
Hari ini, adalah hari pertama untuk Zoya masuk pelatihan gym. Dia berangkat dengan semangat penuh dan perasaan senang.
Zoya langsung berangkat ke tempat gym, begitu jam kerja telah selesai. Dirinya juga sudah memberitahu pada bu Murni, jika dia langsung pergi ke tempat gym. Dan tidak pulang ke rumah untuk mempersingkat waktu.
Sehingga Zoya tak perlu khawatir jika kedua orang tua Yaya cemas pada dirinya seperti kemarin. Karena dirinya tak memberi kabar.
"Sial, dengan badan sebesar ini ternyata sangat susah." keluh Zoya, sudah merasa engap. Padahal dia baru saja berlari di treadmill beberapa menit.
Biasanya, Zoya sangat semangat melakukannya saat masih menjadi dirinya. Sebab, Zoya telah terbiasa melakukan olah raga sejak duduk di bangku SMP.
Tidak seperti Yaya, yang sama sekali tidak pernah mengenal olah raga. Yaya akan melakukan kegiatan tersebut hanya saat berada di sekolah. Dikarenakan ada pelajaran olah raga, yang harus dia ikuti untuk mendapatkan nilai.
Zoya menghentikan olah raganya. Duduk di kursi yang memang disediakan di tempat tersebut untuk beristirahat. Meminum seteguk air, untuk membasahi kerongkongan lehernya yang kering agar menjadi segar.
"Gue nggak boleh menyerah. Meski ini bukan badan gue, tapi gue harus tetap membuat tubuh ini menjadi langsing. Lagi pula, gue tetap harus hidup sehat." batin Zoya menyemangati dirinya sendiri.
Saat termenung, Zoya teringat akan keadaan tubuhnya sendiri. Zoya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Apa gue akan langsung mati, jika masuk ke tubuh gue sendiri." batin Zoya tersenyum getir.
Setelah Zoya mengetahui kondisi badannya sendiri yang sangat memprihatinkan, Zoya seakan enggan untuk kembali ke tubuhnya.
Zoya menggeleng. "Jangan egois Zoya, ini tubuh Yaya. Jangan serakah." batinnya, menunduk lesu.
Zoya kembali mengangkat kepalanya. Lalu menggeleng. "Tidak. Tidak boleh seperti ini, gue harus menjalani hidup di depan gue. Lakukan yang terbaik, gunakan kesempatan sebaik mungkin." batin Zoya kembali bersemangat.
"Zoya." panggil instruktur gym. "Kenapa elo berhenti?!" tanyanya dengan nada yang sama sekali tidak enak didengar telinga. Ditambah raut wajahnya yang tidak bersahabat saat memandang Zoya.
Pemilik gym mengatakan pada Zoya, jika dirinya sedang sibuk. Oleh karenanya, dia menyuruh instruktur gym yang bekerja di tempat kebugaran miliknya tersebut menggantikannya menjadi pendamping Zoya saat Zoya latihan.
Zoya sendiri sebenarnya juga tak percaya begitu saja dengan alasan sang pemilik gym, jika sang pemilik gym yang awalnya mengatakan akan melatihnya sendiri dan mendampingi dirinya itu sedang sibuk.
Zoya menebak jika itu hanya sebuah alasan. Supaya dia tidak melatih Zoya. Seorang Zoya sudah cukup hapal dengan sifat para lelaki seperti mereka. Apalagi, Zoya sebelumnya juga melakukan olah raga di tempat ini.
__ADS_1
"Kenapa elo malah diam. Cepat latihan lagi, menyusahkan." gerutunya, melihat Zoya hanya diam, tetap duduk dan malah memandanginya.
Dia merasa melatih Zoya merupakan hal yang dia anggap sangat memberatkan baginya. "Jika bukan karena di suruh, gue juga ogah nglatih elo." gumamnya, masih terdengar di telinga Zoya.
Zoya berdiri. Menatap tajam lelaki berbadan kekar yang berada di depannya. Dan hal tersebut di lihat oleh semua yang ada di dalam gym.
Zoya merasa apa yang dikatakannya sudah melewati batas. "Sampai detik ini, gue nggak pernah diremehin dan dibentak oleh orang." desis Zoya.
Zoya menunjuk ke arah wajah sang pelatih. "Ingat kawan, gue berada di sini mengeluarkan uang. Gue bukan mengemis. Gue bayar. Dan elo, disini, di bayar. Jaga sikap...!! Elo bekerja untuk dibayar. Paham..!!" bentak Zoya tak terima diperlakukan dan dipandang remeh.
Sontak saja, lelaki didepannya juga tak terima dengan apa yang dilakukan Zoya padanya. Apalagi kejadian tersebut dilihat oleh banyak mata.
