MAZOYA (Aku Bukan Diriku)

MAZOYA (Aku Bukan Diriku)
MAZOYA 11


__ADS_3

Zoya merasa dirinya berada di sebuah tempat yang sangat asing. Sepanjang mata memanjang, hanya ada tumbuhan hijau seperti rumput berbunga yang tampak indah.


Zoya menoleh ke kanan dan kiri. Hanya ada dia seorang diri. Rasa takut menyergap. Dia berlari tak menentu arah. Berharap akan menemukan seseorang.


Nafas Zoya tersengal. Zoya menghentikan larinya, saat dia merasa sudah jauh berlari. Tapi tetap saja, dia berada di tempat seperti yang dia lihat sebelumnya.


Zoya menggeleng. "Tidak. Ini ada di mana? Kenapa gue sendirian?" tanyanya dengan wajah ketakutan.


Zoya merasa silau. Ada cahaya yang menyilaukan matanya. Membuat Zoya menyipitkan kedua matanya. Perlahan, Zoya menajamkan penglihatannya ke arah di mana cahaya tersebut berasal.


"Pintu." Zoya kembali berlari dengan kencang ke arah pintu.


"Ini." Zoya melihat dirinya berada di kamar mewahnya. Yang selama ini dia menjadi tempat tidurnya setiap malam.


Zoya menggeleng tak percaya. Ada sosok yang memiliki wajah seperti dirinya, berbaring di atas ranjang yang selalu dia tempati setiap malam hingga pagi.


Dengan berbagai alat tertempel di bagian anggota tubuhnya. Wajahnya juga terlihat sangat pucat. Kedua matanya terpejam, seperti sedang tertidur pulas.


"Siapa dia. Kenapa mirip sekali denganku." Zoya mencoba meraba sosok yang tidur di atas ranjangnya. Tapi itu tidak bisa dia lakukan. Tangannya tembus, tak bisa menyentuh objek yang ingin dia pegang.


"Ada apa dengan tanganku." Zoya menatap ke arah kedua telapak tangannya yang nampak seperti biasa. Sama sekali tidak ada yang aneh.


Krek... pintu kamar terbuka dari luar. Sang mama, sang papa, dan juga Reiner beserta kedua orang tua Reiner masuk ke dalam kamar.


Zoya menatap Reiner dengan amarah. "Ngapain elo ke sini. Brengsek. Pergi elo...!! Jangan menginjakkan kaki elo si kamar gue...!!" teriak Zoya.


Zoya mengangkat tangannya, memukul Reiner dengan semangat yang membara. Zoya kembali melongo dengan tatapan kebingungan.


Tangan Zoya sama sekali tidak bisa menyentuh Reiner. Bahkan, papa Reiner melewati tubuhnya, seperti menembus badan Zoya.


"Ini,,,, apa yang terjadi dengan tubuh gue." gumam Zoya.


Zoya melihat ke arah ranjang. Dimana semuanya mengelilingi ranjang dengan menatap ke arah sosok yang mirip dirinya dengan tatapan sedih.

__ADS_1


Nyonya Ratna membelai pipi Zoya yang berada di atas ranjang. "Sayang, Zoya... anak mama tersayang. Bangun. Mama kangen sama kamu." air mata Nyonya Ratna mengalir dari kedua kelopak mata Nyonya Ratna.


"Zoya... Ma, ini Zoya. Bukan dia." seru Zoya yang merasa jika sang mama salah mengenali dirinya.


Zoya terdiam. Dengan perlahan, dia berjalan menuju ke arah sang papa. Mencoba untuk memegang lengan sang papa. Tapi kembali gagal.


Zoya menggeleng. "Tidak. Jika itu gue, lalu gue siapa?" cicit Zoya, kebingungan.


Zoya kembali mengingat apa yang terjadi. "Kecelakaan." gumamnya.


"Semua gara-gara elo Reiner. Sialan...!!" seru Zoya.


"Apa yang harus gue lakukan?" kini Zoya mengerti apa yang terjadi pada dirinya.


