MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 22


__ADS_3

Zoya telah selesai berolah raga ringan di taman. Dirinya hendak pulang. Tapi, Zoya malah berdiam diri di tepi jalan. Langkah kakinya seakan terasa berat, saat hendak pulang kembali ke rumah Pak Endri.


"Mama." ucap Zoya lirih, memandang ke seberang jalan. Dimana, ada seorang perempuan paruh baya berdiri di dekat mobil mewah sembari memegang ponsel di telinga.


Air mata Zoya meluncur bebas ke pipinya. "Mama...." ujar Zoya menangis terisak.


Tampak Nyonya Ratna melambaikan tangannya ke arah lain. Zoya pun mengikuti kemana sang mama memandang. "Milly." geram Zoya.


Zoya melihat Milly berjalan menghampiri Nyonya Ratna sembari tersenyum sempurna. Kedua tangan Zoya terkepal kuat, melihat Milly dan sang mama berpelukan erat.


"Ma, dia pengkhianat. Dia ular berbisa ma." geram Zoya hanya mampu dia ucapkan pada dirinya sendiri.


Zoya mengusap kasar air mata di kedua pipinya. Saat melihat sang papa juga menghampiri keduanya. "Darwin." geram Zoya.


Tampak ketiganya seperti sebuah keluarga. Dengan Milly terlihat seperti putri mereka. Tak ada kecanggungan, saat Tuan Darwin menaruh tangannya di pundak Milly.


"Kalian. Kalian tersenyum senang, di saat gue berbaring tak berdaya. Ma, buka mata mama. Mereka berdua iblis berwujud manusia." cicit Zoya.


Ketiganya menaiki sebuah mobil bersama. Dengan Tuan Darwin dan Nyonya Ratna duduk di kursi depan. Dan Milly duduk seorang diri di kursi belakang.


"Gue yakin, ada saatnya Milly menyingkirkan mama. Dan gue nggak akan membiarkannya. Tidak akan. Kalian berdua, gue bersumpah. Kalian tidak akan pernah bisa memiliki apa yang kalian inginkan. Harta." seringai Zoya terlihat mengerikan.


Zoya berjalan perlahan untuk kembali ke rumah Pak Endri. Di jalan, pikiran Zoya berputar. Tentu saja Zoya ingin membongkar perbuatan yang dilakukan sang papa dan Milly.


Sampai di rumah, Zoya langsung masuk ke dalam kamar. Tanpa mencari ayah dan ibu dari Yaya.


"Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya bu Murni, melihat sang putri seperti sedang mencari sesuatu di laci meja kamar tidurnya.


Tubuh Zoya membeku sesaat, dengan ekspresi canggung. Untungnya, posisi Zoya membelakangi tubuh Bu Murni. Sehingga beliau tidak melihat bagaimana raut wajah dari Zoya.


"Tenang Zoya, elo Yaya. Bukan Zoya. Elo Yaya." tekan Zoya dalam hati.

__ADS_1


Zoya menanamkan pemikiran, jika dirinya tak perlu merasa takut melakukan apapun di kamar Yaya. Pasalnya, saat ini semua orang memandang dirinya sebagai Yaya. Bukan Zoya.


Zoya membalikkan badan sembari tersenyum. "Zoya mencari sesuatu ma." tukas Zoya.


Bu Murni mendekat ke arah Zoya. "Apa?"


Zoya menatap ibu dari Yaya dengan tatapan datar. "Emmm,,,, uang." cicit Zoya dengan polos.


Sebab, entah kenapa Zoya merasa jika Yaya pernah menaruh uang di laci tersebut. Mungkin, memang benar adanya.


Bu Murni terkekeh pelan. Menyentuh dahi Zoya dengan pelan. "Pikun. Bukannya kamu menitipkan ke ibu." tukas Bu Murni.


Zoya tersenyum canggung. "Sebentar, ibu ambilkan."


Tak berselang lama, Bu Murni kembali ke kamar Zoya. Dengan memegang sebuah amplop berwarna coklat yang tebal.


