
"Bagaimana caranya, gue buka brangkas tapi tak terlihat kamera CCTV." batin Zoya, memikirkan cara untuk mengambil sesuatu dari sana.
Zoya tersenyum samar. "Petugas CCTV. Gue akan menyuruhnya menghapusnya." seringai licik tercetak jelas di bibir Zoya.
Dan sepertinya Zoya memang sudah mempunyai cara untuk membuat petugas yang berada di ruang CCTV menuruti perintahnya.
Zoya mengatakan lada sang sekertaris jika ingin bertemu Ruan Darwin, untuk memberikan laporan keuangan. Sang sekertaris mempersilahkan Zoya untuk masuk sendiri.
Sampai di dalam ruangan, Zoya tak menemukan sang papa. Hanya terdengar suara gemericik air dari kamar mandi yang memang tersedia di ruangan tersebut.
Tanpa banyak membuang waktu, segera Zoya mendekat ke arah brangkas. Mempergunakan waktu sebaik mungkin. Sebab Tuan Darwin masih berada di dalam kamar mandi.
Dengan mudah Zoya bisa mengambil apa yang dia ingin ambil. Karena dia memang mengetahui sandi dari brangkas tersebut. Segera Zoya melipat kertas tersebut. Dan menyimpannya ke dalam saku.
Apa yang diinginkannya sudah dia dapat, Zoya keluar dari ruangan. "Sudah?" tanya sang sekertaris, melihat Zoya keluar dari ruangan pemilik perusahaan.
Zoya menaruh map berisi beberapa laporan dari divisi keuangan di atas meja kerja sang sekertaris. "Lama. Belum keluar juga dari tadi. Saya titip saja ya mbak." pinta Zoya memasang wajah lucunya.
"Ckk,,, kamu itu." decak sang sekertaris dengan mengangguk seraya tersenyum sempurna.
"Terimakasih. Zoya balik dulu." pamit Zoya meninggalkan meja sekertaris.
Zoya tersenyum miring, tidak melangkahkan kakinya ke ruangan kerja. Melainkan ruangan CCTV.
Tanpa permisi dan tanpa mengetuk pintu, Zoya membuka pintu ruang CCTV dari luar. Membuat dua orang yang bertugas langsung membalikkan badan, melihat siapa yang datang.
Keduanya sangat kenal siapa yang mendatangi ruangan kerja mereka. Tanpa berbasa-basi, Zoya langsung mengatakan apa yang dia inginkan.
"Hapus rekaman video di ruangan Tuan Darwin lima menit yang lalu. Sekarang." perintahnya seperti seorang boss.
Keduanya berdiri, dan ingin menyahuti apa yang Zoya katakan. Tapi Zoya kembali mengatakan sesuatu. Yang membuat mereka mau tak mau menuruti apa yang Zoya inginkan.
"Gue tahu, jika kalian tahu siapa dalang di balik kejadian malam itu. Ingat kejadian malam itu. Dimana gue hampir kehilangan nyawa. Gue akan tetap berpura-pura amnesia, jika kalian mau melakukan apa yang gue inginkan." ancam Zoya tersenyum miring.
Sejenak, keduanya saling pandang. Sama sekali tidak mengira akan mendapat ancaman dari satu-satunya karyawan yang selama ini selalu dipandang rendah dan remeh oleh karyawan lain.
__ADS_1
"Apa gue lapor saja ke polisi. Mengatakan jika kalian sengaja menghapus rekaman video, yang memperlihatkan Nona Milly. Selingkuhan boss kalian." tekan Zoya dengan gamblang.
Wajah keduanya pucat pasi. Tak mengira ada yang tahu skandal atasan mereka, selain mereka. "Benar dugaan gue. Mereka pasti tahu. Mata mereka ada di mana-mana." batin Zoya.
Mereka selalu memantau apa yang terjadi di perusahaan lewat kamera CCTV. Dan mustahil jika mereka tidak pernah melihat adegan mesra antara Milly dan Tuan Darwin.
"Jika gue melaporkan apa yang terjadi. Kalian pikir, Tuan Darwin akan membela kalian. Tentu saja tidak. Siapa kalian. Yanga ada, beliau malah membalikkan cerita. Jika kalian yang bersalah. Buktinya kalian yang menghapus rekaman CCTV tersebut." jelas Zoya, semakin menekan keduanya.
"Tapi kami disuruh." ungkap salah satu dari mereka.
Zoya tersenyum. Apa yang dia pikirkan tepat. Jika sang papa yang mengambil alih kejadian malam di mana Yaya ditemukan hampir tak bernyawa.
"Pantas saja, pihak berwajib juga memilih diam." batin Zoya.
