
Kedua mata Milly melebar sempurna. Sungguh, dirinya malam ini benar-benar mendapatkan kejutan yang bertubi-tubi yang membuatnya syok.
Setelah drama di meja selesai, dan Milly memutuskan untuk ikut Tuan Darwin beserta Nyonya Ratna pergi meninggalkan restoran, dirinya malah kembali dikejutkan dengan keberadaan Zoya yang berada di sebuah meja. Bersama dengan seorang lelaki yang sangat tampan si restoran tersebut.
Zoya sadar jika kedua mata Milly memandang ke arahnya. Dan oleh karena itu, Zoya sengaja mengajak Zain berbincang. Dengan senyum terus terukir di bibirnya, seolah mereka berdua sangat akrab. Dan Milly pasti berpikir jika keduanya menjalin hubungan.
Zoya seolah tidak tahu jika Milly terus menatapnya dengan kesal. Dirinya malah semakin memanasi Milly dengan menyuapkan makanan ke mulut Zain. Mengusap sudut bibir Zain dengan lembut.
Beruntung Zain tidak menolaknya, dan malah kembali menyuapi Zoya. Sehingga sandiwara Zoya benar-benar terlihat nyata dan natural.
"Terimakasih." cicit Zoya tersenyum semanis mungkin.
Nyonya Ratna tahu, jika langkah Milly semakin melambat. Beliau juga bisa melihat dengan jelas, Milly menatap ke meja dimana Zoya berada dengan pandangan kesal. "Perempuan murahan itu pasti mengenal Yaya. Bukankah mereka bekerja di perusahaan yang sama." batin Nyonya Ratna.
Segera Nyonya Ratna memanggil Milly. Beliau tak ingin Milly menghampiri Yaya dan membuat masalah dengannya. "Milly.... Ayo....!"
"Cukup kamu menginginkan suamiku dan Reiner. Tidak untuk lelaki yang berama dengan Yaya." batin Nyonya Ratna tidak rela.
"Iya tante." Milly segera melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menyusul Tuan Darwin dan Nyonya Ratna.
Meski hati Milly sedang mengumpat, tapi kedua sudut bibirnya tetap melengkung ke atas dengan sempurna. "Senyum palsu. Sungguh muak aku melihatnya." batin Nyonya Ratna sebisa mungkin menahan emosinya.
"Sialan. Siapa lelaki yang bersama dengan Zoya. Dia sangat tampan sekali." batin Milly merasa iri.
Nyonya Ratna masih mengalungkan tangannya di lengan sang suami dengan mesra. Membuat Milly bertanya dalam hati.
Pasalnya, Tuan Darwin sudah mengatakan padanya jika Nyonya Ratna mengetahui jika beliau akan menikah kembali. Sehingga Nyonya Ratna akan mempunyai madu.
"Aneh. Perempuan macam apa dia. Bisa santai begitu. Padahal suaminya mau menikah lagi." batin Milly mengolok Nyonya Ratna, padahal seharusnya dirinyalah yang pantas mendapatkan hinaan karena tingkahnya.
Milly tersenyum samar. "Semua perempuan sama. Pasti dia bertahan karena uang. Mana mungkin dia rela melepaskan tambang uang. Bisa jadi gembel dia kalau sampai dicerai om Darwin." lanjut Milly dalam hati, menyamakan dirinya dan Nyonya Ratna.
Yang jelas-jelas berbeda cukup jauh. Nyonya Ratna perempuan terhormat. Dia adalah seorang istri sah dan juga seorang ibu dari seorang anak.
Lalu Milly, dia hanya perempuan nakal, yang rela menjual tubuh demi uang. Dan perempuan gila, yang rela melakukan apapun untuk apa yang dia inginkan. Tanpa memikirkan perasaan perempuan atau pihak lain.
"Milly,,, apa kamu ikut kami saja. Menginaplah di rumah kami. Kamu sudah lama tidak menginap di rumah kami." tawar Nyonya Ratna, ingin melihat sikap sang suami. Apakah sama sesuai tebakannya, atau tidak.
"Jangan. Kita pulang berdua saja. Biar Milly kembali ke rumahnya sendiri. Papa ada urusan setelah ini." tolak Tuan Darwin dengan alasan klise.
"Apa hubungannya Milly ikut kita dengan urusan kamu. Toh, kita satu arah. Bilang saja jika kamu ingin ke rumah Milly, menyelesaikan masalah kalian." batin Nyonya Ratna.
