MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 71


__ADS_3

Di mejanya, kedua mata Zoya berkedip dengan cepat sembari sedikit mendongakkan kepala, berharap air mata yang ada di dua pelupuk matanya yang tiba-tiba terkumpul menghilang dan tidak akan sampai terjatuh di kedua pipinya.


"Zoya." batin Zain menyadari hal tersebut. Sebagai seorang dokter, tentu saja Zain mempunyai perasaan yang lebih peka terhadap orang di sekitarnya, akan perubahan sikap seseorang.


Dan Zain juga menyadari, jika Zoya menyembunyikan rasa sedihnya tersebut. Oleh karenanya, Zain berpura-pura tidak melihat dengan menundukkan kepala, melihat ke arah makanan yang baru saja diantar oleh pelayan untuk diletakkan di meja mereka. Dia tidak ingin Zoya merasa tidak nyaman berada di sampingnya.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Zain dalam hati. Terlebih, Zain juga menyadari jika fokus Zoya lebih kepada meja di seberang sana. Dimana beberapa keluarga pengusaha terkenal ada di sana.


"Zoya,,,, bukankah dia juga mengenal tante Ratna. Yang berarti dia juga mengenal om Darwin." batin Zain baru saja tersadar, dirinya dan Zoya pernah bertemu di rumah Tuan Darwin saat dirinya menggantikan sang papa memeriksa keadaan putri Tuan Darwin.


Namun Zain tahu batasan. Dirinya tidak mungkin bertanya secara langsung terhadap Zoya mengenai kenapa dirinya terlihat sangat antusias dan terlihat ingin sekali mengetahui apa yang terjadi di meja sebelah.


"Jika gue bertanya langsung, yang ada Zoya malah marah." batin Zain, dimana dirinya merasa sudah bisa mendekati Zoya secara perlahan. Dimana awalnya Zoya selalu mempunyai beribu cara untuk menghindar.


Bukan tanpa alasan Zoya merasakan kesedihan secara tiba-tiba. Setelah dia melihat dengan seksama ke arah meja, ada sosok yang dahulu dan mungkin sekarang bahkan masih mengisi hatinya.


Reiner. Tak dapat Zoya pungkiri. Melupakan Reiner tidak semudah dia mengatakannya. Zoya dan Reiner, keduanya bukan dalam hitungan bulan menjalin hubungan. Dan mungkin, karena itulah perasaan Zoya terhadap Reiner begitu dalam.


Zoya tidak menyangka akan melihat Reiner duduk bersama yang lainnya. Dan Zoya, bisa menebak apa yang dilakukan Reiner di sana. Terlebih, di samping Reiner ada seorang perempuan yang terlihat cantik dengan pakaian berkelas.


Zoya tersenyum sinis. "Lelaki macam dia. Apa elo masih berharap kesetiaan. Mana mungkin dia menunggu elo yang berbaring entah kapan akan membuka kedua mata lagi. Atau elo malah akan hilang selamanya dari bumi. Jangan harap." batin Zoya tersenyum pahit.


Zoya mengatur ritme nafasnya yang tadi sempat tidak karuan karena melihat Reiner. "Buka mata elo Zoya. Dan fokus pada tujuan elo." batin Zoya memberi pengertian pada dirinya sendiri. Meskipun sebenarnya sangatlah sulit dia lakukan.


Zoya tiba-tiba tersenyum dengan licik. "Zain,,, apa elo tahu, perempuan cantik yang duduk di meja bersama Nyonya Ratna?" tanya Zoya yang memang belum pernah melihat perempuan tersebut.


Zain melihat sebentar ke arah meja mereka. "Jika tidak salah, dia putri Tuan Benyamin. Jika namanya, aku tidak tahu." jelas Zain.


Zoya bisa menebak mana yang bernama Tuan Benyamin. Pasalnya hanya ada empat lelaki di meja tersebut. Dan untuk ketiga lelaki yang lainnya, Zoya sudah cukup sangat kenal.


