MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 67


__ADS_3

Reiner menghentikan langkah kakinya di anak tangga, beberapa undak dari bawah. Menatap dengan heran kedua orang tuanya yang memakai pakaian rapi, seakan hendak datang ke acara penting.


"Rey.... Ayo cepat...!! Nanti kita akan terlambat. Tidak enak juga dengan keluarga Alice." seru Nyonya Pipit.


Reiner mengerutkan keningnya. Dirinya masih terdiam di tempat. "Kenapa malah bengong. Ayo cepat." ajak sang mama dengan antusias.


"Sebaiknya kita berangkat menggunakan satu mobil saja." saran Tuan Renggo. Papa dari Reiner.


Dengan pelan, Reiner mulai menginjak anak tangga di bawah kakinya untuk turun. "Satu mobil. Apa maksudnya?" tanya Reiner masih ragu jika kedua orang tuanya juga akan ikut acara makan malam keluarga Alice.


Tuan Renggo menyarankan untuk mereka berangkat dengan menggunakan satu mobil, sebab beliau khawatir jika Reiner malah akan berbelok haluan. Dan tidak datang ke restoran tempat makan malam.


Yang mana Tuan Renggo akan meras malu. Dan dampak terparahnya ialah dana suntikan ke perusahaannya akan dihentikan, atau malah dicabut oleh Tuan Benyamin. Papa dari Alice.


"Rey,,,, mama rasa otak kamu tidak rusak. Dan jangan berlagak bodoh. Sebaiknya kita segera ke tempat acara. Jangan mempermalukan diri di hadapan keluarga Alice." tegas Nyonya Pipit.


"Apa Alice yang mengundang mama dan papa? Atau,,, Tuan Benyamin sendiri yang menginginkan kalian untuk datang?" tanya Reiner menyelidik.


"Ayolah boy. Tidak penting siapa yang mengundang. Yang terpenting sekarang juga kita harus segera berangkat. Jangan sampai keluarga Alice datang lebih dulu. Bikin malu." cerocos Nyonya Pipit.


Tuan Renggo melihat ekspresi tidak puas pada sang putra akan jawaban yang sudah dijelaskan oleh sang istri. Sehingga beliau kembali mengeluarkan suara. "Papa diundang oleh Tuan Benyamin. Mama kamu diundang oleh Nyonya Zahwa. Sementara kamu diundang oleh Alice. Mengerti. Sekarang kamu paham. Jadi jangan banyak bertanya. Kita berangkat sekarang." pinta Tuan Renggo dengan tegas.


Reiner menyipitkan sebelah matanya. "Ingat pa,,, ma,,, hanya makan malam. Reiner tidak ingin ada hal lain. Atau Reiner akan membuat malu papa dan mama. Dan membuat perusahaan papa tidak akan pernah mendapatkan suntikan dana dari Tuan Benyamin." ancam Reiner.


Reiner hanya khawatir ada rencana dari kedua orang tuanya yang tidak dia ketahui. Sebab bisa saja, acara berkedok makan malam ini hanyalah suatu rencana, yang digunakan untuk menutupi rencana sesungguhnya. Misal acara lamaran atau pertunangan.


"Kamu mengancam kami....! Hebat sekali kamu....!" seru Nyonya Pipit langsung emosi mendengar perkataan sang putra.


"Reiner...!! Kamu sudah tahap ini. Dan kami sebagai orang tua sudah memberikan semua yang terbaik untuk kamu. Sekarang giliran kamu untuk membalas apa yang kami lakukan pada kamu." timpal Tuan Renggo.


Reiner tersenyum kecut. Dirinya merasa aneh mendengar perkataan sang papa. "Pa,,, meski perusahaan papa bangkrut, papa masih mempunyai anak perusahaan yang masih bisa papa selamatkan." tukas Reiner memberitahu.


"Persetan dengan anak perusahaan atau apapun itu. Papa hanya ingin perusahaan papa selamat. Dan kita tetap berada di atas. Jangan sampai orang memandang rendah pada kita." ujar Tuan Renggo.


Reiner hanya menghela nafas panjang. Dia tahu, percuma berdebat denhan kedua orang tuanya terkait harta. Apalagi jika keduanya sudah mempunyai pemikiran serta keinginan yang sama. Mustahil untuk disanggah.


"Bukankah dengan cara seperti ini, kita sudah diinjak-injak oleh keluarga Tuan Benyamin." tukas Reiner masih mencoba menyadarkan kedua orang tuanya.


"Reiner...!! Sebaiknya tutup mulut kamu." hardik sang papa. Tuan Renggo.


