MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 06


__ADS_3

"Kemana Yaya?" Bu Murni duduk di kursi yang ada di teras. Selalu menatap ke arah jalan, dimana Yaya akan melewati jalan tersebut.


Raut wajahnya terlihat cemas, menunggu sang putri tercinta yang tak kunjung terlihat.


Pak Endri keluar dari rumah. "Sabar bu, mungkin Yaya sedang lembur." ujar Pak Endri menenangkan sang istri.


Kenyataannya, dirinya juga merasa khawatir. Namun beliau tidak menunjukkannya pada sang istri.


Bagaimana mereka tidak khawatir. Putri satu-satunya yang mereka sayangi sepenuh hati belum pulang dari tempat dia bekerja. Terlebih hari semakin malam, dan hujan semakin deras.


"Apa ibu sudah mencoba menghubunginya?"


Bu Murni mengangguk. "Ponselnya tidak aktif pak." tampak raut wajah cemas di keduanya.


"Bagaimana ini pak?" Bu Murni memegang lengan sang suami.


"Bapak akan ke kantor Yaya. Siapa tahu dia terjebak di sana karena hujan." ujar pak Endri, berharap Yaya masih di kantor tempatnya bekerja. Berada di sana karena tidak membawa jas hujan.


"Biarkan ibu ikut? Ibu malah bertambah khawatir jika di rumah sendirian." pinta bu Murni.


Keduanya bergegas pergi ke tempat di mana sang putri bekerja. Dengan menaiki mobil pick up yang biasanya digunakan pak Endri untuk berbelanja.


Meski hujan masih sangat deras mereka tetap pergi ke sana. Pikiran mereka benar-benar tidak tenang, sebelum mengetahui keberadaan dan kondisi Yaya.


Keduanya menghentikan kendaraan mereka di depan gerbang perusahan. Turun dan berjalan ke pos satpam menggunakan payung.


"Permisi pak." ucap Pak Hendri.


"Iya pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu satpam. Sebab ada dia satpam yang sedang berjaga.


"Masuk duku bu, pak." pinta pak satpam, sebab hujan semakin deras.


Pak Endri dan Bu Murni masuk ke dalam ruangan kecil tersebut. Menaruh payungnya di luar. "Pak, kami mencari anak kami." ucap bu Murni.


Kedua satpam saling memandang, lalu kembali menatap pasangan suami istri tersebut. "Putri kami bekerja di perusahaan ini. Dan hingga sekarang dia belum pulang."


"Maaf, jika boleh tahu. Namanya siapa?"


"Yaya. Nama lengkap putri saya Mazoya." jelas Bu Murni segera.

__ADS_1


"Ohh... mbak Yaya yang bertubuh gemuk itu?" tanya pak satpam memastikan.


"Benar pak. Dia putri kami." tukas Bu Murni.


Mereka sedari tadi memang belum keliling perusahaan karena hujan. "Sebentar buk, kami akan tanya teman kami yang berada di ruang CCTV."


"Baik pak, akan kami tunggu di sini."


Pak satpam segera berlari menebus hujan untuk sampai ke ruangan CCTV. "Apa ibu sudah menghubungi mbak Yaya?"


"Sudah pak, tapi nomornya tidak aktif." terlihat raut cemas di wajah bu Murni.


"Sebentar ya buk, saya coba cek ke parkiran." pamit pak satpam.


Segera pak satpam memakai mantel dan bergegas menuju area parkir. "Silahkan pak."


Pak Endri hanya berdua dengan sang istri di ruang pos jaga. Mereka juga masih cemas. Apalagi kedua satpam juga terlihat tidak mengetahui keberadaan putrinya.


Di ruang CCTV, petugas yang berwenang melihat dari layarnya. Mencari keberadaan Yaya. "Ini, terakhir dia berada di lantai paling atas. Mau kemana dia." cicit petugas CCTV, dimana terlihat sosok Yaya di kameranya.


Sedangkan, satpam yang mengecek keberadaan sepeda motor Yaya, menemukan jika sepeda motor yang biasanya digunakan oleh Yaya masih terparkir di area parkir. Sendiri. Tanpa ada kendaraan lain.


"Aku menemukan sepeda motor mbak Yaya masih berada di area parkir." tukasnya, setelah masuk ke dalam.