"Iya tante. Lagian Milly bawa mobil sendiri." Milly menunjukkan dimana mobilnya terparkir.
Rahang Nyonya Ratna mengeras saat melihat mobil Milly. Tapi dia menahan emosinya supaya tidak membuncah. "Mobil itu." batin Nyonya Ratna, melihat mobil Milly sama persis dengan mobil sang putri yang saat ini ada di dalam bagasi.
"Apalagi yang ingin kamu ambil dari hidup putriku. Bahkan mobilpun juga harus sama." batin Nyonya Ratna.
"Milly,,, itu mobil kamu?" tanya Nyonya Ratna tersenyum. Meski kenyatannya, dia sangat ingin membakar mobil tersebut.
"Iya tante."
"Wah... Tante kaget loh. Itu sama persis dengan mobil putri kita. Iyakan pa?" Nyonya Ratna mengelus lengan sang suami dengan lembut. Milly tersenyum kaku. Melihat ke arah Nyonya Ratna dan Tuan Darwin.
Deg.... Tuan Darwin baru menyadarinya. Jika apa yang dikatakan sang istri benar. Tuan Darwin memang tidak tahu mengenai mobil baru Milly. Sebab Milly yang memilih sendiri tanpa beliau temani. Dan Tuan Darwin hanya membayar lewat rekeningnya.
"Bukankah itu mobil yang sangat mahal. Milly,,, tante senang. Kamu pasti sangat berhemat. Buktinya kamu bisa membeli mobil dengan harga yang wah." cicit Nyonya Ratna.
"Ma,,, sebaiknya kita segera pulang." ajak Tuan Darwin.
"Oke. Milly,,, kami duluan ya. Sampai jumpa." pamit Nyonya Ratna. Tuan Darwin melihat sekilas ke arah Milly dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Iya tante. Hati-hati di jalan." sahut Milly melambaikan tangan, tersenyum dengan sempurna.
Tapi, senyum tersebut langsung lenyap begitu Milly seorang diri. "Sama seperti milik Zoya. Memang iya. Barangnya yang sama. Tapi tidak dengan takdirnya." lirih Milly tersenyum miring.
Milly menoleh ke samping. Dimana Zoya dan Zain masih ada di dalam. Dan bukan hanya mereka berdua, tapi Reiner dan yang lain masih ada di dalam juga.
"Sial...!! Gue harus mencari tahu pemilik nomor tersebut. Rasanya tidak mungkin Zoya sang putri tidur yang mengiriminya pada gue." gumam Milly, memikirkan orang yang memegang nomor ponsel Zoya, atau nomor yang memang sama dengan milik Zoya.
"Sudah selesai sandiwaranya?" tanya Zain tersenyum penuh makna, saat Zoya menoleh ke belakang. Melihat sang mama dan sang papa beserta Milly sudah keluar dari restoran.
Zain lelaki yang cerdas dan peka. Dirinya bisa langsung menebak kenapa Zoya bersikap sangat manja padanya.
Zoya menatap Zain sejenak dan langsung tertunduk. Menyembunyikan rasa malu karena menggunakan Zain sebagai alat untuk membuat Milly kesal.
"Aku tahu, jika kamu sengaja melakukannya untuk memanas-manasi perempuan tadi." ujar Zain menatap Zoya dengan senyumnya.
"Maaf." cicit Zoya menggelembungkan kedua pipinya. Menyadari jika dirinya berbuat salah dengan memanfaatkan orang lain.
"Tidak apa-apa. Memang siapa perempuan tadi?" tanya Zain.
"Milly. Teman kerja. Dan dia sangat menyebalkan. Selalu memandang rendah gue karena badan gue yang sebesar ini." ujar Zoya menekan garpunya ke makanan yang berada di atas piring.
"Bahkan dia mengatakan jika tidak akan ada laki-laki yang mau dekat dengan gue. Benar-benar membuat gue darah tinggi." sambung Zoya dengan cemberut.
__ADS_1
Zain terdiam sejenak. Dia berpikir, apakah dibalik keinginan Zoya untuk mengecilkan badannya karena hal tersebut. "Mungkin saja karena alasan itu." batin Zain menebak.
"Tapi sekarang tubuh kamu tidak sebesar dulu."
"Iya,,, gue tahu itu. Makanya gue terus menjaga pola makan. Karena gue nggak punya waktu untuk berolah raga." tukas Zoya.
