
Yaya berdiri di sudut kantin. Menatap dan menyaksikan semua kejadian yang ada di depan matanya.
Dimana Zoya dengan berani melawan Enggar. Membuat Enggar dan Meta pastinya akan semakin mendendam padanya.
Dan Yaya tahu pasti, apa penyebab Zoya melakukan hal tersebut. Yakni karena makanan yang dibuatkan oleh sang ibu, ditumpahkan oleh Enggar.
''Dia sendirian. Melawan mereka, demi makanan yang dibuatkan ibu. Tapi kenapa? Dia seberani itu."
Sedangkan dirinya selalu mengikhlaskan jika makanan yang dia bawa dari rumah selalu mereka jatuhnya ke lantai dengan berbagai alasan. Tanpa Yaya balas.
Yaya teringat setiap perlakuan yang dia terima dari karyawan perusahaan. Terutama karyawan yang bekerja di divisi yang sama dengannya.
Yaya hanya berpikir. Kenapa Zoya bisa melakukannya. Dan dirinya bahkan mengangkat wajahnya saat berjalan saja tak berani.
Padahal, saat ini tubuh yang dipakai Zoya adalah badannya. Dan semua masih sama. Tak ada yang berubah. Meski Yaya akui, pipinya yang tembem sekarang sedikit berkurang.
Yaya juga melihat, Zoya berjalan dengan tenang tanpa rasa takut saat meninggalkan kantin. "Sebenarnya di mana perbedaannya."
Tanpa Yaya sadari. Dirinya dan Zoya memang berbeda. Meski dengan tubuh yang sama, tapi ketahanan mental mereka sangat jauh berbeda.
Zoya yang memang sedari dulu tak pernah mendapatkan hinaan. Dan di mana dirinya selalu ingin menjadi nomor satu. Dirinya tak pernah membiarkan satu orangpun memandangnya rendah.
Berbeda dengan Yaya, yang sedari kecil selalu mendapat hinaan. Dan hanya bisa memendamnya di dalam hati. Tanpa berani melawan.
Yaya melihat Enggar dan Meta menatap kepergian Zoya dengan tatapan benci yang begitu mendalam. Yaya yakin, setelah ini keduanya pasti akan membuat masalah dengan Zoya.
"Tunggu. Ada yang kurang." Yaya merasa pandangannya melewatkan sesuatu.
"Milly." barulah Yaya sadar. Jika Milly tidak ada di antara mereka.
Miko segera menghabiskan makanannya. Menaruh selembar uang di atas meja. "Ini uang gue." tukasnya.
"Ehh,,, tunggu." Enggar mencekal lengan Miko, untuk menghentikan Miko.
Miko menatap tajam ke arah lengannya. "Maaf." segera Enggar melepaskan cekalannya.
Enggar mengambil uang Miko di atas meja. Memberikannya pada Miko. "Bukankah aku yang akan mentraktir kalian. Ini." ucap Enggar menyodorkan uang tersebut.
Miko tersenyum miring. "Gue nggak bisa makan makanan yang pemberinya sama sekali tidak ikhlas saat memberinya. Paham." sindir Miko berlalu meninggalkan kantin.
Yaya menatap ke meja dengan intens. Dia melihat Meta memandang Enggar dengan tatapan tak suka. Tapi Yaya sama sekali tidak mengerti.
__ADS_1
"Aaahh,,,," seru Yaya, yang sayangnya tidak bisa di dengar oleh siapapun. Merasa tubuhnya serasa sakit, dan akan menghilang bersama hembusan angin. Dan entah kemana lagi dirinya akan di turunkan oleh angin.
Tapi, Miko dapat merasakannya kehadiran Yaya. Tepat di samping Yaya, Miko menghentikan langkahnya. "Kenapa gue merasa ada yang aneh." batin Miko. Membuatnya bergidik ngeri dan segera bergegas pergi.
Sedangkan Zoya merasakan kepalanya terasa sakit dengan tiba-tiba. Zoya langsung menyandarkan tubuhnya di tembok. Sebab dirinya masih dalam perjalanan menuju ruangannya.
"Kenapa ini." seru Zoya tertahan, merasa kepalanya pecah.
Zoya memejamkan kedua matanya, bayangan-bayangan aneh berkelebat di dalam pandangannya.
Enggar.... Meta.... Miko....
"Kenapa gue bisa melihat apa yang terjadi di kantin." cicit Zoya, dengan menahan rasa sakit di kepalanya.
Zoya melihat apa yang Yaya lihat. Meski tidak secara nyata. Dan hanya kepingan-kepingan. Tapi tampak jelas bagaimana Miko menolak uang yang Enggar berikan padanya. Serta saat Meta menatap Enggar dengan tatapan tak suka.
Zoya bernafas kasar, dengan keringat membasahi dahi. Terdengar helaan nafas dari hidung Zoya. "Kenapa ini? Ada apa dengan gue?" Zoya merasa aneh.
"Ke-kenapa gue bisa melihat apa yang terjadi di kantin. Kenapa semakin ke sini semakin menakutkan." lirih Zoya merasa ketakutan sendiri dengan apa yang dia alami.
