
"Zoya....!!" panggil seorang pegawai perempuan pada Zoya, saat Zoya melangkahkan kaki hendak pergi ke ruangannya.
Dua pegawai perempuan tersebut menghampiri Zoya dengan pandangan kesal. Keduanya adalah pegawai yang Zoya permalukan saat mereka berada di lift tadi.
"Elo habis dari mana. Ruangan Tuan Darwin?" tanya salah satu dari mereka dengan ketus.
Tapi Zoya tetap diam dan acuh. "Eeeiittt.... Mau ke mana?!" serunya, menghalangi langkah Zoya yang ingin segera kembali ke ruangannya.
Sementara yang satu berdiri tepat di depan Zoya, menghalangi langkah kaki Zoya, perempuan yang satunya lagi berdiri di samping Zoya dengan bersedekap dada.
"Ingat, ini masih jam kerja." ujar Zoya mengingatkan.
"Alah.... nggak usah sok menjadi pegawai teladan. Nggak guna. Elo akan tetap menjadi Zoya si pecundang." hinanya tersenyum miring.
Zoya menghela nafas kasar. "Sumpah, kenapa Yaya bisa tahan diperlakukan seperti ini setiap hari. Tuhan,,,, ingin rasanya gue gampar mereka berdua." batin Zoya, yang baru beberapa hari menjalani hari-hari sebagai Yaya.
Tapi sudah merasa muak dengan semua yang dia hadapi. Dengan semua sikap yang dia terima dari orang-orang di sekitarnya, yang selalu memandang rendah Yaya karena fisiknya.
"Minggir, gue mau lewat." usir Zoya, lebih baik menghindari kedua perempuan ini. Dari pada dirinya tak bisa menahan emosi.
"What... elo dengar...!!" ucap salah satu perempuan tersebut menatap rekan kerjanya. "Dia mengusir kita. Si gendut, kuda nil. Berani berkata seperti itu. Demi apa...???!" lanjutnya sembari terkekeh pelan.
"Kepalanya mungkin gesrek, karena beberapa minggu koma." ejek perempuan yang satunya.
Mereka tidak tahu, saat ini, yang berdiri di depan mereka bukan si gendut yang selalu kalah dan menuruti semua ucapan mereka. Bahkan saat dia di hina dan diinjak, dia akan selalu menundukkan kepala.
Zoya menaikkan dagunya, memandang tajam keduanya bergantian. "Gue peringatkan. Jangan mencari masalah sama gue." tekan Zoya.
Zoya melangkahkan kaki maju, menabrak tubuh perempuan yang berada di depannya hingga dia terjengkang. "Aaaaw..." jeritnya, merasakan sakit di pantatnya.
Zoya tertawa lirih. "Itu tadi baru sedikit kekuatan dari kuda nil. Makanya jangan macam-macam dama kuda nil." ketus Zoya, terus melangkahkan kakinya tanpa peduli dengan mereka berdua.
Rekannya yang satu segera membantu sahabatnya yang terjatuh. "Sakit....!!! Gue nggak terima...!! Zoya....!!!" teriaknya, memegang pantatnya yang terasa sakit. Belum lagi pergelangan kakinya juga terasa nyeri karena terjatuh. Sebab dia menggunakan high hell yang lumayan tinggi.
"Zoya sialan. Berani sekali dia." geram yang satunya tidak terima.
Keduanya lantas bergegas pergi ke ruangan Tuan Darwin. Keduanya sepakat akan melaporkan apa yang dilakukan Zoya pada mereka.
Niatnya tentu saja ingin Zoya kena hukuman. Atau lebih baik, Zoya diberhentikan dari pekerjaannya.
"Lihat saja, gue yakin dia akan kicep saat di depan Tuan Darwin. Rasakan, biar di pecat sekalian." bisiknya pada rekan di sampingnya yang membantunya berdiri.
Keduanya menghadap Tuan Darwin dengan kepercayaan diri. Mereka yakin jika Zoya akan dihukum.
"Maaf Tuan, apa tidak sebaiknya kita lihat dulu CCTV nya. Sebelum memanggil kembali mbak Zoya." saran sang sekertaris, saat Tuan Darwin memintanya untuk kembali memanggil Zoya.
__ADS_1
Kedua pegawai tersebut melirik ke arah sekertaris dengan tatapan kesal. "Sekertaris sialan." batinnya. Sebab sang sekertaris pasti sengaja melakukannya.
Semua karyawan mengetahui jika sang sekertaris selama ini memang selalu bersikap baik pada Zoya.
Sedangkan sang sekertaris tersenyum samar. Dia dapat menebak apa yang terjadi. "Mustahil jika Zoya mencari masalah dengan kalian. Yang ada, kalianlah yang mencari masalah dengan Zoya." batin sang sekertaris menebaknya.
"Tuan,,, maaf. Mungkin ini salah kami." tukas salah satu pegawai tersebut.
"Iyaaa... benar.. iya.." sahut karyawan yang satunya tersenyum kaku.
"Karena memang badan Zoya besar, jadi kemungkinan Zoya tak sengaja menabrak teman saya ini." jelasnya.
"Benar Tuan, tadi Zoya juga sudah meminta maaf." ujarnya menyakinkan Tuan Darwin.
"Dasar pembohong." batin sang sekertaris.
Yang ada mereka berdua yang akan terkena masalah. Jika harus melihat semua yang terjadi lewat kamera CCTV.
"Baiklah. Kalian boleh keluar." ujar Tuan Darwin.
"Silahkan." sang sekertaris membukakan pintu untuk keduanya agar segera meninggalkan ruangan atasannya tersebut.
