
Pagi hari, Milly terbangun dari tidurnya tanpa ada Tuan Darwin di sampingnya. Masih dengan mata sedikit terpejam, Milly meraba meja kecil di sebelah ranjang tempat tidurnya.
Diraihnya benda pipih yang berada di atas meja. Milly menghembuskan nafas kasar, melihat angka yang tertera di layar ponselnya.
Belum terlambat untuk bangun dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Hanya saja, tubuh Milly terasa remuk semua. "Tua bangka sialan....!!" teriak Milly, menyibak selimutnya, melemparkan dengan kasar ke lantai.
Tak ada air mata yang keluar dari kedua matanya. Hanya ada rasa kesal dan marah pada papa dari temanya tersebut.
Milly mengelus perutnya yang rata. "Gue harus memastikan, tidak ada benih di dalam perut gue." ucap Milly sembari memandang ke arah perutnya, yang tak terhalang kain sehelaipun.
Tampak jejak-jejak percintaan yang ditinggalkan oleh Tuan Darwin semalam di kulit mulus Milly. "Menjijikkan." dengus Milly, teringat malam dirinya dipaksa melayani Tuan Darwin tanpa menggunakan pengaman. Bahkan, Tuan Darwin terus menyetubuhinya, meski Milly sudah mengatakan untuk berhenti.
Menjijikkan. Kata yang seharusnya tidak terucap. Sebab, selama ini kegiatan tersebut telah dia jalani lebih dari setahun lamanya. Dan Milly melakukannya dengan suka rela tanpa dipaksa.
"Jangan sampai gue hamil." pungkasnya, yang sama sekali tidak berniat menjadi istri dari Tuan Darwin.
Jika saja Milly benar-benar mengandung benih Tuan Darwin, bisa dipastikan jika keinginan Milly mempunyai suami tampan dan kaya tak akan terlaksana.
"Reiner,,,,,!! Dia yang harus menjadi suami gue." tukas Milly, meremas erat sprei di bawahnya.
Tentunya Milly tidak mau dikenal sebagai istri kedua dari Tuan Darwin. Terlihat menggiurkan. Hanya saja, Milly tidak berniat.
Dirinya tentu saja memiliki angan-angan untuk menjadi seorang perempuan terhormat. Meski apa yang dilakukannya selama ini jauh dari kata tersebut.
Milly menjambak rambutnya dengan kasar. "Sialan, kenapa tiba-tiba bandot tua itu ingin menikahi gue." geramnya. Yang sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di dalam otak Tuan Darwin.
Sementara itu, di kediamannya, Nyonya Ratna sudah dikejutkan dengan sebuah kertas yang berada di tangannya. Dan itu diberikan oleh sang suami saat hari masih pagi.
Semalam, Tuan Darwin pulang menjelang subuh. Nyonya Ratna tak berani bertanya mengenai alasan sang suami pulang hampir subuh.
Apalagi tampak jelas raut wajah Tuan Darwin yang terlihat masam. Nyonya Ratna memilih mengabaikannya, dari pada terjadi pertengkaran di saat semua orang sudah terlelap.
__ADS_1
Lagipula, seharian badan Nyonya Ratna juga sudah terlalu letih. Karena menemani Zoya. Meski ada perawat di samping Zoya, tapi Nyonya Ratna sesekali turun tangan sendiri membersihkan badan Zoya, tentunya dibantu sang perawat.
"Apa ini pa?" tanya Nyonya Ratna dengan nada bergetar, dan kedua mata memerah menahan air mata. Padahal beliau bisa membacanya dengan jelas. Dan Nyonya Ratna tahu arti di tulisan kertas tersebut.
"Aku ingin menikah lagi." ujar Tuan Darwin tanpa berbasa-basi, mengatakan keinginannya untuk mempunyai istri selain Nyonya Ratna.
Tuan Darwin dengan tenang mengatakannya. Seakan apa yang telah disampaikannya bukanlah hal yang bisa membuat hati sang istri hancur.
Nyonya Ratna menelan ludahnya dengan kasar. Dengan cepat, tangannya mengusap air mata yang terjatuh di kedua pipinya.
Bisa ditebak, jika Nyonya Ratna sebenarnya sudah mencium gelagat mencurigakan dari sang suami. Hanya saja, beliau hanya bisa menerka. Tanpa mencari tahu.
Nyonya Ratna bukan perempuan tangguh. Bukan perempuan yang berasal dari keluarga kaya yang memiliki kekuatan serta kekuasaan.
Dirinya hanyalah perempuan yang berasal dari keluarga sederhana. Dan menjadi sebuah keberuntungan, dipersunting oleh Tuan Darwin.
Dan selama ini, Nyonya Ratna hanya menggunakan nama besar sang suami. Tanpa bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
"Katakan. Apa alasan kamu, memintaku untuk menyetujui pernikahan kedua kamu?" tanya Nyonya Ratna tak sanggup memandang sang suami.