"Anak ini. Kapan otaknya akan berpikir cerdas. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Lama-lama kita malah batal pergi ke sana." sungut Nyonya Pipit.


"Memang itu yang Rey inginkan." celetuk Reiner, langsung mendapatkan tatapan mematikan dari kedua orang tuanya.


Di kediaman Tuan Benyamin, Alice dan kedua orang tuanya sudah berada di mobil untuk menuju ke restoran dimana mereka sudah membuat janji untuk makam malam dengan Tuan Darwin.


"Pa,,, ma,,, ingat.. Alice menginginkan Reiner. Dia harus menjadi milik Alice." tutur Alice.


"Tenang sayang. Reiner akan menjadi milik kamu. Lagi pula, tinggal selangkah lagi. Dan dia akan menjadi boneka dari putro mama yang cantik ini." sahut sang mama. Nyonya Zahwa.


"Papa benar-benar kagum dengan rencana kamu. Bahkan papa tidak berpikir sampai sana." puji Tuan Benyamin pada sang putri.


Alice tersenyum dengan sempurna. "Alice. Putri siapa dulu." sahutnya dengan nada sombong.


"Putri Tuan Benyamin dan Nyonya Zahwa." timpal Nyonya Zahwa, dibarengi tawa ketiganya.


Saat Alice tahu jika sang papa mempunyai janji makan malam dengan Tuan Darwin, otak licik Alice langsung bekerja.


Alice ingat jika Tuan Darwin adalah papa dari Zoya. Kekasih Reiner yang saat ini terbaring koka di atas ranjang.


Kesempatan itu tidak disia-siakam oleh Alice. Dia langsung berpikir untuk mengajak Reiner ke acara makan malam ini.


Sekaligus memberitahu pada keluarga Tuan Darwin, jika Reiner sudah mempunyai pengganti Zoya, putri mereka.


Bukan hanya itu saja, penolakan yang sempat Reiner berikan pada dirinya, membuat Alice berencana membuat Reiner merasa tak enak hati dan merasa melakukan kesalahan, karena acara nanti malam.


Dengan Reiner bertemu kedua orang tua Zoya, Alice menerka jika kedua orang tua Zoya akan langsung menganggap Reiner sebagai lelaki yang mudah berpaling. Lantaran keadaan putri mereka sekarang ini.

__ADS_1


Alice ingin hubungan Reiner dengan keluarga Zoya renggang. Jika bisa hancur dan terputus. Dengan begitu, akan semakin mudah jalan Alice mendekati Reiner.


Sang papa yang mendengar jika Alice merencanakan hal tersebut, langsung mengatakan jika akan bertambah meriah, apabila kedua orang tua Reiner juga diundang sekalian.


Dan Alice dengan senang hati menerima usulan sang papa untuk mengundang Tuan Renggo dan Nyonya Pipit.


"Keluarga penjilat. Sebenarnya mama sangat tidak menyukai mereka." tukas Nyonya Zahwa, merasa sama sekali tidal selevel dengan keluarga Reiner. Terlebih kedua orang tuanya.


"Ma... Please, demi Alice. Mama tahan sebentar." pinta Alice.


Nyonya Zahwa menjawil dagu sang putri. "Apa sih yang tidak buat putri mama." ujar Nyonya Zahwa.


"Papa juga kesal dengan Renggo. Dia pikir papa ATM berjalan. Dengan seenaknya menyodorkan lembar kertas. Meminta papa menyuntikkan dana pada perusahaannya yang sudah bangkrut itu." geram Tuan Benyamin.


"Pa.... Alice janji. Jika Reiner sudah ada di tangan Alice. Papa dan mama tidak perlu bersandiwara. Hempaskan saja mereka berdua. Benalu." tukas Alice.


"Pasti sayang. Untuk apa papa terus menempatkan mereka di samping kita. Yang ada malah akan menggerogoti uang papa. Lagi pula, perusahaan itu sudah hancur. Tapi ya,,,, itung-itung papa sedang mengurangi kekayaan papa. Makanya papa setuju menyuntikkan dana pada perusahaan bobrok itu." ujar Tuan Benyamin.


"Apa perusahaan itu benar-benar tidak bisa diselamatkan pa?" tanya Alice penasaran.


"Jangan bilang jika kamu mau menyelamatkan perusahaan Renggo?" tanya Nyonya Zahwa.


"Bukan ma. Tidak seperti itu." sahut Alice.


"Yang ada uang papa malah akan habis masuk ke perusahaan itu." timpal Tuan Benyamin.