"Kami baik-baik saja?" terdengar suara seorang laki-laki di samping Zoya, dan suara tersebut nampak sangat familiar di telinga Zoya.
"Anda baik-baik saja?" tanya Reiner, menyentuh pundak Zoya.
Reiner yang sedang berjalan menuju ke ruangan Tuan Darwin, tidak sengaja melihat seorang perempuan yang terlihat kesakitan. Menyandarkan badannya ke tembok.
Reiner tak lantas pergi dan acuh. Dirinya memilih untuk menghampirinya dan bertanya pada perempuan tersebut. Yakni Zoya.
Zoya dengan kasar menyingkirkan tangan Reiner di pundaknya. "Jangan sentuh saya." tekan Zoya, menatap Reiner penuh kebencian.
Selain karena Reiner telah mendua di belakangnya. Zoya berpendapat jika kecelakaan hang menimpanya juga karena andil dari Reiner.
Jika saja Reiner tidak berselingkuh. Dirinya tak perlu melihat pemandangan menyakitkan tersebut. Dan Zoya tak akan mengalami kecelakaan gang membuatnya sekarang berada di tubuh orang lain.
"Jangan pernah memperlihatkan wajah palsu elo dihadapan gue. Enyahlah." Zoya segera pergi meninggalkan Reiner. Dirinya tidak ingin emosinya naik ke ubun-ubun karena terlalu lama berada di dekat Reiner.
Reiner hanya bisa terdiam sembari mengerutkan dahinya. Merasa perempuan di depannya sangat aneh. "Apa salah gue?" cicit Reiner, yang bermaksud baik.
Tanpa Reiner tahu, jika jiwa di dalam tubuh perempuan di depannya tadi adalah sang kekasih yang telah dia kecewakan.
"Perempuan gendut aneh." tukas Reiner tak mau ambil pusing. Dan segera pergi ke ruangan Tuan Darwin, sesuai dengan niatnya mendatangi perusahaan ini.
__ADS_1
Zoya mendaratkan pantatnya dengan kasar si kursi kerjanya. "Sungguh hari yang menguras emosi." tukas Zoya.
Pagi hari, dia dikejutkan dengan kertas, dimana sang papa meminta sang mama menyetujui pernikahan keduanya.
Lalu Enggar yang dengan sengaja menjatuhkan bekal makanannya. Meski akhirnya Zoya bisa membalasnya.
Pikirannya yang tiba-tiba bisa melihat apa yang terjadi di kantin. Dan pertemuannya dengan Reiner. Meski tanpa sengaja.
"Apa gue jadi sakti ya." batinnya malah merasa takut. Jika saja Zoya tahu yang sebenarnya. Jika apa yang dia lihat, baru saja dilihat juga oleh Yaya.
Dan kemungkinan besar dirinya bisa melihat karena Zoya menggunakan tubuh Yaya. Yang juga artinya menggunakan kedua mata Yaya. Sehingga Zoya bisa melihat apa yang terjadi di kantin.
"Reiner." Zoya lagi-lagi teringat wajah tampan sang kekasih.
Zoya berkali-kali menghela nafas panjang. Menghilangkan wajah Reiner dalam benaknya.
Zoya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Gue melihat jelas, cara Meta memandang Enggar. Sungguh bukan pandangan persahabatan." batin Zoya.
Zoya meletakkan kepalanya di atas meja, dengan menggunakan kedua lengannya sebagai bantal. "Eeehh..." Zoya melihat ada yang meletakkan makanan di atas mejanya.
"Makanlah. Kamu belum makan. Jangan sampai sakit." ujar Miko.
Zoya memandang makanan di atas meja dan Miko secara bergantian. "Tenang saja. Itu aku yang membeli. Dengan uangku sendiri. Bukan traktiran dari Enggar." jelas Miko, melihat Zoya malas mengambilnya.
"Gue diet. Masa makan makanan seperti ini." tolak Zoya secara langsung.
Bukannya tersinggung, Miko malah tersenyum. "Ya , saya tahu, kamu sedang diet. Tapi makanan kamukan jatuh. Kotor. Tak layak makan. Kita masih bekerja hingga sore. Kamu yakin, akan baik-baik saja, hanya meminum susu itu." jelas Miko, seraya membujuk Zoya supaya mau makan makanan yang dia berikan.
Zoya memanyunkan bibirnya. Memandang kotak bekalnya yang kosong tanpa dia makan isinya meski sesuap. "Benar juga." cicit Zoya.
Diambilnya makanan yang ada di depannya. "Tapi gue nggak mungkin menghabiskannya. Diet gue bisa gagal." tukas Zoya, membuka kotak bekalnya.
Memasukkan sebagian makanan yang diberikan Miko ke dalam wadah tersebut untuk dia makan. "Ini, elo makan."
"Yakin, cuma segitu? Ini enak banget lo." rayu Miko.
Zoya memandang kesal pada Miko. "Elo mau menggagalkan diet gue." tukas Zoya.
"Oke. Selamat makan." Miko mengambil makanan yang masih banyak tersebut. Dia bawa ke meja kerjanya.
Miko tersenyum melihat Zoya makan makanan yang dia berikan. Meski hanya sedikit. "Setidaknya dia tidak menolak." ujar Miko merasa senang.
__ADS_1