MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 74


__ADS_3

Zoya duduk dengan kedua kaki bersila di atas lantai keramik ada di dalam kamarnya. "Semua berjalan dengan lancar. Sesuai apa yang gue inginkan. Sayangnya gue tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan Milly sekarang." cicit Zoya.


Nyonya Ratna langsung mengirimkan pesan tertulis pada Zoya, begitu dia menaiki mobil online yang dia pesan. Membiarkan sang suami pergi menemui perempuan yang telah merusak rumah tangganya.


Nyonya Ratna mengatakan jika Tuan Darwin kemungkinan besar sedang menuju apartemen atau rumah Milly. Sehingga Nyonya Ratna memilih turun di tengah perjalanan.


Zoya pastinya merasa penasaran tentang apa yang dilakukan sang papa pada Milly. Zoya hapal betul bagaimana tabiat serta watak sang papa saat dia sedang merasakan cemburu.


Apalagi jika merasa dirinya tidak dihargai dan diremehkan. Atau dibohongi. Maka sang papa pasti akan marah dan murka. Masalah terbesarnya, Tuan Darwin akan kehilangan kendali atas dirinya. Sehingga dia akan melakukan hal yang terlihat kejam.


"Aahhh... Ckk,,, coba saja gue punya akses CCTV yang ada di apartemen Milly. Pasti gue bisa melihat apa yang terjadi." cicit Milly merasa penasaran.


Zoya menatap ke benda yang sedang dia pegang. Membolak-balikkan benda tersebut, tapi pikirannya tertuju pada Milly. "Apa mungkin papa sampai main tangan." batin Zoya dengan serius.


Zoya tersenyum licik. "Tapi tidak apa jika papa main tangan. Syukur-syukur jika membuat Milly sekarat. Berpindah dunia malah lebih baik." ujar Zoya menginginkan kematian Milly.


"Milly. Malam ini, mama gue sampai rela turun di jalan demi sang suami, supaya bisa bertemu dengan elo. Dan lihatlah, besok gue juga akan membalasnya. Karena elo, nyokap gue keluar dari mobil." batin Zoya.


Zoya membuka celengan yang dia buat dari kardus. Menghitung jumlah uang yang ada di dalamnya. "Jika saja gue Zoya yang dulu, gue pasti sudah membelikan mobil untuk bapak." ujar Zoya, berniat membelikan mobil pick up untuk Pak Endri.


"Kurang." cicit Zoya dengan wajah lesu.


"Zoya." gumam Yaya yang berdiri tepat di samping Zoya.


Yaya tersenyum senang mendengar apa yang Zoya katakan. "Aku kira kamu tidak menyayangi orang tuaku. Ternyata aku salah."


Yaya baru tahu, jika Zoya sedang mengumpulkan uang untuk membelikan kendaraan buat sang bapak. Padahal Yaya mengira jika Zoya hanya bersikap sopan pada kedua orang tuanya karena dirinya.


Karena Zoya tinggal di dalam tubuhnya. Dan Zoya tinggal di rumahnya. Ternyata tebakan Yaya salah. "Kenapa Zoya tidak menjual perhiasanku saja." ujar Yaya, tahu jika Zoya malah menyimpannya. Dan sama sekali tidak pernah memakainya. Bahkan anting sekalipun.


"Apa mungkin Zoya merasa jika itu bukan barangnya. Bukan miliknya. Jadi Zoya tidak mempergunakannya." tukas Yaya menebak jalan pikiran Zoya.


"Tapikan Zoya ingin membelikan sesuatu untuk bapak. Dan dia bapak Yaya. Bukan bapak Zoya. Seharusnya Zoya menjual perhiasanku saja. Aku juga tidak akan marah." tukas Yaya yang sebenarnya percuma. Sebab Zoya tidak akan pernah bisa mendengarnya.


Zoya kembali memasukkan uang tersebut ke dalam kardus. "Semangat Zoya. Tinggal sedikit lagi. Dan uang elo akan terkumpul. Lalu elo akan membelikan bapak pick up. Kasihan bapak jika berbelanja memakai motor." cicit Zoya, khawatir jika pak Endri sampai terjatuh karena barang bawaan beliau yang banyak.