"Oh ya,,,, di suruh. Mana buktinya?" Zoya mencebik seraya tersenyum remeh. "Ada. Perlihatkan buktinya, jika kalian memang disuruh Tuan Darwin." pinta Zoya.
Terdiam. Karena memang tak ada bukti yang memperlihatkan atau membuktikan jika Tuan Darwin menyuruh mereka berdua menghapus rekaman CCTV yang memperlihatkan beberepa bagian. Dimana ada Yaya dan Milly di video tersebut.
Zoya bersedekap dada. "Pilihan kalian hanya dua. Menuruti apa yang gue inginkan. Atau, over... Penjara menanti." ujar Zoya menakut-nakuti.
"Masa bodo. Gue nggak peduli. Siapa yang benar dan siapa yang salah." sahut Zoya.
Zoya menjeda kalimatnya sesaat. Sebelum kembali melanjutkannya. "Gue punya waktu banyak. Jawab sekarang. Ikuti apa yang gue mau. Atau kalian terima konsekuensinya." tegas Zoya.
Sungguh, keduanya tidak akan pernah mengira. Jika mereka ditekan dan diancam seorang karyawan yang selama ini diperlakukan tidak adil dan selalu dihina oleh karyawan lain.
"Jawab sekarang!!" tegas Zoya.
Keduanya saling bersitatap. "Baik. Apa yang mbak Zoya inginkan?" tanyanya.
"Bagus. Tenang saja. Ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan nyawa seseorang." ujar Zoya.
Karena memang apa yang Zoya lakukan sama sekali tidak membahayakan nyawa orang lain. Tapi akan membuat kehidupan beberepa orang berubah.
Kedua petugas tersebut kembali duduk di kursinya masing-masing. "Putar rekaman CCTV di ruang Tuan Darwin sekitar sepuluh menit yang lalu." pinta Zoya, melihat ke beberapa layar yang ada di depannya.
__ADS_1
"Ada berapa CCTV di ruangannya?" tanya Zoya.
"Tiga." sahut keduanya serempak.
"Berhenti. Hilangkan dimana gue terlihat mengambil sesuatu dari dalam brangkas." pinta Zoya.
Kedua petugas tersebut saling pandang. Tak segera melakukan apa yang Zoya katakan. "Kenapa kalian malah saling tatap. Lakukan. Tenang saja. Gue hanya mengambil berkas pekerjaan gue. Karena gue salah hitung. Nggak ada yang penting." tekan Zoya berbohong.
"Jika kalian tak percaya, lihat beberepa hari ke depan. Perusahaan akan tetap aman." sambung Zoya. Selain mengancam, Zoya juga perlu menyakinkan mereka berdua.
"Ckk,, jangan banyak berpikir. Gue nggak punya waktu banyak. Cepat kerjakan...!!" bentak Zoya tak ada takut-takutnya.
Salah satu dari mereka mengangguk sembari menatap rekannya. Dia seolah setuju mengabulkan permintaan Zoya.
Zoya tersenyum miring. "Milly,,,,! Elo pikir bisa menguasai harta papa gue. Tidak akan pernah." batin Zoya.
"Hilangkan video saat gue membuka brangkas. Satukan dengan rapi video yang telah kalian potong." pinta Zoya, menatap intens ke arah layar.
Zoya mengangguk puas dengan apa yang keduanya kerjakan. "Coba putar kembali." pinta Zoya, dia ingin video terlihat nyata, tanpa adanya potongan.
"Good job." Zoya menepuk kedua pundak laki-laki di depannya yang duduk di kursi.
Zoya sedikit menundukkan badannya. "Kumpulkan bukti perselingkuhan Milly dan Darwin. Gue yakin, video tersebut akan berguna untuk kita ke depannya." bisik Zoya.
Keduanya sontak secara bersamaan menatap ke arah Zoya dengan tatapan aneh dan curiga.
Zoya menangkap tangannya ke atas. "Bukan untuk memeras. Atau menginginkan uang. Tapi menjaga diri. Kalian tahukan, siapa Darwin. Serta kekuasaannya. Ingat, kalian telah melakukan beberepa kesalahan. Kalian membutuhkan sesuatu untuk melindungi diri." jelas Zoya.
"Tenang, gue hanya mengingatkan. Bukan menyuruh kalian melakukan hal yang tidak baik. Itung-itung rasa terimakasih, karena kalian telah menolong gue." ucap Zoya sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Zoya tersenyum samar meninggalkan ruangan tersebut. Otak liciknya sudah mulai merencanakan semuanya dengan baik.
''Gue nggak bisa menunggu kejelasan rencana gue di tempat tinggal Milly." batin Zoya.
Sebab, jika ternyata Milly dan sang papa benar-benar akan menikah sah secara hukum dan agama, rencana Zoya memperlakukan keduanya dengan mengusirnya dari rumah tersebut akan gagal.
__ADS_1