
Zoya merasa resah. Matanya sudah terpejam selama lebih dari tiga puluh menit, bahkan hampir satu jam lamanya. Tapi dirinya belum juga masuk ke dalam dunia mimpi.
Zoya menatap langit-langit kamarnya. "Apa yang terjadi?" tanyanya pada diri sendiri merasa tidak tenang. Padahal, biasanya Zoya sudah tertidur lelap.
Zoya bangun dari tempat tidurnya. Berjalan mendekat ke arah jendela. Melihat gelapnya malam. Dengan sedikit mendongakkan kepalanya, dilihatnya bintang yang bertaburan di langit. Tanpa tampak bulan di antara mereka.
"Kenapa Tuhan. Ada apa ini?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
Zoya memegang dadanya. Semua tampak normal. Tak seperti sore tadi, dimana dirinya merasakan sakit yang luar biasa pada beberapa bagian anggota tubuhnya.
Beberapa kali Zoya menghela nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Dia bermaksud menenangkan apa yang dia rasakan, tapi dia sendiri juga tidak mengerti alasan kenapa perasaannya tidak nyaman.
Tapi percuma. Zoya tetap merasa gundah. "Mama." dalam benak Zoya, tiba-tiba terlintas bayangan sang mama yang tersenyum sedih padanya.
Zoya memandang ke pintu kamar. Sejenak memejamkan kedua matanya. Diangkatnya kakinya untuk melangkah meninggalkan kamar berukuran kecil tersebut.
Suasana tampak sepi. Ruangan di rumah juga tampak remang-remang. Sebab semua lampu dimatikan. Menandakan jika kedua orang tua Yaya sudah terlelap dalam tidur mereka.
Sehingga ruangan hanya bisa mendapat sorot dari lampu luar yang tidak dimatikan.
Zoya perlahan membuka kunci rumah. Dirinya tidak ingin membangunkan kedua orang tua Yaya. Duduk di teras rumah. Memandang jauh lurus ke depan. Merasakan hembusan angin malam yang dingin.
Sayangnya, Zoya sama sekali tidak merasa kedinginan. Seakan rasa gelisah di dalam dirinya mengalahkan semua yang dia rasakan.
Hampir lima belas menit, Zoya duduk di teras rumah sendirian di malam hari. Hanya terdengar suara hewan malam. "Besok pagi gue harus menjenguk mama." batinnya, merasa jika sang mama tidak baik-baik saja.
Zoya beranjak dari duduknya, dan segera kembali ke dalam kamar, untuk tidur. Tanpa Zoya sadari, pak Endri mengamati setiap apa yang dia lakukan.
"Ada apa dengan Zoya?" tanya pak Endri, merasa sang putri memendam sesuatu yang besar. Dan hanya dipendam seorang diri.
"Zoya, dia....." pak Endri menggantung ucapannya. Ada kalimat yang sepertinya tak sanggup beliau ungkapkan.
Pak Endri sebenarnya sudah merasakan. Jika perempuan muda yang berada di dalam rumahnya, bukanlah sosok putrinya.
Tapi beliau juga merasa kebingungan. Meski dirinya merasa dia bukan putrinya, namun fisiknya serta tubuhnya adalah milik Yaya.
"Tuhan. Singkirkanlah rasa ini dari dalam hati hamba. Dia putri hamba. Di anak kandung kami." batin pak Endri, menyakinkan dirinya sendiri.
Pak Endri segera kembali ke kamar, setelah meneguk air mineral yang tersedia di dapur.
__ADS_1
Pagi hari, Zoya segera bersiap diri. Seperti yang dikatakan semalam. Jika pagi ini, dirinya akan pergi ke rumah sang mama.
"Tumben putri ibu bangun pagi?" tanya bu Murni, memberikan dua lembar roti yang telah beliau beri selai di dalamnya.
"Zoya mau mampir ke rumah teman Zoya bu. Dia sedang sakit." tutur Zoya, sembari memasukkan roti ke dalam mulutnya.
Tangan bu Murni yang sedang memasukkan bekal ke dalam paper bag terdiam sejenak. "Teman kamu?" tanya bu Murni. Pasalnya, selama ini Zoya sama sekali belum pernah mengatakan apapun mengenai temannya.
Zoya mengangguk. Menelan rotinya, barulah dia menyahuti perkataan sang ibu. "Teman kerja. Dia juga sama seperti Zoya. Tapi Zoya lebih beruntung, karena terlebih dulu membuka mata. Bertemu dengan ayah dan ibu. Berbeda dengan dia." cicit Zoya, terlihat sendu.
Biar bagaimanapun, Zoya sedang menceritakan tentang dirinya sendiri. Mana mungkin dia tidak merasa sedih. "Astaga. Semoga dia cepat sembuh." tutur Bu Murni.
Zoya tersenyum. "Ayah kemana?" tanyanya, sembari melanjutkan makan.
"Biasa, ayah kamu belanja."
"Pagi sekali." papar Zoya.
"Ayah pergi ke pasar ikan."
