
...Part 9 meluncur...
...Jangan lupa dukungannya untuk MGT ya guys...
...Selamat membaca......
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...09...
Din....!
Caca terkejut bukan main ketika sebuah motor bergaya klasik dan terlihat mahal melewatinya begitu saja setelah membuatnya hampir copot jantung dengan bunyi klaksonnya. Ia mengelus dada tak habis pikir dengan anak orang kaya disini. Sialan memang anak orang kaya disini, nggak ada adab.
Oh,
Caca seperti mengenal aroma yang baru saja menyapa penghirupnya. Aroma lembut seperti bayi, namun tidak menghapus sisi maskulin yang melekat pada pribadi itu, dia...
Nolan?
Caca mempertajam pandangan pada sosok yang kini hampir berbelok ke kanan dan menghilang.
Kamu akan berada di kelas berbeda dengan Nolan, agar semuanya terlihat normal.
Ia mengangguk paham dengan strategi itu, lalu berjalan cepat tanpa mau memikirkan Nolan lagi. Ia hanya perlu datang ke ruang administrasi dan wali kelas akan mengantarnya masuk kelas.
Tak jauh beda dengan Nolan, Caca juga mengenal Nolan hanya dengan melihat punggung tegap anak muda dan aroma khas nya.
Memang, dari kebanyakan murid, Nolan terlihat paling menonjol. Alih-alih seperti murid SMA pada umumnya, Nolan memiliki bentuk tubuh yang lebih tinggi dan sempurna. Macam boyfriend material jaman now. Kulitnya putih bersih, rambutnya kecoklatan dengan undercut yang sangat pas dengan wajahnya tampan rupawan, tingginya sekitar 185cm, badannya padat berisi dan kekar, alisnya tebal, matanya jernih, hidungnya memiliki tulang yang tinggi, dan bibirnya berwarna sedikit kemerah mudaan. Caca yakin, Nolan adalah salah satu murid famous yang dipuja-puja seperti di novel online yang pernah ia baca.
Caca menggeleng ketika sebagian otaknya sudah mulai meng-unggulkan Nolan dari murid lain.
Tidak. Ini tidak boleh ia lakukan. Atau dia sendiri yang akan terjebak.
Fix. Nolan memang berbahaya.
Kaki jenjang berbalut Converse sedikit tinggi itu sampai didepan kantor administrasi sekolah. Caca mengintip dari pintu kaca yang masih tertutup. Hanya terlihat beberapa staff yang duduk didalam sana, dan Caca berniat akan mendorong pintu tersebut, namun sudah lebih dulu terbuka. Seseorang mendorongnya dari belakang, dan Caca begitu terkejut ketika mendapati siapa orangnya.
“Kamu?” kata Caca, pura-pura terkejut akan keberadaan Nolan di SMA ini. Aktingnya sudah bagus kan?
__ADS_1
“Kenapa?” sahut Nolan ketus lalu melewati Caca begitu saja, masuk kedalam kantor dan menemui salah seorang guru. Caca yang sedikit kesal mengerucutkan bibir, kemudian ikut masuk kesana.
Didalam ruangan, Caca bisa melihat tingkah Nolan. Murid laki-laki itu terlihat sok-sokan dan tidak peduli kepada guru yang sedang memberinya nasehat. Caca diminta menunggu sebentar, karena wali kelasnya belum datang. Jadi, jangan salahkan Caca jika dia mendengar apa yang sedang dibicarakan sepasang guru dan murid tengil itu.
“Kamu sudah kena skors dua kali dalam semester ini. Kamu tau, satu kali lagi kamu kena skors, kamu bakalan ngulangi lagi tahun depan.” cerca seorang guru perempuan yang terlihat tegas dan keras. Melihat wajahnya saja, Caca bisa tau jika guru itu...kejam. Tidak, bukan berarti memang seperti itu. Hanya penilaian Caca pribadi lho.
“Memangnya kamu mau tinggal kelas.”
“Ya nggak masalah sih, bu.”
Caca terkejut dengan jawaban yang dikatakan suara baritone yang berjarak tak lebih dari tiga meter itu. Caca memperhatikan gestur Nolan yang terlihat, eumm...santai?
Jika murid seperti dirinya dulu, pasti sudah panas dingin dan yakin semalam nggak kan bisa tidur jika sudah diberikan ancaman begitu. Tapi ini Nolan, dia sangat berbeda.
“Nolan,”
Tidak ada suara sahutan sebagai jawaban. Nolan hanya diam menatap si ibu guru yang masih memilih ceriwis menasehati anak didiknya yang bengal tapi kaya raya ini.
“Mungkin, orang lain diluar sana akan diam melihat tingkah dan sikap kamu yang seperti ini. Tapi ibu dan guru disini tidak akan diam saja, ibu peduli sama kamu makanya ibu selalu ngomel kayak gini agar kamu berubah.”
Caca belum mau memutus tatapannya pada Nolan dan Bu guru yang sedang bersitegang di arah sana.
“Saya nggak peduli, bu. Terima kasih ibu sudah mau peduli sama saya.” katanya, membuat mata Caca hampir menggelinding ke lantai sangking terkejutnya. Telapak tangannya sampai meremas ujung blazer yang sedang membungkus tubuh atasnya. Kepercayaan diri Caca tiba-tiba anjlok se-anjlok-anjloknya. Dia mendadak ingin mundur lagi. Dia takut mengecewakan Hendra.
Apanya yang peduli? Sama guru saja berani begitu, lalu bagaimana denganku?
