
Zoya tak lekas turun dari taksi. Dirinya menghela nafas panjang berkali-kali. Menetralkan degup jantungnya.
Ada perasaan khawatir bercampur cemas serta bingung melihat gedung besar di depan matanya. Dimana dirinya dahulu selalu berada di sana setiap hari, selain hari libur kerja.
"Apa yang harus gue lakukan?" tanya Zoya pada dirinya sendiri.
"Oke Zoya,,,, jadilah diri kamu sendiri." ucapnya menyakinkan diri.
Setelah membayar ongkos taksi, Zoya dengan yakin melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung. Zoya benar-benar menjadi dirinya sendiri.
Pandangan matanya hanya fokus ke depan, di mana kakinya akan berpijak. Zoya berjalan dengan dagu terangkat. Tak ada perasaan yang tidak nyaman sedikitpun.
Zoya tersenyum miring. "Gue Zoya. Mau berpenampilan seperti apapun, gue tetap Zoya." batinnya dalam hati dengan percaya diri melangkahkan kaki.
Semuanya memandang ke arah Yaya yang menurut mereka sangat tidak biasa. Wajahnya juga sangat berbeda. Sebab, sekarang Zoya memakai make up, sedangkan Yaya selalu tampil polos.
Satu lagi, jika dulu Yaya meninggalkan bau keringat saat dirinya berjalan. Sekarang, Yaya meninggalkan harum wangi parfum saat berjalan.
Zoya tersenyum samar. Telinganya dengan jelas mendengar bisik-bisik dari beberapa karyawan yang memandangnya dengan berbagai macam ekspresi.
Apa Zoya peduli. Tidak. Itulah Zoya.
Zoya menghentikan kakinya saat dirinya berada di depan lift, Zoya menunggu pintu lift terbuka bersama para karyawan lainnya dengan santai. Dimana, Miko juga ada di sana.
Miko tersenyum ingin menyapa Zoya, tapi dirinya enggan melakukannya. Apalagi suasananya sedang sangat ramai.
Pintu lift terbuka. Semua masuk bergantian dengan rapi. Termasuk Zoya. Di saat pintu lift hendak menutup sendiri, dua pegawai perempuan berlari, menghentikan pintu lift yang hendak tertutup dan segera masuk.
Tiit...tiit.... pintu lift berbunyi dan tak mau menutup. Menandakan jika beban di dalam lift melampaui batas.
Semua tetap berdiri terdiam. Tak beranjak dari tempatnya. Tak ada yang mau mengalah untuk keluar dari dalam lift.
"Heh... elo, gembrot..!! keluar." usir satu pegawai perempuan yang baru saja masuk, menatap ke arah Zoya.
Zoya hanya diam tak bergeming. "Elo budek. Pasti gara-gara elo lift ini nggak mau bergerak. Berat badan elo melampaui batas...!!" hina perempuan yang satunya, menatap Zoya dengan sengit.
Zoya menatap tajam ke arah keduanya secara bergantian. "Kalian berdua yang keluar. Gue yang masuk duluan. Bodoh." sahut Zoya tersenyum sinis.
Semua yang ada di dalam lift memandang ke arah Zoya dengan tatapan tak percaya. Selain penampilannya yang berbeda, sikap Zoya juga berubah drastis.
"Yaya...!!" bentak perempuan tersebut tak terima.
Biasanya, Yaya hanya akan diam. Tak menjawab dan tak pernah melawan apapun yang mereka katakan. Meski itu sangat menyakitkan hati. Yaya hanya akan diam, melakukan apa yang mereka katakan tanpa membantah.
Zoya memandangnya dengan tajam. "Panggil gue Zoya, bukan Yaya...!!" tekan Zoya.
Rasa heran semua bertambah, manakala Yaya meminta untuk dipanggil dengan nama Zoya. Serta, dirinya yang dengan berani mengangkat dagunya untuk melawan kedua perempuan tersebut.
