
"Milly sayang." Tuan Darwin memeluk tubuh yang berbalut pakaian seksi dari sahabat sang putri dari belakang.
Milly tersenyum sinis. Lalu membalikkan badan, mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat manis dan manja di hadapan papa dari Zoya.
"Milly pikir mas sudah bosan dengan Milly." dengan manja, Milly memukul dada Tuan Darwin pelan.
"Mana mungkin mas bosan sama kamu. Yang ada mas malah semakin menyayangi kamu. Mas ingin setiap malam menghabiskan waktu dengan kamu."
Milly tersenyum malu-malu. Tentu saja hal tersebut adalah salah satu akting terbaiknya. "Mas terlalu sibuk, sampai melupakan Milly." cicit Milly.
Cup,,,, Tuan Darwin mencium pucuk kepala Milly. "Maaf, kamu tahu sendiri bagaimana keadaan Zoya."
"Mas, kenapa mas tidak menikahi Milly saja. Biar kita bisa bersama." pinta Milly, meletakkan kepalanya di dada Tuan Darwin.
Tuan Darwin mengelus rambut panjang Milly. "Sayang, kamu tahukan, mas tidak mungkin melakukan semua itu. Mas sudah mempunyai istri. Dan saat ini, putri mas sedang terbaring koma."
Milly tersenyum miring. "Maaf, Milly minta maaf. Keinginan Milly terlalu muluk." Milly mengurai pelukannya. Berjalan ke arah sofa, duduk di sana dengan ekspresi wajah sedih.
"Hey... kenapa dengan wajah kamu,,, hemm....jangan cemberut dong. Meski kita tidak bisa menikah, mas janji. Mas akan selalu ada buat kamu. Mas akan memenuhi semua kebutuhan kamu."
Tuan Darwin mengelus pelan pipi mulus Milly. "Jadi kamu, tidak perlu khawatir."
Milly mengangguk pelan. "Apapun, yang penting mas mencintai Milly. Itu saja sudah cukup." cicit Milly memeluk tubuh Tuan Darwin.
Milly memasang wajah kesal. "Sialan. Lagi pula, siapa yang ingin hidup bersama bandot tua seperti elo. Gue butuh harta elo, bukan elo." batin Milly.
Lagi-lagi malam ini akan menjadi malam panjang untuk Milly dan Tuan Darwin, setelah beberapa hari Tuan Darwin hanya busa menahan hasrat dalam dirinya.
Tanpa mempedulikan sang istri yang sedang menunggu dan menemani Zoya di rumah. "Sayang, mama kangen."
Tanpa terasa, air mata Nyonya Ratna mengalir di kedua pipinya. Tubuh Nyonya Ratna juga berubah. Berat badan beliau menurun. Terlihat sedikit kurus dari biasanya.
Kesehariannya hanya dia habiskan di dalam kamar Zoya. Menemani serta merawat sang putri. Bahkan, meski ada perawat, beliau tetap mengelap tubuh Zoya dengan kedua tangannya.
"Sayang, bangun. Mama tidak tahu lagi, apa yang bakal terjadi pada mama, jika kamu terap seperti ini sayang." cicit Nyonya Ratna.
__ADS_1
Seorang pembantu masuk dengan membawa nampan berisi makanan. "Nyonya, anda belum makan malam."
Ditaruhnya di atas meja makanan untuk sang majikan tersebut. Reiner yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Zoya, hanya bisa mengedipkan kedua matanya dengan pelan pada sang pembantu.
Pembantu tersebut mengangguk pelan, keluar dati kamar Zoya. "Tante." panggil Reiner.
"Reiner. Kapan datang. Maaf,, tante nggak tahu kamu datang." tukas Nyonya Ratna.
"Baru saja." Reiner bersalaman dengan mama dari sang kekasih.
"Tante makan dulu. Reiner temani." bujuk Reiner. Reiner tahu dari para pembantu di rumah Zoya, jika Nyonya Ratna jarang makan. Bahkan, Nyonya Ratna tidak terlihat seperti dulu yang senang merawat tubuh.
"Tante belum lapar Rey..." tolak Nyonya Ratna.