Nyonya Ratna tersenyum kecut. Sang putri masih hidup. Meski sekarang terbaring tak berdaya. Tapi setidaknya, dia masih bernafas.
Tapi, sang suami dengan tega mengatakan jika dirinya menginginkan keturunan. Ingin sekali Nyonya Ratna berteriak. Mengatakan jika putrinya pasti akan kembali membuka mata. Sayangnya, suaranya seakan tercekat di tenggorokan.
"Kita tahu sendiri, bagaimana keadaan Zoya. Dan juga, kamu tidak mungkin memberikan aku keturunan lagi." jelas Tuan Darwin memandang intens ke arah sang istri, yang sama sekali tidak menatap ke wajahnya.
Nyonya Ratna tidak akan menyangka, akan mendapatkan cobaan seberat ini di saat usianya telah beranjak tua.
Keinginan untuk mendapatkan cucu dari sang putri telah musnah. Dan sekarang, dirinya malah akan mendapatkan madu.
Nyonya Ratna tersenyum kecut, memberanikan diri memandang ke arah sang suami. "Bagaimana jika aku tidak setuju." ujar Nyonya Ratna.
__ADS_1
"Aku akan memberhentikan biaya pengobatan Zoya." tegas Tuan Darwin, seakan Zoya bukanlah putri kandungnya.
Padahal, saat Zoya masih sehat, dialah yang selalu menjadi kebanggaannya. Nama Zoya selalu Tuan Darwin sebut dengan mata penuh sayang. Tapi sekarang, semua berubah. Disaat Zoya tak lagi seperti dulu.
Nyonya Ratna tersenyum sinis mendengar perkataan sang suami. "Menghentikan pengobatan Zoya." cicitnya mengatakan kembali apa yang Tuan Darwin katakan. Merasa jika Zoya hanyalah putrinya. Bukan putri sang suami.
Nyonya Ratna menggenggam erat kedua telapak tangannya. "Ceraikan aku, dan menikahlah. Untuk pengobatan Zoya, aku minta, kamu terus melanjutkannya." pinta Nyonya Ratna, menahan air matanya.
Tuan Darwin terdiam sejenak. Beliau lalu beranjak dari duduknya. "Tanda tangani saja. Jangan banyak mengajukan syarat." tukasnya, meninggalkan kamar. Mengacuhkan permintaan sang istri.
Perkataan Tuan Darwin menyiratkan jika beliau tidak akan menceraikan Nyonya Ratna. Dan akan tetap menikah.
"Siapa perempuan itu...?!" seru Nyonya Ratna. Sayangnya, Tuan Darwin terus melangkahkan kakinya tanpa mengatakan apapun.
Sepeninggal sang suami, tubuh Nyonya Ratna luruh ke lantai. Bersandar di kursi, dengan wajah berada di atas kursi.
Air mata yang sedari tadi ditahan, mengalir tak terbendung. "Maaf sayang. Maafkan mama. Apa yang harus mama lakukan." lirihnya di sela tangisnya.
Nyonya Ratna memukul-mukulkan tangannya ke sofa dengan keras. "Kenapa pa, kenapa. Kenapa baru sekarang." isaknya.
Mungkin, jika sang suami mengatakan disaat keadaan Zoya baik-baik saja, kemungkinan besar hati Nyonya Ratna tidak akan sesakit ini. Sebab ada sang putri disisinya.
Tapi saat ini, dirinya seperti hidup seorang diri. Ditambah lagi Nyonya Ratna harus memikirkan keadaan Zoya. "Mama yakin. Kamu akan bangun. Mama yakin." kekeh Nyonya Ratna, merasa seluruh perasaannya hancur berkeping-keping.
Didepan rumah Tuan Darwin, Zoya masih berada di dalam taksi. Dirinya tahu, jika sang papa masih ada di alam rumah. Mengingat mobil yang biasanya dikendarai Tuan Darwin masih terparkir di depan teras rumah..
Karena itulah, Zoya memilih untuk tetap berada di dalam taksi. Menunggu Tuan Darwin keluar dari rumah. Barulah dirinya masuk ke dalam rumah. Menemui sang mama.
Zoya yakin, sebentar lagi pemilik rumah tersebut akan meninggalkan rumah mewah tersebut. Sebab, tampak seorang sopir kepercayaan Tuan Darwin sudah berdiri di samping mobil.
"Jika saja gue bisa membuat dia buka mulut. Pasti akan menjadi lebih mudah." batin Zoya.
__ADS_1
Berandai-andai jika dirinya bisa mengorek informasi dari sang sopir kepercayaan sang papa, Zoya yakin dirinya akan mendapatkan informasi yang banyak dan akurat.
Tanpa Zoya tahu, jika di dalam rumah sang mama sedang menangis. Memikirkan apa yang akan dia lalui, bersama sang putri. Jika Tuan Darwin benar-benar akan menikah lagi.