Yang berada di atas ranjang, dengan berbagai alat medis menempel di sana adalah raganya. Hanya jasad yang tidak bisa melakukan apapun.


"Gue harus kembali ke dalam tubuh gue." cicit Zoya.


"Iya benar."


"Ayo,,, masuk...!!!" jerit Zoya, pasalnya apa yang dilakukan tidak berhasil.


Zoya hanya bisa menangis di tepi ranjang sambil berdiri. "Aku belum ingin mati." cicitnya.


Di saat menangis, Zoya kembali melihat pantulan cahaya dari cermin. "Siapa tahu, itu jawaban dan cara gue masuk kembali ke tubuh gue."


Segera Zoya menghapus air matanya. Dan berlari dengan tidak sabaran ke arah cahaya. Zoya menoleh ke belakang, setelah masuk ke dalam tempat lain.


"Hilang." cicit Zoya saat menengok ke belakang. Tak ada lagi pintu atau lokasi kamarnya.


"Astaga, apa itu tadi pintu ajaib ke mana saja milik doraemun." gumam Zoya.


Zoya terdiam. Telinganya mendengarkan suara tangisan. "Apa lagi ini?"

__ADS_1


Zoya merasa merinding dan takut. "Tuhan, apa benar, gue sudah meninggal. Dan suara itu, suara hantu lain." tukas Zoya semakin mengaco.


Zoya menajamkan penglihatannya. "Sepertinya gue kenal dengan dia."


Zoya melihat seorang perempuan dengan tubuh gemuk, duduk sembari menangis. "Yaya. Bukankah dia Yaya."


Zoya berjalan mendekat. "Kenapa gembrot ada di sini." ujarnya seraya berjalan mendekat.


"Ya--ya--Yaya." panggil Zoya ragu.


Yaya mengangkat kepalanya. Menjadikan Yaya dan Zoya saling berpandangan. "Kenapa elo juga ada di sini?" Zoya berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Yaya.


Yaya hanya diam. Dan kembali menangis. "Apa Yaya seperti gue." gumam Zoya.


"Yaya, mungkin nasib elo jauh lebih baik dari gue. Elo coba kembali ke badan elo." saran Zoya, yang dimana tubuhnya saja menolak untuk dia masuki.


Yaya menutup kedua telinganya serta menangis histeris. "Aku nggak mau. Aku di sini saja. Aku nggak mau....!!!"


Zoya berdiri dan segera menjauh. Takut dengan apa yang terjadi pada Yaya. Apalagi Yaya tampak akan mengamuk.


"Sebaiknya gue tinggalkan saja dia di sini. Tuhan, kembalikan pintu ajaib ke mana saja tadi. Gue ingin kembali ke kamar." cicit Zoya.


Zoya berjalan seperti awal. Dirinya berjalan ke sana kemari mencari jalan keluar hingga terasa lelah. Senyum Zoya terukir di bibir, saat melihat ada sebuah pintu.


Tapi pintu tersebut tidak ada cahayanya seperti pintu yang dia lihat sebelumnya. "Sebaiknya gue memastikan saja dulu." tukas Zoya.


Zoya berlari untuk masuk ke pintu tersebut. Tapi langkahkan terhenti di ambang pintu. Kembali menoleh ke belakang. "Apa gue kembali lagi. Mengajak Yaya masuk ke sini bersama gue." ucap Zoya mencoba berpikir apa yang akan dia lakukan.


"Ckkk,,,, biarkan saja. Toh Yaya sendiri yang menolak untuk gue ajak."


Zoya memutuskan masuk melalui pintu tersebut tanpa Yaya. Baru saja kaki Zoya melangkah selangkah masuk ke dalam, tubuh Zoya seperti tersedot ke dalam.


"Ada apa lagi ini?" seru Zoya, mencoba bertahan.

__ADS_1


Tapi percuma. Ada sesuatu yang menyedot Zoya untuk masuk ke dalam sesuatu yang Zoya sendiri tidak tahu apa itu.


__ADS_2