MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 66


__ADS_3

Zoya tersenyum penuh makna, sembari menatap ponsel di tangannya. "Ma,,, Zoya yang akan membuka jalannya. Dan mama yang akan melakukan tugas mama." tukas Zoya.


Beberapa detik yang lalu, Zoya dan Nyonya Ratna baru saja berbincang lewat ponsel. Di mana Nyonya Ratna yang terlebih dahulu menghubungi Zoya untuk memberitahu nomor ponselnya yang baru. Sekalian memberitahu nomor ponsel Nyonya Gina.


Dalam percakapan mereka, Nyonya Ratna juga mengatakan jika Tuan Darwin mengajaknya untuk makan malam bersama keluarga rekan kerjanya.


Secara spontan, Zoya yang mendengar hal tersebut di dalam benaknya langsung terbesit sebuah rencana untuk membuat Milly dipermalukan di depan umum dan sadar diri akan posisinya.


Zoya tahu, jika sang papa akan menikah lagi. Tapi sang papa tidak akan pernah menceraikan sang mama. Yang artinya, sang papa menginginkan Milly untuk menjadi istri kedua.


Jika memang itu sah secara hukum dan agama, tentu saja Milly akan tetap merasa tersingkirkan. Jika Nyonya Ratna bisa bermain apik dalam setiap kesempatan.


Zoya langsung menyuruh Nyonya Ratna untuk ikut dalam acara makan malam tersebut. Tapi Nyonya Ratna kekeh menolak. Beliau tetap tidak mau ikut sang suami untuk datang di acara makan malam.


Terlanjur sakit hati adalah alasan utama Nyonya Ratna menolak keinginan sang suami. Zoya yang memang sangat tahu kriteria Milly, dan keinginan Milly menikahi sang papa hanya karena uang, mulai mencekoki sang mama dengan segala perkataannya.


Bilamana Nyonya Ratna mulai detik ini harus pintar mengambil peran di saat-saat tertentu. Zoya juga mengatakan, jika Nyonya Ratna harus terlihat baik-baik saja dihadapan Milly.


Selain itu, Zoya juga mengatakan rencananya, kenapa dia ingin sang mama pergi menemani sang papa dalam acara nanti malam. Dan semua itu membutuhkan bantuan Nyonya Ratna. Barulah Nyonya Ratna setuju untuk ikut acara nanti malam.


"Sekarang, gue harus membuat Milly datang ke restoran tersebut. Tapi bagaimana caranya?" cicit Zoya memikirkan sesuatu.


Tanpa Zoya tahu, jika rekan kerja Tuan Darwin yang akan makan bersama keluarganya adalah keluarga Tuan Benyamin. Papa dari perempuan bernama Alice, yang saat ini dijodohkan dengan Reiner oleh kedua orang tua Reiner.


Zoya memejamkan kedua matanya. Otaknya terus bekerja, memikirkan cara untuk membuat Milly datang ke acara nanti malam. "Bagaimana caranya?" cicit Zoya lagi.


Zoya berdiri, berjalan mondar mandir bagai setrika dengan tangan berkacak pinggang. "Berpikirlah Zoya. Gunakan otak kamu yang licik." tukas Zoya.


"Jika saja gue mempunyai keahlian seperti Bulan dalam novel Pacarku Anak SMA, pasti gue akan dengan mudah membuat Milly datang ke acara nanti malam." gumam Zoya yang memang suka membaca novel atau sejenisnya.


Sebab Zoya tahu, jika sosok Bulan dalam novel tersebut mempunyai jari jemari yang lincah jika sudah menari di atas keyboard.


Zoya menghentikan langkahnya. Tersenyum miring menatap ke arah laci. "Bukankah gue masih menyimpan nomor ponsel milik gue sendiri." cicit Zoya.


Pertama kali mendatangi rumah Tuan Darwin sebagai Yaya, Zoya yang saat itu berada di kamarnya sendiri, dan berpura-pura menjenguk Zoya, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil nomor ponselnya sendiri.


Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan rencananya dalam mengirim lembar kertas surat warisan pada nomornya sekarang.


Dengan begitu, semua orang akan beranggapan jika Zoya lah yang mengirimnya pada Yaya. Tanpa mereka tahu, jika memang Zoya sendiri yang mengirimnya pada nomornya sendiri saat ini, dimana sekarang dia berperan sebagai Yaya.


