MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 43


__ADS_3

Seorang pembantu mengetuk kamar Nyonya Ratna berulang kali, sembari memanggil sang majikan. "Kenapa? Ada apa ini?" lirihnya dengan nada cemas. Tidak biasanya sang majikan seperti ini.


Biasanya, Nyonya Ratna akan segera membuka pintu kamar, jika ada yang mengetuk atau memanggil namanya dari luar.


Sang pembantu ingin mengatakan, jika di bawah ada teman Nona Muda mereka. Yang beberapa hari sebelumnya pernah datang ke rumah ini juga.


Zoya. Dia segera masuk ke dalam rumah sang papa, begitu Tuan Darwin pergi meninggalkan rumah. Zoya datang sebagai tamu, seperti sebelumnya. Dia menunggu dengan tidak sabar kedatangan sang mama.


Zoya selalu menatap ke arah tangga. Dimana kamar sang mama ada di lantai dua. Senyum Zoya tercetak jelas di bibir, manakala melihat pembantu yang memanggilkan Nyonya Ratna menuruni anak tangga.


Senyum Zoya perlahan lenyap, melihat raut wajah sang pembantu. Tampak jelas jika sang pembantu datang dengan raut wajah cemas.


"Maaf mbak Zoya, tapi Nyonya Ratna tidak membuka pintu kamar." ujarnya, seketika Zoya langsung berdiri dari duduknya.


"Apa maksud kamu?" bukan Zoya yang bertanya, melainkan pembantu yang paling lama bekerja di kediaman Tuan Darwin.


"Saya sudah mengetuk pintu berulang kali mbok. Juga memanggil Nyonya berulang kali. Tapi pintunya tetap tertutup." jelasnya dengan nada khawatir.


Zoya menatap si mbok yang menampilkan raut wajah aneh. Dan pastinya si mbok tahu akan sesuatu. Membuat Zoya menjadi penasaran. "Pasti terjadi sesuatu." batin Zoya.


"Maaf, bagaimana jika kita masuk saja. Saya takut terjadi apa-apa sama tante." saran Zoya.


"Benar. Apalagi, tadi Tuan Darwin pergi begitu saja tanpa sarapan." ujar si mbok.


"Tanpa sarapan." batin Zoya. Tak biasanya sang papa bersikap seperti itu. Sesibuk apapun Tuan Darwin, pasti beliau selalu menyempatkan sarapan bersama keluarga. Itulah yang diingat oleh Zoya.


Tapi itu dulu, saat Zoya masih dalam keadaan sehat. Entah sekarang. Sebab, Zoya sendiri juga tidak berada di rumah ini lagi.


Ketiganya bergegas menaiki anak tangga. Menuju ke kamar Nyonya Ratna. Terkunci. Zoya mencoba membukanya, namun gagal. "Apa ada kunci cadangan?" tanya Zoya.


Si mbok mengangguk. "Tapi bagaimana jika Nyonya marah." cicit pembantu satunya, takut jika Nyonya Ratna marah atas tindakan yang akan mereka lakukan.


"Tidak. Saya jamin. Pasti terjadi sesuatu sama ma,,,, maksud saya tante. Ayo cepat mbok, ambil kunci yang lain. Jangan sampai tante kenapa-napa." ujar Zoya, yang hampir saja keceplosan memanggil Nyonya Ratna dengan panggilan mama.

__ADS_1


Tak berselang lama, si mbok datang. Segera dibukanya pintu kamar dari luar. "Astaga Nyonya..!!" teriak sang pembantu, melihat sang majikan terkulai lemas di lantai.


"Panggil dokter mbok...!!" perintah Zoya.


"Baik Non." segera si mbok keluar dari kamar untuk menghubungi dokter yang juga merawat Nona muda mereka, Zoya.


"Bantu saya bik." pinta Zoya, mengangkat tubuh Nyonya Ratna untuk dibaringkan di atas ranjang tempat tidurnya.


"Hati-hati." tukas Zoya, saat mereka meletakkan tubuh Nyonya Ratna dengan pelan di atas ranjang.


"Bik, saya minta minyak." pinta Zoya.


Segera sang bibik mengambilnya dari laci meja yang ada di kamar sang majikan. "Ini Non." ujarnya memberikan minyak pada Zoya.


Zoya membuka tutup minyak tersebut, mendekatkannya di hidung Nyonya Ratna. "Bangun ma. Bangun." batin Zoya merasa cemas, jika terjadi sesuatu dengan sang mama.