"Kenapa?" tanya Zain.


Zoya menggerakkan bibirnya dengan lucu dan ekspresi wajah menggemaskan. "Dia seksi. Ingin sekali punya tubuh seperti dia. Mana cantik lagi. Dan kaya. Paket sempurna." celetuk Zoya beralasan, tapi memang itu yang dia lihat dari sosok perempuan tersebut.


"Huk... Huk...." Zain yang sedang makan langsung tersedak mendengar alasan Zoya bertanya padanya.


Zoya langsung menatap tajam ke arah Zain. Dia ingin sekali mencekik leher Zain. "Sorry... Aku, aku hanya keselek makanan." tukas Zain setelah menyeruput sedikit minumannya. Merasa tatapan Zoya bagai sebuah pisau yang tajam, mengarah padanya.


Zoya mencebik dengan kedua mata menatap Zain dengan tatapan tak percaya. "Bilang saja, jika elo mau menertawakan gue. Iyakan...?! Karena gue bermimpi mempunyai badan seperti dia. Iyakan..?! Jujur....?!" geram Zoya dengan kesal. Merasa Zain sedang mengoloknya.


Zain menggeleng. "Enggak. Sumpah. Aku senang, jika kamu berpikir seperti itu. Tandanya kamu juga ingin hidup sehat." timpal Zain.


"Alaaahh.... Semua lelaki sama pak dokter. Matanya akan melotot, jika melihat perempuan seperti mereka. Nggak usah banyak alasan."


"Tidak begitu juga Zoya. Jangan pernah menilai orang seperti itu. Setiap orang berbeda pikiran." sahut Zain tak terima dengan perkataan Zoya.


"Maaf. Tapi saya nggak akan pernah percaya lagi dengan omongan lelaki. Siapa yang tidak suka dengan perempuan yang berasal dari keluarga kaya, cantik, seksi. Pasti mereka, kaum lelaki akan bersujud di hadapan perempuan yang seperti itu." oceh Zoya dengan ekspresi kesal.


Zain terdiam. Mencoba mencerna kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Zoya. "Nggak akan pernah percaya lagi. Apa sebelum ini, ada lelaki yang sudah menyakiti hati Zoya." batin Zain menatap lekat ke arah Zoya.


"Kenapa diam saja, benar bukan apa yang saya katakan." lanjut Zoya menebak, merasa jika Zain tidak lagi bisa menyanggah perkataannya.


Zain hanya diam, melanjutkan menyantap makanannya. "Percuma berdebat dengan makhluk berjenis kelamin perempuan. Pasti akan tetap kalah." batin Zain memilih tidak meneruskan perdebatan mereka.


Zoya tersenyum samar. Mengeluarkan ponselnya. Menulis sebuah pesan singkat untuk dia kirimkan pada Nyonya Ratna. "Selesai." batinnya setelah mengirimkan pesan tertulis tersebut pada sang mama.


"Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui." batin Zoya, berharap dengan rencananya yang baru terpikirkan ini, sang papa dan Milly akan bertengkar setelah makan malam terakhir.

__ADS_1


Zoya menoleh ke meja dimana sang mama berada. Dia bisa melihat, jika sang mama tengah memegang ponsel. "Pasti mama sedang membaca pesan tertulis dari gue." batin Zoya tersenyum senang.


Nyonya Ratna sekilas menoleh ke arah meja Zoya, membuat keduanya saling bersitatap meski sebentar. Keduanya saling melempar senyum. Dan kembali berpura-pura tidak melihat.


"Tenang saja ma, Zoya akan mencari tahu perempuan itu. Dan dia juga akan Zoya bawa masuk ke dalam permainan kita. Supaya lebih menarik." batin Zoya menatap Alice.


