MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 44


__ADS_3

''Maaf tante, apa karena ini, tante pingsan tadi?" tanya Zoya.


"Tante, tante tidak perlu menutupi semuanya. Jujur, Zoya sudah tahu. Dan semua karena putri tante juga yang namanya sama dengan saya. Zoya." lanjut Zoya terpaksa berbohong.


Nyonya Ratna menatap Zoya dengan tatapan tak percaya. Dipegangnya kedua pundak Zoya dengan erat. "Katakan sesuatu. Apa yang Zoya, putri saya katakan." pinta Nyonya Ratna dengan nada memelas.


Zoya menggenggam tangan Nyonya Ratna di pundaknya. "Tante percaya sama Zoya?" Zoya dan Nyonya Ratna saling pandang.


Nyonya Ratna mengangguk dengan yakin. Entah mengapa, Nyonya Ratna bisa langsung merasa sayang dan percaya dengan Zoya, seorang perempuan berbadan besar yang mempunyai nama yang sama dengan sang putri yang kini berbaring tak berdaya. Padahal beliau baru dua kali ini bertemu dengan Zoya.


"Jangan pernah percaya dengan Milly dan Reiner." tegas Zoya kedua mata memerah memendam amarah.


Nyonya Ratna melepas tangannya di kedua pundak Zoya. Memandang Zoya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Reiner,,,,, dan Milly,,,, kenapa. Kenapa dengan mereka berdua?" tanya Nyonya Ratna merasa apa yang katakan Zoya sangat tak masuk akal.


"Saya tahu, jika Milly adalah sahabat Zoya, putri tante. Bahkan sahabat baiknya. Bahkan Reiner, dia kekasih Zoya. Bertahun-tahun mereka menjalin hubungan. Bahkan mereka serius. Dan akan menikah. Tanpa bertunangan terlebih dahulu." jelas Zoya dengan terperinci.


Nyonya Ratna mengerutkan keningnya. "Lalu apa hubungannya dengan apa yang sekarang kamu pegang?" tanya Nyonya Ratna merasa jika Milly dan Reiner sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan permintaan sang suami yang ingin menikah kembali.


Zoya menatap kertas di tangannya dengan intens. "Reiner, mungkin tidak ada hubungannya. Tapi Milly. Ada." tegas Zoya mengalihkan pandangannya pada sang mama.


Nyonya Ratna terdiam sejenak. Beliau lalu menggeleng. "Tidak mungkin." tuturnya, Nyonya Ratna seakan bisa menebak apa yang ingin disampaikan oleh Zoya.


"Maaf ma, Zoya harus berbohong. Maaf. Ini semua demi mama. Dan juga Zoya sendiri. Kita harus bersatu, meski tubuh yang Zoya gunakan sekarang tubuh orang lain." batin Zoya, akan mengarang cerita pada sang mama.


"Tante pikir, apa Zoya pergi ke luar negeri hanya untuk memberi suprise pada Reiner. Dan hanya untuk bertemu Reiner saja." Zoya semakin membuat kalimat-kalimat yang berujung pada percayanya Nyonya Ratna pada setiap apa yang akan dia katakan.


"Tidak tante. Tidak. Saya sendiri saksinya. Karena selain putri tante, saya juga melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Tapi kami memilih berpura-pura tidak tahu. Dan berpikir apa yang akan kami lakukan ke depannya."


"Memang, apa yang kalian lihat?"


Zoya terdiam sesaat. Menatap sang mama dengan nafas yang seakan sulit dia hembuskan. "Kebersamaan Tuan Darwin dengan Milly." lirih Zoya, meneteskan air mata di kedua pipinya.

__ADS_1


Tanpa Zoya jelaskan secara detail, Nyonya Ratna tahu kemana arah perkataan Zoya.


Nyonya Ratna membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Air matanya lagi-lagi keluar dari kedua kelopak matanya.


"Kami berdua tak sengaja melihatnya. Dan Zoya memutuskan untuk merahasiakannya terlebih dahulu dari tante. Dia ingin bercerita pada Reiner. Makanya dia nekat pergi ke luar negeri. Hanya untuk bertemu dengan Reiner."


Nyonya Ratna menatap Zoya dengan tatapan syok bercampur rasa tak percaya. Sebab, apa yang Zoya katakan sama sekali tidak terpikir dalam benaknya.


Milly, yang selama ini dianggap sebagai putri, seperti dia memperlakukan Zoya. Apa benar berani menikamnya dari belakang.


"Tapi sayang. Setelah sampai di tempatnya Reiner. Zoya menemukan sesuatu yang membuat dia sakit hati untuk kedua kalinya. Reiner selingkuh tante. Dia selingkuh dengan perempuan lain." tegas Zoya.