Sang pembantu yang melihat kegelisahan Zoya, merasa heran. Apalagi Zoya baru dua kali datang ke rumah ini. Tapi sang pembantu berpikir positif. Mungkin karena Zoya adalah teman dari Nona muda mereka. Yang kebetulan sama namanya. Zoya.


"Baik Nona." dengan cepat diambilnya minyak dari tangan Zoya, dan segera dia melakukan apa yang Zoya katakan.


Zoya bangkit dari duduknya. Berjongkok sebentar untuk mengambil kertas tersebut. "Non, dokter sedang dalam perjalanan." lapor si mbok pada Zoya.


Zoya hanya mengangguk. "Non dibuatkan minum apa?" tanya si mbok, sebab Zoya datang sebagai tamu bagi mereka.


"Tidak perlu mbok, Zoya hanya sebentar. Ini tadi hanya mampir, mau berangkat kerja." tolak Zoya, sekalian mengatakan alasannya.


"Baiklah. Mbok keluar dulu Non. Mau menunggu pak dokter." pamit si mbok.


"Silahkan." sahut Zoya.


Zoya segera membaca kertas yang ada di tangannya, selepas si mbok pergi meninggalkan kamar Nyonya Ratna.


Kedua rahang Zoya mengeras sempurna. Zoya memejamkan kedua matanya. Menahan rasa marah serta emosi yang bergejolak di dalam dirinya. "Darwin,,,, Milly,,,, gue bersumpah. Gue akan membuat hidup kalian sengsara seperti di neraka." batin Zoya.

__ADS_1


Zoya menatap dengan sendu sang mama yang masih berbaring sembari memejamkan kedua matanya. Zoya menebak, jika sang papa melakukannya karena ingin menikahi Milly.


"Ma, mama tenang saja. Masih ada Zoya di samping mama. Zoya tidak akan membiarkan mama sendirian menghadapi semua ini. Zoya yang akan selalu menguatkan mama." batin Zoya berjanji.


Dengan perlahan, kedua mata Nyonya Ratna bergerak. "Nona,,,, Nyonya bangun...!" seru sang pembantu dengan nada rendah.


"Bik ambilkan air hangat, untuk tante minum." pinta Zoya.


"Baik Non." sang pembantu meletakkan minyaknya di atas meja, dan bergegas melakukan apa yang diinginkan Zoya.


"Tante." panggil Zoya dengan lembut. Sejujurnya, Zoya ingin sekali memanggil Nyonya Ratna dengan sebutan mama. Tapi dia harus menahannya. Dia tidak mau semuanya malah akan menjadi runyam.


Ditambah sekarang sang papa dengan terang-terangan meminta sang mama untuk menandatangani kertas, dimana arti tanda tangan tersebut, menyatakan jika Nyonya Ratna setuju jika Tuan Darwin menikah kembali. Menjadikan beliau istri pertama.


"Zoya." cicit Nyonya Ratna. Zoya segera membantu Nyonya Ratna duduk dan bersandar di ranjang tempat tidurnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Ratna, pasalnya dirinya tadi masih menangis di bawah. Dan sekarang tertidur di atas ranjang.


"Tante pingsan. Beruntung kami datang tepat waktu." papar Zoya.


Nyonya Ratna tersenyum. Meski kedua sudut bibirnya terangkat sempurna ke atas, tapi hatinya sedang terluka. Dan Zoya tahu akan hal tersebut. "Terimakasih. Telah menolong saya."


Sang pembantu datang membawa gelas berisikan air hangat, sesuatu dengan apa yang Zoya minta. "Tante, minum dulu."


"Bik, bisa tinggalkan kami." pinta Zoya dengan sopan.


Sang pembantu tak segera beranjak dari tempatnya berdiri. Dia memandang ke arah Nyonya Ratna meminta persetujuan beliau.


Baginya, Zoya yang ada di depannya adalah sosok asing. Apalagi sang majikan baru saja tersadar dari pingsannya. Pastinya dia takut jika terjadi sesuatu lagi pada Nyonya Ratna.


Nyonya Ratna mengangguk pelan. "Tutup pintunya bik." pinta Nyonya Ratna.


Beliau bisa menebak, apa yang akan dikatakan Zoya. Sebab Nyonya Ratna melihat Zoya memegang kertas yang diberikan sang suami.

__ADS_1


__ADS_2