“Nolan,”
“Bu. Saya disini bayar. Papa saya juga donatur utama disini, jadi saya bebas dan—”
“Ibu tau, kamu kaya. Ibu tau uang papa kamu banyak. Tapi itu nggak membuat ibu menyurutkan tujuan ibu untuk membuat kamu jadi murid disiplin. Ibu pingin kamu beru—”
“Saya nggak akan berubah.”
Setelah mengatakan itu, Nolan berjalan melewati Caca begitu saja—sekali lagi, lantas keluar ruangan dengan wajah dingin dan datar. Sedangkan guru wanita yang sebelumnya berbicara dengan Nolan, menatap sendu kepergian Nolan. Caca dapat melihat ketulusan dalam tatapan wanita tersebut. Lalu, Caca juga melihat bagaimana wanita itu menghela nafas dan duduk dengan wajah putus asa, seperti sangat tertekan. Ia melirik meja dan disana ada tulisan BK yang bertengger nyaman diatas mejanya. Mungkin ini sebuah tanggung jawab besar yang menyangkut nama baiknya. Mungkin juga sebuah keharusan bagi wanita itu untuk membuat murid-murid seperti Nolan tetap pada pengawasannya agar tetap berada di batas wajar seorang murid SMA.
Tak lama kemudian, seorang guru laki-laki mengejutkan Caca.
Caca mengaduh dalam hati, mengapa pagi ini banyak sekali yang mengejutkannya? Semoga dia tetap sehat sampai misi ini berhasil dan clear.
“Caca?” tanya pria yang terlihat berusia empat puluh tahunan itu sambil berjalan memutari meja dan meletakkan tas kerjanya di atas kursi.
“Ya, pak.”
__ADS_1
“Oh, baiklah. Tunggu sebentar ya. Setelah ini saya antar kamu ke kelas.”
Caca hanya mengangguk sebagai jawaban. Dunia barunya akan segera dimulai. Dia harus bersiap lebih tangguh dari apapun, karena yang akan dia hadapi bukan hanya pelajaran yang memusingkan sebagai bentuk akting sempurna, tapi tekanan batin dan mental dalam menghadapi Nolan. Si Borjuis yang keras kepalanya mengalahkan kepala banteng.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit untuk si bapak guru melakukan absensi kehadiran, akhirnya kini Caca berjalan mengekor dibelakangnya untuk menuju kelas barunya.
Tidak sedikit mata yang memperhatikan langkahnya dari balik jendela kaca yang terpasang setiap kelas. Meskipun mereka kini dalam sesi berdo'a menurut kepercayaan mereka masing-masing, mereka tidak ingin melewatkan Caca yang asing dimata mereka sedang berjalan sebagai murid baru.
Hingga sampai didepan sebuah kelas yang ternyata jauh dari dugaannya, Caca menatap heran dengan bahu jatuh dan mulut ternganga.
Gila. Ini kelas khusus untuk anak-anak dengan otak se-encer air keran kamar mandi rumah, tau!! Sial! Kenapa paman Hendra memilih kelas seberat IPA padaku?
Telapak tangan Caca mulai dingin dan basah. Ia akan kesulitan disini secara, dia dulu lebih memilih IPS. Dan sekarang?
“Caca, silahkan masuk.”
Semua sudah terlanjur dan tidak ada alasan dan jalan untuk mundur. Caca melangkahkan kakinya masuk sambil meremas dua tali tas punggungnya yang masih bertengger nyaman dibahu.
Bersama pak wali kelas, Caca berdiri di depan kelas dengan tatapan lurus dari calon teman-teman barunya itu. Ah, Caca ingin melempar dirinya sendiri ke kutub Utara. Suasana seperti ini tidak pernah ada dalam daftar hidupnya.
“Silahkan perkenalkan diri ke teman-teman baru mu.”
Caca tersenyum kaku dengan gerakan tak kalah kaku dari sebuah robot.
“Hai,” sapa caca sambil melambai sok akrab, kemudian tersenyum seramah dan selebar mungkin agar adik-adik imut itu tidak benci dan mem-bully-nya. “Perkenalkan, nama saya Clarita Winanda. Panggil saja Caca.” katanya, sengaja menjeda demi mengumpulkan beberapa kepercayaan dirinya yang luntur. “Mohon bantuan teman-teman selama saya belajar disini. Terima kasih.”
Perkenalan yang singkat, dan tidak muluk-muluk yang sudah di persiapkan Caca. Tapi, ada satu murid yang mulai membuat Caca kesal bukan main. Wajahnya dingin seperti Nolan, tapi terlihat lebih baik daripada milik Nolan, sih. Tapi ada beberapa bekas biru seperti bekas lebam, atau Caca hanya salah lihat.
“Minta bantuan? Apa itu artinya kamu bodoh?”[]
...—Bersambung—...
...💨💨💨...
...Curhat dikit. Abaikan jika nggak suka...😉...
Untuk visual Nolan, Othor nemunya di Twitter. Sumpah. Pas pertama kali lihat, kok Vibesnya pas banget loh kayak bayangan Othor pas mau bikin cerita ini. Dia kayak dingin dan sulit banget dideketin, tapi tatapannya lembut dan tulus gitu. Berhubung itu privasi, jadi Othor nggak mau spill fotonya. Tapi sebenernya pingin spill 😭
Kalian bisa bayangin aja wajah Nolan dengan visual yang kalian sukai.
Terus waktu nulis naskah, Othor lagi demen lagunya Mbak Taylor Swift. Cucok sama vibes Nolan. Coba tebak?
Aduh, bagaimana ini? Kok saya jadi bucin sendiri sama si Nolan ya...😂
__ADS_1
Maafkan Othor yang nggak jelas tiba-tiba cerita kek gini. Sekali lagi abaikan jika nggak suka sama curhatan Othor ya...
...Thanks....