"Bukan itu maksud Alice. Begini pa,,,, jangan sampai papa rugi besar. Oke, saat ini papa memang membantu mereka. Tapi, apa tidak sebaiknya papa juga mencari sedikit keuntungan. Papa jangan terlalu torok juga."


"Tenang saja. Jiwa bisnis sudah mendarah daging pada diri papa. Mana mungkin papa sebaik itu membantu Renggo, tanpa ada imbal baliknya."


"Serius pa. Syukurlah kalau begitu. Alice tidak mau kita hanya dimanfaatkan saja."


"Kamu tenang saja. Tujuan kamu hanya Reiner, bukan. Fokus saja pada kebahagiaan kamu." cicit Tian Benyamin.


"Terimakasih pa... Ma...." Alice memeluk keduanya. Merasa jika dia adalah perempuan paling sempurna dengan kedua orang tua yang hebat di sampingnya.


Tanpa Alice pernah berpikir. Jika kemungkinan besar, dia juga akan masuk ke dalam permainan yang di kendalikan oleh Zoya. Karena dia secara tidak langsung akan berhubungan dengan Reiner.


Sang sopir yang selalu menemani Tuan Darwin pergi kemanapun segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Tuan Darwin. "Silahkan Tuan."


Tuan Darwin keluar dari dalam mobil. Membenarkan jas yang sudah melekat di tubuhnya. "Selera Milly memang bagus." batinnya memuji Milly.


Sebab setelan jas hingga sepatu yang Tuan Darwin kenakan saat ini dibelikan oleh Milly. Yang tentunya menggunakan uang Tuan Darwin sendiri.


Itu saja, Milly dengan sangat terpaksa membelikannya. Milly ingin Tuan Darwin merasa jika Milly perhatian pada dia dan menyayanginya. Kenyataannya, Milly hanya ingin Tuan Darwin dengan lancar terus mengisi rekeningnya hingga penuh.


"Apakah istri saya sudah siap?" tanya Tuan Darwin, saat berpapasan dengan seorang pembantu di dalam rumah.


"Sudah Tuan. Perlu saya panggilkan, Nyonya." ujarnya dengan sopan.


Tak.... Tak.... Tak.... Tak....


Belum sempat Tuan Darwin mengeluarkan suaranya, terdengar irama ketukan sepatu menuruni anak tangga. Siapa lagi pelakunya jika bukan Nyonya rumah. Nyonya Ratna.


"Masya Alloh,,, cantik sekali Nyonya." gumam sang pembantu yang berdiri di samping Tuan Darwin. Dimana telinga Tuan Darwin dengan jelas mendengarnya.


Sama seperti sang pembantu. Tuan Darwin juga tercengang melihat penampilan sang istri. Dan ini sudah sangat lama beliau tidak melihatnya.


"Tuan,, Nyonya sangat cantik kan"?


"Khem... Kembalilah bekerja." sahut Tuan Darwin tidak ingin ketahuan jika dia juga terpesona akan penampilan snag istri.


"Bik... Saya pergi sebentar. Titip Zoya, jaga dia untuk saya. Jika ada apa-apa, segera telepon saya." pinta Nyonya Ratna.


"Siap Nyonya." sahut sang pembantu dengan semangat. Nyonya Ratna hanya tersenyum manis membalas perkataan sang pembantu.


Tapi senyum tersebut langsung lenyap saat menatap wajah Tuan Darwin. "Kita berangkat sekarang." ujar Nyonya Ratna berjalan melewati Tuan Darwin dengan santai.

__ADS_1


"Fiiuuuuhhh.... Oke." Tuan Darwin membuang nafas pendek dan segera mengikuti langkah sang istri.


"Lain kali, kamu tidak perlu membukakan pintu mobil untuk aku. Bukankah sebentar lagi akan ada Nyonya baru yang lebih cantik. Sebaiknya, belajarlah untuk mengabdi padanya." sindir Nyonya Ratna pada sang sopir.


Sang sopir hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani mengeluarkan separah katapun. Dia tahu jika Nyonya Ratna kecewa pada dirinya. Karena dia selama ini menutupi apa yang dilakukan Tuan Darwin di luar.


Dan saat Nyonya Ratna bertanya, dia hanya bisa mengatakan tidak tahu. Meski pada kenyataannya, sang sopir tahu semuanya dengan jelas.


Tuan Darwin juga mendengar apa yang dikatakan sang istri. Sebab beliau berdiri di belakang Nyonya Ratna. Dan juga, sang istri mengatakannya dengan suara keras.


