
Plak....
Sebuah tamparan mendarat di pipi Reiner. Membuat Reiner memejamkan kedua matanya. Sebab tak mungkin dia marah. Meski pipinya terasa panas. Dan merasakan sakit hati.
Karena yang memberikan rasa sakit tersebut adalah sang mama, Nyonya Pipit. Ibu kandung dadi Reiner. Dimana sang papa, Tuan Renggo juga ada di ruangan tersebut. Duduk di kursi dengan tatapan tajam mengarah kepadanya.
"Ma...." panggil Reiner menahan kesal.
Tanpa diberitahu, Reiner mengerti kenapa kedua orang tuanya mendatangi dirinya di perusahaan. Dan langsung memberikan hadiah berupa tamparan pada dirinya. Serta memandangnya seakan dirinya adalah musuh.
Pasti karena kejadian tadi pagi. Dimana Reiner sengaja mengacuhkan perempuan yang sengaja di pilihkan kedua orang tuanya untuk dijodohkan dengan Reiner. Menggantikan Zoya.
"Apa kamu mau, perusahaan papa kamu gulung tikar?!" seru Nyonya Pipit menahan amarahnya.
Begitu Reiner meninggalkan dirinya begitu saja, sang perempuan langsung menelpon Nyonya Pipit yang masih berada di luar negeri dengan Tuan Renggo. Karena menemani sang suami menemui rekan kerjanya.
Sang perempuan menceritakan saat Reiner mengacuhkan serta merendahkannya. Dan lebih memilih untuk meninggalkannya. Bukan hanya itu, dia memberikan ancaman pada Nyonya Pipit, terkait perilaku sang putra padanya.
Jika sampai Reiner tidak menemuinya, maka dia akan mengadukan kejadian tersebut kepada sang papa. Yang tentunya, sang papa pasti juga tidak akan terima jika dirinya diperlakukan dengan seenaknya oleh Reiner.
Keduanya langsung bertolak kembali ke negara mereka dan langsung menemui Reiner di perusahaan begitu meninggalkan bandara.
"Kamu tahu, bagaimana papa dia sangat berkuasa. Dia sama seperti Tuan Darwin. Dia sudah memberi suntikan dana pada perusahaan papa kamu. Dengan jumlah yang sangat besar. Apa kamu mau, dia mengambil kembali apa yang telah dia beri. Dan melihat papa kamu bangkrut." tukas Nyonya Pipit.
Reiner menyugar kasar rambutnya. "Ma,,, Reiner akan membantu perusahaan papa. Tenang saja." sahut Reiner, mencoba menenangkan kedua orang tuanya. Siapa tahu dengan cara itu, dirinya tak lagi dijodohkan dengan perempuan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Tuan Renggo tertawa lepas. Memandang remeh ke arah sang putra. "Dan perusahaan kecil kamu juga akan di buat hilang oleh dia. Jika kamu berani melawan. Kamu pikir, kamu sudah sangat hebat. Iya...!!" tekan Tuan Renggo dengan suara lantang.
Begitu memutuskan untuk kembali ke negara ini, Reiner memegang salah satu perusahaan kecil sang papa yang terancam gulung tikar.
__ADS_1
Dengan penuh ketlatenan dan otaknya yang memang cerdas, Reiner berhasil menyelamatkan perusahaan kecil tersebut. Dan kini perusahaan tersebut telah berpindah nama menjadi miliknya.
Hanya saja, perusahaan kecil yang dia rintis tak akan mampu menyuntikkan dana pada perusahaan besar milik sang papa yang sudah bobrok dari dalam.
Dimana perusahaan sang papa memang membutuhkan uang yang banyak untuk tetap bisa berjalan. "Pa,,, coba papa mengizinkan Reiner memegang perusahaan itu. Mungkin sekarang papa tidak perlu bersusah payah mencari partner kerja seperti sekarang." cicit Reiner.
Saat itu, Tuan Renggo menolak sang putra, Reiner memegang kendali perusahaan. Beliau meremehkan kemampuan Reiner yang memang belum pernah memegang kendali perusahaan.
Alhasil, Tuan Renggo malah memberikan Reiner perusahaan kecil yang memang sudah lama tak terlalu dia urus. Dan perusahaan tersebut bahkan juga diambang kebangkrutan.
"Kamu jangan jumawa. Hanya bisa menyelamatkan perusahaan kecil saja, sudah membuat kamu lupa. Ingat,,, perusahaan ini dengan perusahaan papa itu berbeda. Kamu paham. Jika saat itu kamu yang memegang, pasti sekarang perusahaan itu sudah tidak ada lagi." ujar Tuan Renggo masih saja meremehkan kemampuan sang putra.
