
"Kenapa badan gue rasanya sulit digerakkan." batin Zoya.
"Astaga. Mulut gue juga nggak bisa terbuka. Ada apa dengan leher dan rahang gue." ucap Zoya dalam hati.
Zoya mendengar ada suara yang yang ditangkap telinganya. Dia juga melihat beberapa orang di sampingnya, tapi dia tidak begitu jelas bisa melihatnya. "Tuhan, kenapa mata gue terasa buram." batin Zoya, pandangannya tidak bisa jelas seperti biasa.
Zoya mencoba mengatur deru nafasnya. Zoya merasa sedikit sesak saat bernafas. Zoya memejamkan kedua matanya. Berharap, saat membuka matanya kembali, dia bisa melihat dengan jelas seperti sebelumnya.
"Yaya. Kenapa perempuan tadi memanggil gue dengan sebutan Yaya." batin Zoya dengan kedua mata terpejam.
Lama-kelamaan, Zoya benar-benar tertidur. Deru nafasnya juga terlihat normal. "Pak, kenapa Yaya menutup kedua matanya kembali?" tanya Bu Murni.
"Biarkan bu, mungkin Yaya tertidur. Lihat, dia sangat nyenyak." ucap pak Endri.
"Bapak yakin?" tanya bu Murni merasa takut. Khawatir jika sang putri kembali menutup matanya untuk waktu yang lama. Padahal dia baru saja terbangun.
"Bapak yakin, bu." tukas pak Endri, menyakinkan samg istri.
Tangan Yaya sedikit bergerak, juga dengan kepalanya. Bahkan, kedua orang tuanya mendengar Yaya melenguh, meski sangat pelan.
Bu Murni menatap sang suami dengan senyum. Pak Endri menyuruh sang istri untuk diam, supaya tidak mengganggu Yaya. Dengan isyarat gerakan. Bu Murni mengangguk.
Pak Endri merangkul sembari mengelus pundak sang istri. Keduanya tersenyum bahagia. Meski Yaya memperlihatkan sedikit perubahan, tapi tetap saja itu sangat berarti untuk mereka.
Sang dokter tiba dengan beberapa petugas kesehatan yang membawa alat yang dia perlukan untuk memeriksa keadaan Yaya.
"Taruh di sana." pinta sang dokter pada beberapa petugas medis yang membantunya. Meminta mereka untuk menaruhnya di dekat ranjang Yaya.
Belum sempat sang dokter memasang alat-alat tersebut di tubuh Yaya, Yaya kembali membuka kedua matanya. Membuat semuanya terkejut. Termasuk beberapa petugas medis yang membantu sang dokter.
"Apa yang ka-li-an... ingin... la-ku-kan...?" tanya Yaya dengan kata terbata-bata.
Segera sang dokter memeriksa keadaan Yaya. Dengan tidak bertanya terlebih dahulu pada Yaya.
"Yaya." bu Murni menangis di pelukan sang suami. Beliau menangis haru, karena setelah berminggu-minggu tidak mendengar suara Yaya. Dan kini, beliau mendengar kembali suara sang putri. Meski Yaya terlihat kesulitan berbicara.
__ADS_1
Sang dokter tersenyum. "Selamat datang kembali Yaya." ucap sang dokter.
"Yaya." batin Zoya.
Perlahan, Zoya menggerakkan kepalanya. Sebab, badannya masih terasa kaku untuk digerakkan. "Bukan. Ini bukan kamar gue." batin Zoya. Merasa asing dengan kamar yang sekarang dia tempati.
"Ibu dan bapak tidak perlu khawatir. Yaya sudah sadar. Dan keadaannya baik-baik saja." jelas sang dokter.
"Lalu, kenapa keadaan Yaya seperti itu dok?" tanya bu Murni cemas.
"Itu wajar bu. Memang biasanya, pasien yang baru sadar setelah koma, akan mengalami beberapa hal. Salah satunya seperti Yaya."
"Tapi tidak apa-apakan dok?"
"Tidak. Yaya hanya membutuhkan penyesuaian saja. Sama seperti saat kita baru bangun dari tidur. Bukankah kita juga perlu meregangkan otot yang kaku serta perlu menyesuaikan keadaan." jelas sang dokter menjeda kalimatnya.
"Seperti pandangan kita yang sedikit buram, setelah kita bangun tidur. Serta suara serak khas orang bangun tidur. Bukankah lambat laun akan kembali normal seperti sedia kala." lanjut sang dokter memberi penjelasan dengan mudah.
Pak Endri dan Bu Murni mengangguk pelan. Mengerti apa yang dijelaskan oleh sang dokter.
"Untuk obat yang dahulu. Yaya tidak perlu mengkonsumsinya lagi. Saya akan menggantinya dengan obat serta vitamin yang baru."
"Baik dok."
"Baik dok."
Sang dokter bukannya tidak percaya dengan orang yang dia suruh untuk mengantarkan obat untuk Yaya. Hanya saja, sang dokter harus memastikan kembali, jika obat tersebut sesuai dengan apa yang dia resepkan pada Yaya.
Setelah sang dokter meninggalkan rumah Yaya, Bu Murni dan Pak Endri duduk di tepi ranjang Yaya. "Siapa mereka?" tanya Zoya dalam hati.
Zoya membuka mulutnya, tapi terlihat kaku. "Jangan dipaksakan sayang, nanti kamu malah kesakitan." tutur Bu Murni, membelai lembut pipi sang putri dengan penuh kasih sayang.
"Lihat. Padahal kamu sudah tak sadarkan diri beberapa minggu. Tapi badan kamu tetap menggemaskan." ucap bu Murni tersenyum.
"Yaya, kami senang. Akhirnya kamu bangun juga." tukas pak Endri.
__ADS_1
"Yaya. Yaya. Yaya. Kenapa dari tadi, mereka memanggil gue Yaya. Siapa sebenarnya mereka." batin Zoya semakin bingung.
Ketika kedua matanya terbuka, bukan kedua orang tuanya yang dia lihat. Melainkan orang asing yang benar-benar sama sekali dia kenal sebelumnya. Bahkan, dirinya sama sekali tidak pernah melihat keduanya.
Zoya mengingat mimpinya sebelum dia membuka kedua matanya. Dimana jiwanya ditolak oleh tubuhnya sendiri.
Selain itu, dia bertemu dengan seseorang yang selalu dia bully saat di kantor. Yaya. Dan dia menangis histeris.
"Yaya. Apa ini tubuh Yaya." tebak Zoya dalam hati.
"Tidak, tidak mungkin. Semua yang gue pikirkan hanya ada di dalam film yang biasanya gue tonton. Bukan nyata." Zoya menyakinkan dirinya sendiri.
Zoya berusaha menggerakkan badannya. Dia hanya ingin pulang ke rumah. "Sayang, kamu mau apa?" tanya Bu Murni.
"Ba-bangun." sahut Zoya terbata.
"Bagaimana pa?" tanya bu Murni.
"Kita bantu saja bu, mungkin Yaya merasa tubuhnya pegal." saran pak Endri. Sebab selama ini Yaya hanya berbaring di kasur, tak bergerak sama sekali.
Bu Murni dan pak Endri membantu Yaya untuk duduk, dengan bersandar di kursi. Zoya menghela nafas panjang. "Gila, hanya duduk saja, badan gue terasa berat sekali." keluhnya dalam hati.
Nafas Yaya tersengal. Dengan punggung bersandar di sandaran ranjang tempat tidur. Dan kedua mata tertutup.
Zoya membuka kembali membuka matanya. "Sayang, minum dulu." bu Murni memberikan air minum untuk Yaya. Beliau membantu sang putri untuk minum.
"Ini." lirih Zoya, melihat tubuhnya yang begitu gemuk. Tapi belum melihat wajahnya. "Bagaimana mungkin, badan gue bisa naik drastis sebesar ini karena koma. Bukannya yang ada malah kurus." batin Zoya kebingungan dengan perubahan badannya.
Dengan tangan bergetar, Zoya meraba wajahnya. "Kenapa rasanya berbeda." batinnya.
"Kaca. Kaca. Am-bilkan saya ka-ca." pinta Yaya dengan nada mulai tak segagap tadi.
Segera bu Murni mengambilkan kaca yang diminta oleh sang putri. Sedangkan Pak Endri tetap berjaga di samping Yaya. Takut jika sang putri terjatuh.
"Ini sayang." bu Murni, mengarahkan sebuah kaca berukuran sedang ke wajah sang putri.
__ADS_1
Zoya menggeleng. Kedua matanya membulat. "Yaya... Ini wajah Yaya." batin Zoya.
"Tidak... Tidak..!!!" teriak Zoya histeris. Sontak kedua orang tua Yaya ketakutan. Dan berusaha menenangkan sang putri yang tiba-tiba menangis setelah melihat wajahnya sendiri dari pantulan kaca.