"Zoya... haaa.....!! Ngaca.... muka elo nggak pantes,,, ba**." hinanya sembari tertawa.
__ADS_1
"Sudah cukup!! Sebaiknya kalian ada yang keluar. Jangan berdebat untuk hal yang tidak penting...!!" bentak karyawan lain yang berada di dalam lift.
"Benar,,, bisa-bisa kita terjebak di lift ini. Kita datang untuk bekerja. Bukan berpariwisata." sahut yang lain.
"Yaya... keluar...!!" usir perempuan yang tadi. Tetap memanggil Yaya dengan panggilan Yaya, bukan Zoya.
"Tidak akan. Kalau mau, elo yang keluar. Gue dulu yang masuk. Kenapa gue yang keluar." tolak Zoya dengan santai.
Miko menatap ke arah Zoya dengan lamat-lamat dengan ekspresi datar. Miko merasa jika yang berdiri di depannya bukalah Yaya. Tapi orang lain.
"Jika kalian mau mengusir, usir mereka berdua. Bukan gue. Ingat,,, kalian lihat sendiri, gue yang lebih dulu masuk ke dalam lift." tekan Zoya, mencoba meracuni pikiran semua orang, sembari tersenyum sinis.
"Cckk,,, kalian berdua, keluarlah....!!" usir salah satu karyawan di dalam lift.
"Benar, jangan membuat kita semua terlambat masuk kerja." sahut yang lain.
Kedua pegawai perempuan tersebut keluar dari dalam lift dengan memasang wajah kesal, menatap ke arah Zoya.
Setelah keduanya keluar, pintu lift tertutup perlahan. Zoya dan kedua perempuan tersebut saling pandang sampai keduanya terhalang pintu lift yang tertutup.
Tak ada rasa takut pada ekspresi wajah Zoya. Tentu saja, dia Zoya. Bukan Yaya.
"Yaya,,, eh.. maaf,,,, Zoya apa kamu sudah sehat?" tanya salah satu karyawan yang berada di dalam lift.
"Gue sudah masuk kerja, berarti gue sudah sembuh." ketus Zoya.
Beberapa detik, pintu lift terbuka. Orang yang pertama kali melangkahkan kaki keluar dari lift adalah Zoya.
Zoya menghentikan langkahnya, saat dirinya berada di ambang pintu. Dengan Miko yang berada di belakangnya juga menghentikan langkahnya.
Semua karyawan di divisi keuangan menatap ke arah Yaya. Mereka tentunya juga terkejut melihat kedatangan Yaya, apalagi penampilan Yaya yang sangat berbeda dari yang mereka kenal.
Tapi, pandangan Zoya terarah pada dua kursi. Kursi yang biasanya dia duduki, serta kursi yang biasanya di duduki oleh Yaya.
Zoya melirik ke samping, di mana dia melihat ada Miko di sana. Segera Zoya melangkahkan kaki ke delam, sebab Zoya tahu kenapa Miko menghentikan langkahnya.
Tentu saja karena tubuhnya yang besar memenuhi pintu masuk. Dengan santai, Zoya duduk di kursi yang biasanya di gunakan oleh Yaya.
Zoya menoleh ke belakang, dimana dirinya biasanya duduk di sana. Tampak jelas, raut sedih di wajah Zoya mengingat semuanya yang terjadi.
Zoya juga memandang Milly yang juga sedang menatap ke arahnya. Zoya tersenyum sinis. Zoya sebisa mati-matian menahan emosinya saat melihat wajah Milly.
"Sumpah, ingin sekali gue merusak wajah sok polosnya itu." batin Zoya, menatap sinis pada Milly.
Milly juga merasa jika Yaya sangat berbeda. Tak ada raut wajah takut saat menatap ke arahnya. Tidak seperti Yaya yang dahulu.
"Yaya... elo sudah sembuh?" tanya Meta.
"Mulai sekarang, panggil gue Zoya. Bukan Yaya." tekan Zoya dengan tegas.