"Jika ibu boleh tahu, kamu mau menggunakannya untuk apa?" tanya Bu Murni sebelum memberikan amplop berisi uang tersebut pada Zoya.


Bu Murni terkekeh pelan. "Lalu apa hubungannya uang sama berat badan kamu?" tanya Bu Murni mengelus lembut rambut Zoya.


Zoya duduk di tepi ranjang. "Zoya mau olah raga di gym bu."


"Baiklah. Ini, kami gunakan uang tabungan kamu." Bu Murni tersenyum, memberikan uang tersebut pada Zoya.


"Ibu keluar dulu. Segeralah mandi. Lalu makan. Ingat, diet juga harus tetap makan." pinta bu Murni mengingatkan.


Zoya mengangguk patuh. Segera Zoya membuka uang di dalam amplop. "Gila, banyak juga." ujar Zoya.


Zoya tetap memegang uang tersebut, lalu keluar dari kamar untuk mengambil minuman. Tapi langkah kakinya terhenti saat mendengar pembicaraan Pak Endri dengan Bu Murni.


Ternyata keduanya sedang kebingungan uang. Yang akan mereka gunakan untuk kembali mengisi toko kelontong mereka.

__ADS_1


"Kita pinjam ke bank saya yah." saran bu Murni.


"Iya, nanti ayah pergi ke bank." ujar Pak Endri.


Zoya memandang ke arah tangannya. Dimana dirinya memegang segepok uang dengan jumlah yang banyak.


Zoya tersenyum kecut. "Gue malah mikirin menurunkan berat badan, di saat mereka kebingungan uang untuk kembali menjalankan usahanya." batin Zoya merasa dirinya begitu egois.


Padahal, uang hasil dari penjualan toko akan dibelikan kebutuhan sehari-hari mereka seperti makanan, yang Zoya juga akan menikmatinya.


"Zoya,,,, Zoya,,,, elo jangan egois. Ini uang Yaya, bukan uang elo. Sadar diri." ujar Zoya tersenyum pahit.


Di saat keduanya membutuhkan uang. Mereka sama sekali tidak memakai uang milik Yaya. Padahal, mereka bisa mengatakannya pada Yaya, tapi tidak mereka lakukan.


Zoya mengangguk pasti. Melangkahkan kakinya mendekat ke tempat kedua orang tua Yaya berada. Seketika kedua orang tua Yaya berhenti berbicara saat melihat sang putri mendekat ke arah mereka.


Tentu saja mereka tidak ingin sang putri mendengarkan apa yang mereka bicarakan. "Sayang, ada apa?" tanya bu Murni dengan lembut.


Zoya duduk di sebelah Bu Murni. "Ini terlalu banyak. Zoya hanya membutuhkan sedikit saja." ujarnya sembari memberikan uang tersebut kembali pada bu Murni.


Bu Murni memandang sang suami sekilas. "Kami simpan sendiri saja. Siapa tahu nanti kamu akan membutuhkannya." tutur pak Endri.


Zoya tersenyum samar. Di saat seperti ini, mereka tetap berusaha bersikap baik-baik saja di depan putri mereka.


Zoya menggeleng. "Tidak. Ibu pegang saja. Seperti sebelumnya, ibu simpan saja."


Zoya mengambil sebagian uang di dalam amplop tersebut, lalu sisanya dia berikan pada bu Murni. "Loh,,,, ini masih banyak. Nanti kamu kurang. Katanya mau pergi ke tempat gym." goda sang ibu.


"Ibu..." ucap Zoya terdengar manja, menatap malu pada sang ayah.


Bu Murni tertawa melihat sang putri yang bersikap malu-malu. "Maaf, sebenarnya tujuan utamaku adalah membuat perhitungan dengan Milly. Karena dia, Yaya menjadi koma. Dan juga, dia adalah manusia yang memang harus segera disingkirkan." batin Zoya, mengingat kembali kejadian di dekat taman.

__ADS_1


__ADS_2