MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 65


__ADS_3

Miko merasa penasaran kemana Zoya akan pergi. "Setahu gue, dia akan langsung pulang setelah selesai kerja." cicit Miko yang ada di dalam mobilnya. Melihat Zoya sudah mulai menjalankan motornya untuk meninggalkan perusahaan.


Miko mengetahui jika Zoya akan langsung pulang selesai bekerja, karena dirinya pernah beberapa kali mengikuti Zoya sampai ke rumahnya. Entah apa tujuan Miko melakukan hal tersebut. Hanya dia sendiri yang paham.


Rasa penasaran Miko, membuat Miko memutuskan untuk mengikuti kemana Zoya pergi. Betapa terkejutnya Miko, setelah mengetahui tempat yang dituju oleh Zoya.


"Bukankah itu rumah Tuan Darwin. Untuk apa dia pergi ke sana?" tanya Miko, melihat Zoya masuk ke dalam rumah Tuan Darwin begitu pintu gerbang dibuka daei dalam oleh petugas keamanan yang bekerja di rumah Tuan Darwin.


Miko terdiam di dalam mobil. Memikirkan alasan Zoya berkunjung ke rumah Tuan Darwin. "Tidak mungkin untuk alasan pekerjaan." cicit Miko bermonolog. Sebab dia tahu jika Tuan Darwin masih berada di perusahaan.


"Lalu,,, untuk apa Zoya ke sana?" tanya Miko pada dirinya sendiri berkali-kali. Sayangnya, Miko tidak bisa mencari tahu. Sehingga dirinya hanya bisa merasakan penasaran.


Mana mungkin Miko keluar dari mobil dan bertanya pada satpam yang menjaga keamanan di kediaman Tuan Darwin. Yang ada dia akan ketahuan jika sudah membuntuti Zoya sampai di sini.


Miko tak segera pergi meninggalkan tempatnya. Dia masih berdiam diri di dalam mobil dengan mata mengarah ke gerbang. "Ngapain gue juga tetap di sini. Kalau ternyata Zoya lama, bokong gue bisa panas." cicit Miko, mulai menyalakan mesin mobilnya.


Namun niatnya meninggalkan tempat tersebut seketika terhenti melihat sebuah mobil yang tampak familiar masuk ke dalam rumah Tuan Darwin. "Gue,,,,, gue nggak mungkin salah lihat." cicit Miko, menatap sekilas seorang lelaki yang mengemudikan mobil tersebut.


"Dia... Dia, bukankah dia Zain." tebak Miko. Dimana dirinya memang mengenal sosok Zain. Sangat mengenal.


"Dia masuk ke dalam. Berarti, dia bertemu dengan Zoya. Apa merela berdua saling kenal?" cicit Miko dengan tidak tenang.


"Aa..!!" seru Miko tertahan dengan tangan memukul stir mobil di depannya.


"Tunggu,,, pasti Zain datang untuk memeriksa Zoya. Putri Tuan Darwin. Tapi Zoya,,, untuk apa dia ke sini." tutur Miko, memikirkan kenapa Zoya yang dulu dipanggil dengan nama Yaya mendatangi rumah Tuan Darwin.


Padahal bukan rahasia umum lagi, jika selama ini, Zoya, putri dari Tuan Darwin memperlakukan Yaya dengan sangat buruk.


Miko mengacak rambutnya dengan kasar sembari menghela nafas kasar. "Entahlah. Kepala gue malah terasa mau pecah memikirkan ini semua." lirik Miko yang akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan tempatnya.


Meski Miko tetap di sana. Miko tahu jika dirinya tetap tidak akan memperoleh apapun. Yang ada dia hanya akan membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak akan pernah dia ketahui jawabannya.


Di perusahaan, Tuan Darwin belum beranjak dari tempat duduknya. Kedua matanya masih lekat memandang brangkas tempat dia meletakkan beberapa barang yang menurut dia cukup penting.


Dalam pikiran Tuan Darwin, masih memikirkan dimana selembar surat yang dia tulis dan dia tanda tangani tersebut berada. "Aku mengingat dengan benar. Jika aku meletakkannya di dalam brankas." cicit Tuan Darwin.


