MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 09


__ADS_3

"Sial...." geram Milly, mendapat kabar jika Yaya ditemukan pingsan di perusahaan oleh petugas keamanan dan dibawa ke rumah sakit.


Kabar tersebut dia dapat dari grup chat perusahaan. Semua karyawan lantas membahas bagaimana Yaya bisa di temukan pingsan.


Apalagi tersebar berita jika Yaya ditemukan karena adanya kamera CCTV yang memperlihatkan keberadaan Yaya setelah hampir tiga puluh menit lebih mereka melakukan pencarian.


Sontak semua karyawan juga terheran, bagaimana dia bisa ditemukan di tempat yang mustahil. Apalagi dengan keadaan pintu yang terkunci dari luar.


Milly berjalan mondar-mandir. "Berpikirlah Milly, ayo. Lakukan sesuatu." tantu saja Milly merasa cemas akan hal tersebut.


Milly mendaratkan pantatnya di kursi dengan kasar. Menggigit kuku di jari jemarinya dengan raut wajah gusar. "Jika Yaya terekam kamera CCTV, kemungkinan besar gue juga sama saja." resah Milly.


"Milly bodoh sekali elo. Astaga." Milly memukul mukul sendiri kepalanya berkali-kali. Yang tanpa berpikir panjang mencelakai Yaya tanpa memikirkan sekitar.


Milly terdiam. "Darwin. Hanya dia yang bisa gue andalkan. Benar. Aku akan mengatakan yang sebenarnya."


Milly tersenyum licik dan sinis. "Tentu saja dengan sedikit bumbu-bumbu yang akan membuat rasa semakin menggila." seringai Milly.


"Darwin. Lelaki tua itu pasti akan dengan mudah percaya dengan setiap ucapan gue." Tak perlu berpikir lama, Milly segera menghubungi Tuan Darwin. Tentu saja dengan suara serak dan air mata yang mengalir di kedua pipinya.


Panggilan video adalah tujuan utama Milly. Tentu Milly ingin memperlihatkan air mata di wajahnya pada suami Nyonya Ratna tersebut.


"Milly, kamu kenapa?" tanya Tuan David, setelah mengangkat panggilan video dari Milly.


Tentu saja Tuan David tidak mengangkat panggilan telepon dari Milly di ruang rawat Zoya. Dia keluar dari ruang rawat Zoya.


Beralasan pada sang istri dan Reiner, jika dirinya ingin mencari udara segar dengan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit tersebut.


Reiner selalu menyempatkan diri untuk menemui Zoya. Berharap sang kekasih segera membuka kedua matanya.


"Apa kamu memikirkan Zoya?" tanya Tuan David menebaknya. Sebab hubungan sang putri dengan perempuan yang menjadi penghangat ranjangnya tersebut sangatlah dekat.


"Cih... ngapain gue nangisi Zoya. Gue malah mendoakan dia untuk tidak bangun selamanya." batin Milly, tapi dengan ekspresi sedih. Benar-benar perempuan berwajah seribu.


Milly menghapus air mata di pipinya. "Salah satunya itu." cicit Milly dengan sembari sesegukan.

__ADS_1


"Salah satunya. Katakan pada mas, apa yang terjadi." pinta Tuan Darwin.


Milly mulai mengarang cerita. Milly mengatakan jika pegawai yang bernama Yaya mengetahui hubungan antara dirinya dengan papa dari Zoya tersebut. Dan Milly hanya ingin Yaya menyembunyikannya.


Tapi Yaya malah mengancam Milly. Mengatakan jika Milly harus memenuhi semua apa yang diinginkan oleh Yaya. Sebagai syarat tutup mulut. Apapun itu.


Milly bercerita dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya. Seolah memang dirinya disinilah yang menjadi korban.


Entah dari mana Milly mendapatkan stok air mata tersebut. Hingga dia dengan mudah bisa mengeluarkan air mata dari kelopak matanya dengan lancar.


"Sialan. Berani sekali dia. Kamu tenang saja. Mas akan segera pulang. Dan memecat dia." tukas Tuan Darwin marah.


"Tapi masalahnya bukan itu." cicit Milly, menghapus air matanya di pipi.


"Lalu apa?"


"Yaya meminta Milly untuk bertemu di gedung paking atas setelah bekerja tadi. Tanpa berpikir, Milly datang. Ternyata Yaya meninta uang yang jumlahnya sangat banyak. Milly nggak punya."


