
Milly terbangun saat kaca mobilnya diketuk dari luar oleh seseorang. Milly menggeliat, meregangkan kedua otot tangannya, serta lehernya yang terasa kaku.
Terdengar kembali suara ketukan dari luar kaca mobil Milly. "Ehh,,," Milly memandang lurus ke depan. Dirinya tersadar, jika masih berada di area parkir perusahaan tempatnya bekerja.
Milly menengok ke samping. Dilihatnya seorang berseragam satpam berdiri di samping mobil. Milly membuka kaca jendela mobil dari dalam.
Segera Milly menampilkan senyum di bibirnya. "Mbak Milly. Kenapa masih berada di sini?" tanyanya, padahal matahari sudah mulai mengurangi sinarnya.
"Milly ketiduran pak." ucap Milly tak berbohong.
"Kok nisa sih mbak?" tanyanya.
Milly hanya tersenyum tanpa mengungkapkan alasannya. "Permisi pak, saya pamit pulang dulu."
Milly bergegas menyalakan mesin mobilnya, dan segera melajukan mobil meninggalkan perusahaan. "Sial,,,, bagaimana bisa gue malah molor...!!" teriaknya di dalam mobil sambil menyetir.
Milly menguap, membuat kedua matanya sedikit menyipit dan berair. "Aaa...!!" teriaknya, saat mobilnya menabrak mobil di depannya yang sedang parkir di tepi jalan.
"Aaa....!!" teriak Milly lagi, memegang kepalanya dengan raut wajah frustasi.
Gagal bertemu dengan Reiner. Dan malah tertidur lelap di dalam mobil. Ditambah lagi, sekarang dirinya menabrak mobil hang parkir di pinggir jalan. "Apes banget sih gue hari ini." keluhnya.
Seorang lelaki dengan pakaian rapi, berdiri mengetuk kaca jendela mobil Milly. "Tadi satpam. Sekarang pasti pemilik mobil di depan gue." lirih Milly terlihat pasrah.
Milly membuka pintu mobil, membuat lelaki yang berdiri di samping mobil Milly sedikit menyingkir. "Kami baik-baik saja?" tanya lelaki tersebut, saat pertama kali melihat Milly.
"Gusti...." batin Milly, terpesona melihat tampang lelaki di depannya. "Sempurna sekali. Tak kalah dengan Reiner." batin Milly, membandingkan lelaki di depannya dengan Reiner.
Karena terpesona dengan ketampanannya, Milly lupa jika dirinya baru saja menabrak mobil di depannya. "Hallo... Anda baik-baik saja?" kembali, lelaki di depan Milly bertanya sembari menggerakkan telapak tangannya di depan Milly.
"Maaf. Ya,,, saya baik-baik saja." sahut Milly.
"Syukurlah." ucap lelaki tersenut tersenyum lega.
"Sumpah, senyumnya." batin Milly.
"Maaf, saya yang bersalah. Saya akan bertanggung jawab." cicit Milly.
Yang awalnya Milly merasa kesal karena sedari tadi keberuntungan tak berpihak kepadanya. Kini dirinya merasa menjadi perempuan paking beruntung. Karena bertemu dengan lelaki yang sama tampannya dengan Reiner.
__ADS_1
"Pasti dia juga orang kaya. Gila, sudah tampan. Kaya lagi. Sempurna sekali." batin Milly.
Lelaki di depan Milly melihat ke arah pergelangan tangannya. "Tidak apa-apa. Mobil saya hanya lecet sedikit bagian belakang. Lagi pula, kamu baik-baik saja. Lagi pula saya sedang terburu-buru. Jadi, saya pergi dulu." pamitnya.
Milly mengangguk, antara sadar dan tidak. Milly masih memandang lekat ke arah lelaki yang baru saja menghilang, karena masuk ke dalam mobil mewahnya.
Hingga mobilnya melaju, Milly tetap memandang ke arah mobil lelaki tersebut. Barulah, saat Milly mendengar suara klakson kendaraan lain, dirinya tersadar.
"Astaga, bodoh banget gue." sesal Milly, menepuk keningnya sendiri. "Seharusnya gue kenalan. Atau paling tidak minta nomor ponselnya. Bodoh sekali elo Milly." lanjut Milly.
Milly masuk ke dalam mobil dengan senyum di bibir. "Jika Reiner nggak bisa gue gaet, setidaknya ada cadangan lainnya. Dia juga sama seperti Reiner. Tampan dan kaya." ucap Milly menebak lelaki yang baru saja dia temui.
Sedangkan, lelaki tersebut memandang ke arah kursi di sampingnya. Di mana ada sebuah paper bag yang baru saja dia taruh di sana.
"Semoga mereka suka." ujarnya berharap.
Mobil yang dia naiki terus melaju membelah jalanan. Sampai di pertigaan, dia berbelok ke sebuah jalan yang sedikit kecil.
Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang sederhana. Yang didepannya terdapat sebuah toko kelontong yang sudah ditutup.
Dengan bibir tersenyum, dia mengambil paper bag tersebut. Keluar dari dalam mobil, dan segera masuk ke dalam pekarangan rumah tersebut.
Tak membutuhkan waktu lama, pintu terbuka dari dalam. "Pak Dokter. Silahkan masuk." ujar bu Murni dengan raut wajah sumringah.
"Terimakasih bu."
"Silahkan duduk." pinta bu Murni dengan sopan.
Sang dokter memberikan paper bag yang dia bawa kepada bu Murni. "Ini bu, ada kue untuk Zoya." tuturnya dengan ramah.
Bu Murni segera mengambilnya. "Terimakasih pak dokter. Kenapa meski repot-repot begini. Pak dokter mau berkunjung saja saya sudah senang. Pasti Zoya akan senang." tukas bu Murni yang tentu saja berbohong.
Pasalnya, sejak memulai dietnya beberapa hari yang lalu, Zoya mengurangi makan makanan yang manis. Dan begitu menjaga asupan makannya.
"Bapak sama Zoya di mana?" tanya pak Dokter.
"Ada di belakang. Pak dokter tunggu sebentar. Biar ibu panggilkan." tukas bu Murni.
Sang dokter tampan tersebut duduk dengan tenang. Menunggu sang pemilik rumah. Beliau tersenyum sembari melihat ruangan yang dapat dijangkau oleh kedua matanya.
__ADS_1
Sebenarnya, dokter muda yang datang ke rumah pak Endri sekarang adalah dokter pengganti yang ditugaskan oleh dokter lama yang menangani Zoya saat Zoya sedang tak sadarkan diri.
Semua terjadi karena dokter yang pertama menangani Zoya harus pergi ke luar negeri. Jadi, beliau harus menunjuk seorang dokter pengganti yang dapat dia percaya.
Dan dokter muda yang bernama Zain yang mendapat kesempatan tersebut.
"Pak dokter." sapa pak Endri.
Dokter Zain langsung berdiri dan berjabat tangan dengan Pak Endri. Dan juga Zoya yang berada di belakang pak Endri.
"Silahkan pak dokter." ucap Pak Endri, mempersilahkan dokter Zain untuk duduk kembali.
Zain melihat ada perubahan pada diri Zoya. Kedua pipi Zoya terlihat tak begitu gembul seperti dulu. Terlihat sedikit mengecil. "Zoya, bagaimana kabar kamu?" tanya Zain.
Zoya mengangguk. "Baik." sahut Zoya dengan singkat.
Pak Endri tersenyum canggung. Beliau beserta sang istri juga merasakan Zoya mengalami perubahan gang sangat banyak setelah tersadar dari komanya.
Tapi keduanya tak terlalu mempermasalahkannya. Yang terpenting keadaan Zoya sudah membaik. "Maaf, baru bisa ke sini sekarang. Ada banyak pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan." jelas Zain.
"Tidak apa-apa pak dokter. Saya yang harusnya berterimakasih pada pak dokter. Karena mau merawat Zoya. Bahkan setiap hari selalu datang ke sini." papar pak Endri, sengaja mengatakannya.
Pak Endri ingin Zoya tahu. Jika dulu, saat dirinya belum sadar, pak dokterlah yang merawatnya. Pak Endri ingin Zoya bersikap sedikit rumah pada sang dokter..
Tapi Zoya hanya diam. Seakan enggan untuk berinteraksi dengan sang dokter. Pak Endri hanya bisa menghela nafas. Dirinya tidak bisa memaksa Zoya untuk seperti yang dia inginkan.
Zain tersenyum samar. Dirinya paham dengan maksud pak Endri. Tapi Zain tidak terlalu memikirkannya.
Bu Murni kembali ke ruang tamu dengan tangan memegang nampan berisi kue yang di bawakan oleh Zain serta minuman.
Zoya berdiri, membantu sang ibu menurunkan semua yang ada di atas nampan. "Silahkan dokter." tutur pak Endri.
"Zoya, kamu coba kuenya. Itu yang bawa dokter Zain low." pinta sang ibu.
Zoya melotot ke arah sang ibu dengan ekspresi kesal. Tapi, Bu Murni malah mengedipkan sebelah matanya. Zoya lantas langsung cemberut.
Bu Murni tahu, jika sang putri sedang kesal padanya. Pasalnya, Zoya sedang dalam masa diet. "Sudah bu, jangan paksa Zoya." tutur dokter Zain.
"Pak dokter, baik sekali." puji Bu Murni.
__ADS_1
Zoya melengos ke arah lain. Tapi hal tersebut malah terlihat menggemaskan di mata dokter Zain. "Bu, pak,,,, jangan panggil saya dokter. Panggil nama saya saja. Zain. Cukup panggil Zain." pinta dokter Zain.