"Bukankah aku sudah mengundang kamu untuk datang ke gym pribadi milikku. Kamu bisa datang jika hari minggu. Kamu libur, dan aku juga. Aku akan membantu kamu." tawar Zain.
"Entahlah. Entar gue pikirkan." sahut Zoya, yang belum terpikirkan ke sana. Pikirannya malah banyak tertuju pada permasalahan kedua orang tuanya. Tuan Darwin dan Nyonya Ratna.
"Boleh meminta sesuatu?"
"Apa?" tanya Zoya yang malah balik bertanya.
"Aku sudah membantu kamu membuat panas rekan kerja kamu. Bukankah seharusnya kamu memberikan aku sesuatu sebagai imbalannya." pinta Zain.
"Tapi maaf pak Dokter. Uang gue nggak akan cukup membayar makanan di meja ini." sahut Zoya mengira jika Zain ingin dirinya mentraktir Zain.
"Bukan itu."
"Apa?"
"Jangan pakai gue dan elo saat berbicara. Pakai aku dan kamu. Bisa...?" pinta Zain.
Zoya memandang Zain dengan senyum miring. "Aku dan kamu. Awalnya, dia juga meminta hal sepele itu. Dan aku memberikannya. Tenyata dia mampu masuk ke dalam hati gue. Setelah dari gue elo, lalu aku kamu, akhirnya sayang. Sekarang lihat yang terjadi." batin Zoya tersenyum miris mengingat perjalanan cintanya dengan Reiner.
"Maaf tidak bisa. Jika anda tidak mau mendengar saya menggunakan kata gue elo. Maka saya akan merubahnya. Anda dan saya. Adil bukan." tolak Zoya dengan tegas, dan malah akan memanggil Zain dengan kata anda.
"Jangan. Gue elo saja. Nggak masalah. Iya." sahut Zain dengan cepat.
Anda dan saya. Adalah panggilan yang sangat formal. Yang malah akan menjauhkan Zain dari Zoya. Padahal, Zain ingin dekat dengan Zoya. Sebagai teman. Sekarang. Tapi entahlah besok, tidak ada yang tahu.
"Maaf, saya meminta hal itu." cicit Zain.
"Tidak masalah. Hanya saja, gue lebih suka seperti ini. Dan sorry, gue bukan perempuan menye-menye." tukas Zoya.
"Oke." sahut Zain, yang sebenarnya tidak mengerti kata menye-menye. Tapi dia berpura-pura tahu.
Di area parkir, Milly sempat ragu saat akan meninggalkan restoran. Bukan kepikiran Reiner, melainkan lelaki yang duduk bersama dengan Zoya.
"Apa matanya buta. Bisa-bisanya dia nggak malu, masuk ke dalam restoran mahal dan berkelas dengan perempuan seperti badak. Astaga....!! Pasti Zoya pakai jampi-jampi."
Milly menatap kembali ke arah pintu masuk restoran. Padahal dirinya sudah beberapa menit berada di dalam mobil. "Siapa dia. Gila, ganteng banget lagi. Sebelas dua belas dengan Reiner." cicit Milly tersenyum licik.
Milly menyalakan mesin mobilnya, melajukan mobilnya dengan perlahan meninggalkan restoran. "Malam ini, gue benar-benar mendapatkan kesialan. Alice. Dia nggak lebih baik dari gue." tukas Milly.
Astaga... Milly benar-benar serakah. Ditangannya sudah ada Tuan Darwin. Dan dia masih menginginkan Reiner untuk dia miliki. Sekarang, saat melihat seorang lelaki tampan bersama Zoya, dia juga menginginkannya.
Apa Milly pikir, semua lelaki yang tampan dan mempunyai uang harus takluk di bawah selangkangannya. Mimpi saja. Hanya Tuan Darwin saja yang tolol. Mau dimanfaatkan oleh Milly.
Di mobil lain, tepatnya di mobil yang ditumpangi Tuan Darwin dan Nyonya Ratna. Keduanya kembali seperti musuh. Duduk berjauhan dan hanya diam. Tanpa bicara.
Beberapa kali Tuan Darwin mencuri pandang ke arah sang istri. Nyonya Ratna juga bisa melihat, jika sang suami duduk dengan tidak tenang.
Sepertinya Nyonya Ratna bisa menebak kenapa sang suami bagai duduk di atas hamparan paku. "Berhenti." pinta Nyonya Ratna menyuruh sang sopir menghentikan mobilnya.