"Tunggu. Lebih baik jangan sekarang. Pasti sekarang papa berada di sana. Dan semua rencana gue akan berantakan. Ya,,,, benar. Nanti malam saja." ujar Zoya, menebak jika sekarang sang papa berada di apartemen Milly.


Zoya akan membuat Milly datang ke restoran tersebut. Dimana keluarganya beserta rekan kerja sang papa akan makan malam bersama di sana.


"Milly... Gue akan buat elo seperti orang bodoh." sinis Zoya tersenyum miring.


"Sayang,, Zoya...!!" seru bu Murni dari luar kamar.


"Iya bu..." sahut Zoya segera bergegas keluar dari kamar dan menghampiri sang ibu.


"Ada apa bu?" tanya Zoya, setelah berada dekat dengan Bu Murni.


"Ini, ibu tadi buat kue. Kamu icipi. Kurang apa, atau malah kelebihan apa gitu." pinta bu Murni menyodorkan sebuah kue pada sang putri.


"Bu,,,,,"


"Tidak ada penolakan. Sedikit saja tidak akan membuat berat badan kamu bertambah. Ayo..." pinta bu Murni.


"Baiklah." dengan ekspresinya yang menggemaskan, Zoya dengan enggan memakan kue yang diberikan sang ibu.


Zoya memandang kue di tangannya bagai memandang musuh bebuyutan. Sangat anti. "Tumben ibu buat kue banyak." cicit Zoya menggigit sedikit kue di tangannya.


"Lumayan, ibu dapat pesanan. Bagaimana rasanya. Kurang apa? Atau sudah pas." tanya bu Murni menunggu penilaian dari sang putri.


"Enak. Pas. Ibu memang pintar." puji Zoya.

__ADS_1


Bu Murni kembali menyodorkan kue pada Zoya. "Zoya memang memuji kue buatan ibu. Tapi tak seperti ini juga. Yang ada diet Zoya akan gagal." tolak Zoya dengan cemberut.


"Zoya,,,!! Lihat, sekarang badan kamu sudah kecil. Jangan diet lagi." tukas bu Murni.


Zoya melongo tak percaya dengan perkataan bu Murni. "Kecil dilihat dari mana si bu...!! Ini masih besar. Dan Zoya harus mengurangi banyak lagi." cicit Zoya memperlihatkan perutnya yang berlemak.


"Sayang,,,, ibu nggak mau kamu kayak perempuan-perempuan itu. Badan kecil. Kayak nggak pernah makan saja. Jika ada angin besar, pasti mereka juga akan terbawa angin." celetuk bu Murni lucu. Membuat Zoya tertawa terbahak-bahak.


Pak Endri yang baru saja menutup tokonya juga ikut bergabung dengan mereka berdua. "Ada apa ini? Kenapa Zoya kelihatan bahagia sekali? Kamu diberikan apa sama ibu?" tanya pak Endri, dengan tangan kanan mengambil kue di atas meja.


"Jangan banyak-banyak pak, itu pesanan orang. Mau ibu jual." tegur Bu Murni, padahal pak Endri baru saja mengambil.


 "Iya bu." sahut pak Endri memasukkan kue tersebut ke dalam mulut sedikit demi sedikit.


"Ibu bagaimana sih. Tadi Zoya disuruh makan banyak. Giliran bapak di larang." protes Zoya.


"Beda. Lihat badan bapakmu. Sudah sebesar tong. La kamu. Kecil kayak gitu." omel bu Murni.


"Astaga pak... Dengar. Masa ibu bilang badan Zoya sudah kecil. Lalu ibu bilang, jika Zoya tidak perlu diet lagi. Katanya ibu nggak suka Zoya seperti perempuan yang badannya kecil-kecil itu loh pak. Namanya perempuan, kan juga pengen punya tubuh seksi ya pak." cicit Zoya mencari bala bantuan.


"Betul...." sahut pak Endri sembari menikmati kue di tangannya.


"Bapak saja suka kan, lihat ibu-ibu yang badannya seksi dan montok." ujar Zoya lagi.


"Suka lah...." sahut pak Endri. Tanpa beliau tahu, jika kedua mata sang istri sudah memandangnya dengan horor.


"Jadi bapak nggak suka sama badan ibu yang subur ini?" tanya bu Murni sekaligus menyindir.


"Tid.... Ehh.... Suka lah bu.... Ibu kan juga seksi." sahut pak Endri melirik kesal ke arah Zoya yang menahan tawanya.