Beliau tentu saja tidak berpikir jika ini adalah sebuah pencurian. Sebab barang lainnya masih ada di brangkas. Juga dengan sejumlah uang yang dia letakkan di sana.


"Apa aku menaruhnya di brangkas rumah." tebak Tuan Darwin mencoba mengingatnya.


Tuan Darwin meraup wajahnya dengan kasar. Ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunannya. "Masuk...!" seru Tuan Darwin pada seseorang di luar pintu. Dan beliau tahu siapa yang akan masuk ke dalam ruangannya.


Sang sekertaris. "Maaf Tuan, saya hanya mengingatkan. Jika nanti malam anda ada acara untuk makan malam dengan Tuan Benyamin." tutur sang sekertaris mengingatkan atasannya tersebut.


Tuan Darwin mengangguk. "Jika tidak ada yang saya kerjakan lagi, saya pamit pulang Tuan." lanjut sang sekertaris.


Sebab jam pulang memang sudah sedari tadi. Tapi dia tinggal beberapa waktu di perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Pulanglah." sahut Tuan Darwin.


Sang sekertaris sedikit membungkukkan badannya. "Terimakasih." cicitnya dengan sopan, segera keluar dari ruangan Tuan Darwin dan kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Sebab besok dirinya akan kembali disibukkan dengan setumpuk berkas kembali.


Tuan Darwin memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Makan malam." lirihnya, dimana dia lupa jika nanti malam dirinya sudah ada janji dengan seseorang, jika tidak diingatkan oleh sang sekertaris.


"Tidak mungkin saya mengajak Milly." lanjut Tuan Darwin, sempat terbesit wajah Milly.


Tuan Darwin mengeluarkan ponselnya. Mencoba menghubungi Nyonya Ratna, namun panggilan teleponnya tidak diangkat oleh sang istri.


"Cckk,,,, kemana perginya Ratna." geram Tuan Darwin meletakkan ponselnya di atas meja.


Tidak mungkin Tuan Darwin pergi seorang diri tanpa membawa sang istri. Terlebih makan malam ini bukan makan malam yang akan membicarakan bisnis atau pekerjaan.


Tapi lebih kepada makan malam untuk menjalin silaturahmi. Dan pasti Tuan Benyamin juga akan membawa keluarganya. Sungguh tak pantas jika Tuan Darwin pergi seorang diri tanpa ditemani sang istri..


"Telepon rumah." tukas Tuan Darwin memutuskan untuk menghubungi nomor telepon rumah.


Menyuruh sang pembantu untuk mengatakan pada Nyonya Ratna, jika nanti malam ada acara di luar untuk makan malam bersama dirinya.

__ADS_1


Tuan Darwin memasukkan ponselnya ke saku. Mengambil jas yang dia taruh di senderan kursi, lalu dipakainya. Dengan langkah tegap penuh wibawa, Tuan Darwin meninggalkan perusahaan.


Apartemen Milly adalah tujuannya sekarang. Sebelum nanti malam dia akan pulang menjemput sang istri, untuk dia ajak datang ke acara makan malam di sebuah restoran.


Sedangkan Reiner berdiri di dekat jendela. Dia juga belum meninggalkan perusahaannya, meskipun pekerjaannya untuk hari ini telah selesai.


"Perempuan itu. Bagaimana bisa papa dan mama menyuruh gue untuk menemui dia. Yang ada gue akan dijadikan alas kakinya." lirih Reiner, bisa membaca karakter sang perempuan dari wajahnya.


"Zoya....!! Kenapa semua ini terjadi pada kamu sayang.... Maafkan aku." cicit Reiner masih dihantui rasa bersalah. Secara tak langsung, dirinya yang menyebabkan Zoya mengalami kecelakaan.


Perkataan sang papa masih terekam jelas di dalam benaknya. Jika Zoya kemungkinan besar tidak akan bisa membuka kedua matanya.