"Dari mana kamu tahu, jika Reiner selingkuh?"


Sangat wajar jika Nyonya Ratna tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zoya. Jika Reiner selingkuh.


Pasalnya, selama ini mereka melihat bagaimana perhatian yang diberikan Reiner pada Zoya. Sebelum kecelakaan terjadi, dan sesudah kecelakaan terjadi.


"Zoya memberitahu saya lewat pesan tertulis. Zoya mengatakan jika Reiner selingkuh. Tapi, saya sendiri tidak tahu. Kenapa Zoya mengalami kecelakaan, di hari yang sama saat kecelakaan terjadi." ucap Zoya berbohong pada sang mama.


Zoya tidak peduli, jika dirinya harus benyak berbohong. Asal sang mama percaya dengan semua yang dia katakan.


Sebab tak mungkin Zoya mengakui semuanya. Mengakui jika dirinyalah Zoya. Putri dari Tuan Darwin dan Nyonya Ratna. Yang ada, Zoya malah akan di usir dan dianggap tidak waras.


Nyonya Ratna terdiam. Dia ingat betul pertama kali bertemu Reiner di rumah sakit tempat Zoya dirawat. Reiner masih menggunakan pakaian kerja. Dan waktu Zoya mengalami kecelakaan, beberapa jam setelah Zoya tina di negara tempat Reiner berada.


"Jika tante tidak percaya, tante bisa menyelidikinya sendiri. Apa saya berbohong, atau tidak." tukas Zoya.


Zoya tahu, semua uang dia ceritakan seperti sebuah dongeng yang mustahil. Apalagi, selama ini baik Milly dan Reiner selalu bersikap baik terhadap Nyonya Ratna.


Zoya mengambil kertas dan bolpoin di atas meja. Menulis nomor ponselnya di sana. "Ini nomor ponsel saya tante. Jika tante percaya, hubungi saya. Jika tidak, saya akan bertindak sendiri, demi Zoya. Putri tante." tegas Zoya, menaruh kertas berisi nomor ponselnya di atas ranjang.

__ADS_1


Zoya menaruh kertas milik sang papa di atas meja dekat ranjang. "Jangan tante tanda tangani dulu. Mintalah waktu untuk berpikir." tukas Zoya.


Zoya mengulurkan tangannya. Mengambil telapak tangan sang mama. Mencium punggung telapak tangan Nyonya Ratna.


"Tante tidak sendiri. Ada saya di sisi tante. Zoya." tekan Zoya, menginginkan jika sang mama menghubungi dirinya.


"Permisi tante. Zoya pergi dulu."


Di ambang pintu, Zoya kembali membalikkan badan. Menatap sendu ke arah Nyonya Ratna. "Ini Zoya ma. Putri mama. Mama bisa menjadikan pundak Zoya sebagai tempat bersandar." ucap Zoya yang sayangnya hanya bisa dia katakan di dalam hati.


"Mbok,,, dokter. Maaf, kalian menunggu di luar." cicit Zoya. Yang tidak tahu jika sang dokter telah datang.


"Tidak apa-apa, saya juga baru datang." ucap sang dokter dengan senyum tulusnya.


"Nona mau langsung berangkat kerja?" tanya si mbok.


"Iya mbok. Mari dok. Saya permisi dulu." pamit Zoya.


Zoya segera meninggalkan kediaman Tuan Darwin untuk menuju ke kantor. "Sepertinya gue pernah lihat wajah dokter tadi. Tapi dimana ya." batin Zoya, saat dirinya sudah berada di dalam taksi.


Sedangkan di rumah Nyonya Ratna, sang dokter memeriksa keadaan Nyonya Ratna di dalam kamar. "Apa yang sedang kamu pikirkan. Sampai seperti ini." tukas sang dokter, memasukkan kembali alat-alatnya ke dalam tas. Setelah memeriksa Nyonya Ratna.


Nyonya Ratna segera menutupi kertas pemberian sang suami dengan bantal, begitu sang dokter dan seorang pembantu masuk ke dalam kamar.


Nyonya Ratna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sang dokter. "Tenang saja. Saya yakin jika Zoya pasti akan membuka kedua matanya. Dia hanya masih terlelap dalam tidurnya." jelas sang dokter.


Mengira jika Nyonya Ratna sampai pingsan karena kelelahan memikirkan sang putri yang tak kunjung sadar. "Kapan?" tanya Nyonya Ratna dengan suara seraknya, karena baru saja menangis.


"Percaya saja. Pasti Tuhan akan mengabulkan do'a kita." sahut sang dokter. Sebab dia sendiri juga tak tahu kapan itu akan terjadi.


Hanya saja, sang dokter percaya jika Zoya akan membuka kedua matanya. Dan kembali berkumpul bersama dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2