Tuan Darwin langsung menoleh ke arah sang istri. Dan pak sopir menepikan mobilnya, untuk berhenti. "Mau kemana?" tanya Tuan Darwin, saat sang istri memegang handel pintu mobil. Ingin membuka pintu mobil.
"Tidak usah berpura-pura. Saya tahu jika kamu ingin pergi ke rumah calon istri kamu. Atau mungkin dia sekarang sudah menjadi istri kamu." tekan Nyonya Ratna tanpa menatap ke arah sang suami.
Tuan Darwin menghela nafas panjang. "Bisakah kita seperti tadi?" tanya Tuan Darwin, meminta sang istri bersikap seperti saat mereka berada di restoran.
Nyonya Ratna tersenyum kecut. "Bisa. Tapi saat ada banyak mata yang yang melihat." sahut Nyonya Ratna membungkam mulut sang suami.
"Silahkan lanjutkan perjalanan anda. Saya bukan perempuan yang akan menarik kembali ucapan saya. Apapun yang terjadi." tekan Nyonya Ratna.
Brak... Terdengar suara keras saat Nyonya Ratna menutup pintu mobil dengan kencang.
"Jalan." pinta Tuan Darwin.
"Tuan." sahut sang sopir, enggan melajukan kembali mobilnya.
"Baik." sambung sang sopir, kembali melajukan mobilnya dengan pelan. Dia tentu khawatir dengan sang Nyonya. Dan dia juga melihat, sang Tuan terus menatap kaca pantau. Seolah ingin melihat apa yang terjadi dengan sang istri.
Sang sopir dan Tuan Darwin melihat sebuah mobil berhenti di tepat di depan Nyonya Ratna. Dengan anggun, Nyonya Ratna masuk ke dalam mobil tersebut.
Mobil yang dinaiki Nyonya Ratna melaju, menyalip mobil yang dinaiki sang suami. "Cari tahu siapa pemilik mobil itu." pinta Tuan Darwin.
"Maaf Tuan, mobil seperti itu biasanya digunakan untuk driver online. Mereka bekerja seperti taksi online. Hanya saja, mereka menggunakan mobil pribadi." jelas pak sopir.
Tuan Darwin terdiam. Tak menyahuti apa yang sang sopir katakan. Diam-diam sang sopir mengamati ekspresi sang majikan dari kaca pantau. "Syukurlah. Masih ada rasa cemburu pada hati Tuan untuk Nyonya." batin sang sopir merasa lega.
"Maaf Tuan, kita kemana?" tanya sang sopir.
"Apartemen Milly."
__ADS_1
"Baik." Sang sopir melihat ada yang berbeda dengan Tuan Darwin. Biasanya, ekspresi Tuan Darwin akan terlihat bahagia saat akan bertemu Milly. Tapi kali ini, Tuan Darwin hanya menampilkan ekspresi datar.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di dalam." batin sang sopir, yang juga melihat saat Milly masuk ke dalam restoran.
Di restoran, Zoya dan Zain melangkahkan kaki ke area parkir. "Kamu yakin, tidak perlu aku antar?" tanya Zain menyakinkan kembali Zoya.
"Tidak." sahut Zoya seraya memakai helm.
"Ini sudah malam."
"Tapi gue bawa motor." tolak Zoya.
"Tinggalkan saja motor kamu di sini. Besok kita ambil." saran Zain.
"Repot bener. Bolak balik. Lagian nggak akan ada apa-apa di jalan." tukas Zoya mulai menaiki sepeda motornya.
"Baiklah. Tapi aku akan mengantarkan kamu. Mobilku akan berada di belakang motor kamu. Dan jangan menolak." tegas Zain.
"Rumah elo di mana?" tanya Zoya.
Zain tersenyum. "Kenapa, mau main ke rumahku?" tanya Zain dengan percaya diri.
"Cckk,,, bukan. Tapi yang ada elo akan bolak balik jika tidak searah." tukas Zoya.
Zain tersenyum. Meski mempunyai sifat cuek, tapi kenyataannya Zoya juga mempunyai sisi perhatian. "Sebenarnya searah, hanya saja aku belok ke kiri, kamu jalan terus. Nanti aku bisa langsung saat melewati rumah kamu. Lewat jalan yang ada di belakang rumah kamu." jelas Zain.
"Oke. Terserah elo. Asal nggak merepotkan."
"Tentu saja tidak."