Tapi sayangnya, sepasang mata yang duduk di samping Zoya melihat semua itu. "Zoya,,,, tante Ratna. Ada apa dengan mereka?" batin Zain merasakan ada sesuatu yang bersifat rahasia, antara keduanya yang mereka sembunyikan. Dan hanya mereka berdua yang tahu.


Zain juga melihat, sorot mata sedih yang dia lihat beberapa menit lalu di mata Zoya, sudah tak lagi ada. Berganti dengan senyum samar sebuah kemenangan.


Zoya menikmati makanan yang ada di atas piringnya dengan santai. Dia yakin, sang mama akan kembali melakukan tugasnya dengan baik. "Ada apa?" tanya Zoya, melihat tangan Zain diam dengan memegang sendok dan garpu, tapi pandangannya mengarah padanya.


"Hemm.... Tidak. Jika kurang, kamu bisa pesan lagi." sahut Zain.


"Tidak akan pesan lagi. Yang ada berat badanku akan naik lagi." tolak Zoya terang-terangan.


"Kenapa kamu baru sekarang ingin mengurangi berat badan?" tanya Zain.


Zoya terhenyak sesaat, tapi dia segera kembali menguasai keadaan. "Entahlah. Dulu tidak ada pikiran ke sana. Dan sekarang, terpikirkan. Hanya itu." jawan Zoya dengan asal.


"Apa kamu sedang menyukai seseorang?" tanya Zain. Sebab kebanyakan mereka akan berubah entah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk, saat mereka menyukai seseorang.


"Ckk,,,, tidak ada. Hanya ingin mengurangi berat badan saja. Rasanya engap." jelas Zoya dengan jujur. Membuat Zain tak lagi bertanya pada dia.


Di meja sebelah mereka, setelah Nyonya Ratna membaca pesan yang dikirim oleh Zoya, beliau sempat tertegun. Membacanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya. "Milly, dia menyukai Reiner." batin Nyonya Ratna terkejut.


Segera Nyonya Ratna menghapus pesan dari Zoya seperti biasanya. Dan semua itu Zoya yang memintanya. Zoya mengatakan pada Nyonya Ratna, untuk menghapus semua pesan atau bekas panggilan apapun dari dirinya dan Nyonya Gina.


Mungkin Zoya hanya ingin berjaga-jaga. Agar kehadiran keduanya dalam kehidupan Nyonya Ratna tidak diketahui oleh orang lain. Meski Nyonya Ratna menggunakan nomor khusus.


Tapi tetap saja, Zoya tidak ingin melakukan hal yang ceroboh. Apalagi, Zoya kenal siapa sang papa. Bertahun-tahun hidup bersama dengan sang papa, membuat Zoya tahu bagaimana cara kerja dari Tuan Darwin.


"Tidak puas dia mengambil suamiku. Dan malah ingin mengambil Reiner." batin Nyonya Ratna.


Ingin sekali Nyonya Ratna mencakar wajah mulus Milly. Memperlihatkan bagaimana wajah Milly yang sebenarnya pada semua orang. Menghajarnya hingga dia masuk ke rumah sakit dan tidak akan pernah keluar lagi.


"Tahan Ratna. Tahan. Ingat, kata Yaya. Jika kita harus lebih licik dari pada rubah betina ini." batin Nyonya Ratna, lagi-lagi mengingatkan dirinya sendiri untuk terus bersabar.


Memang sangat sulit berada di posisi Nyonya Ratna saat ini. Duduk dengan diapit dua orang yang dulunya sangat dia sayangi dan sangat dia percaya. Yang kini semua berubah. Mereka malah menikamnya dari belakang tanpa memikirkan bagaimana perasaannya.


"Jika mereka bisa bersenang-senang di belakang saya. Maka saya juga bisa membuat mereka bertengkar di belakang saya." batin Nyonya Ratna memulai sandiwaranya.


"Milly, kamu pasti sudah kenal dengan Reiner kan?" tanya Nyonya Ratna memulai dramanya.


