Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Kepo


__ADS_3

...Part 14 ada...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...14...


“Seharusnya kamu nggak hindari dia, Ca.”


“Caca tau, Bu. Tapi Nolan itu menakutkan. Jadi Caca masih mempersiapkan diri, jaga-jaga jika nanti Nolan tiba-tiba membully Caca.”


“Kamu sudah nerima uang dari pak Hendra lho, jadi ini sudah jadi tanggung jawab kamu. Ini tugas dan kerjaan kamu membantu pak Hendra membuat Nolan jadi anak penurut seperti yang pak Hendra inginkan.”


Wajah menyesal Caca muncul. Dia tidak boleh menyerah, tapi berurusan dengan murid seperti Nolan, membutuhkan mental baja. Jemarinya mulai memainkan tepian kaos over size yang sedang ia kenakan. Jam menunjuk angka delapan malam, dan Caca mendadak lapar karena terlalu memikirkan banyak hal rumit.


“Intinya,” lanjut Bu Julia, masih belum mau menyudahi membahas tentang Nolan dan Caca. “Mulai besok, dekati Nolan. Jangan menghindarinya lagi. Dia itu target kerjaan kamu sekarang.”


“Iya, iya. Caca ngerti.” jawab Caca dengan nada mendumal kesal. Tekanan dari Bu Julia tidak main-main bebannya. “Caca lapar. Mau beli martabak manis.”


“Dimana?”


“Langganan caca.”


“Udah malem. Cari yang Deket aja.”


“Caca pinginnya disana, bu.”


Caca berdiri dan meraih jaket serta helm, masker dan kunci motor bututnya.


Terkadang, hidup itu butuh kesenangan dan hiburan agar tidak monoton. Contohnya seperti sekarang, berkendara malam hari begitu menyenangkan bagi Caca. Apalagi dia akan memakan makanan kesukaannya sebentar lagi.


Sesampainya di perempatan jalan yang akan membawanya ke deretan kedai pinggir jalan, Caca melihat sosok yang tak asing dimatanya. Siapa lagi kalau bukan si tengil Nolan.


Caca memperlambat laju motornya, menjaga jarak agar tetap aman dan tidak terlihat oleh Nolan jika dia berada di belakang motor si tengil itu. Mata Caca tak lepas menyorot punggung Nolan, hingga motor mahal pemuda itu berhenti di depan penjual martabak manis.

__ADS_1


Alih-alih memilih kedai yang ramai dan laris manis oleh pembeli, Nolan memilih kedai seberang yang sepi pembeli dan yang lebih mengejutkan bagi Caca, Nolan seperti sudah akrab dengan si penjual yang usianya terlihat tidak muda lagi itu.


“Bisa ya?” tanya Caca pada dirinya sendiri melihat keakraban Nolan dengan si penjual martabak. Aneh saja melihat pemandangan seperti itu. Nolan yang terkenal dingin disekolah, bahkan mendekatinya saja butuh nyali tinggi, tapi bisa akrab dengan rakyat biasa seperti mereka.


Cukup lama menunggu hingga Nolan beranjak dari sana, Caca sampai rela jika dirinya menjadi santapan nyamuk disini. Jiwa kepo nya meronta. Dia ingin tau mengapa Nolan bisa dekat ke mereka, dengan cara bertanya pada si empu yang bisa menjinakkan seorang bagundal kaya raya macam Nolan.


Menghilang dari pandangan, Caca menyalakan mesin motor dan berhenti didepan kedai sepi....eumm, bagaimana Caca memanggil mereka ya? Kakek nenek, atau bapak ibu?


Ah, sudahlah.


Caca mematikan mesin motor dan langsung mendapat sambutan dari mereka.


“Selamat malam nak. Mau pesan apa?” tanya wanita yang memakai kerudung dan wajahnya terlihat sedikit berkerut namun memancarkan semangat yang begitu tinggi. Caca iri melihatnya. Dia masih muda, tapi entah mengapa semangatnya tidak sebesar sepasang bapak ibu ini.


Caca tersenyum dan menatap tulisan menu yang ditempel di gerobak yang terlihat sudah tua dan lusuh. Tulisan menunya juga tidak semenarik penjual di seberang yang penjualnya memang masih muda dan pandai mendesign untuk menarik minat pembeli. Disini, semua terasa lebih melokal.


Harga dari menu disini juga tidak semahal di seberang. Caca sampai menengok kedua presensi yang menunggunya menyebutkan pesanan. Tiba-tiba terbesit rasa iba melihat usaha mereka yang sepi seperti ini.


“Saya pesan, martabak manis yang... spesial bu.”


Si ibu lantas tersenyum dan mempersilahkan Caca duduk sembari menunggu pesanannya jadi.


“Bu, saya boleh tanya tidak?”


“Boleh. Memangnya mau tanya apa neng cantik?”


Caca melepas jaketnya dan meletakkannya diatas pangkuan. Telapak tangannya berubah dingin dan basah. Caca ragu.


