
Zoya mengernyitkan keningnya melihat apa yang dilakukan Enggar. Dia menutup pintu ruang kerja, setelah Beni dan Miko keluar untuk makan siang. Menyisakan Zoya, Milly, Meta, dan juga dirinya.
Zoya merasa akan terjadi sesuatu yang tidak bagus pada dirinya. Dengan posisi masih duduk di kursi, Zoya merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Dan dia masukkan ke dalam saku kemeja kerjanya.
Zoya tak mengeluarkan bekal makanan yang dia bawa dari rumah. Yang telah dipersiapkan oleh ibu dari Yaya, seperti hari-hari sebelumnya.
Entahlah, apa yang di masukkan Zoya ke dalam sakunya. Tapi pastinya, apa yang dia sembunyikan di dalam sakunya bisa dia gunakan untuk menyelamatkannya. Seandainya apa yang dia khawatirkan terjadi.
Mengingat Zoya punya masalah dengan ketiga perempuan tersebut, yang juga bekerja di divisi yang sama dengan Zoya. Zoya bisa menebak, kenapa mereka ingin menyeret Zoya ke dalam masalah.
Jika Meta dan Enggar, pasti karena permasalahan makan di kantin. Dimana Enggar harus mengeluarkan uang banyak untuk membayar semua karyawan yang makan di kantin. Dan semua karena ulah Zoya yang sengaja Zoya lakukan.
Sementara Milly. Dengan mudah Zoya bisa menebaknya. Apalagi jika bukan karena kejadian tadi pagi. Dimana ada sosok Reiner di sana. Pastinya Milly merasa dipermalukan oleh Zoya dihadapan Reiner. Memang Zoya peduli, sama sekali tidak.
"Satu lawan tiga. Siapa takut." batin Zoya tak menciutkan nyalinya sama sekali. Berharap badan besar milik Yaya yang sekarang dia tempati bisa membawa keberuntungan.
Sosok tak kasat mata, berdiri di pojok ruangan. Menatap ke arah semua yang berada di ruangan dengan ekspresi bingung bercampur takut. "Apa yang akan mereka lakukan pada Zoya." cicit Yaya.
Yaya merasa mereka sengaja mengurung Zoya di dalam ruangan bersama dengan mereka. Apalagi ruangan sebelah mereka, atau ruangan sekitar mereka kosong. Sebab sekarang saatnya jam istirahat siang, dimana semua sedang mengisi perut.
"Pasti mereka akan melakukan hal buruk pada Zoya. Pasti. Tidak,,,!! Tidak bisa. Aku harus menolong Zoya. Jangan sampai Zoya kenapa-napa. Yang ada, ibu sama bapak nanti akan sedih." ujar Yaya.
Dimana sekarang tubuhnya digunakan oleh Zoya. Dan Yaya sangat mengetahui bagaimana sayangnya kedua orang tuanya pada dirinya.
"Cukup sekali aku membuat bapak dan ibu menderita karena rasa khawatirnya. Tidak untuk sekarang." Yaya bermaksud menolong Zoya dari ketiga perempuan iblis tersebut.
Yaya ingin mengulangi kejadian pagi tadi. Dimana dirinya bisa mendorong tubuh Milly, setelah Milly berbincang dengan Reiner dan Zoya. Yaya segera menggerakkan tangannya, mendorong tubuh Enggar yang lewat di depannya.
Tangan Yaya dengan mudah melewati tubuh Enggar. Sama sekali tak bisa menyentuhnya. Meski hanya pakaian Enggar. "Hah...!! Kenapa...?! Kenapa tidak bisa...?!" ujar Yaya dengan rasa khawatir, menatap kedua telapak tangannya dengan kebingungan.
Lagi, Yaya menggerakkan tangannya. Dan tetap saja, dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Zoya. "Zoya...!! Zoya...!! Apa yang harus aku lakukan?!" seru Yaya gelisah, seakan suaranya bisa didengar oleh Zoya.
Yaya terus menggerakkan tangannya ke badan Enggar dan Meta. Berharap ada keajaiban untuk dirinya. Melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
Tanpa putus asa, Yaya terus menggerakkan tangannya. Dirinya sungguh ingin menolong Zoya dari mereka yang hendak mencelakainya.