Reiner sadar, percuma jika dirinya berdebat perihal masalah ini dengan sang papa. Sebab dirinya tahu bagaimana keras kepalanya sang papa.
"Pa... Lagi pula kenapa papa bekerja sama dengan mereka. Memilih orang yang salah." keluh Reiner, yang kini dirinya merasa menjadi tumbal atas apa yang sang papa lakukan.
"Tutup mulut kamu. Tuan Darwin secara sepihak memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan papa. Apa kamu pikir, papa tidak pusing." tukas Tuan Renggo.
"Hidup kamu akan mudah ke depannya. Seharusnya kamu bisa berpikir sampai ke sana." lanjut Nyonya Pipit.
Reiner tersenyum sinis. "Katakan saja jika mama dan papa menjual Reiner untuk bisnis." ketus Reiner.
"Reiner." seru Tuan Renggo dan Nyonya Pipit serempak.
"Bukannya hidup enak. Reiner akan jadi budak perempuan itu ma." keluh Reiner merasa geram.
"Lalu apa yang kamu inginkan. Lihat, Tuan Darwin bahkan sudah tidak peduli pada kita lagi." sinis Nyonya Pipit.
"Mama salah. Bahkan hingga detik ini, perusahaan Reiner masih bekerja sama dengan perusahaan om Darwin. Kami masih berhubungan baik ma." jelas Reiner dengan jujur.
__ADS_1
"Sebentar lagi kamu pasti juga akan di buang." ketus Nyonya Pipit tak kalah keras kepala seperti sang suami.
"Reiner akan mencoba berbicara dengan Tuan Darwin. Siapa tahu om Darwin mau membantu perusahaan papa." pinta Reiner.
Berusaha supaya kedua orang tuanya jauh dari keluarga sang perempuan. Sebab Reiner sudah mempunyai firasat yang tidak enak dalam hatinya.
"Jangan membuat malu papa Reiner. Jika kamu melakukannya, itu sama saja kamu menyuruh kami untuk mengemis pada Darwin. Dan papa tidak sudi melakukannya." tolak Tuan Renggo.
"Benar kata papa kamu. Jangan lagi berhubungan dengan keluarga itu. Sama sekali tidak memberi keuntungan bagi keluarga kita." timpal Nyonya Pipit.
"Nanti malam, temui dia. Jangan banyak alasan. Jika kamu tidak datang ke tempat itu, lebih baik jangan pernah menganggap jika kami orang tua kamu." tegas Tuan Renggo tidak bisa dibantah.
Reiner memasang ekspresi kecewa. "Pa... Kenapa,, kenapa papa tega. Reiner sama sekali tidak menyukai perempuan itu."
"Lalu siapa yang kamu sukai. Zoya?" tanya Nyonya Pipit menekankan nama sang perempuan yang masih bercongkol di dalam hati sang putra.
"Jangan bodoh Reiner. Dia sudah sekarat. Dan tinggal menunggu waktu saja." ujar Tuan Renggo.
"Zoya. Lagi pula, perempuan itu jauh lebih cantik dari Zoya. Dia jauh lebih baik dari Zoya. Dia juga sangat baik pada mama dan papa." cocot Nyonya Pipit memuji sang perempuan yang akan dijodohkan dengan Reiner.
"Pokoknya mama ingin nanti malam kamu temui dia. Mama tidak mau mendengarkan penolakan. Jadilah lelaki yang pintar. Jangan bodoh." tekan Nyonya Pipit.
Kedua orang tua Reiner pergi meninggalkan perusahaan Reiner dengan meninggalkan ancaman. Tentu saja mereka ingin Reiner menemui perempuan tersebut.
"Hah.... Apa yang diberikan mereka pada papa dan mama." lirih Reiner.
Reiner paham betul bagaimana sifat papa dan mamanya. Uang, harta, kekayaan, jabatan adalah segalanya. Bahkan mereka akan siap menjadi seorang penjilat bila itu diperlukan.
"Perempuan itu. Dia terlihat anggun, tapi dia seperti ular. Sial...!! Pasti dia akan mempermalukan gue." tukas Reiner menebak tujuan sang perempuan mengajaknya bertemu nanti malam.
__ADS_1
Reiner tersenyum miring. "Elo belum tahu siapa Reiner. Kita lihat, siapa yang akan kalah nanti malam." lirih Reiner.
Yang artinya Reiner akan menemui perempuan tersebut nanti malam. Dan dirinya harus sudah siap dengan kemungkinan yang terjadi. Sebab dirinya yakin, jika perempuan tersebut punya maksud tertentu.