
"Kamu yakin, mau pergi bekerja?" tanya Bu Murni, melihat Zoya sudah rapi dengan pakaian seragam kerjanya. Dengan sebuah tas di tangannya.
Awalnya, Zoya berencana mengurangi berat badannya dulu. Baru masuk kerja kembali. Sebab, perusahaan juga sudah memberi tahu pada Zoya untuk beristirahat sampai keadaannya pulih.
Dan Zoya berniat untuk menggunakan waktu tersebut untuk mengurangi berat badannya selama dirinya tidak masuk bekerja. Meski jujur, alasan Zoya yang sebenarnya bukanlah itu.
Tentu saja Zoya merasa minder dan malu pergi ke perusahaan. Bertemu dengan rekan kerjanya sebagai Yaya.
Yang jika dulu, semua karyawan memandang kagum ke arahnya karena kecantikan serta bentuk tubuhnya yang langsing, serta dirinya yang merupakan putri tunggal dari pemilik perusahaan.
Dan sekarang, Zoya berada di dalam tubuh Yaya. Seorang karyawan yang selalu menjadi bahan ejekan. Dan Zoya sangat tahu bagaimana para karyawan perusahaan memperlakukan Yaya selama ini. Sebab, dirinya juga sering memperlakukan Yaya dengan tidak baik.
Namun Zoya berpikir semalaman. Untuk mengurangi berat badannya, tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan yang memerlukan waktu singkat.
Perlu waktu berbulan-bulan untuk Zoya menurunkan berat badannya. Dan tidak mungkin, dirinya tidak bekerja selama itu.
Bisa-bisa dia bisa dipecat dari perusahaan. Sebab, saat ini dirinya Yaya. Bukan Zoya. Apalagi, Zoya tahu jika kedua orang tua Yaya membutuhkan uang.
Mana mungkin Zoya tega membebani kedua orang tua Yaya dengan dirinya yang tidak bekerja. Makan tidur gratis.
Meski Zoya yakin, mereka berdua tidak akan keberatan jika dirinya tidak bekerja dan hanya makan tidur. Tapi Zoya bukan manusia kejam.
Dirinya yang selama ini dekat dengan sang mama. Serta sangat menyayanginya, pasti juga tidak akan tega melihat sang mama dalam kesulitan.
Begitu juga kedua prang tua Yaya. Hitung-hitung ucapan terimakasih, karena Yaya menolak masuk ke dalam tubuhnya. Sehingga Zoya bisa menempatinya.
Selain itu, karena masuk ke dalam tubuh Yaya. Zoya jadi tahu bagaimana sifat dari Milly. Perempuan yang selama ini dianggapnya sebagai keluarga.
Dan juga pengkhianatan sang papa. Yang dengan tega menduakan sang mama yang sejak dulu selalu setia berada di sampingnya, menemaninya tanpa mengeluh.
Di meja makan, Bu Murni menatap intens ke arah sang putri yang masih berdiri. Penampilan Zoya, dinilai sangat berbeda oleh bu Murni.
Zoya terlihat begitu cantik. Sangat berbeda dari sebelumnya. Mungkin karena sebelumnya, Yaya sama sekali tidak menggunakan make up.
Hanya bedak tabur yang dia aplikasikan pada wajahnya. Tanpa lipstik di bibirnya. Sehingga bibir Yaya terlihat sedikit hitam.
__ADS_1
Zoya duduk di kursi. "Ada apa bu?" tanya Zoya, sadar jika ibu dari Yaya menatapnya dengan tatapan lain.
Bu Murni segera tersadar kembali. "Tidak. Kamu sangat cantik." pujinya sembari tersenyum.
Zoya tersenyum tulus. "Memang dulu Zoya nggak cantik?" tanya Zoya dengan berpura-pura cemberut.
Bu Murni tertawa pelan. "Cantik. Zoya kan perempuan. Kalau ayah, baru tampan." tukasnya.
"Oh iya,,, ayah kemana?" tanya Zoya, mengambil dua lembar roti yang sudah diolesi selai oleh bu Murni.
"Ayah kamu pergi berbelanja."
"Pagi sekali."
"Biasanya juga seperti itu."
"Tapi ayah sudah sarapankan bu?"
"Kamu itu, selalu memperhatikan hal kecil. Tapi ibu suka."