"Kamu lihat ini." ucap rekannya sesama satpam menunjuk ke arah layar.


"Sebaiknya kalian segera mencari ke sana." saran petugas CCTV.


Kedua satpam bergegas menuju lantai paling atas. Mengecek setiap ruangan di lantai tersebut, seraya memanggil nama Yaya dengan berteriak.


"Nggak ada. Lantas dimana mbak Yaya berada." gumam salah satu satpam.


Mereka menatap tangga yang terhubung dengan ruang terbuka yang ada di lantai paling atas. "Apa tebakan kita sama." ucapnya.


"Sebaiknya kita segera melihatnya."


Kedua petugas keamanan tersebut menaiki anak tangga. Dan berhenti tepat di pintu. "Terkunci." cicitnya, melihat sebuah gembok tergantung dalam keadaan mengunci.


"Mbak Yaya...!" teriak pak satpam seraya menggedor pintu. Berharap jika Yaya ada di dalam, maka Yaya akan bersuara mendengar panggilannya.

__ADS_1


"Mbak Yaya...!!" Berkali-kali keduanya menggedor seraya berteriak. Tapi hasilnya nihil. "Sudah, kalau ada pasti akan bersuara." ujar rekannya menyuruhnya berhenti berteriak.


Bagaimana mau bersuara, Yaya saja dalam keadaan tak sadarkan diri. "Kita kembali, mencari di tempat lain."


Kembali keduanya berputar di ruangan-ruangan paling atas di gedung tersebut. Tetap saja hasilnya nihil.


Sudah hampir setengah jam mereka mencari. Meninggalkan kedua orang tua Yaya di kantor pos jaga. "Apa kita kembali ke pos satpam saja." saran salah satu pak satpam.


Di pos satpam, kedua orang tua Yaya juga tidak bisa tenang. Mereka selalu menatap ke pintu perusahaan. "Pak, apa kita masuk saja. Membantu mereka mencari Yaya." tanya bu Murni.


"Jangan ngawur bu, bukannya membantu, kita malah akan menyusahkan mereka." tukas pak Endri, beliau sadar jika dia serta sang istri sama sekali tidak mengetahui seluk beluk perusahaan.


Yang ada, mereka berdua bukannya membantu. Malah akan menambah pekerjaan pada kedua satpan tersebut. "Tapi mereka kok belum kembali ke sini." cicit bu Murni.


"Sabar. Mereka pasti akan kembali jika ada kabar tentang Yaya." meskipun sebenarnya pak Endri juga merasa khawatir, sebab kedua satpam sampai sekarang belum kembali ke pos jaga untuk memberikan kabar.


Sementara, dua satpam berjalan hendak keluar dari dalam. "Tunggu." cegah rekannya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Kita kembali ke atas. Kita buka pintunya. Bagaimana?" tanya salah satu satpam pada rekannya.


Keduanya saling bersitatap. Ada isyarat dalam kedua mata mereka. Mereke tahu bagaimana para karyawan di perusahaan memperlakukan Yaya.


Mereka takut jika ada yang sengaja menjahili Yaya. "Benar juga."


Keduanya kembali ke atas. Bukan hanya berjalan seperti tadi. Tapi berlari. Mereka mengambil sesuatu untuk membuka gembok yang tergantung di pintu dalam keadaan terkunci.


Kletek......mereka berhasil membukanya dengan mudah. Segera keduanya masuk ke dalam. "Mbak Yaya....!!" seru keduanya bersamaan.


Melihat tubuh Yaya tergeletak tak sadarkan diri di tengah derasnya air hujan yang turun. "Mbak... bangun...!" serunya, mencoba membangunkan Yaya.


"Panggil bagian CCTV. Kita tak mungkin kuat membawa mbak Yaya hanya berdua."


Segera dia mengangguk, kembali berlari ke ruangan CCTV untuk mencari bantuan. Sebab di sana ada dua orang yang sedang berjaga.


Bukan tanpa alasan sang satpam berkata demikian. Pasalnya, bobot tubuh Yaya yang over tentu saja menjadi pertimbangannya.


Di atas, satpam yang menemani Yaya terus berusaha membangunkan Yaya di tengah hujan terus mengguyur.

__ADS_1


__ADS_2