Milly kembali menangis. "Milly,, sayang. Berapa uang yang dia minta. Mas akan sediakan."


"Mas,,, sudah terlambat." ujar Milly disela-sela isak tangisnya.


"Maksud kamu?" Tuan Darwin takut jika pegawainya yang bernama Yaya sudah menyebarkan berita tersebut. Jika semua terjadi, pasti kehidupannya akan hancur. Juga bisnisnya.


"Yaya tak sadarkan diri di rumah sakit." ujar Milly.


Tuan Darwin menatap Milly, dengan tatapan penasaran. "Milly menolak memberikan uang itu. Kami bertengkar. Tak sengaja Milly mendorongnya. Hingga Yaya jatuh, dan kepalanya mengenai benda tumpul."


"Karena ketakutan, Milly malah mengunci pintunya. Milly kabur meninggalkan Yaya yang tak sadarkan diri."


Milly kembali memasang wajah takut. Dengan berderai air mata. "Apa yang harus aku lakukan mas. Pasti aku terekam kamera CCTV."


"Aku tidak mau masuk ke dalam penjara mas." Sekarang Tuan Darwin tahu apa yang menyebabkan perempuan yang selalu menghangatkan ranjangnya setahun terakhir ini terlihat gelisah dan ketakutan.


"Dan jika sampai elo nggak menolong gue. Gue akan memastikan, hubungan kita akan tersebar. Dan elo akan hancur." batin Milly.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Mas akan mengurus semuanya. Kamu tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa dengan kamu." tekan Tuan Darwin dengan yakin.


Milly mengangguk. "Terimakasih mas. Milly sekarang merasa tenang." tutur Milly dengan jujur.


Dengan Tuan Darwin setuju membantunya. Milly yakin. Masalah akan beres. Dirinya tak lagi perlu khawatir akan hal tersebut.


"Oh iya mas,,, bagaimana keadaan Zoya?" tanyanya untuk mengetahui kabar Zoya. Bukan karena khawatir, hanya karena penasaran saja.


Tuan Darwin menghela nafas. "Masih belum sadarkan diri." jelasnya dengan raut wajah muram.


"Memang itu yang gue harapkan." batinnya.


Milly kembali meneteskan air matanya. "Zoya, semoga elo cepat sembuh. Aku kangen sama Zoya." cicit Milly sembari sesegukan.


"Iya. Terimakasih do'anya sayang." sahut Tuan Darwin.


Milly menguap sembari mengucek sebelah matanya. "Kamu pasti sudah mengantuk. Disanakan masih tengah malam." tutur Tuan Darwin.


Milly hanya tersenyum dengan kedua matanya yang sembab. "Baiklah. Sebaiknya kamu tidur. Jangan sampai begadang. Tidak baik untuk kesehatan kamu." tutur Tuan Darwin.


Milly mengangguk dengan manja. "Love you mas. Semoga Zoya cepat sadar. Dan mas cepat pulang. Zoya kangen." ucapnya terdengar mesra di telinga Tuan Darwin.


"Kamu itu. Mas juga kangen sama kamu." cicit Tuan Darwin.


Milly langsung merebahkan badannya di atas ranjang, begitu panggilan video dengan Tuan Darwin telah selesai.


"Zoya, semoga elo tetap seperti itu. Dan selamanya tidak akan pernah membuka mata elo." ucapnya dengan senyum licik.


Dengan Zoya yang selamanya koma. Maka dapat dipastikan, Milly akan dengan mudah menguasai Tuan Darwin beserta semua hartanya. "Dan Nyonya Ratna, aku akan mengambil posisi anda. Sebagai Nyonya Darwin."


Entah rencana apalagi yang ada di benak Milly. Yang pasti hanya ada rencana jahat dan licik yang berputar di dalam otaknya yang kecil tersebut.


"Dan elo, Yaya. Gue berharap elo sama seperti Zoya. Tidak akan membuka mata elo selamanya."


Milly hanya takut, jika Yaya bangun. Dia akan menceritakan apa yang menimpanya pada orang lain. Yang artinya hubungannya dengan papa dari Zoya juga akan terbuka.

__ADS_1


Dan dirinya juga akan menjadi tersangka atas kejadian yang menimpa Yaya. "Gue harus memikirkan cara. Hanya untuk berjaga-jaga, jika Yaya bangun. Dan dia mengingat semuanya." ujar Milly.


__ADS_2