"Tapi lumayanlah. Gara-gara gue diet, gue nggak perlu keluar uang. Aman deh. Meski gue harus menahan keinginan untuk beli baju baru." ujar Zoya mengeluh, tapi tetap tersenyum.


"Zoya,,, baju kamu masih banyak. Meskipun milik Yaya semua jelek-jelek. Masa Yaya suka sekali pakaian ibu-ibu. Dasar, nggak up to date banget. Terpaksa gue pakai. Adanya itu. Dari pada gue beli. Ntar duit gue berkurang. Makin bertambah lama lagi beli kendaraannya." omel Zoya sembari memasukkan kardus kecil tersebut ke dalam laci.


Yaya tersenyum mendengar setiap omelan dari Zoya. Nyatanya apa yang dikatakan Zoya semua adalah benar. Bajunya memang bermodel lama. Bahkan warnanya juga terlihat tidak bagus.


"Dia memang galak. Tapi ternyata aslinya baik. Coba saja dulu Zoya tidak bertemu Milly. Pasti dia akan tetap menjadi pribadi yang baik." cicit Yaya menyimpulkan.


"Tapi,,, bagaimana caranya aku memberitahu Zoya tentang apa yang terjadi di apartemen Milly. Jika papa Zoya marah pada Milly. Bahkan beliau sampai mencekik Milly." tukas Yaya memikirkan caranya.


Yaya teringat, dia dulu memegang paha Zoya tanpa sengaja, dan semua yang Yaya inginkan terjadi. "Akan aku ulangi." ujar Yaya tersenyum dengan yakin.


"Aahhh... Mengapa tidak bisa." tukas Yaya.


Saat Yaya berusaha memegang bagian tubuh Zoya, tangannya malah melewati tubuh Zoya begitu saja. "Astaga... Kenapa selalu seperti ini." keluh Yaya.


"Sepertinya aku harus mulai belajar. Agar lebih mudah berkomunikasi dengan Zoya. Tapi, aku sendiri juga tidak tahu caranya. Memang di dunia ku sekarang, ada guru yang bisa mengajari aku." tukas Yaya sedikit aneh.


Yaya memandang ke arah Zoya yang sedang berbaring di ranjang. Bersiap untuk tidur. "Saatnya tidur. Dan besok kita akan berperang lagi." ujar Zoya dengan semangat. Apalagi rencana pertama berjalan mulus tanpa rintangan.


"Oh iya." seketika Zoya teringat jika Milly melihatnya bersama dengan Zain saat mereka makan di restoran.


"Pasti besok dia akan mencari gara-gara dengan gue. Tapi tak apalah. Gue akan meladeninya. Zoya,,, dilawan." tukas Zoya dengan nada sombong.


Zoya sudah siap sewaktu-waktu jika Milly hendak mencari masalah dengannya. "Ngomong-ngomong, apa Miko bisa mencari tahu tentang Milly. Semoga saja bisa. Jika tidak,,,, gue harus mencari cara lainnya."


Di saat Zoya menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya bagian bawah, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dalam ponsel Zoya. "Apa mama ya." tebak Zoya, sebelum mengambil ponselnya di atas meja.


Sedangkan Yaya masih terus berdiri di samping ranjang tempat tidur Zoya, memikirkan cara supaya dia bisa memberitahu Zoya apa yang dia lihat di apartemen Milly.

__ADS_1


Zluppp.....


Zoya dengan mudah melewati tubuh Yaya yang berdiri di sampingnya, saat dia berdiri dan melangkahkan kaki untuk mengambil ponselnya di atas meja.


Zoya menghentikan langkahnya. Membalikkan badan sebelum mencapai meja di mana dia menaruh ponsel miliknya.


Zoya meraba tubuhnya sendiri. "Kenapa perasaan gue ada yang aneh." ujar Zoya, merasakan perbedaan pada tubuhnya, tapi hanya sesaat.


Zoya berlari ke arah cermin. Mengabaikan ponsel yang menjadi tujuan utamanya meninggalkan tempat tidur. "Baik-baik saja." cicit Zoya memastikan dirinya baik-baik saja dari pantulan kaca.


Zoya kembali berjalan ke meja. "Tapi gue merasa menyentuh sesuatu. Tapi apa ya. Ckk,,, sudahlah. Gue malah parno sendiri." ucap Zoya memutuskan untuk mengabaikan perasaannya yang janggal yang membuat bulu kuduknya merinding.