Enggar dan Meta berdiri, bersedekap dada menatap Zoya dengan sinis. Sedangkan Milly masih duduk di kursinya, meski kedua matanya juga menatap kesal pada Zoya.
"Kalian kenapa? Nggak punya uang buat beli makan siang?" tanya Zoya absurd.
Brak... Enggar menggebrak meja kerja Zoya dengan kuat, hingga pena yang Zoya taruh di atas meja menggelinding jatuh ke bawah.
"Gendut,,,!! Semakin hari elo semakin tak tahu diri." geram Enggar menggeratkan giginya menhan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.
Zoya bukan Yaya. Yang akan menunduk saat ada yang membentak dan merendahkannya. "Gue,,, nggak tahu diri." Zoya mengangkat dagunya dengan jari telunjuk menunjuk ke wajahnya sendiri.
Zoya tersenyum miring. "Benarkan?" lanjut Zoya seakan meremehkan mereka bertiga.
"Lama-lama elo ngeselin. Sumpah, ingin sekali gue memotong lidah elo yang nggak berguna itu." ujar Meta dengan kedua bola mata berwarna merah karena amarah.
"Waooww.... Elo mau jadi dokter...!" seru Zoya tersenyum menantang.
Enggar mengangkat tangannya hendak menampar wajah Zoya. "Lancang...!!" seru Enggar.
Zoya berdiri dam langsung menangkap tangan Enggar. Zoya mencekal tangan Enggar dengan kuat. Hingga Enggar berusaha berontak. "Siapa yang lancang. Elo... apa gue..." tekan Zoya, sembari menghempaskan tangan Enggar ke arah Meta.
Sehingga tangan Enggar mengenai wajah Meta. " Aaaw... iisshh.... Enggar...!" seru Meta merasa wajahnya terasa sakit.
__ADS_1
Zoya menatap keluar jendela. Dimana ada kamera CCTV yang mengarah tepat ke arah mereka. Zoya juga tahu, jika di dalam ruangan juga ada kamera CCTV.
Namun Zoya ragu jika kamera tersebut masih berfungsi dengan baik. Buktinya mereka dengan berani mengurung dirinya di dalam ruangan. Tak ada rasa takut sedikitpun.
Zoya menebak jika semua sudah mereka rencanakan. Bukan tak mungkin jika mereka juga sudah menyuruh pihak yang berhubungan dengan kamera CCTV untuk mematikan kamera. Mengingat Milly juga ada di dalam ruangan.
Zoya tersenyum remeh. Diliriknya Milly yang sudah berdiri. Berjalan ke arahnya dengan tatapan seperti seekor kucing yang hendak menerkam seekor tikus.
Milly langsung mengangkat tangannya, hendak menjambak rambut Zoya, tapi tangan Zoya dengan cepat mencegahnya dengan menahan tangan Milly, serta memelintirnya.
"Aaaww.... Gendut.... brengsek....!! Lepas...!! Sakit....!" teriak Milly.
Yaya melongo melihat Zoya yang begitu berani melawan mereka bertiga. Bahkan Yaya tak menyangka, Zoya bahkan tak berteriak meminta tolong.
Meski begitu, Yaya tetap khawatir. Zoya hanya sendiri. Sementara mereka bertiga. Jika mereka menyerang Zoya bersamaan, pasti Zoya akan kalah.
"Tuhan, tolong kami." Yaya masih terus menggerakkan tangannya. Berharap Tuhan mengabulkan apa yang dia inginkan saat ini.
"Kalian berdua. Jangan hanya diam goblok..! Lakukan sesuatu, tangan gue bisa patah...!!" teriak Milly. Dengan tangan yang bebas mencoba melepaskan pelintiran tangan Zoya pada lengannya.
Meta dan Enggar yang sempat syok dengan apa yang dilakukan Zoya hang berani melawan Milly, segera tersadar. "Astaga,, kenapa gue malah terkesima." ujar Meta merasa bodoh.
Meta menjambak rambut Zoya dengan kencang. Berharap Zoya segera melepaskan tangannya dari lengan Milly.
Zoya meringis kesakitan, tapi dia tidak melepaskan tangannya di lengan Milly. Zoya menahan rambutnya yang dijambak kuat oleh Meta. Tak ingin rambutnya sampai terlepas dari kulitnya.