"Bu, memang ayah nggak punya kendaraan roda empat?" tanya Zoya, melihat ayah dari Yaya selalu memakai sepeda motor usang saat berbelanja. Itupun harus bolak balik. Karena barang belanjaannya yang banyak.
Bu Murni terdiam. Merasa jika sang putri memang aneh. "Apa mungkin karena efek koma, jadi Zoya tidak mengingat beberapa memori masa lalunya." batin bu Murni.
Bu Murni juga masih teringat, saat sang suami menanyai bagaimana bisa Zoya berada di tempat tersebut. Kehujanan hingga pingsan tak sadarkan diri.
Zoya mengatakan jika dirinya lupa. Kenyataannya, Zoya tak benar-benar lupa. Dirinya mempunyai pemikiran sendiri, kenapa tidak menceritakan kejadian tersebut pada siapapun. Termasuk kedua orang tua Yaya.
Dengan keadaan kedua orang tua Yaya yang seperti ini, Zoya takut jika sang papa malah akan membuat masalah dan mempersulit kehidupan mereka. Tentu saja Zoya tak ingin semua itu terjadi.
"Bu..." panggil Zoya, karena bu Murni malah diam tak menyahuti pertanyaannya.
"Ayah tidak punya. Lagian uang dari mana? Kamu itu ada-ada saja." ujar bu Murni berbohong.
Nyatanya, dulu mereka punya pick-up yang setiap hari digunakan untuk berbelanja pak Endri. Tapi kendaraan tersebut telah mereka jual untuk biaya pengobatan Yaya.
__ADS_1
Bu Murni terpaksa berbohong. Dirinya tidak ingin Zoya merasa bersalah atas apa yang saat ini terjadi pada keluarga mereka.
Dengan Zoya sadar dari komanya saja, bu Murni sudah sangat bersyukur pada Tuhan.
"Hanya makan itu, apa tidak kurang?" tanya Bu Murni mengalihkan pembicaraan.
Zoya hanya makan dua lembar roti, dan minum segelas susu hangat yang memang khusus di minum oleh orang yang ingin menurunkan berat badan mereka.
Bu Murni tanya seperti itu, karena memang biasanya Zoya makan sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk. Lalu minum segelas susu dengan gelas berukuran besar.
"Tidak bu, ini sudah dari cukup." tukas Zoya, mengelap bibirnya menggunakan tisu dengan pelan.
Bu Murni segera beranjak dari duduknya. Mengambil bekal Zoya yang sudah disiapkan sedari tadi. "Ini bekal kamu." ucapnya, menaruh sebuah paper bag di atas meja.
Zoya mengedipkan kedua matanya dengan perlahan. "Bekal." cicit Zoya merasa aneh.
Pasalnya, selama ini dirinya tidak pernah membawa bekal makanan kemanapun dia pergi. Tapi sekarang, dirinya harus membawa bekal.
"Tenang saja. Ibu tahu jika kamu sedang program diet." tukas bu Murni, mengira jika Zoya memikirkan bekal yang ada di dalam paper bag tersebut.
"Di dalamnya ada tremos, yang ibu isi susu kamu."
Zoya tersenyum, menghela nafas perlahan. Mulai saat ini, dirinya harus memainkan peran sebagai Yaya. Bukan Zoya. Dan Zoya harus membiasakan diri.
Zoya mengambil paper bag di depannya. "Zoya berangkat bu." Zoya mencium punggung telapak tangan sang ibu sebelum berangkat kerja seperti biasanya.
Deg.... Jantung Zoya berdetak saat melakukan hal tersebut. Ada rasa yang tak bisa dijabarkan saat Zoya mencium punggung telapak tangan bu Murni.
Kemungkinan besar, Zoya kangen dengan sang mama. Karena Zoya juga terbiasa melakukannya jika hendak berangkat bekerja.
"Hati-hati." ujar bu Murni, yang mendapat anggukan dari Zoya.
Zoya tidak menaiki motor yang biasanya dia pakai. Zoya merasa tidak nyaman saat menaikinya. Mungkin karena dirinya yang belum terbiasa mengendarai motor.
Tapi, Zoya beralasan pada kedua orang tua Yaya, jika tangannya merasa keram saat memegang stir terlalu lama. Beruntung, mereka berdua percaya dengan alasan yang disampaikan oleh sang putri.
__ADS_1
Lagi-lagi, mereka menebak jika apa yang dirasakan Zoya saat ini, adalah efek dari komanya yang pernah dialami Zoya.