Zoya mengambil ponselnya, memeriksa pesan tertulis yang masuk. "Nyonya Gina." lirih Zoya.


Dimana ternyata Nyonya Gina, sang pengacara yang mengiriminya pesan tertulis. Beliau ingin bertemu dengan Zoya. "Mama bilang dia sahabatnya, tapi kenapa gue nggak pernah ketemu dia." tukas Zoya mencoba mengingatnya.


Zoya segera membalas pesan tersebut. Tak ingin sang pengirim menunggu balasannya terlalu lama. Sebab hal tersebut tidaklah sopan.


Dan Zoya mengatakan untuk dia setuju bertemu dengan Nyonya Gina. Besok. Setelah jam kerja selesai. Sehingga mereka bisa berbincang dengan santai. Sekalian Zoya juga menyebutkan sebuah tempat untuk keduanya bertemu.


Bahkan dengan dokter keluarganya saja, Zoya juga tidak begitu dekat. Dia hanya sekedar tahu tentang Tuan Aldof yang bekerja sebagai dokter keluarganya saja. Yang ternyata dia adalah papa dari Zain.


Dan Zoya baru mengetahui setelah dirinya memasuki tubuh Yaya. "Kemana saja gue selama ini. Sumpah. Gue terlalu larut dengan persahabatan gue dan kisah cinta gue yang dulu memang sangat indah. Sehingga gue malah abai dengan sekitar."


Zoya tersenyum kecut mengingat kata persahabatan dan percintaannya. Dimana dirinya mendapatkan kesialan dari dua kata tersebut. "Mulai sekarang, gue nggak akan pernah percaya dengan dua kata itu. Sahabat dan cinta. Keduanya benar-benar sialan." geram Zoya teringat sosok Milly dan Reiner.


Zoya membawa ponselnya ke ranjang. Meletakkan di dekat bantal. Sehingga dia tidak perlu meninggalkan tempat tidurnya jika ponselnya kembali berbunyi.


Di saat Zoya sudah memejamkan kedua matanya, hendak masuk ke dalam mimpi. Zoya merasakan sesuatu yang mengenai lengannya. "Dingin." batinnya.


Segera Zoya membuka kembali kedua matanya. Dan segera duduk. Melihat ke arah lengan. "Apa ini?" tanya Zoya lirih, melihat ada tetesan air di lengannya.


Zoya menyentuh lengannya dengan sedikit rasa cemas bercampur takut. "Air." ujar Zoya.


Zoya melirik ke kanan dam kiri. Perlahan, menekan rasa takut di dalam dirinya, Zoya mendongak ke atas. Berharap tidak ada apa-apa di atasnya.


Zoya tersenyum, berpikir positif. "Ccckkk... Cicak nakal." gumam Zoya, menebak jika ada cicak yang kencing dan mengenai dirinya. Dirinya tidak ingin ketakutannya semakin bertambah. Yang ada dia tidak akan bisa terlelap. Padahal besok pagi dia harus kembali bekerja.


Zoya kembali berbaring. Dan kembali memejamkan kedua matanya. "Tenang Zoya,,, berpikirlah positif. Tidak ada apapun di sekitar elo." batin Zoya menenangkan dirinya.


Meski Zoya sudah memejamkan kedua matanya, nyatanya dia tidak bisa tenang. Ada rasa lain yang tak bisa dia jabarkan. Seperti gelisah.


Zoya menggerakkan kakinya dengan gemas, menendang-nendang tak beraturan. Membuka kembali kedua matanya. "Ada apa ini...??! Kenapa gue malah gelisah, takut, dan apa iniii.....!!" geram Zoya tak beralasan, kembali duduk di atas ranjang. Dengan menyenderkan punggungnya di senderan ranjang.


"Maaf Zoya, aku mengganggu tidur kamu." ujar Yaya, menghapus air mata di pipinya.


Yang ternyata, air yang jatuh tadi adalah air mata milik Yaya. Dia merasa sedih bercampur kesal, karena tidak bisa membantu Zoya.


Padahal Zoya sudah memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik. Serta membalaskan semua orang di kantor yang selama ini selalu berbuat jahat padanya.