Baru saja Zoya hendak menjalankan motornya, seorang lelaki nyelonong lewat di depan motor Zoya. Beruntung Zoya mengerem tepat waktu. Sehingga lelaki di depannya tidak tertabrak.
"Zoya..." panggil Zain khawatir.
Zoya langsung turun dari motornya. "Hoey... Elo punya mata nggak....!!" bentak Zoya pada lelaki di depannya. Yang ternyata adalah Reiner
"Lagian motor buntut seperti ini, bisa masuk ke sini." ejek Reiner.
Zain ingin mengeluarkan suaranya untuk membela Zoya. Tapi Zoya lebih dulu maju beberapa langkah, dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Motor apa maksud elo. Hah...!!" bentak Zoya dengan menunjuk ke arah Reiner.
"Apa elo mampu beli motor buntut gue dengan uang elo sendiri. Bisa...?! Nggak akan pernah. Orang kayak elo, hanya mengandalkan kekayaan orang tua elo. Gue sangat kenal orang macam elo. Parasit." ejek Zoya.
"Tutup mulut elo cewek gendut." sarkas Reiner.
"Kenapa? Memang seperti itu kenyataannya. Atau, elo jual diri, untuk mendapatkan uang." lirih Zoya menohok.
Zoya bisa menebak kenapa keluarga Reiner ada di meja bersama sang papa dan lainnya. "Elo..." geram Reiner mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Zoya." Zain segera mendekat. Dirinya tidak ingin terjadi apa-apa dengan Zoya.
"Zoya." lirih Reiner, seketika emosinya menghilang saat mendengar nama tersebut.
Zain memegang pundak Zoya, hendak membawanya menjauh dari Reiner. "Orang seperti elo, selamanya akan menjadi boneka orang tua elo. Dan itu hukuman buat elo." tukas Zoya tersenyum remeh.
Reiner terdiam. Badannya seakan membeku di tempat. Semua yang dikatakan perempuan di depannya adalah sebuah kenyataan.
"Sorot mata itu. Sorot mata kebencian yang teramat." batin Reiner, sadar jika Zoya masih menatapnya bagai sebilah pedang yang tajam.
Tiitt.....
Zoya menekan klakson motornya. "Minggir....!!! Elo mau mati." sarkas Zoya dengan bar-bar.
"Pecundang. Pengkhianat." sindir Zoya, saat dia lewat di sebelah Reiner.
Reiner segera menepi, sebab mobil yang dikendarai Zain juga akan lewat. Zain hanya menggeleng pelan. "Ternyata Zoya sangat bar-bar. Mana perempuan seperti itu yang ditindas. Yang ada dia yang menindas." kekeh Zain, melihat jika ternyata Zoya tidak memperlakukannya terlalu kasar.
"Zoya....Zoya.... Aku jadi curiga, jika sebenarnya perempuan tadi yang kamu tindas." ujar Zain, teringat cerita Zoya jika dirinya selalu dianggap remeh saat di kantor.
Selama perjalanan, Zain tersenyum. Dirinya terus mengamati sosok Zoya dari belakang. "Astaga...!! Apa itu tadi?!"
Zain merasa ada bayangan yang berkelebat di depan mobilnya. Dan menghilang di motor yang Zoya kendarai.
Zain menghela nafas panjang. "Fokus Zain. Fokus." cicit Zain, menebak jika dirinya terlalu lelah sampai berhalusinasi.
Kenyataannya, dia memang melihat bayangan tersebut. Dan bayangan itu adalah Yaya. Pemilik tubuh yang sebenarnya, dari perempuan yang dia kenal dengan nama Zoya.
Di area parkir restoran, Reiner mengusap wajahnya dengan kasar. "Zoya. Perempuan tadi memiliki nama yang sama. Hanya, dia tidak secantik Zoya ku. Dia juga sangat kasar. Tidak selembut Zoya ku." cicitnya.
Padahal yang memakinya adalah Zoya yang sama. Zoya sang kekasih. "Tapi,,, kenapa gue merasa dia sangat membenci gue. Padahal dia nggak kenapa-napa." lirih Reiner merasa aneh.
Dan lagi, Reiner merasa jika perempuan tersebut sangat aneh dan membuatnya penasaran. "Perkataannya. Semua benar. Gue memang hanya dijadikan boneka hidup oleh mama dan papa. Itu artinya, gue dijual. Dari mana dia tahu."
"Siapa perempuan tadi?" tanya Reiner merasa penasaran.
__ADS_1