Keduanya berada dalam satu mobil dengan duduk yang berjarak. Nampak sekali situasi dingin di dalam mobil. Tak ada percakapan apapun. Bahkan, Nyonya Ratna sama sekali tidak memandang ke arah sang suami.


"Khem..." Tuan Darwin berdehem.


Setelah dirinya bertengkar dengan sang istri terkait keinginannya untuk menikah lagi, ini untuk pertama kalinya Tuan Darwin satu mobil dan duduk berdekatan dengan Nyonya Ratna.


"Disana nanti...."


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Dan jangan pernah mengajariku. Lakukan saja tugasmu dengan baik." sela Nyonya Ratna memotong perkataan Tuan Darwin dengan tegas.


Sejenak, Tuan Darwin terpaku dengan sikap yang ditunjukkan oleh sang istri. Dan ini untuk pertama kalinya Nyonya Ratna sama sekali tidak memandangnya saat berbicara.


Ditambah lagi, nada bicara Nyonya Ratna yang tegas tanpa rasa takut. Benar-benar bukan istrinya yang dia kenal.


"Bagaimana keadaan Zoya?" tanya Tuan Darwin, untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan baru menanyakan kabar sang putri.


"Bukankah kamu mempunyai nomor dokter yang menangani Zoya. Aku rasa dia lebih mudah menyampaikan apa yang ingin kamu dengar." sahut Nyonya Ratna.


"Jika sudah waktunya, aku akan mengenalkan kamu dengan perempuan yang akan aku nikahi."


"Aku sangat menunggu saat itu."


Tuan Darwin menatap sang istri dari samping. Tampak ekspresi datar dan dingin yang tak tersentuh.


Dari kursi depan, sang sopir mencuri dengar apa yang dibicarakan kedua majikannya, serta mencuri pandang dari kaca pantau.


"Nyonya." batinnya, merasakan perubahan besar terjadi pada Nyonya Ratna. Tak ada lagi kesan ramah dan anggun dari raut wajahnya.


Yang ada hanyalah kesan galak dan kejam serta tegas. "Semua merubah kepribadian Nyonya dengan begitu cepat." batin sang sopir.


Sang sopir paham, jika rasa kecewa dan sakit hati akan dengan mudah merubah sosok seseorang. Mulai perubahan dari sikap, hingga sifat mereka.


Klunting.... Terdengar sebuah pesan tertulis masuk ke dalam ponselnya. Membuat Milly segera melihat siapa gerangan yang menghubunginya.


"Aaa...!! Tidak....!" seru Milly melemparkan ponselnya dengan ekspresi ketakutan.


Milly menatap ke arah ponselnya dengan gugup dna takut. "Apa Zoya sudah sembuh? Atau,,, ada orang lain yang menggunakan nomornya." cicit Milly menebak.


Pesan yang baru saja masuk ke dalam ponsel Milly adalah pesan tertulis yang dikirimkan dari nomor ponsel Zoya. Dimana, yang Milly tahu jika Zoya saat ini masih terbaring dalam koma di atas ranjang.


"Jika Zoya sudah sadar. Pasti lelaki tua itu memberitahu gue. Tapi Darwin hanya diam saja." cicit Milly masih dengan kedua mata memandang ponsel yang secara reflek dia lemparkan begitu saja.


Milly turun dari atas ranjang dengan pakaian tidur seksinya. Tampak dirinya belum membersihkan diri selesai melakukan ritual dengan Tuan Darwin di atas ranjang.


Milly mengulurkan tangannya secara perlahan. Mengecek ponselnya dengan perasaan takut bercampur penasaran.


Dibukanya pesan tertulis yang masuk ke dalam ponselnya. "Apa maksudnya?" tanya Milly pada diri sendiri.


Dalam pesam tersebut, tertulis jika si pengirim pesan menginginkan Milly untuk datang ke sebuah restoran. Di layar juga tertulis jika akan ada kejutan besar untuk Milly.


"Pesan sialan. Pasti hanya orang iseng saja." tukas Milly mengabaikan pean tersebut.


Milly berpendapat mana mungkin Zoya sendiri yang mengirim pesan tertulis pada dirinya. "Mustahil." kata Milly.


Klunting.....


Lagi-lagi pesan tertulis dari nomor yang saka masuk ke dalam ponsel Milly. "Sepertinya bukan Zoya." cicit Milly, meski nomor tersebut memang nomor ponsel Zoya.

__ADS_1


"Reiner." gumamnya. Dimana ada nama Reiner tertulis dalam pesan tersebut.


Milly terdiam. Membaca dua pesan di ponselnya dengan seksama. Dirinya juga tengah memikirkan sesuatu.


__ADS_2