Ada rasa bersalah di hati Yaya. Dia sadar jika kehadirannya malah membuat Zoya merasa tidak nyaman. Hanya saja, ada yang ingin Yaya sampaikan.


Yaya menghela nafas panjang. "Semoga kali ini berhasil. Bantu hamba,,, Tuhan." pinta Yaya, mencoba untuk kesekian kali.


Yaya mengatur nafasnya. Memejamkan kedua mata. Menenangkan dirinya sendiri. Yaya membuka kembali kedua matanya, saat merasa dirinya lebih tenang.


Perlahan, dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundak Zoya. Dan bisa. Telapak tangan Yaya sebelah kiri benar-benar berada di pundak Zoya sebelah kanan.


Tubuh Zoya seperti tersetrum aliran listrik. Bayang-bayang kejadian yang terjadi di ruang tamu apartemen Milly berkelebat dalam benaknya.


"Hah... Hah.... Hah..." Zoya bernafas tak karuan. Keringat membasahi tubuhnya dalam sekejap.


"Apa ini?" cicit Zoya, melihat ke arah kedua tangannya yang masih bergetar.


Zoya turun dari ranjang, berjalan perlahan ke arah nakas. Dimana dirinya meletakkan sebotol air mineral di sana.

__ADS_1


Zoya memegang botol tersebut dengan erat. Kakinya gemetar, tak kuat menahan benan berat tubuhnya. Membuat Zoya memilih untuk duduk di lantai.


Dengan tangan gemetar, Zoya membuka tutup botol. Meminumnya dengan rakus. Dirasa tenggorokannya sudah basah, diusapnya dagunya uang terkena air minum yang tumpah.


"Astaga.... Hufft... Huft...." Zoya berusaha menenangkan diri. Mengatur deru nafasnya. Kembali meneguk air di dalam botol yang masih dia pegang.


Zoya menutup kembali botol air mineralnya. Tetap memegangnya dengan erat. Pandangannya tertuju jauh ke depan. "Apa itu tadi?" cicit Zoya.


Zoya mengingat betul apa yang baru saja dia lihat. Sangat jelas, bahkan Zoya merasa jika dirinya ada di apartemen Milly. Menyaksikan adegan tersebut.


"Papa marah. Bahkan mencekik leher Milly. Meninggalkan Milly begitu saja." gumam Zoya.


Zoya seakan baru tersadar. Dia menoleh ke semua arah. Seakan mencari sesuatu di dalam kamar. "Aneh. Ini bukan pertama kalinya gue mengalami hal semacam ini. Gue seakan bisa melihat apa yang dilakukan orang lain. Tapi, kali ini gue merasa sangat berbeda. Ada aliran listrik yang masuk ke dalam tubuh gue." cicit Zoya.


Memang, dulu Yaya melakukannya beberapa kali hal seperti ini pada Zoya. Tapi efeknya biasa. Tidak seperti sekarang. Dan Yaya juga menyadarinya.


"Benar. Benar apa yang dikatakan Zoya. Dulu, Zoya tidak apa-apa. Tapi kenapa sekarang terasa berbeda." kedua mata Yaya menatap kedua telapak tangannya denhan lekat.


Zoya sedikit menengadahkan kepalanya ke atas. Menenangkan diri dari pikiran negatif. Tapi tetap saja, hal itu tidak semudah yang dia katakan dan dia inginkan. "Yaya. Apa selama ini Yaya ada di samping gue." tebak Zoya.


Yaya yang mendengarnya langsung tersenyum. Dia langsung duduk jongkok di samping Zoya. "Iya Zoya, benar. Aku ada di sekitar kamu. Dan aku akan selalu membantu kamu. Selama aku bisa melakukannya." cicit Yaya.


"Jika benar Yaya ada di sekitar gue. Apa yang harus gue lakukan? Takut,,, atau malah senang?" tukas Zoya merasa sedikit merinding.


"Jangan takut Zoya. Aku tidak akan pernah melukai kamu. Aku akan membantu kamu. Membantu kamu untuk membalas dendam pada mereka yang telah jahat. Dan membantu kamu, untuk melindungi semua orang yang kita sayang." jelas Yaya, tersenyum senang.