__ADS_1
"Yaya,,, apa otak elo konslet setelah koma." cibir Beni.
Zoya langsung memandang lekat ke arah Beni. Tatapan yang dangat mengintimidasi dari Zoya, yang selama ini tak pernah diperlihatkan Yaya sebelumnya.
"Nama gue Mazoya. Dan mulai sekarang, panggil gue Zoya. Paham." tekan Zoya.
Milly berdiri dari duduknya dan datang menghampiri Zoya. "Yaya.." panggilnya.
"Zoya. Zoya... panggil gue Zoya,,, Milly." tekan Zoya menatap sengit ke arah Milly.
Milly berusaha tersenyum. Padahal hatinya sangatlah dongkol. "Baiklah, Zoya." ujar Milly menuruti apa yang Yaya inginkan.
"Yaya atau Zoya. Buat gue sama saja. Keduanya akan berada di bawah kaki gue." batin Milly dengan sombong.
"Apa kabar? Elo sudah sehat?" tanya Milly dengan tutur kata yang lembut.
Zoya tertawa pelan. "Apa elo bodoh. Elo tanya, tapi sudah tahu jawabannya. Gue sudah bekerja, berarti gue sudah sehat." jelas Zoya dengan sarkas.
"Yaya.... eh... Zoya. Jawab dengan baik, Milly saja bertanya dengan baik." tukas Enggar.
Zoya tersenyum miring. Mengeluarkan map dan beberapa berkas dari dalam laci, juga laptop. "Kenapa elo yang sewot. Ini mulut gue, terserah gue mau bilang apa." sahut Zoya.
Emosi Enggar seketika tersulut. Berdiri, membawa segelas air yang tersedia di atas mejanya. Ingin menyiramkan ke Zoya.
Miko juga berdiri, hendak menghentikan apa yang dilakukan Enggar. Tapi, Zoya melihat pergerakan Enggar daei pantulan kaca di depannya.
Zoya segera berdiri, menampik gelas yang hendak Enggar siramkan ke arahnya. "Aaaaw.....!!" seru Milly, karena air tersebut mengenai pakaian Milly. Membuat pakaian Milly bagian depan basah.
Miko, Beni, dan Meta melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan Zoya. "Apa dia benar-benar Yaya si gendut." cicit Meta.
"Hussstt... Zoya." bisik Beni.
Seketika Enggar langsung panik, karena air yang dia siramkan ke arah Zoya malah mengenai Milly. "Milly..... maaf." tukas Enggar dengan tatapan cemas.
"Ini semua gara-gara elo...!!" geram Enggar menatap tajam ke arah Zoya.
Zoya berdiri sembari bersedekap dada. "Elo saja yang bodoh. Kenapa malah menyalahkan gue." timpal Zoya tanpa rasa takut.
Zoya menatap Milly yang masih sibuk dengan pakaiannya dengan tajam "Dan elo penjilat, jauh-jauh dari gue. Jangan sok lugu dan sok baik. Rasanya mau muntah deket dama elo. Munafik." hina Zoya.
Seketika ruangan hening. Beberapa pasang mata menatap tajam ke arah Zoya dengan tatapan tak percaya dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar.
Bahkan, gerakan tangan Milly yang mengibaskan pakaiannya bagian depan juga terhenti. Dia juga terkejut mendengar apa yang diucapkan Zoya.
Milly melangkahkan kakinya ke belakang beberapa langkah. "Zoya." cicitnya sembari menggelengkan kepala.
Dia sangat kenal bagaimana peringai Zoya saat marah. Dan saat ini, orang yang berada di depannya memang Yaya. Tapi tindakannya seperti Zoya yang sedang dalam mode marah.
Zoya tersenyum miring. Terus menatap Milly dengan tatapan tajam. Lalu Zoya mengalihkan pandangannya ke arah Enggar. "Bersihkan. Ini ulah elo. Jadi elo yang harus membereskannya."
__ADS_1
Zoya duduk di kursinya dengan santi. Kembali melakukan pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan.