
Bruk...."Elo sudah sehatkan..!! Kerjakan ini...!" ketus Meta. Menaruh map berisi lembar-lembar berkas di atas meja Zoya dengan asal.
Meta memberikan Zoya pekerjaan yang seharusnya di selesaikan oleh Meta sendiri. Setelahnya, Meta kembali ke tempat duduknya. Melihat apa yang akan dilakukan oleh Zoya.
Zoya mengambil map yang berisi beberapa lembar berkas tersebut. Menaruhnya di bawah map lainnya. Di mana itu adalah tumpukan pekerjaan miliknya.
Meta tersenyum culas. Dirinya merasa jika Yaya tetaplah Yaya yang dulu. Meski sekarang dirinya meminta untuk di panggil dengan sebutan Zoya.
"Nggak ngaruh." batin Meta, bersantai memainkan ponselnya.
Meta tersenyum senang. Akhirnya dirinya bisa duduk santai setelah sekian lama bergelut dengan pekerjaannya karena Yaya tidak masuk kerja.
Milly hanya diam, menatap tubuh besar Zoya dari belakang. Berbagai pertanyaaan bergelut di dalam benaknya. Dirinya benar-benar masih tidak menyangka, dengan berani Zoya mengatakan hal tersebut.
Membentak dirinya dan juga Enggar tanpa rasa takut.
"Santai, apa yang elo pikirkan. Dia tetap si gendut yang bodoh." ujar Meta lirih pada Milly.
Milly menatap ke arah Meta yang duduk di sampingnya dengan tatapan datar. Meta malah tersenyum, dan kembali memainkan ponselnya.
Milly menggelengkan kepalanya. Mengenyahkan apa yang ada dalam benaknya.
Awalnya, Milly berusaha bersikap baik terhadap Zoya, karena takut jika Zoya akan berbicara bagaimana dirinya bisa berada di gadung teratas dan terkunci di sana. Hingga ditemukan oleh satpam yang bertugas.
"Zoya...." panggil Miko, yang sudah berdiri di samping Zoya.
"Hemmm..." sahut Zoya, tanpa memandang ke arah Miko, dan tak menghentikan fokusnya pada pekerjaan yang ada di depannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa ditemukan di sana. Dalam keadaan pingsan." tanya Miko.
Deg.... jantung Milly seketika berdetak tak karuan. Rasa was-was yang baru saja dia coba hilangkan dari benaknya, kini kembali lagi.
"Miko,,,," geram Milly dalam hati.
Milly menatap Miko dengan ekspresi kesalnya. Tentu saja Milly kembali merasa cemas. Apalagi dirinya tidak tahu apa yang akan dikatakan Zoya pada Miko, untuk menjawab pertanyaan yang Miko tanyakan.
Bukan hanya Milly yang menunggu kalimat apa yang akan Zoya katakan. Tapi semua yang ada di ruangan seakan juga menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Zoya.
__ADS_1
Zoya menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis di lebar kertas di atas meja. Meletakkan pana tersebut hingga menimbulkan bunyi. Tak.
Zoya menengadahkan kepalanya, supaya dirinya bisa menatap wajah Miko. "Kenapa elo nggak tanya petugas CCTV nya?" bukannya menjawab, Zoya malah balik bertanya.
"Mereka mengatakan jika kamera CCTV nya waktu itu rusak. Sehingga tak ada yang tahu apa yang terjadi." tukas Miko.
"Apa elo belum diberitahu orang tua elo?" tanya Beni menimpali obrolan mereka.
Zoya menaikkan sebelah alisnya. Kata orang tua, yang berati kedua orang tua Yaya. Dan selama ini, keduanya tidak pernah membicarakan hal tersebut.
"Orang tua elo mendatangi perusahaan. Meminta keadilan pihak perusahaan, dengan mengusut kasus yang terjadi sama elo. Tapi pihak perusahaan malah..... ummhhh...." mulut Beni di bungkam Enggar, sebelum dirinya menyelesaikan apa yang ingin dia katakan.
"Diam. Jangan membicarakan itu lagi. Elo nggak ingat apa kata Tuan Darwin." lirih Enggar. Tapi tetap terdengar oleh Zoya.
Zoya curiga, jika sang papa tahu apa yang terjadi. Tapi malah menutupinya. Dan itu semua karena pelakunya adalah Milly.
"Pasti papa ngancem kedua orang tua Yaya." tebak Zoya dalam hati.
Zoya memandang tajam ke arah Milly yang juga tengah menatap ke arahnya. "Gue lupa apa yang terjadi." tekan Zoya, dengan tatapan bagai elang mengarah kepada Milly.
Zoya kembali fokus ke mejanya. Mengerjakan pekerjaan yang ada di depannya. Miko hanya diam. Tak melanjutkan apa yang dia ingin ketahui.
Miko bukan lelaki bodoh. Dirinya masih mengingat apa yang terjadi di antara Milly dan Yaya sebelum kejadian. Dimana Milly menatap Yaya dengan tatapan kesal. Sementara Yaya terlihat sangat begitu tertekan.
Dan kali ini, Miko merasa jika diantara keduanya juga ada sesuatu. Yaya terlihat santai dan selalu menatap Milly dengan tatapan menusuknya.
Sedangkan Milly sedari tadi memasang wajah khawatir dan cemas akan sesuatu. "Apa semua yang terjadi pada Yaya di lakukan oleh Milly." tebak Miko dalam hati.
"Tapi kenapa Yaya sekarang malah mengatakan jika dia lupa. Bukankah ini saatnya dia menceritakan semuanya." batin Miko, merasa bingung dengan apa yang dilakukan Yaya.
Miko berdecak. "Entahlah. Gue malah pusing memikirkan masalah itu." batin Miko, dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Tak berselang lama, ruangan mereka kedatangan sekertaris perusahaan. "Mbak Yaya, anda di panggil Tuan Darwin." ucapnya mengatakan apa yang diinginkan atasannya.
Zoya menatap santai ke arah sang sekertaris, dan masih duduk di kursinya. "Tuan Darwin ingin anda datang ke ruangannya." imbuhnya.
Zoya mengangguk. Lalu berdiri, dan segera ke ruangan pemilik perusahaan bersama sang sekertaris. "Mbak, mulai sekarang, panggil saya Zoya. Bukan Yaya." pinta Zoya dengan ramah.
__ADS_1
Sebab, selama ini sang sekertaris selalu bersikap baik terhadap Yaya. Tidak seperti pegawai lainnya. Sang sekertaris tersenyum tulus. "Baiklah. Zoya." ucapnya.
Sang sekertaris langsung menyetujui permintaan Zoya tanpa bertanya alasan Zoya mengubah nama panggilannya. "Terimakasih."
Sang sekertaris membukakan pintu untuk Zoya. "Silahkan masuk, Tuan Darwin sudah menunggu mbak di dalam."
Zoya mengangguk sembari tersenyum, sebelum masuk ke dalam. "Selamat pagi, Tuan." sapa Zoya dengan tenang.
Nampak Tuan Darwin sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sampai dirinya tidak menyadari kedatangan Zoya.
Mendengar suara seseorang, seketika Tuan Darwin menghentikan kegiatannya. "Yaya." tanyanya memastikan.
"Zoya. Nama saya Mazoya. Dengan panggilan Zoya." tekan Zoya terlihat begitu tenang.
"Zoya." lirihnya, tersenyum getir. Kemungkinan besar beliau teringat akan sang putri yang sedang berbaring tak berdaya di rumah.
Zoya tersenyum samar. "Gue nggak butuh elo pikirin. Lelaki sialan." umpat Zoya dalam hati, begitu membenci sang papa.
Tuan Darwin menghela nafas panjang. Tak ingin masuk ke dalam kesedihan lagi. "Silahkan duduk, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu." pinta Tuan Darwin menggerakkan tangannya ke arah sofa.
"Terimakasih." Zoya duduk di kursi paling ujung dengan sopan.
"Selamat kembali lagi ke perusahaan. Dan juga, selamat atas kesembuhan kamu."
"Terimakasih Tuan."
"Begini, soal kecelakaan yang menimpa kamu. Apa kamu...." ucap Tuan Darwin, tapi terhenti karena ucapan dari Zoya.
"Maaf sebelumny. Jika anda menanyakan apa yang terjadi, sejujurnya saya sendiri lupa dengan apa yang terjadi saat itu." sela Zoya memotong perkataan Tuan Darwin.
"Lupa?" tanya Tuan Darwin menyakinkan.
Zoya mengangguk dengan ekspresi datarnya. "Baiklah,,,, maafkan saya. Pasti semua karena efek dari koma yang kamu alami." tebak Tuan Darwin.
"Iya Tuan." sahut Zoya dengan malas.
Zoya membuang pandangan ke arah lain. Lalu menghela nafas panjang. "Sungguh, ingin sekali gue menampar dengan keras pipi papa, supaya papa sadar. Apa yang papa lakukan adalah sebuah kesalahan besar." batin Zoya dalam hati.
__ADS_1
Zoya segera pamit pada Tuan Darwin. Tentu saja dirinya tak ingin berlama-lama berada dalam satu ruangan dengan sang papa.
Zoya hanya khawatir dirinya tidak akan bisa menahan emosinya, saat mengingat hubungan yang terjalin antara Milly dan sang papa.