"Jika memang semua karena Yaya, gue bisa melihat hal-hal tersebut. Gue harus berterimakasih dengan Yaya. Tapi,,,, kok gue merasa ngeri-ngeri merinding. Yaya kan sekarang berwujud arwah." cicit Zoya bergidik ngeri.


"Zoya....!! Aku di sini juga karena kamu. Kamu menempati tubuh aku." sahut Yaya, duduk lesehan seperti Zoya di atas lantai.


Padahal, semua bukan salah Zoya. Kenapa Yaya tidak kembali ke tubuhnya. Yaya sempat menolak untuk kembali. Dan mungkin Tuhan ingin menunjukkan pada Yaya, melalui Zoya yang menempati tubuhnya. Jika hidup itu sangatlah indah.


Zoya merenung. Menggerakkan jari telunjuknya di pipi kanan. Seraya memikirkan sesuatu. "Tapi apa bisa, Yaya berada di sini."


Zoya langsung menatap seluruh ruang kamarnya. Sembari menggosok lengannya menggunakan tangannya. "Yaya.. Apa elo benar-benar ada di sini?" tanya Zoya lirih dengan dada berdegup.


"Ada Zoya,,,,!! Gue ada di samping elo. Tepat di samping elo." tekan Yaya, yang tentu saja percuma. Hingga mulut Yaya berbusa, Zoya tidak akan pernah bisa mendaftar suaranya.


Zoya memukul pelan kepalanya sendiri. "Astaga....!! Elo ngomong apa sih. Ngawur." bentak Zoya pada dirinya sendiri.


"Terserah dan masa bodo dengan apa yang terjadi. Yang terpenting sekarang, gue tahu. Jika hubungan papa dan perempuan ular itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dan gue harus menggunakan momen ini sebaik mungkin." ujar Zoya memutuskan untuk fokus ke masalahnya dari pada berpikir yang asal dan tidak jelas.


"Benar Zoya. Kamu harus menggunakan saat seperti ini untuk merusak hubungan mereka. Tenang saja, aku akan membantu kamu." tukas Yaya bersemangat.


"Sebaiknya kamu tidur Zoya, besok kamu harus bangun pagi untuk kembali bekerja. Mengumpulkan uang untuk bapak. Dan juga mengumpulkan tenaga untuk melawan perempuan-perempuan ular di kantor." cicit Yaya.


Zoya menguap. Meregangkan kedua tangannya. "Ternyata sudah sangat malam." tukas Zoya melihat ke arah jam dinding yang berada di kamarnya.


Zoya berdiri, menaruh kembali botol minuman yang dia pegang ke atas nakas. "Lebih baik gue nyalain semua lampunya." ujar Zoya menyalakan semua lampu di kamarnya. Bukan hanya lampu berwarna kuning, yang memang dia nyalakan saat dia tertidur.


"Terang sekali. Bahkan gue bisa melihat nyamuk terbang." ujar Zoya, merasa tidak takut lagi karena sekarang bisa melihat setiap sudut ruang kamar secara jelas.


"Selamat malam." cicit Zoya, merebahkan badannya di atas ranjang tanpa memakai selimut.


"Selamat malam juga." sahut Yaya.


"Kamu tidak memakai selimut?" tanya Yaya.


Padahal percuma Yaya bertanya. Zoya juga tidak akan mendengar suaranya. "Sudah tidur ya." lanjut Yaya merasa Zoya sudah masuk ke dalam dunia mimpi.


"Tidur yang nyenyak." ujar Yaya tersenyum senang, karena bisa memberitahu Zoya apa yang dia lihat di apartemen.


"Lebih baik aku juga pergi. Jangan sampai kehadiranku di sini mengganggu Zoya tidur. Kasihan dia. Pasti dia capek." ujar Yaya memutuskan untuk meninggalkan kamarnya.


"Aku akan melihat ibu dan bapak dulu." pamit Yaya menatap Zoya dengan senyum tulusnya. Tubuhnya perlahan menghilang dari kamar Zoya. Membuat Zoya tinggal sendirian di kamar.

__ADS_1


Terdengar dengkuran halus yang berasal dari hidung Zoya. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk Zoya terlelap dalam tidurnya. Mungkin karena Zoya sudah sangat mengantuk bercampur rasa lelah.


__ADS_2