
Nyonya Ratna menatap kertas yang ada di tangannya. Dimana tertulis nomor ponsel Zoya di kertas tersebut.
"Reiner,,, Milly,,, Apa benar, mereka seperti yang dikatakan gadis itu?" tanya Nyonya Ratna pada dirinya sendiri.
Nyonya Ratna menatap lekat ke wajah sang putri. Dirinya seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Zoya. "Jika benar Milly selingkuhan papa, kenapa selama ini aku tidak tahu."
Nyonya Ratna memegang lengan sang putri. "Sayang, bangunlah. Mama membutuhkan kamu. Apa yang harus mama lakukan, apa mama harus percaya dengan gadis yang mempunyai nama seperti kamu, atau,,,,,, sayang, apa yang harus mama lakukan?" lirih Nyonya Ratna merasa tertekan seorang diri.
Nyonya Ratna terdiam. Kepalanya terasa berdenyut, memikirkan masalah yang sedang beliau hadapi. Sang suami menginginkan untuk menikah lagi, tapi beliau tidak ingin bercerai dari Nyonya Ratna.
Sementara Nyonya Ratna, pasti tidak ingin di madu. Dan masalah terbesarnya adalah Zoya, sang putri yang sedang berbaring. Dimana dia membutuhkan banyak uang untuk bertahan hidup.
"Sayang, mama akan melakukan apapun. Apapun. Asal kamu tetap mendapatkan pengobatan yang layak. Meski mama harus menahan rasa sakit di dalam hati." ujar Nyonya Ratna memutuskan.
Nyonya Ratna mengambil kertas pemberian sang suami. Tanpa ragu, beliau menandatangani kertas tersebut. Yang artinya, dirinya menyetujui jika sang suami menikah lagi dengan perempuan lain.
"Tuhan, bekukan hati ini. Jangan lagi Engkau berikan rasa pedih di dalamnya. Hanya demi putri hamba." tutur Nyonya Ratna menatap Zoya dengan tersenyum sendu.
Seorang ibu, akan melakukan apapun demi sang putri. Demi keselamatan sang putri. "Jika saja mama punya uang banyak, mama akan membawa kamu keluar dari rumah ini sayang. Kita hidup hanya berdua." cicitnya berandai-andai.
Nyonya Ratna keluar dari kamar Zoya, menuju ke kamarnya. Diletakkannya kertas yang telah dibubuhi tanda tangannya di atas nakas.
Dilihatnya ranjang besar dan empuk. Dimana setiap malam, selama bertahun-tahun dirinya dan sang suami tidur di ranjang tersebut.
Nyonya Ratna tersenyum pahit. "Pantas, setahun belakang ini mama merasa papa berubah. Tak sehangat dulu." tuturnya sembari mendongakkan kepalanya ke atas. Menghalau air mata yang hendak jatuh dari kedua kelopak matanya.
"Mulai sekarang. Mama dan papa tidak akan bisa seperti dulu sayang. Rasa sakit yang ditorehkan papa kamu, akan selamanya membekas."
__ADS_1
Meski beliau sepenuh hati menahan air matanya, namun tetap saja, air mata tersebut meluncur bebas di pipinya.
"Jika benar Milly perempuan itu, seumur hidup aku akan mengutuk perbuatannya." geram Nyonya Ratna.
Nyonya Ratna mengambil beberapa helai pakaian serta perlengkapannya. Dan beberepa barang yang dibutuhkan untuk dibawanya ke kamar Zoya.
Tampak Nyonya Ratna akan tidur di dalam kamar sang putri untuk malam ini. Dan mungkin seterusnya. "Sudah ada perempuan yang bisa membuat papa bahagia. Maka mama akan menyingkir. Mama hanya akan tinggal di rumah ini karena Zoya. Tidak lebih." batinnya, berjalan ke kamar sang putri.
"Sayang, mama titip baju ya." cicitnya menaruh pakaiannya di dalam lemari milik Zoya.
Nyonya Ratna duduk di ranjang Zoya. Tepatnya di samping tubuh Zoya berbaring tak berdaya. Ditatapnya sang putri dengan lekat.
Kembali, perkataan Zoya, si gadis gendut terbesit di dalam benaknya. "Reiner selingkuh. Dan Zoya mengetahui jika Milly adalah selingkuhan papa." batin Nyonya Ratna.