Apalagi, bukan hanya sang papa yang mengatakan hal demikian. Bahkan Tuan Darwin, papa dari Zoya juga menyarankan dirinya untuk melupakan Zoya. Dan meneruskan kehidupannya untuk mencari pengganti Zoya.


"Jika masalah perempuan, gue nggak terlalu pusing. Gue bisa mendapatkan perempuan mana saja yang gue inginkan." cicit Reiner memandang jauh lurus ke depan.


"Tapi,,, akan sulit menemukan perempuan seperti Zoya." lanjut Reiner.


Selama ini, hubungan yang terjalin antara Reiner dan Zoya berjalan baik. Semua dikarenakan Zoya yang tidak terlalu mengekangnya. Ditambah lagi, Zoya menaruh kepercayaan seratus persen pada dirinya.


Satu lagi, jika dirinya atau keluarganya sedang dalam masalah, Zoya pasti akan membantunya tanpa meminta embel-embel di belakangnya.


Tapi ada satu yang Reiner tidak bisa dapatkan dari Zoya. Yakni tubuh Zoya. Meski Zoya terkenal dengan pergaulannya yang sedikit nakal, perlu diketahui. Jika selama ini Zoya sangat menjaga dirinya.


Dia bahkan tidak memberikan tubuhnya pada Reiner. Meski keduanya sudah menjalin hubungan sebagai kekasih lumayan lama. Bahkan keluarga keduanya juga sudah memberi restu. Yang artinya pernikahan mereka sudah didepan mata.


Dan kemungkinan besar, karena hal tersebutlah yang membuat Reiner selalu mencari perempuan untuk memuaskan hasratnya di atas ranjang tanpa sepengetahuan Zoya. Sebab dia tidak mendapatkan hal tersebut dari Zoya.


Lamunan Reiner terhenti saat ponselnya yang berada di dalam saku bergetar dan bersuara. Dengan sedikit malas, Reiner mengeluarkan ponselnya. Melihat siapa gerangan yang menghubunginya.


Kening Reiner mengernyit saat di layar ponselnya hanya tertera angka, tanpa ada namanya. Yang berarti Reiner belum menyimpan nomor tersebut, atau tidak tahu siapa yang sedang menghubunginya.


Reiner menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya. Menempelkan benda pipi tersebut di dekat telinga kiri.


Reiner hanya diam. Mendengarkan orang yang menghubunginya berbicara padanya. Lalu dia mematikan panggilan teleponnya begitu saja, tanpa menunggu Reiner mengeluarkan suara.


"Alice....!!"


Reiner menggenggam erat ponsel di dalam telapak tangannya. "Dia pikir, siapa dia. Seenaknya memerintah gue dan mengancam...!!" geram Reiner.


Reiner menghela nafas pendek, dan menghembuskannya dengan kasar. Dengan tenang, Reiner mencoba menahan amarahnya. "Gue harus bisa menahan emosi gue." lirih Reiner.


Reiner berdecak. Berjalan meninggalkan perusahaan untuk bertemu dengan Alice. Sesuai apa yang dikatakan oleh Alice saat dia menghubunginya lewat ponsel.


Reiner memukul stir kemudi. "Sungguh, gue sangat malas bertemu dengan dia." keluh Reiner.


Jika dilihat, Alice memang tak kalah cantik dan seksi dari Zoya. Bahkan dia juga berasal dari keluarga yang kaya raya bergelimang harta.


Hanya saja, Reiner bisa menebak jika Alice tipe perempuan yang penuh dengan peraturan. Dan ingin diperhatikan serta sangat manja. Satu lagi, Reiner menebak jika Alice sudah cukup mahir berhubungan dengan banyak lelaki di atas ranjang.


Meski rasanya sangat enggan dan malas, Reiner melajukan mobilnya ke apartemen Alice. Sepanjang perjalanan, Reiner terus mengeluh, mengumpat serta memukul stir untuk melampiaskan rasa kesalnya.


Sampainya di parkiran area apartemen, Reiner tak segera turun dari mobil. "Kenapa kaki ini rasanya sangat berat untuk melangkah." cicitnya.


Reiner kembali berdecak dan menghela nafas panjang. Meninggalkan mobilnya untuk masuk ke dalam apartemen Alice. "Untuk apa dia mengundang gue ke apartemennya." gumam Reiner.


Reiner berjalan sebentar dan naik lift untuk sampai ke lantai di mana apartemen Alice berada. Reiner berdiri di depan pintu. Yang dia perkirakan adalah apartemen Alice. Sebab hanya ada satu apartemen di lantai yang dia pijak sekarang.


Reiner tidak kaget ataupun terkejut. Memang seperti itulah kehidupan perempuan sosialita seperti Alice. Menggunakan uang keluarga untuk memenuhi apa yang dia ingin lakukan.


Baru saja Reiner ingin menekan tombol di samping pintu, tapi pintu terlebih dahulu terbuka dari dalam. "Selamat datang, Reiner." sapa Alice dengan pakaian yang sangat minim dan ketat.


Pakaian yang dikenakan Alice seperti sebuah kemben dengan warna biru muda. Memperlihatkan sebagian buah dadanya, yang memang tidak muat di tampung di dalam.


Sedangkan panjangnya tepat di bawah pantat. Sehingga, apabila Alice menunduk, pasti akan terlihat bagian dalam milik Alice.


Reiner masuk begitu saja tanpa dipersilahkan oleh sang empunya apartemen. Duduk dengan tenang di kursi ruang tamu.

__ADS_1


Alice tersenyum penuh makna. Ditutupnya pintu yang tadi sempat dia buka, dan duduk tepat di sebelah Reiner.


"Apa di apartemen elo nggak ada air minum?" sarkas Reiner, bertanya tanpa menatap ke arah Alice.


Bukannya segera mengambilkan air minum untuk Reiner, Alice malah memainkan jari jemari lentiknya di wajah tampan Reiner.


"Sejak pertama bertemu, gue memang sudah menyukai elo. Dan Tuhan mendengar do'a gue. Dia punya cara tersendiri untuk mempertemukan elo dengan gue." tukas Alice memandang wajah tampan Reiner seperti ingin melahapnya.


"Gue nggak suka perempuan yang terlalu aktif." sindir Reiner, berharap Alice menjauh darinya. Perut Reiner terasa mual mencium wangi parfum yang dikenakan Alice. Sungguh sangat menusuk hidung.


Alice memasang wajah sedih dengan bibir cemberut. "Padahal gue berpakaian seperti ini untuk menyambut kedatangan elo."


Bukannya menjauh, Alice malah meletakkan kepalanya di pundak Reiner. Menatap wajah Reiner dari samping.


"Elo nggak perlu sok suci dan berpura-pura baik. Gue tahu, jika elo pernah menyewa jasa perempuan untuk membuat elo senang di atas ranjang." bisik Alice.


Tapi Reiner hanya acuh. Sama sekali tidak menanggapi kalimat yang baru saja dikatakan oleh Alice. Toh dirinya tidak perlu takut jika semua terungkap. Sebab dirinya dipastikan tidak akan berhubungan dengan Zoya, meski Zoya sadar.


Karena kedua orang tuanya saat ini sudah menentukan pilihan mereka. "Apa Zoya sangat lemah. Hingga elo memilih untuk menyewa perempuan lain." cicit Alice menghina Zoya.


Reiner langsung menatap tajam ke arah Alice dengan rahang mengeras sempurna. "Ada apa elo panggil gue?!" tanya Reiner dengan nada yang terdengar kasar.


Emosinya bisa meledak kapan saja jika dia terus berada di sisi perempuan ini. Dan Reiner saat ini sangat mencegah hal tersebut. Dia malas harus berdebat dengan kedua orang tuanya.


Alice duduk dengan menyender punggungnya. Mengangkat sebelah kakinya untuk dia letakkan di kaki satunya. Memperlihatkan paha mulus tanpa cela.


Sayangnya, Reiner sama sekali tidak tertarik untuk datang menikmati keindahan yang ada di depan matanya.


"Nanti malam kelurga gue ada acara. Makan malam dengan keluarga sahabat papa. Dan gue ingin elo datang untuk menemani gue." pinta Alice.