Zoya melihat Enggar hendak melakukan sesuatu. Segera Zoya melepaskan cekalan tangannya di lengan Milly dengan setengah mendorong badan Milly. Mengambil sesuatu dari dalam saku pakaiannya.
Dan,,, sroortt.... Zoya menyemprotkan minyak wangi ke wajah Enggar juga Meta. Tidak terlalu banyak, hanya membuat keduanya mundur dan tidak lagi mengganggu Zoya. "Buta,,, buta deh mata kalian." dengus Zoya mengelus kepalanya yang sakit karena jambakan yang Meta lakukan.
Di samping Zoya, Meta dan Enggar seperti orang kebakaran. Berteriak dan berjingkrak tak karuan. Bahkan mereka menabrak benda yang ada di sekitar mereka. Sepeti meja dan kursi.
"Perih...!!" teriak Enggar dan Meta bersamaan, mengusap wajahnya yang terkena semprotan minyak wangi dari Zoya.
Prang.... Beberapa benda yang berada di atas meja terjatuh di lantai. Juga dengan laptop milik Meta dan Enggar sendiri. Bahkan laptop Beni. Ruangan menjadi kacau dan berantakan.
Segera Zoya mengamankan laptopnya. Tak ingin laptopnya terjatuh dan rusak. Apalagi ada beberapa berkas yang belum dia simpan.
Dirinya tak ingin repot untuk kembali mengerjakan pekerjaannya. Zoya hanya mengangkat satu sudut bibirnya melihat kelakuan Meta dan Enggar yang masih memejamkan kedua matanya karena ulahnya.
"Zoya...!! Jika mata gue sampai buta, gue akan membuat elo menderita dengan mendekam di penjara...!!" seru Enggar.
"Zoya sialan...!!" teriak Meta.
Keduanya terus berteriak, mengumpat serta mengatakan sumpah serapah yang pastinya dia tujukan pada Zoya.
Dan Zoya sama sekali tak menggubris perkataan Meta maupun Enggar. Dia lebih tertarik kepada Milly yang terlihat meringis kesakitan.
Yaya melihat semuanya. Hanya bisa diam dengan ekspresi datar. Sungguh, dirinya tak menyangka jika Zoya akan dengan berani melawan ketiganya.
Bahkan, membuat mereka bertiga berteriak kesal karena kalah dengan Zoya. "Zoya,,,, dia, dia, dia memang hebat." puji Yaya tersenyum lega.
Zoya mendekat ke arah Milly dengan tatapan yang penuh arti. "Mau apa elo bedebah...?!" seru Milly merasakan ketakutan dengan tatapan yang Zoya berikan pada dirinya.
Zoya tertawa lepas. "Milly... Milly... Mana kesombongan dan keberanian yang elo tunjukkan *****...!" seru Zoya.
"Gue dengar, elo mau membawa gue untuk tidur di hotel yang dingin. Benar...?" ujar Zoya yang mendengar kata penjara keluar dari mulut Milly.
__ADS_1
Enggar dan Meta berhenti berteriak. Meski kedua mata mereka masih terasa perih, tentunya mereka merasa penasaran dengan apa yang ingin Zoya katakan. Apalagi indera pendengaran mereka masih berfungsi dengan baik.
Milly tersenyum senang. "Kenapa,,,? Elo takut?! Bagus kalau elo takut. Karena memang seharusnya elo merasa takut sama gue.....!" bentak Milly merasa dirinya berada di atas awan saat ini.
"Iiihhh,,,, takut...." Zoya berbicara dengan nada dibuat-buat, seolah dirinya benar-benar ketakutan.
"Takut. Gue,,, takut. Haa...haa...." kembali, Zoya tertawa lepas mengejek ke arah Milly.
Zoya melirik ke arah Meta dan Enggar yang sepertinya tengah mendengarkan apa yang dia dan Milly katakan. Meski dengan kedua mata mereka yang masih terpejam. "Kalian berdua, buka telinga kalian lebar-lebar." seru Zoya dengan lantang.
Zoya kembali memandang ke arah Milly. "Elo yang seharusnya meras takut. Milly." seringai Zoya dengan tatapan licik.
Milly menaikkan satu alisnya. Dia belum pernah melihat seorang Zoya bersikap angkuh dan berani melawan dirinya seperti ini.