"Benar, aku harus menyelidikinya. Tapi bagaimana caranya?" tanyanya pada diri sendiri.
Beberapa menit Nyonya Ratna berpikir. Tentu saja cara mencaritahu, apa benar jika Milly perempuan yang akan menjadi madunya. Perempuan yang selama ini disayangnya seperti putrinya sendiri.
Di carinya sesuatu di semua tempat yang berada di ruangan kerja Tuan Darwin. Dirinya ingin mencari bukti, meski tidak lengkap. Setidaknya bisa membawanya kepada perempuan selingkuhan sang suami.
Nyonya Ratna memang berasal dari keluarga sederhana. Namun dirinya juga pernah mengeyam pendidikan di bangku kuliah, meski tak sampai lulus.
Di bacanya secara cermat setiap berkas yang dia lihat. "Pasti ada sesuatu yang bisa saya jadikan awal pencarian saya." cicitnya.
Tak ada. Nyonya Ratna sama sekali tidak menemukan apapun yang mengacu kepada perselingkuhan sang suami.
Nyonya Ratna duduk di kursi single yang biasanya dipakai Tuan Darwin untuk bekerja. Kedua matanya memandang setiap sudut didalam ruangan. Barangkali dirinya menemukan sesuatu.
__ADS_1
"Apa aku menelpon Zoya saja." cicitnya saat tidak menemukan apa yang dia cari.
Pastinya Tuan Darwin tidak akan meninggalkan bukti perselingkuhannya di rumah. Dirinya yang memang telah lama melakukan hubungan terlarang tersebut, sangat pandai menyimpan semuanya dengan rapat.
"Tuhan, ternyata semua tak seindah bayangan saya. Kenapa cobaan ini datang di saat saya menjemput hari tua saya." gumamnya.
Nyonya Ratna akan mencari tahu terlebih dahulu mengenai Milly. Barulah setelah itu, dia bermaksud mencari tahu perihal Reiner.
"Jika ternyata kalian berdua penyebab putri saya mengalami kondisi seperti ini, saya bersumpah akan membalasnya dengan tangan saya sendiri." ucap Nyonya Ratna.
Nyonya Ratna menghubungi Milly, bertanya padanya di mana keberadaannya sekarang. Dan tentu saja Milly mengatakan jika sekarang berada di perusahaan. Sedang bekerja.
Tak percaya, setelah menghubungi Milly, Nyonya Ratna bertanya pada seseorang di kantor. Yakni seseorang yang telah lama Nyonya Ratna kenal. Sebab beliau adalah teman sekolah Nyonya Ratna. Dan sekarang dia bekerja sebagai karyawan di perusahaan sang suami.
"Milly, kenapa dia berbohong." cicit Nyonya Ratna, setelah mengetahui jika Milly hari ini tidak masuk ke kantor.
Tak puas sampai di situ, Nyonya Ratna menghubungi sekertaris sang suami. Bertanya keberadaan sang suami. Dan tepat sebelum Nyonya Ratna menanyakan hal tersebut, Tuan Darwin dengan tergesa meninggalkan ruangannya. Bahkan meninggalkan perusahaannya tanpa berpamitan pada sang sekertaris.
Tentu saja sang sekertaris mengatakan yang sejujurnya pada Nyonya Ratna. Jika Tuan Darwin baru saja meninggalkan perusahaan tanpa berpamitan pada dirinya.
"Kemana papa pergi." cicit Nyonya Ratna, setelah mengakhiri panggilan telepon dengan sang sekertaris.
"Pak sopir." tukas Nyonya Ratna, segera menghubungi sopir pribadi sang suami. Menanyakan keberadaan sang suami.
Dan benar saja, jawaban yang diberikan sang sekertaris dan sang sopir berbeda. Sang sopir mengatakan jika Tuan Darwin masih berada di perusahaan.
Nyonya Ratna tersenyum kecut. Merasa jika selama ini dirinyalah yang terlalu lugu. "Betapa bodohnya saya. Selama ini, saya hanya dianggap sebagai boneka saja." ujarnya terkekeh pelan. Menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Nyonya Ratna segera mengirimkan pesan tertulis pada nomor ponsel Zoya. Gadis bertubuh besar yang namanya sama dengan nama sang putri.
SAYA INGIN BERTEMU.