Reiner menyugar kasar rambutnya. "Kenapa elo nggak bilang waktu telepon tadi." geram Reiner. Dimana Alice malah menyuruhnya untuk datang ke apartemennya, alih-alih mengatakan apa yang dia inginkan.


Alice mengatakan ada masalah penting yang ingin dia bicarakan. Bahkan Alice sempat mengancam Reiner, jika Reiner tidak datang.


"Karena gue ingin melihat wajah tampan elo." sahut Alice tanpa rasa bersalah.


Reiner berdiri, hendak pergi meninggalkan apartemen Alice. "Elo mau kemana?!" tanya Alice dengan nada tinggi.


"Pulang." sahut Reiner, tanpa membalikkan badannya untuk menatap Alice.


"No. Gue mau elo menemani gue di sini." pinta Alice.


Reiner tersenyum miring. "Pilihan ada di tangan elo. Gue akan tetap di sini, menemani elo. Tapi gue nggak akan pergi ke acara nanti malam. Atau sebaliknya. Gue pergi sekarang, dan nanti malam gue pasti akan datang." ujar Reiner memberikan pilihan pada Alice.


Alice menatap punggung Reiner dengan kesal. "Cepat, katakan apa pilihan elo. Gue nggak punya banyak waktu." seru Reiner.


"Pilihan ke dua. Dan jangan sampai elo terlambat." sahut Alice.


Tanpa mengatakan apapun, Reiner pergi begitu saja meninggalkan Alice. Reiner merasa senang, karena bisa terbebas dari perempuan seperti Alice. Meski nanti malam dia harus menemani Alice datang ke acara makan malam tersebut.


Di apartemen, Alice tersenyum penuh makna. Dirinya sudah tahu dengan siapa keluarganya nanti malam akan makan malam bersama.


Dan Alice sengaja merencanakan hal tersebut. Mengajak Reiner untuk menemaninya datang ke acara nanti malam.


"Reiner,,, nanti malam elo pasti akan terkejut." cicit Alice, tak masalah jika dirinya sekarang tidak ditemani Reiner. Yang pasti nanti malam dia akan membuat Reiner merasa terkejut dengan surprise nya.


Di kediaman Tuan Darwin, sang pembantu memberitahu Nyonya Ratna jika Tuan mereka baru saja menelponnya, dan berpesan untuk memberitahu Nyonya Ratna perihal makan malam yang akan diadakan nanti malam.


"Hah... Kenapa dia tidak mengajak Milly saja. Sangat malas rasanya pergi bersama dia." batin Nyonya Ratna sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk ikut.


"Oh iya, aku sampai lupa. Jika aku akan menghubungi Yaya. Dan memberitahu nomor ponsel baru ku. Serta nomor ponsel Gina." tukas Nyonya Ratna dengan semangat menghubungi Zoya.


Keduanya berbincang sebentar melalui ponsel. Bahkan Nyonya Ratna juga memberitahu Zoya perihal acara makan malam nanti.


Entah apa yang Zoya rencanakan. Dia menyuruh Nyonya Ratna untuk ikut Tuan Darwin ke acara tersebut. Bukan hanya itu, Zoya menyuruh sang mama untuk berpenampilan secantik mungkin.


Awalnya Nyonya Ratna menolak keinginan Zoya. Tapi Zoya mengatakan rencananya pada Nyonya Ratna. Yang membuat Nyonya Ratna menyetujui apa yang Zoya katakan.

__ADS_1


"Terimakasih Yaya. Kamu selalu ada untuk tante. Terimakasih banyak. Tante merasa ada Zoya, putri tante berada di samping tante." lirih Nyonya Ratna, memandang ponselnya yang telah mati. Karema percakapan mereka telah berakhir beberapa detik yang lalu.


Tanpa Nyonya Ratna ketahui, dia memang Zoya. Putrinya yang terjebak di dalam tubuh milik Yaya. Itulah alasan Zoya selalu melakukan berbagai cara untuk membuat Nyonya Ratna bersemangat.


__ADS_2