Zoya mencari aman dengan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. "Zoya ke kamar dulu buk, pak, ada pekerjaan yang Zoya belum selesaikan." pamit Zoya langsung ngacir pergi.


"Ckk,, gara-gara Zoya, alamat bapak tidur di luar." batin pak Endri mengeluh.


Dari dalam kamar, Zoya masih bisa mendengar perdebatan kecil antara Pak Endri dan Bu Murni. Zoya tersenyum senang mendengarnya.


"Papa... Apa papa tidak punya sedikit belas kasihan pada mama? Apa papa tidak teringat, bagaimana setianya mama di samping papa? Apa papa lupa, ada mama yang selalu memberi semangat pada papa?" cicit Zoya dengan air mata yang sudah terkumpul di kedua pelupuk mata.


Zoya menghela nafa panjang. Membayangkan jika saat ini pasti sang mama berada di kamarnya. Menunggu tubuhnya yang tergolek di atas ranjang tak berdaya.


"Milly....!! Semoga Miko bisa mencari tahu semua informasi tentang Milly. Berharap semuanya rencananya akan berjalan dengan mudah dan lancar.


Di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen. Sesuai tebakan Zoya, jika Tuan Darwin dan Milly duduk santai di ruang tamu. Seperti biasa, keduanya bermesraan layaknya pasangan sah suami istri pada umumnya.


"Om,,,, Milly pengen beli mobil baru. Milly bosan dengan mobil itu." cicit Milly dengan manja. Memainkan tangannya di lengan Tuan Darwin yang melingkar di perutnya.


Posisi Tuan Darwin berada di belakang Milly. Dengan kedua tangan melingkar di perut Milly. "Memangnya kamu mai mobil seperti apa?"


Tuan Darwin mencium pucuk kepala Milly dengan mesra. Sungguh pasangan yang menjijikkan. "Sama seperti mobil Zoya yang baru itu. Tapi Milly tidak mau mobil bekas Zoya. Milly takut,,, nasib Milly akan sama seperti Zoya." ujarnya dengan santai.


"Iya... Mana mungkin saya memberikan kamu mobil bekas."


"Makasih om."


"Kamu tinggal datang ke showroom mobil. Pilihlah mobil yang kamu inginkan. Biar nanti om yang menyelesaikan semuanya."


"Terimakasih banyak om. Milly makin sayang sama om." tukas Milly, tersenyum miring.


"Menggelikan. Jika bukan karena uang, mana mungkin gue yang secantik dan seseksi ini sudi sama orang tua kayak elo Darwin." batin Milly.


"Apa lagi yang kamu inginkan?" tanya Tuan Darwin.


"Eeemmm.... Om,,, kelihatannya uang di rekening Milly tinggal sedikit. Bisa om tambahi nggak. Sekarang semua serba mahal." cicit Milly mendongakkan kepalanya. Supaya dia bisa memperlihatkan ekspresi manjanya pada lelaki yang berstatus istri orang tersebut.


"Sebentar." Tuan Darwin mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


"Waahh... Makasih om." ujar Milly, melihat ada notifikasi di ponselnya. Jika ada sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya.


"Boleh om minta sesuatu?" tanya Tuan Darwin.


Milly memutar kedua matanya dengan jengah. Dirinya bisa menebak apa yang diinginkan lelaki tua di belakangnya tersebut.


Milly mengubah posisinya. Membuat keduanya saling berhadapan. "Milly,,, milik om seutuhnya." ujar Milly dengan manja.


"Tenang saja,,,, om akan bermain lembut. Om tidak mau benih dalam perut kamu akan terpengaruh." ujarnya.


Dengan sekali angkat, Tuan Darwin menggendong tubuh Milly di depannya bagaikan anak koala, berjalan menuju ke dalam kamar. Melakukan hal menjijikkan yang tentunya terasa nikmat untuk mereka berdua.


Masih di dalam kamar sang putri, Nyonya Ratna berdiri di depan cermin full body. Menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin di depannya.


"Tua, tidak sekencang dulu. Wajahku juga terlihat kusam, tidak terawat." cicit Nyonya Ratna meraba wajahnya.


Setelah Zoya, sang putri berbaring di atas ranjang dalam keadaan koma, Nyonya Ratna memang tidak pernah lagi memperhatikan penampilannya.


Jika dulu beliau selalu rutin menjaga serta merawat tubuhnya dengan mengunjungi salon setiap seminggu sekali. Menghabiskan berjam-jam waktu untuk memanjakan diri. Sekarang hal tersebut tak berlaku lagi.