“Tadi, yang baru saja beli disini, apa sering datang?”


Si ibu tersenyum. “Oh, nak Nolan?”


Bahkan si ibu tau namanya? Nolan deket banget sama mereka ya?


Caca membatin, tapi kepalanya memberikan respon pertanyaan di ibu dengan anggukan kepala. “I-iya bu?” tanya Caca dengan gelagat sok nggak kenal.


“Neng temannya nak Nolan?” kini si bapak ikut nimbrung ke dalam pembicaraan dua wanita beda usia itu.


Apa yang harus Caca katakan. Dia takut nanti si bapak penjual ini akan memberitahukan perihal pertanyaan ini kepada Nolan.

__ADS_1


“Bu-bukan sih pak. Cuma saya sering lewat sini, kok saya juga sering lihat dia mampir kesini.” jawabnya asal. Asal modusnya tidak terbongkar, maksudnya.


Si ibu tersenyum hangat. “Nak Nolan memang sering beli disini neng. Dia orangnya baik banget loh.” kata si ibu dengan logat sedikit kesunda-an. “Dia juga sering ngasih uang lebih dan nggak mau ngambil kembaliannya dari kami.”


Caca terbelalak. Sebaik itukah Nolan? Yang ia tau selama beberapa hari terakhir, Nolan orangnya sombong dan nggak peduli sama sekitar. Atau, itu hanya asumsi saja dari mereka yang memandang strata?


Bibir Caca membentuk huruf O mendengar semua itu. Bahkan ada sepercik rasa sesal sudah menganggap Nolan nggak baik selama mengenalnya. Ternyata benar paman Hendra, Nolan itu sebenarnya anak yang baik, tapi karena alasan yang masih dirahasiakan oleh Hendra, Caca seolah menutup mata dengan kenyataan.


“Dagangan kami sepi neng cantik, tapi nak Nolan selalu datang dan membeli di tempat kami.” tutur si ibu yang kini membuat hati Caca seperti di remas. Didepan matanya, adalah orang yang berjuang memenuhi sandang pangan mereka. Seketika rasa iba itu berubah menjadi rasa kagum. “Kami bersyukur ada orang sebaik dia.”


Si ibu mengangkat adonan martabak yang sudah matang dari cetakan, lantas meletakkannya diatas tempat yang sudah dipersiapkan dan mulai memberi mentega dan juga meses coklat yang cukup banyak. Terlihat cukup menggiurkan bagi pecinta coklat seperti Caca.


“Selain baik, dia juga orangnya ramah.” tambah si bapak yang sekarang mengambil duduk di sebuah tempat rebahan yang terbuat dari bambu. “Ganteng banget lagi. Saya jadi ingat anak di kampung kalau lihat dia.”


“Huss! Jono nggak seganteng Nolan, pak.”


Mendengar itu, Caca menahan senyum dan lebih memilih memakai lagi jaketnya, lalu mengeluarkan selembar uang ratusan ribu hendak membayar karena si ibu sudah memotong dan memasukkan martabak manis pesanan Caca ke dalam kardus putih polos tanpa logo kedai seperti yang biasa ia dapatkan ketika membeli di seberang.


“Ya, namanya juga bapaknya, Bu. Terus, mana mau Jono di bilang jelek? Yang ada bapak kena sembur.”


Kali ini Caca tersenyum Interaksi mereka diusia tua masih begitu hangat. Caca iri melihatnya. Andai ibu dan ayahnya seperti itu.


“Ini neng,” kata si ibu, tersenyum sembari mengulurkan kotak yang sudah di masukkan kedalam kantong keresek kepada Caca. “Uang pas saja ya neng. Ibu nggak ada kembalian, belum laku. Baru neng cantik sama nak Nolan tadi.”


Caca mengulurkan uang yang sudah dia persiapkan, lalu berkata. “Kembaliannya buat ibu sama bapak saja ya. Lain kali saya juga akan datang kesini lagi.”


Ibu penjual itu mengangguk dan mengantar kepergian Caca dengan tatapan yang begitu sendu. “Terima kasih ya nak. Semoga rezeki kamu semakin lancar dan cepat di pertemukan sama jodoh yang juga baik kayak neng.”


“Amin.”


Setelah itu, Caca memilih pulang. Rasa kepo nya sudah terpenuhi, dan sekarang dia tau jika Nolan tidak seburuk yang ia bayangkan. Dia juga tidak sejahat yang dikatakan Leo.


Mengingat semua ucapan bapak juga ibu penjual martabak langganan Nolan, dan menghubungkan dengan terkaannya kepada anak itu, Caca jadi ingat satu peribahasa yang sering ia dengar dulu ketika masih duduk di bangku SMA dalam tanda kutip yang sebenarnya.


Don't judge book from the cover.


Ya, jangan menilai baik buruk seseorang hanya dengan melihat penampilan mereka. Karena penampilan bisa menipu.[]


...°°°°Bersambung°°°°...

__ADS_1


__ADS_2