"Ayah mau jualan ikan?" tanya Zoya.
Zoya mengangguk paham. Sebab, barang seperti yang dikatakan bu Murni tidak bisa bertahan lama. Apalagi pak Endri masih ingin mencoba. Jadi beliau pasti hanya berbelanja sedikit dulu.
"Zoya berangkat bu." pamit Zoya, mengambil paper bag berukuran kecil di atas meja. Yang di dalamnya adalah bekal makan siangnya.
Zoya tak lantas segera bersalaman dengan bu Murni, Zoya merasa ada sepasang mata yang memperhatikan interaksinya dengan bu Murni. "Zoya,,, ada apa, sayang?" tanya bi Murni, merasa sang putri sedang menatap ke arah lain dengan seksama.
Bu Murnipun mengijuti kemana sang putri mengarahkan pandangan. "Tidak ada apa-apa." lirihnya.
"Ibu tertipu...!!" seru Zoya tertawa.
"Kamu itu." kesal bu Murni memukul pelan lengan sang anak.
Zoya terpaksa melakukannya. Karena memang di tempat tersebut tidak ada apapun. Tapi Zoya merasa jika ada sesuatu di sana.
''Hati-hati...!!" seru bu Murni yang tidak mengantar Zoya sampai ke depan.
Bu Murni menggelengkan kepalanya, seraya membereskan meja makan. "Ada-ada saja." tukas bu Murni, merasa lucu dengan sikap Zoya yang mengerjainya.
__ADS_1
Tangan Bu Murni terhenti, beliau memandang ke mana Zoya tadi sempat memandang. "Kenapa malah jadi merinding." ucapnya bergidik.
"Ini gara-gara Zoya." ujar bu Murni, segera menyelesaikan pekerjaannya. Dan membuka toko.
Taj terlihat oleh mata telanjang, di tempat tersebut mang berdiri seseorang. Yakni jiwa Yaya. "Bu, ini anak ibu. Putri ibu. Bukan dia."
Yaya merasa iri melihat kebersamaan dan juga keakraban antara Zoya dan sang ibu. Yang selama ini, dirinyalah yang selalu diperlakukan manja oleh bu Murni. "Semua ini salahku. Kenapa aku menolak untuk masuk kembali ke dalam tubuhku." sesal Yaya.
"Zoya...!! sepertinya kamu sangat menikmatinya." ujar Yaya dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal. Apalagi, sang ibu juga memanggilnya dengan nama Zoya, bukan Yaya.
Dan Yaya sendiri, dirinya sudah melihat bagaimana keadaan tubuh Zoya yang saat ini terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur. "Aku ingin tubuhku. Aku ingin kembali bersama ibu dan ayah."
"Aku harus bicara dengan Zoya, tapi bagaimana caranya?" sesal Yaya.
Yaya juga sedang bingung. Bagaimana caranya berbicara dengan Zoya. Yang pada kenyataannya, Zoya maupun semua orang lain tidak ada yang bisa melihat dirinya.
Yaya terus menatap sang ibu yang sedang berada di dapur. Mencuci piring serta gelas kosong yang baru saja Zoya pakai.
Sejenak, Yaya berpikir. Bagaimana kehidupan Zoya di dunia ini. Menggunakan tubuhnya. Padahal sewaktu dulu, Zoya juga selalu membuatnya kesulitan saat berada di kantor.
Jiwa Yaya berpindah ke tempat yang dia mau dengan mudah. Hanya saja, dia tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan. Karena dia hanyalah sebuah jiwa tanpa wadah.
Zoya yang sedang berada di dalam taksi, duduk di kursi belakang. Dirinya merasa ada yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Tapi Zoya tidak melihat apapun. "Kenapa dari semalam perasaan gue selalu tidak nyaman." gumam Zoya.
Tanpa Zoya tahu, disebelahnya sudah duduk sosok Yaya. Zoya menggelengkan kepala. "Sudahlah. Semoga maka baik-baik saja." batin Zoya.
"Mau kemana dia?" tanya Yaya pada dirinya sendiri, melihat taksi yang dinaiki Zoya tidak mengarah ke perusahaan. Tapi ke tempat lain.
Yaya memandang Zoya yang sedang memainkan ponsel. "Kamu mau ke mana?" tanya Yaya, meski dirinya tahu, jika pertanyaannya akan percuma.
"Aaa...!!" Yaya merasa geram dan kesal karena merasa semua tidak adil untuknya. Tiba-tiba jiwa Yaya menghilang dari samping Zoya. Entah Yaya pergi ke mana.
Zoya memandang ke kursi di sampingnya. "Ada apa mbak?" tanya pak sopir, melihat Zoya seperti orang kebingungan.
"Ehh,,, tidak pak. Ada nyamuk." ujar Zoya beralasan.
"Nyamuk." gumam pak sopir. Zoya mencari alasan yang tidak masuk akal. Mana ada nyamuk di dalam taksi.
"Kenapa perasaan gue mendadak aneh begini." batin Zoya.
__ADS_1