Waktunya banyak tersita untuk sang putri. Padahal sudah ada perawat di sampingnya. Hanya saja, Nyonya Ratna merasa jika sebagai seorang ibu, dirinya wajib merawat sang putri. Meski sang suami sudah membayar jasa orang lain.


"Tapi bukan seperti itu cara kamu pa, menduakan aku hanya alasan keturunan. Pasti karena aku sudah tidak menarik lagi di mata kamu." lanjut Nyonya Ratna tersenyum miris.


Nyonya Ratna tersenyum kecut. "Malam ini, aku tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah berusaha membantuku. Dan juga Milly." ujar Nyonya Ratna.


Sebab beliau akan datang karema rencana yang dikatakan oleh Zoya. Jika Zoya akan berusaha membuat Milly datang ke acara nanti malam.


Nyonya Ratna mengeluarkan ponselnya. "Bukankah nanti malam aku akan menemani suamiku pergi ke acara penting. Makan malam bersama keluarga rekan kerjanya. Berarti aku harus tampil cantik." cicitnya.


Nyonya Ratna memanggil salon langganannya untuk dia datangkan ke rumah. "Percuma mempunyai suami kaya, jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Lihatlah, dia saja yang bukan istrinya dengan tidak tahu malu menghabiskan uang suamiku. Lantas kenapa aku mesti berpikir dua kali untuk melakukan hal yang sama." ujar Nyonya Ratna.


Nyonya Ratna juga menghubungi butik langgannya. Menyuruh mereka untuk membawakan beberapa potong gaun untuk dia coba. Dan tentunya semua akan dia beli. Meski tak akan Nyonya Ratna pakai.


"Sudah lama kartu ini tidak terpakai. Kasihan suamimu, jika tidak aku pakai." Nyonya Ratna tersenyum sinis.


Nyonya Ratna memanggil salah satu pembantu. Mengatakan jika sebentar lagi akan ada yang datang. Dari pihak salon dan butik.


Beliau juga menyuruh sang pembantu untuk membersihkan sebuah ruangan yang akan dia pakai untuk memanjakan dirinya serta berdandan untuk acara nanti malam


Nyonya Ratna tidak ingin melakukannya di kamar sang putri. Beliau tidak ingin menganggu ketenangan sang putri.


Terlebih akan ada bau-bau dari kosmetik atau produk kecantikan lain, yang akan mencemari ruangan. Dan Nyonya Ratna takut jika itu akan berimbas untuk sang putri.


Cup.... Kecupan hangat mendarat di kening Zoya. "Sus, apa obat barunya sudah mulai bekerja? Bagaimana menurut suster?" tanya Nyonya Ratna.


"Maaf Nyonya, obatnya baru akan saya berikan besok pagi. Sebab, tadi saya sudah memasukkan obat yang lama pada tubuh Nona Zoya." jelas sang suster dengan ramah.


"Begitu ya."


Dipandanginya wajah sang putri yang bagaikan pitri tidur. "Sus, nanti malam saya akan pergi keluar rumah dengan Tuan. Titip Zoya. Jaga dia dengan baik." cicit Nyonya Ratna, padahal beliau hanya akan pergi sebentar.


"Tenang saja Nyonya, saya akan menjaga Nona Zoya dengan baik."


"Saya tinggal dulu ya sus, saya mempunyai janji dengan seseorang. Jika ada apa-apa, temui saya di ruangan yang ada di lantai dasar."


"Baik Nyonya."


Nyonya Ratna kembali mendaratkan kecupan di kening sang putri. "Mama tinggal dulu. Baik-baik sama suster." lirihnya berbicara dengan Zoya. Seakan Zoya bisa mendengarnya.


"Saya tinggal sus." pamit Nyonya Ratna.


"Silahkan Nyonya."


Sang suster menatap Zoya dengan tatapan sedih. "Nona, bangunlah. Kasihan mama anda." lirihnya.

__ADS_1


Sang suster juga tahu apa yang terjadi di dalam rumah ini. Meski begitu, mulutnya terkunci rapat. Tidak berbicara dengan pihak luar terkait masalah yang menimpa keluarga Tuan Darwin.


Sama seperti para pekerja yang berada di rumah Tuan Darwin. Mereka juga mempunyai kesetiaan. Dan tidak pernah membocorkan atau menceritakan apa yang terjadi di dalam rumah majikan mereka pada orang luar. Meski itu keluarga mereka sendiri.


__ADS_2