
Zoya melangkahkan kaki dengan ekspresi datar, menuju ke ruang kerja. Semua karyawan yang melihatnya hanya berani berbisik tanpa berani menegurnya.
Semenjak Zoya dengan berani melawan beberapa karyawan, serta selalu mengangkat dagunya saat berjalan, kini para karyawan hanya berani menggunjing di belakang Zoya.
Tak seperti dulu, di mana mereka dengan berani berkata dengan keras. Menghina serta merendahkan Zoya tepat di depannya.
Tanpa Zoya dan semua sadari, sosok tak kasat mata melihat semua yang terjadi. Siapa lagi jika bukan jiwa dari Yaya.
Yaya menatap ke sekelilingnya dengan perasaan aneh serta merasa penasaran. Bagaimana tidak. Jika biasanya dirinya akan merasa ketakutan saat berjalan di area perusahaan.
Tapi Zoya berjalan dengan tenang tanpa beban. Padahal tubuh yang Zoya bawa adalah milik Yaya. Tubuh gemuk yang selalu menjadi bahan hinaan seluruh karyawan.
"Kenapa? Kenapa mereka tidak memperlakukan Zoya seperti mereka memperlakukan aku. Apa bedanya. Tubuh yang Zoya tempati adalah tubuhku. Apa yang berbeda? Apa yang membuat mereka tidak menjadikan Zoya bahan hinaan?" cecar Yaya bertanya pada dirinya sendiri.
Membandingkan saat dirinya masih berada di dalam tubuh gemuk tersebut, dengan sekarang. Dimana Zoyalah yang menempatinya.
Sementara Zoya, di dalam otaknya hanya ada nama Milly. Di sama sekali tak mengindahkan apa yang ada di sekitarnya.
Ingin sekali Zoya membuat masalah dengan Milly. "Lihat saja, gue akan memberikan pelajaran pada perempuan murahan itu." batin Zoya berjalan menuju ruangannya.
Mengingat bagaimana sang mama sampai pingsan karena ulah Milly. Dan tentu saja sang papa.
Sesampainya di ruangan, Zoya melihat kursi yang biasanya ditempati oleh Milly kosong. "Gajah,,,!! Ngapain elo berdiri di tengah jalan. Minggir...!! Halangin jalan orang saja." tukas Meta dengan judes, yang baru saja masuk.
Padahal Zoya tidak berdiri di ambang pintu, melainkan di samping meja kerja Zoya sendiri.
Bukannya minggir, Zoya malah menatap Meta dengan tersenyum miring, seolah Zoya sedang menantang rekan satu divisinya tersebut.
''Apa mata elo buta. Jalan ke meja elo bukan cuma di sini.'' ujar Zoya, berkata dengan benar.
Enggar yang sudah duduk nyaman di kursinya berdiri. "Elo semakin bertingkah saja. Kemarin sudah membuat kita lembur. Sekarang elo mau apa lagi?!" tanya Enggar dengan nada tinggi.
Tidak ada Milly, dan mereka berdua mencari masalah di saat yang tidak tepat. Pasti keduanya akan menjadi bahan pelampiasan kemarahan dari Zoya.
Zoya maju satu langkah. Mendekat ke arah keduanya. "Mau gue? Elo tanya mau gue?" Zoya menjeda kalimatnya.
"Enyah dari hadapan gue!" bentak Zoya dengan kedua mata melotot sempurna.
__ADS_1
Beni segera berdiri, dia merasa akan ada pertengkaran. Dirinya takut jika malah akan terkena imbas, jika tak segera bertindak.
"Enggar,, Meta,, sudahlah. Kalian mengalah. Cepat duduk di kursi kalian." pinta Beni.
Jiwa Yaya yang berada di balik jendela melihat semuanya. Bagaimana Zoya menggertak Meta dan Enggar. Serta ekspresi Beni ya g terlihat ketakutan saat berhadapan dengan Zoya.
"Bagaimana bisa? Apa yang sudah Zoya lakukan, sehingga mereka terlihat enggan mencari masalah dengannya." ujar Yaya.
Miko juga segera beranjak dari duduknya. Kedua tangannya menyentuk kedua pundak Zoya. "Abaikan saja mereka. Fokus pada tujuan kamu datang ke perusahaan." cicit Miko menasehati Zoya yang sikapnya sekarang lebih berani melawan mereka yang ingin menindasnya.
"Singkirkan tangan elo." ujar Zoya pada Miko, tanpa mengalihkan pandangan pada Enggar dan Meta.
"Sorry." segera Miko mengangkat kedua tangannya dari pundak Zoya.
Meta dan Enggar tersenyum kecut mendengar apa yang Zoya katakan. "Ngaca...!! Miko juga nggak bakal mau sama perempuan model elo..!!" hina Meta.
Zoya tersenyum remeh. "Iyakah,,, Lalu Miko maunya sama perempuan model kayak gimana? Perempuan cantik, seksi, tapi bodoh." sindir Zoya telak mengena tepat ke sasaran.