Hilang harga dirinya jika membiarkan Zoya menang, dan dirinya hanya diam saja tak melawan perkataan Zoya. "Hey,, gue nggak budek...! Nggak usah teriak. Gue di sini sebagai pelatih elo. Jadi elo harus nurut...!!" bentaknya.
"Elo pelatih,, bego...!! Bukan boss. Elo sekolah nggak sih. Nggak bisa bedakan pelatih dan boss. Kenali dulu yang elo latih. Jangan asal perintah saja. Bego banget sih elo." ujar Zoya tersenyum miring.
"Ada apa ini." mendengar keributan, pemilik gym langsung keluar untuk memastikan apa yang terjadi.
Zoya mengambil tas kecil yang dia taruh di atas kursi. "Kembalikan uang gue. Sekarang. Gue nggak nyaman berada di tempat seperti ini." tukas Zoya.
"Tunggu. Ada apa ini?" tanyanya dengan bingung. Apalagi, Zoya meminta uangnya dikembalikan. Dan uang tersebut berjumlah tak sedikit. Karena Zoya membayar enam bulan ke depan.
"Gue nggak perlu menjelaskan alasan gue. Seharusnya elo tahu kenapa gue melakukannya." ujar Zoya tersenyum miring menatap sang pemilik.
"Pertama, gue nggak suka orang yang nggak jujur. Jika nggak mau, nggak mau saja. Nggak usah pake banyak alasan. Sok sibuk. Dan malah memberikan tanggung jawabnya pada orang lain. Dan kedua, gue nggak suka dengan cara melatih karyawan elo. Gue di sini bayar. Perlakukan gue dengan baik." jelas Zoya panjang lebar.
Sang pemilik gym hendak mengeluarkan suaranya lagi, tapi Zoya seakan tak memberinya kesempatan. "Nggak perlu banyak kata. Kembalikan uang gue. Dan semua beres."
Zoya membalikkan badan, pergi ke tempat pendaftaran. Tapi langkahnya terhenti saat dia melihat Reiner berjalan mengarah ke tempatnya.
Jantung Zoya berdetak tak karuan. Berkali-kali Zoya menetralkan detak jantungnya. "Tenang Zoya,,, tenang. Bajingan itu sama sekali nggak mengenali elo." ucap Zoya dalam hati.
__ADS_1
Dilihatnya, Reiner berhenti saat beberapa perempuan berbadan seksi menghampirinya. Melakukan cipika cipiki dengan Reiner.
Zoya tersenyum miring. "Gue nggak akan pernah lupa, rasa sakit yang elo berikan ke hati gue." lirih Zoya mengeraskan rahangnya.
"Berkedip sayang, Reiner memang sangat tampan. Tapi dia juga nggak buta." seorang perempuan memakai pakaian press body berdiri di samping Zoya, tersenyum mengejek Zoya yang dia kira terkesima dengan ketampanan Reiner.
Zoya sangat kenal dengan perempuan tersebut. Hanya saja, dia tidak akrab. Sekedar kenal.
"Elo pikir gue doyan sama lelaki macam dia. Meski di dunia hanya tinggal dia, gue nggak akan pungut." cibir Zoya meninggalkan perempuan tersebut.
Perempuan tersebut memasang wajah kesal dan geram dengan ucapan Zoya. "Sepertinya dia gila." ucapnya.
"Ada apa?" tanya Reiner yang sudah berada di dekat perempuan tadi.
"Tuh lihat." ujarnya dengan dagu mengarah ke arah Zoya yang berjalan menjauh, hanya terlihat punggungnya.
"Memang ada apa?" tanya Reiner penasaran, mengikuti kemana arah perempuan di sampingnya memandang.
"Dia mengatakan,,, Elo pikir gue doyan sama lelaki macam dia. Meski di dunia hanya tinggal dia, gue nggak akan pungut." ucapnya mengikuti perkataan Zoya.
"Lelaki, maksudnya gue?" tanya Reiner memastikan.
"Betul." sahutnya.
Reiner mengerutkan keningnya, dia penasaran dengan sosok tersebut. "Nggak perlu elo pikirin. Lihat saja, mau keluar saja harus memiringkan badannya." cibirnya melihat Zoya yang keluar melewati pintu.
Begitu mendapatkan uangnya, Zoya pergi meninggalkan gym tersebut. Di jalan, dia mendumal karema merasa direndahkan.
"Aaaa...!!" teriaknya di pinggir jalan.
"Gue harus apa coba. Kemana lagi gue harus pergi. Tuhan,,,,, kenapa rasanya berat sekali. Padahal gue hanya ingin mengurangi berat badan ini." tukas Zoya pada diri sendiri. Menatap ke arah perutnya.
__ADS_1