Sang sekertaris kembali duduk di kursi yang berada tepat di depan ruangan Tuan Darwin. Dia menghela nafas sembari menggelengkan kepala pelan.
"Zoya... Zoya... Elo anak yang sopan dan polos, pintar lagi. Bisa-bisanya mereka tidak menyukai kamu. Padahal, kamu tidak pernah mencari masalah dengan mereka." gumamnya.
Sedangkan Zoya masuk ke dalam ruangan dengan santai. Duduk di kursinya dengan tenang, dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Zoya menaikkan sebelah alisnya, melihat ada map baru di atas mejanya. "Itu milik gue, elo kerjakan sekalian." perintah Enggar layaknya boss besar.
Zoya hanya mengambilnya, menaruhnya di tumpukan map yang lainnya. Dari tempatnya duduk, Miko menatap ke arah Zoya yang terlihat tenang.
"Aaaaa... akhirnya,,,,,!!!" seru Meta, saat jam makan siang tiba.
"Memang elo capek ngapain?! Kerja saja kagak." sindir Beni.
"Hussstt... Diam...!! Gue lakban mulut elo!" sarkas Meta.
Semuanya segera keluar dari ruangan. Zoya memandang mereka yang sedang tertawa sembari keluar dari ruangan. "Kamu membawa bekal?" tanya Miko.
Zoya mengangguk, seraya mengambil kotak bekal dari dalam paper bag. "Ya sudah, aku ke kantin dulu." pamit Miko.
Zoya hanya diam tanpa menyahuti perkataan dari Miko. Senyum di bibir Zoya tersungging, melihat isi bekal yang di siapkan oleh ibu Yaya.
"Terimakasih bu." cicitnya.
__ADS_1
Satu suap, dua suap, tiga suap, entah mengapa Zoya seperti kesulitan menelan makanan yang selanjutnya. Jantungnya terasa sesak. Seperti ada batu besar yang menghimpitnya.
Zoya segera minum beberapa teguk susu hangat yang berada di dalam termos kecil, dimana ibu dari Yaya yang juga menyiapkannya.
Zoya segera menghapus air mata yang secara tiba-tiba mengalir di pipinya. "Yaya, seharusnya elo yang makan ini. Bukan gue." cicitnya, merasa bersalah.
Hening sejenak. Zoya hanya diam, memandang ke arah makanan tersebut. Zoya kemudian tersenyum. "Memang elo mau, makan kayak gini. Pasti elo nggak mau. Dasar Yaya, pantas badan elo sebesar gajah." lirihnya.
Zoya memakan sampai habis bekal yang dia bawa. "Maaf Yaya, maafkan gue." batinnya. Teringat saat dirinya memperlakukan Yaya dengan tidak baik.
Hingga Zoya juga pernah menumpahkan bekal Yaya dengan sengaja di atas lantai. Hingga makanan tersebut tak bisa dimakan kembali.
Zoya menelungkupkan wajahnya di atas meja, dengan menggunakan kedua tangannya sebagai alas. Zoya merasa jika dirinya ternyata sama dengan karyawan yang lain.
"Maaf." lirih Zoya, merasa menyesal.
"Gue berjanji, setelah kita kembali ke tubuh kita masing-masing, gue akan memperlakukan elo dengan baik. Gue akan menjadikan elo saudara gue." lirih Zoya masih dalam tangisnya.
Segera Zoya mengusap air mata serta memperbaiki penampilannya, saat mendengar suara yang mendekat ke arahnya.
"Tumben elo sudah selesai makan." tegur Beni, yang baru masuk bersama Enggar. Karena biasanya, Yaya masih menikmati makan saat semuanya kembali dari kantin.
Zoya mengacuhkan perkataan Beni, memasukkan wadah bekalnya ke dalam paper bag.
Klontang..... belum sampai masuk ke dalam paper bag, wadah makanan Zoya jatuh ke lantai karena ulah Enggar.
"Maaf." cicit Enggar tersenyum santai.
Zoya berdiri. Memandang tajam ke arah Enggar. "Ambil." pinta Zoya.
Enggar tertawa lepas. "Elo nyuruh gue, elo pikir elo siapa...??!" tanya Enggar dengan nada tinggi.
Milly yang baru datang dengan Meta, menghentikan langkah kaki mereka di ambang pintu. Juga dengan Miko, yang melihat kejadian tersebut dari jendela.
"Aaw...!!" seru Enggar, saat Zoya menarik rambutnya ke belakang karena Enggar hendak pergi tanpa mengambil wadah makanan milik Zoya yang berada di lantai.
Zoya melepaskan jambakan rambutnya sembari mendorong tubuh Enggar hingga terjatuh tepat di depan wadah makanan tersebut.
"Ambil...!!" seru Zoya, menekan punggung Enggar.
Enggar hendak berontak, tapi tekanan tangan Zoya di punggung lebih kuat. "Ambilll.....!! Apa telinga elo budek...!!" seru Zoya.
Semuanya terlonjak kaget mendengar suara Zoya. Juga dengan Milly, yang merasa jika di depannya bukanlah Yaya yang dahulu.
Mau tak mau, Enggar mengambil wadah tersebut. Zoya mengambil wadahnya dari tangan Enggar dengan kasar. "Gue peringatkan. Jangan pernah elo mencari masalah sama gue. Paham..!!" bentak Zoya.
__ADS_1
Enggar hanya diam, menahan rasa sakit di kedua lututnya. Tapi terlihat jelas di raut wajahnya, jika dirinya tidak terima dengan apa yang dilakukan Zoya kepadanya.