"Tante, tante harus menjaga kesehatan tante. Bagaimana jika tante sakit. Siapa yang akan menjaga Zoya." bujuk Reiner.
"Tapi tante sama sekali tidak merasa lapar."
"Tante, lihat. Badan tante sekarang kurusan. Apa tante tidak kasihan pada Zoya." Reiner tetap membujuk Nyonya Ratna.
"Tidak tante, Reiner baru saja makan di luar." jelas Reiner.
Sedangkan di rumah Pak Endri. Zoya duduk di depan laptop milik Yaya. Jarinya berselancar di atas keyboard. Entah apa yang sedang Zoya kerjakan.
"Mama." cicit Zoya, menghentikan jari jemarinya.
Lagi-lagi Zoya merasa kangen dengan sosok mamanya. Beberapa kali, Zoya menghela nafasnya. Mencoba untuk menetralkan perasaan yang tidak enak dalam hatinya.
"Zoya,,, ini ibu sama ayah. Boleh kita masuk?" tanya Bu Murni sembari mengetuk pintu.
"Tumben mengetuk pintu, biasanya main masuk." gumam Zoya.
"Masuk saja bu, tidak Zoya kunci." sahut Zoya.
Bu Murni dan pak Endri masuk ke dalam kamar Zoya, bu Murni duduk di kursi sebelah Zoya, dengan pak Endri berdiri di samping bu Murni.
__ADS_1
"Apa kamu sibuk?"n
Zoya menggeleng. "Tidak bu. Ada apa?"
"Bagaimana jika besok kita ke rumah sakit?" ajak bu Murni.
"Pasti karena gue pengen diet." tebak Zoya dalam hati.
"Tidak perlu bu, Zoya baik-baik saja." tolak Zoya.
Bu Murni memandang sang suami, tampak tatapan meminta pertolongan terpancar dari kedua mata bu Murni. "Zoya... ibu dan a...."
"Apa karena Zoya ingin kurus, lalu kalian mengira Zoya sakit?" sela Zoya saat Pak Endri berbicara.
Zoya menghela nafas panjang. "Bu, Zoya ingin hidup normal. Seperti perempuan lainnya." jelas Zoya.
"Bu,,, pak,,, tolong. Jangan memotong ucapan Zoya." pinta Zoya, saat dirinya melihat bu Murni hendak menyela perkataannya.
Pak Endri mengelus punggung sang istri dengan lembut. Beliau tidak ingin terjadi ketegangan di rumah. Apalagi, Zoya baru saja tersadar dari komanya.
"Bu... pak,,, apa kalian pernah tahu, pernah melihat bagaimana kehidupan Zoya di luar. Saat SMP, SMA, Kuliah, hingga saat Zoya bekerja."
"Zoya tertekan bu, Zoya tidak sanggup pak. Kalian tahu kenapa? Semua karena tubuh Zoya. Berat badan Zoya. Mereka selalu menghina Zoya. Mereka selalu menjadikan Zoya sebagai bahan rundungan. Di manapun."
"Apa ibu dan ayah pernah melihat Zoya mengenalkan sahabat atau siapapun itu. Tidak bukan. Tidak pernah. Karena mereka memang tidak ada yang mau berteman dengan Zoya."
"Jangankan berteman. Dekat dengan Zoya pun, mereka tak mau."
"Mereka memandang Zoya dengan sebelah mata. Mereka memperlakukan Zoya lain dari yang lain. Zoya selalu ditindas pak, bu..."
Bu Murni menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya seraya menggeleng. Sedangkan pak Endri, mengeratkan rahangnya mendengar cerita dari sang putri.
Sungguh, keduanya tidak menyangka. Jika putri mereka yang selama ini mereka kenal sebagai sosok ramah, ternyata menyimpan banyak luka seorang diri.
"Maaf Yaya, gue harus menceritakan semuanya. Jujur, gue nggak akan sanggup jika hidup seperti elo. Gue nggak suka di rundung. Gue nggak suka diperintah. Maaf Yaya, jika gue membuat kedua orang tua elo sedih." cicit Zoya dalam hati.
__ADS_1