Beni segera menarik lengan Enggar dan Meta menjauh dari Zoya. Saat Beni tahu siapa yang dimaksud oleh Zoya. "Apaan sih...?!" kesal Enggar pada Beni.
"Lebih baik kalian segera mengerjakan pekerjaan kalian. Dari pada lembur lagi." ujar Beni.
''Lagi pula kita lembur karena Zoya. Jadi, salahkan saja dia." ujar Meta malah melemparkan kesalahan pada orang lain.
"Gue yang salah." Zoya menunjuk ke wajahnya sendiri. "Otak kalian yang bermasalah." cicit Zoya tersenyum miring.
"Kalian...!!! Bisakah tidak bertengkar..!!" geram Beni, saat Meta ingin kembali berdiri dari duduknya. Namun dihentikan Beni.
"Katakan pada rekan kerja sejati elo." Zoya duduk di kursinya dengan wajah yang masih kesal. Bukan karena Meta dan Enggar. Tapi karena Milly yang ternyata tidak masuk kerja.
"Gue harus mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiba-tiba papa mau menikahi Milly. Dan kenapa Milly nggak kerja."
Miko memegang beberapa berkas, dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan. Tapi dihentikan oleh Zoya. "Miko, tunggu."
Zoya berdiri menghampiri Miko yang sudah berada di ambang pintu. "Mau ke ruangan Tuan Darwin?" tanya Zoya.
Miko mengangguk. "Iya."
__ADS_1
Zoya mengambil beberapa map di tangan Miko. "Biar aku saja. Sekalian, aku ada perlu dengan atasnya kita." ujar Zoya.
"Oke. Silahkan. Terimakasih."
Miko dan Zoya saling melempar senyum. Dan ini pertama kalinya mereka bisa berbincang dengan senyum di wajah.
Miko menatap punggung Zoya yang menjauh dari ruangan. "Lihat, elo semakin cantik jika tersenyum." batin Miko. Duduk kembali di kursinya.
Meta dan Enggar saling pandang. Tampak kedua mata mereka menyiratkan sesuatu yang tidak baik. Pasti karena Miko tersenyum dan terlihat perhatian pada Zoya.
Sebab, salah satu dari mereka memang menyukai Miko. Atau malah keduanya. Sebab, Miko termasuk karyawan tampan dan juga banyak penggemarnya.
Satu lagi, tak ada yang tahu identitas Miko yang sebenarnya. Karena Miko terlalu menutup diri dan misterius. Bahkan, dirinya tak punya teman akrab di perusahaan. Hanya fokus pada pekerjaan.
Zoya menghentikan langkahnya di lorong yang sepi. Sebah semua karyawan sudah masuk ke ruangan masing-masing.
Zoya membalikkan badannya ke belakang. Memandang ke arah belakang dengan perasaan aneh. "Sepertinya ada yang mengikuti gue." Zoya memegang tengkuknya.
Zoya menatap ke sekelilingnya, dimana dirinya berdiri. Sepi. Tak ada satu orangpun. Tapi tetap saja, Zoya merasa ada yang mengikutinya.
Zoya mengangkat kedua pundaknya. "Entahlah." Zoya kembali meneruskan langkahnya untuk menuju ke ruangan sang papa.
"Perasaan aneh ini, gue alami tiga kali selama pagi ini. Di rumah, di dalam taksi. Dan sekarang. Di perusahaan. Apa Yaya ada di sekitar gue." batin Zoya menebak.
Dan memang benar, tebakan Zoya. Jika Yaya selalu ada di sekitarnya pagi ini. Dan ini pertama kalinya terjadi. "Jika benar,,,,," batin Zoya tak melanjutkan kalimatnya.
Zoya berdecak sambil menggeleng. "Mungkin pikiran gue sedang tidak normal." batinnya.
"Dan semua gara-gara selembar kertas sialan itu. Darwin,,, tunggu saja. Elo mungkin akan bisa menikah dengan Milly. Tapi lihat saja, apa yang akan gue lakukan." seringai Zoya.
"Gue nggak rela. Harta warisan yang harusnya jatuh ke tangan gue. Dinikmati oleh perempuan murahan itu." batin Zoya.
Zoya tahu, jika Milly pasti mengincar harta sang papa. Dan sampai detik ini, Zoya belum tahu. Jika Milly sangat menginginkan kekasihnya. Reiner.
"Enak saja. Selama ini elo sudah menikmati harta papa gue. Bahkan sangat banyak. Dan jika elo memang ingin menikahi papa gue, elo juga harus bersedia menemaninya saat papa nggak punya apa-apa." batin Zoya, sudah merencanakan sesuatu.
Zoya yakin, jika selama ini uang yang digunakan Milly adalah uang yang diberikan oleh sang papa. "Gue harus mencari tahu keluarga Milly. Dan dari mana dia berasal."
__ADS_1
Meski berteman lama dengan Milly, Zoya sama sekali tidak mengenal keluarga Milly. Bahkan kedua orang tua Milly.
Milly selalu beralasan jika kedua orang tuanya tinggal di luar negeri. Dan dirinya tinggal di negara ini sendirian.