itu, Nyonya Ratna bahkan sama sekali tidak menyuruh pembantu untuk memasak makanan. Beliau malah sibuk di kamar sang putri, Zoya.


Dan di dapur, para pembantu dibuat cemas dengan menu sarapan yang mereka siapkan. Apalagi rasanya. Sebab, biasanya Nyonya Ratna akan mencicipi terlebih dahulu masakan mereka sebelum dihidangkan di meja makan.


Tapi kali ini, Nyonya Ratna sama sekali tidak melakukan apa yang dia lakukan sebelumnya. Dia benar-benar angkat tangan.


"Mbok, katakan pada Nyonya, sarapan sudah siap." pinta pembantu lainnya dengan raut wajah cemas.


"Kamu itu. Apa kamu tadi tidak dengar." tukas si mbok. Sebab ada seorang pembantu yang dipanggil Nyonya Ratna untuk menemuinya di kamar Zoya.


Nyonya Ratna memberitahu pada sang pembantu untuk tidak mengganggu dirinya. Bahkan, Nyonya Ratna mengatakan akan menghubungi mereka jika membutuhkan sesuatu.


Yang artinya, Nyonya Ratna tidak ingin ada yang mengganggunya. Siapapun itu. "Bagaimana ini? Bagaimana jika Tuan tidak suka masakan kita." ujarnya khawatir.


"Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu. Belum tentu Tuan Darwin sarapan." tukas pembantu lainnya.


Sedangkan Tuan Darwin yang berada di kamar malah uring-uringan. Dirinya harus menyiapkan semuanya seorang diri.


Dan ini pertama kalinya Tuan Darwin melakukannya. Tak seperti hari-hari sebelumnya, dimana dirinya tinggal diam. Dan semua diselesaikan oleh Nyonya Ratna.


"Sial...." seru Tuan Darwin, saat dirinya memasang dasi, tapi tak serapi saat Nyonya Ratna yang memasangkannya.


"Ratna..." geram Tuan Darwin, malah menyalahkan perubahan sikap sang istri. Padahal, Nyonya Ratna bersikap demikian karena rasa sakit yang diberikan oleh dirinya.


Tuan Darwin menatap jam yang terpasang di dinding. Waktu berjalan begitu cepat. "Kenapa Ratna tidak membangunkan aku." geramnya, sehingga dia bangun kesiangan.

__ADS_1


"Aaa...!!" seru Tuan Darwin, melepas dasinya dengan kasar. "Jika dia sudah menandatangi surat persetujuan itu, kenapa dia malah ngambek seperti anak kecil." tukasnya.


Tuan Darwin duduk di kursi. Menahan amarah yang ingin meletup. Dilihatnya, air putih yang biasanya terdapat di atas nakan juga tidak ada.


Tuan Darwin mengusap wajahnya dengan kasar. "Baiklah Ratna, jika kamu tidak mau lagi membantuku, aku juga tidak akan memaksa. Tapi ingat, aku tidak akan pernah menceraikan kamu."


Entah kenapa Tuan Darwin kekeh tetap menginginkan Nyonya Ratna menjadi istrinya, meski dirinya hendak menikah kembali.


Tuan Darwin tersenyum sinis. "Kita lihat, sejauh mana kamu akan melakukannya." lirih Tuan Darwin, teringat jika beberapa hari ke depan sudah awal bulan lagi.


Tuan Darwin bermaksud tidak akan memberikan sang istri uang bulanan yang biasanya dia berikan pada Nyonya Ratna.


Tuan Darwin melakukannya hanya untuk membuat sang istri kembali menemuinya, serta mengatakan jika dirinya masih membutuhkan sosok Tuan Darwin sebagai suaminya.


"Apa kamu akan bertahan tanpa uang dariku." ujar Tuan Darwin ingin sang istri sadar, jika dia tak bisa hidup tanpa dirinya.


Padahal kenyataannya, Nyonya Ratna terpaksa menandatangani surat persetujuan tersebut demi sang buah hati, yang sekarang berbaring tak berdaya.


Dengan penampilan seadanya, Tuan Darwin keluar dari kamar. Langkahnya terhenti saat melewati meja makan. Bibir Tuan Darwin tersenyum sinis, mengira jika sang istri yang telah menyiapkan sarapan tersebut untuk dirinya.


"Maaf Tuan, kami yang menyiapkannya. Nyonya Ratna berpesan agar tidak diganggu." jelasnya dengan perasaan takut.


Raut wajah Tuan Darwin langsung berubah seketika mendengar penuturan sang pembantu. Tanpa duduk di kursi makan, Tuan Darwin melenggang pergi begitu saja. Bahkan beliau tak mengatakan sepatah katapun.