Milly tersenyum semanis mungkin. "Kenal tante."


"Bagaimana Milly tidak kenal Reiner, bukankah dia sahabat Zoya." timpal Nyonya Pipit.


"Benar juga. Bahkan Milly beberapa kali bertemu dengan Reiner." sahut Nyonya Ratna, sekaan beliau sedang lupa.


"Milly, dia Alice. Dia perempuan yang akan menggantikan Zoya." ujar Nyonya Ratna terdengar bahagia.


"Apa..!!" seru Milly dengan ekspresi kagetnya.


Tapi segera Milly tersadar jika sikapnya terlalu berlebihan. "Maaf. Saya hanya terkejut. Saya tahu bagaimana Zoya dan Reiner dulu. Jadi,,, saya merasa syok. Iya..." sambung Milly tersenyum canggung.


Reiner memutar kedua matanya dengan malas. Dia tahu apa yang ada di dalam benak Milly. Sebab Reiner juga tahu jika Milly menyukainya. Bahkan Milly pernah menyodorkan tubuhnya pada Reiner. Hanya saja, Reiner sama sekali tidak bernafsu dengan tubuh Milly.

__ADS_1


"Astaga Milly.... Kenapa sikap kamu sampai segitunya. Tante kira kamu menyukai Reiner." timpal Nyonya Ratna tertawa pelan.


"Ahh... Tidak tante." ujar Milly dengan canggung.


Tangan Nyonya Ratna memegang lengan Tuan Darwin. "Lihat pa,,,, Milly bahkan lebih terkejut dari kita." ujar Nyonya Ratna menyalakan api di dalam hati sang suami.


Tuan Darwin mengeraskan kedua rahangnya. Dia juga melihat dengan jelas bagaimana ekspresi terkejut yang Milly tampilkan. Beliau juga beberapa kali melihat Milly mencuri pandang ke arah Reiner, dimana Reiner tampak begitu acuh pada Milly.


"Beruntung sudah ada Alice. Jika belum ada calon yang cocok, saya malah berpikir untuk menjodohkan Reiner dengan Milly." celetuk Nyonya Ratna sengaja menyalakan api di dalam sekam.


"Mana sudi saya menjodohkan perempuan rubah seperti kamu dengan Reiner. Saya jauh lebih ikhlas jika Reiner bersama Yaya. Perempuan baik dan tulus." batin Nyonya Ratna memuji Yaya, yang sebenarnya putrinya sendiri. Zoya.


Tanpa Nyonya Ratna tahu, jika akar kejadian kecelakaan yang menimpa sang putri adalah Reiner. Entah bagaimana jika seandainya beliau mengetahuinya. Pasti beliau akan sanaht terkejut.


Milly langsung menoleh ke arah Nyonya Ratna. "Sial... Kenapa gue malah tidak kepikiran sampai sana. Bukankah selama ini dia selalu menganggap gue sebagai putrinya sendiri." batin Milly merutuki dirinya sendiri.


Berencana menggunakan kedekatannya dengan Nyonya Ratna untuk mendekati Reiner.


"Jangan tante. Reiner sudah menjadi milik saya. Kedua orang tua Reiner dan kedua orang tua saya juga sudah memberi lampu hijau." timpal Alice.


Nyonya Ratna tersenyum sempurna. "Tenang Alice. Mana mungkin saya melakukannya. Kamu juga sangat cantik seperti putri tante. Pasti Reiner akan lebih memilih kamu,,,,, dari pada Milly." ujar Nyonya Ratna, langsung merubah mood Milly.


"Tante bercanda Milly." lanjut Nyonya Ratna di sambut tawa semuanya, kecuali Milly yang memasang wajah masam. Dan Tuan Darwin yang menatap intens ke arah Milly.


"Kamu lihat Darwin. Perempuan yang selama ini kamu puja, dan bahkan kamu rela menyakiti hati saya. Lihatlah, dia tak lebih dari perempuan rendahan. Dan saya sangat bahagia sekarang." batin Nyonya Ratna tersenyum puas.