"Bagaimana, jika semua orang tahu apa yang dilakukan seorang Milly. Mengurung perempuan gendut dan lemah di lantai paling atas, kehujanan di malam hari. Hingga dia koma berbulan-bulan. Dan semua dia lakukan karena rasa takutnya. Oohhh,,, dia takut jika hubungan gelapnya dengan se-se-orang sampai tersebar. Makanya dia tanpa takut melenyapkan nyawa orang lain. Tapi sayang,,,, semua gagal." ujar Zoya panjang lebar tanpa menyebutkan nama sang papa disertai penekanan.
Wajah Milly langsung pias seketika. Jantungnya berdetak kencang. Milly menggeleng pelan. Dirinya sungguh tak menyangka, Zoya akan berkata seperti itu di hadapan orang lain dengan berani.
Meta dan Enggar menyipitkan kedua matanya perlahan. Karena rasa perih yang mereka rasakan perlahan berkurang. Karena memang, Zoya hanya menyemprotkan minyak tersebut sedikit.
"Apa gue salah dengar." lirih Meta, berbisik pada Enggar.
"Tidak. Gue juga mendengarnya dengan jelas." sahut Enggar dengan suara lirih.
Milly menatap tajam ke arah Zoya yang menatapnya dengan remeh. "Tutup mulut elo...!! Atau gue akan merobeknya...!!" ancam Milly dengan nafas naik turun.
Tentunya Milly takut jika semua yang dia lakukan diketahui banyak orang. Dimana akan membuat dia dalam masalah besar.
Prok... prok... prok... Zoya bertepuk tangan seraya tersenyum senang. Sedikit membungkukkan badannya. "Apa gue perlu mengatakan lagi. Jika sebentar lagi, elo akan menjadi Nyonya pemilik perusahaan. Istri kedua Tuan Darwin." ucap Zoya lirih, dan hanya Milly yang mendengarkannya.
Wajah Milly langsung berubah pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Dirinya sungguh tak tahu, dari mana Zoya mengetahui hal tersebut. Padahal hanya dirinya dan Tuan Darwin yang mengetahuinya.
"El...el-elll-elo.... Elo... Diam...!! Jangan asal bicara. Gue akan membuat mulut terkunci selamanya...!!" seru Milly merasa ketakutan.
"Takut... Tuhan,,, tolong,,, dia hendak membunuhku untuk kedua kali..." seru Zoya dengan nada melas.
Zoya melihat ke arah jam dinding. Dimana sebentar lagi para karyawan akan kaki ke ruangan mereka karena jam istirahat telah selesai.
Yang pastinya akan banyak karyawan yang melewati ruangan mereka. Dan pastinya mereka akan melihat semua kegaduhan ini.
Zoya tersenyum licik. Membuka semua beberapa kancing bajunya. Mengambil air minum yang memang tersedia di dalam ruangan, lalu menyiramkan ke wajah serta pakaiannya. Sehingga dia terlihat basah kuyup.
Krek.... Zoya merobek pakaiannya di beberapa bagian, hingga kulit putihnya terlihat jelas. "Apa yang elo lakukan?" tanya Meta, sebab dirinya sudah bisa melihat dengan jelas. Meski masih ada sisa perih di kedua matanya. Juga dengan Enggar.
"Mau tahu...? Tunggu sebentar lagi. Dan elo akan tahu." sahut Zoya tersenyum licik.
Zoya mengacak-acak rambutnya sendiri. Lipstik di bibirnya dibuat berantakan. Sehingga membuatnya terlihat begitu menyedihkan.
Zoya lalu duduk di lantai. Menyenderkan badannya ke tembok. Sehingga semua karyawan yang melewati ruangan tersebut bisa melihat dengan jelas keadaan Zoya yang menyedihkan.
Yaya melihat apa yang dilakukan Zoya, dirinya bisa menebak apa yang akan Zoya lakukan selanjutnya, dengan berbuat seperti itu. "Zoya,,,, elo memang hebat." puji Yaya untuk kedua kalinya.
"Aaw....!! Tolong....!!" seru Zoya dengan suara lirih. Terdengar begitu menyayat hati.
Milly dan Meta serta Enggar menatap aneh ke arah Zoya. "Apa yang dia lakukan?" tanya Meta dengan nada lirih.
Dan benar saja, seperti tebakan Zoya. Banyak karyawan yang melihat keadaannya. Bahkan Beni dan Miko pun juga melihatnya.
__ADS_1