"Apa yang dilakukan Tuan, hingga membuat Nyonya begitu marah?" tanya salah satu dari pembantu tersebut.


Sebab semuanya tahu, jika sang Nyonya sangatlah sabar dan sangat menyayangi sang suami. Bahkan, saat Tuan mereka pulang larut malampun, Nyonya Ratna tetap tersenyum tak mengeluh.


"Lihatlah, Tuan seperti seorang duda yang tak terurus." celetuk pembantu yang lain.


"Husssttt,,, kalian ini. Ayo cepat bekerja. Bawa makanan itu kembali ke belakang." tegur si mbok, lalu menaiki anak tangga. Tantu saja ingin menemui sang Nyonya yang belum sarapan.


Dalam perjalanan menuju perusahaan, Tuan Darwin membuang wajah keluar, dengan tatapan kesal. Sang sopir sepertinya bisa menebak apa yang terjadi. "Tuan, perempuan murahan itu hanya akan membuat Tuan hancur." ucapnya yang hanya berani dia katakan dalam hati.


Sang sopir pernah mengingatkan Tuan Darwin , tapi beliau mengacuhkan perkataannya. Dan itulah yang membuat sang sopir memilih diam. Seolah tidak pernah melihat dan mendengar apapun.

__ADS_1


Sang sopir tidak mengatakan pada Nyonya Ratna, bukan karena beliau mendukung apa yang dilakukan Tuan Darwin. Tapi, sang sopir tidak sampai hati menyampaikan pada Nyonya Ratna.


Apalagi, selama ini Nyonya Ratna dikenal sebagai pribadi yang baik serta lemah lembut. Dimana beliau selalu memperlakukan semua pekerja di rumah dengan baik.


Beberapa kali, sang sopir mencuri pandang pada Tuan Darwin dari kaca pantau yang ada di depannya. "Milly,,, dia benar-benar perempuan ular. Kasihan Nona Zoya. Dia memelihara teman laknat." ucapnya dalam hati.


"Maafkan saya Nyonya, maafkan saya Nona." lanjutnya berbicara dalam hati.


Nyonya Ratna dan perawat membawa Zoya ke balkon kamar Zoya, dengan cara memindahkan tubun Zoya ke atas ranjang beroda, dan dibawa ke balkon kamar.


"Terimakasih sus." cicit Nyonya Ratna, merasakan hangatnya sinar matahari pagi. Duduk di kursi sebelah ranjang Zoya.


"Sama-sama Nyonya. Saya permisi dulu, mau membersihkan ranjang Nona Zoya." pamit sang suster.


"Silahkan."


Tak berselang lama, terdengar suar ketukan pintu dari luar. "Masuk...!" seru Nyonya Ratna.


"Ada apa mbok?" tanya Nyonya Ratna.


"Maaf Nyonya mengganggu. Tuan baru saja berangkat, tanpa sarapan. Apa saya perlu membawakan sarapan untuk Nyonya?" tanya si mbok sekaligus memberitahu Nyonya Ratna.


"Maaf Nyonya, Nyonya harus menjaga badan, supaya tetap sehat. Bagaimana jika Nyonya sakit, siapa nanti yang akan menjaga Non Zoya." lanjut si mbok.


Nyonya Ratna tersenyum tulus mendengar penuturan si mbok yang memperhatikan dirinya. "Baik, jangan banyak-banyak. Minumnya jangan kopi atau susu. Air putih saja." pinta Nyonya Ratna.


Si mbok tersenyum lega, mendengar sang Nyonya mau sarapan. "Baik, akan segera saya bawakan." ujar si mbok bergegas pergi ke dapur.


"Sayang, lihat. Mereka begitu memperhatikan kita. Mereka menyayangi kita dengan tulus. Kamu tidak perlu khawatir, mama masih mempunyai mereka. Dan juga, Zoya. Dia teman kerja kamu." tukas Nyonya Ratna, mengajak Zoya yang masih memejamkan kedua matanya untuk berbicara.


"Zoya, namanya sama dengan kamu. Tapi dia badannya gendut. Dia juga terlihat baik. Jadi, kamu jangan sedih ya. Kita tidak sendirian." Nyonya Ratna mencium pipi sang putri.


Tangan Nyonya Ratna terulur membelai pipi Zoya yang semakin tirus karena berat badan Zoya yang semakin berkurang. Sehingga Zoya semakin kurus.


Nyonya Ratna menaruh lengannya di atas ranjang Zoya, dan menggunakannya sebagai penyangga kepalanya. Menatap lurus ke depan. Dimana hanya ada banyak pohon serta suara cuitan burung.

__ADS_1


__ADS_2