Alice menatap Milly dengan pandangan tak sukanya. Dia tahu, jika Milly memang mempunyai perasaan pada Reiner. "Perempuan ini. Dia lebih berbahaya dari Zoya." batin Alice, merasa yang mengancam dirinya untuk bisa dekat dengan Reiner bukanlah Zoya, yang berbaring tak sadarkan diri. Melainkan Milly.


"Tapi apa mungkin Milly mau jika tante menjodohkannya dengan Reiner. Pasti dia akan terus teringat Zoya. Bukankah Zoya dan Milly bersahabat baik. Bahkan tante sudah menganggapnya sebagai putri tante." cicit Alice.


"Perempuan ini. Kenapa sedari tadi, ucapannya selalu membuat gue kepengen menampar wajahnya." geram Milly dalam hati.


"Entahlah. Tante mana tahu hati Milly. Tapi saya rasa, mana mungkin Milly seperti itu. Tanaman makan pagar. Iyakan pa..." tutur Nyonya Ratna mengelus lengan sang suami.


Lagi-lagi perkataan Nyonya Ratna mengenai Tuan Darwin dan Milly. Ada rasa was-was di hati keduanya. Dan entahlah, seharusnya Tuan Darwin tidak perlu merasa khawatir. Pasalnya dia sudah menerima izin dari sang istri. Meski dengan ancaman.


Tuan Benyamin mengelus dagunya dengan sering, saat Nyonya Ratna menunjukkan sikap manjanya pada Tuan Darwin. Dan Tuan Darwin menyadari hal tersebut.


Duduk di satu meja dengan sang istri, serta selingkuhannya. Itu sudah membuat Tuan Darwin sangat menjaga lisannya.


Ditambah, beliau tahu jika tekan kerjanya menaruh rasa suka lada sang istri. Dan lagi, kenyataan jika selingkuhannya menaruh hati pada kekasih sang putri.


Tentu saja perasaan Tuan Darwin tak lagi bisa diterka. Dirinya harus menahan emosi yang begitu besar selama duduk di kursi ini. Jika tidak, maka dapat dipastikan semuanya akan meledak bagai bom.


Nyonya Ratna melihat ekspresi sang suami yang sangat tertekan. "Aku tahu, kamu ingin segera pulang bukan. Pulang bersama perempuan ini. Tenang saja Darwin. Aku akan membantu kamu untuk segera keluar dari restoran ini." batin Nyonya Ratna, merasa malam ini cukup sampai di sini.


Tanpa Nyonya Ratna tahu, jika Tuan Darwin juga merasa kesal karena Tuan Benyamin sedati tadi memperhatikan dirinya. Meski Nyonya Ratna sama sekali tidak mengetahuinya.


Nyonya Ratna tahu, juka tempat pulang sang suami bukan ke rumah mereka. Tapi ke rumah Milly. Pastinya untuk menyelesaikan semua yang terjadi di meja makan. Yang sengaja beliau ciptakan.


"Mas,,, Ini terlalu malam. Bisa kita pulang. Aku khawatir dengan Zoya." pinta Nyonya Ratna mengajak sang suami.


"Jeng,,,, bagaimana jika kamu ikut arisan lagi. Sebentar-sebentar saja, jeng juga butuh udara segar." ajak Nyonya Zahwa.


"Akan saya pikirkan lagi jeng." sahut Nyonya Ratna.


"Milly, kami pamit dulu. Apa kamu pulang bersama kami, atau masih ingin di sini?" tanya Nyonya Ratna, menginginkan Milly segera pulang.

__ADS_1


"Milly pulang saja tante." sahut Milly juga ikut berdiri.


Ketiganya berpamitan pada mereka yang masih duduk di kursi. Dan segera meninggalkan meja mereka.


__ADS_2