Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Galau


__ADS_3

...Part 7 meluncur...


...Jangan lupa untuk terus memberi dukungan kepada Me Gustas Tu dengan cara Like, komentar, favorit, dan juga berikan Vote dan hadiahnya jika berkenan....


...Terima kasih......


...SELAMAT MEMBACA...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...07...


“Ketemu lagi, 'kan? Sepertinya Tuhan sedang tidak berpihak padamu, nona?”


Caca meremas telapak tangannya yang bebas. Ia merasa terancam dengan keberadaan Nolan mengingat dia sudah mempermainkan pemuda didepannya ini. Mungkin, Nolan tidak tau siapa dirinya, tapi Caca tau siapa Nolan. Hampir semua kehidupan masa lalu Nolan Caca tau.


Berusaha tenang, Caca menenangkan degup jantung nya yang sempat kacau karena begitu tidak menduga pertemuannya dengan Nolan secepat ini. Tapi Caca juga nggak bisa lagi lari karena sepertinya Nolan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Jadi, Caca hanya perlu berakting lupa ingatan dan tidak mengenal Nolan.


“Maaf, kamu siapa?” kata Caca pada akhirnya. Dia berusaha setenang mungkin mengatakan itu agar Nolan tidak curiga.


Dan benar saja, wajah ramah Nolan yang tadi terpampang nyata, kini berubah seram. Ekspresi datar di wajahnya mencuat ke permukaan. “Lo sedang berpura-pura lupa ke gue, kan?”


Caca mengerut. Apa pemuda ini bisa membaca pikiran orang? Begitu pikir Caca dalam hati, dan pertanyaan Nolan itu sukses membuat Caca kalah telak dan membuang muka ke arah lain dengan tawa aneh yang dibuat-buat. “Aku memang nggak kenal sama kamu. Jadi, kalau kita pernah bertemu atau bertegur sapa, tolong ingatkan aku lebih detail dimana dan kapan kita pernah bertemu.”


“Oh my God. Bodoh! Kenapa nggak lari aja sih kamu Ca?” rutuk Caca dalam hati sembari mengimajinasikan dirinya yang memejam dengan ekspresi meringis.


“Balapan, lintas timur, jam sebelas tiga puluh malam, parit, nomor palsu, Caca....begini detail yang kamu maksud?”


“Sial. Dia mengingat setiap detail kejadian itu.” kali ini Caca mengumpat dalam hatidengam ekspresi wajah sebal, dalam imajinasi. “Ahahahah, jadi kamu yang malam itu?” tanya Caca seperti orang bodoh, dan Nolan menanggapinya santai dengan sebuah anggukan, kedikan bahu dan bibir melengkung.


“Yup.” jawabnya mantab.


“Jadi, kamu mau apalagi sekarang?” tanya Caca sembari menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan sekitar. Saat ini, mereka menjadi perhatian banyak orang dan Caca merasa sangat malu.


Nolan melepas genggaman tangannya dari pergelangan tangan Caca, lalu merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel mahal berkelas miliknya.


“Berapa nomor ponsel Lo?” tanya Nolan menatap tajam ke arah pupil mata coklat milik Caca.


Seketika, tubuh Caca menegang. Rupa-rupanya pemuda ini belum menyerah dengan nomor ponsel miliknya. Bukannya menerima ponsel tersebut, Caca malah menggigit bibirnya sendiri. Dia benar-benar merasa terpojok, tidak ada jalan keluar selain memberikan nomor ponselnya untuk si begundal satu ini. Toh, dia juga akan sering ketemu dia nantinya.


Caca menerima ponsel yang sudah dinyalakan tersebut dari tangan si pemilik, kemudian mengetik nomor asli miliknya tanpa rasa ragu lagi. Lantas mengembalikannya kepada Nolan.


Sedangkan di kubu Nolan, dia yang sudah pernah dibohongi oleh Caca tidak percaya begitu saja. Di tatapnya nomor tersebut dan mencatat setiap detail nomor dalam memorinya, lalu menekan tombol hijau untuk menghubungi.


Terkejut akan apa yang sedang dilakukan Nolan, Caca berusaha menghentikan aksi si nekat ini dengan menarik lengan berbalut jaket hitam itu.


“Mau ngapain? Aku nggak bawa hape.” kata Caca yang sama sekali tidak digubris oleh Nolan. Dan mata Caca semakin membola ketika Nolan mengerutkan kening dan suara seseorang diseberang terdengar samar meskipun bercampur suara kendaraan yang sedang berlalu lalang. Caca yakin itu suara ibunya.


“Halo,”

__ADS_1


Nolan menatapnya.


“Halo?” kata bu Julia sekali lagi karena tidak mendapat sahutan apapun dari Nolan.


“Ah, iya. Caca nya ada?”


“Ini siapa?”


Nolan tersenyum disudut bibir, kemudian menjawab. “Saya orang yang membuat Caca jatuh dari motor beberapa hari lalu.”


“Oh, Caca lagi keluar sebentar. Nanti saja dihubungi lagi.”


“Oh, baiklah. Terima kasih bibi. Nanti saya hubungi lagi. Selamat malam.”


“Selamat malam.”


Nolan mengakhiri panggilan dan kembali menatap Caca.


“Thanks.”


Setelah mengatakan itu, Nolan pergi begitu saja. Dia tidak ingin martabaknya disana berubah dingin hanya karena terlalu lama bersama Caca disini. Sedangkan Caca hanya mampu menatap punggung Nolan yang semakin jauh meninggalkan dirinya.


Sebuah nafas besar terembus dari hidungnya, dia benar-benar sudah tidak bisa lepas sekarang. Bahkan Nolan sendiri sekarang sudah memiliki nomor ponselnya.


“Oke Ca. Mari kita mulai permainan aneh ini.”


***


Hendra sudah menunggu Caca di sebuah kedai makanan atas permintaan Caca. Kedai sederhana yang cocok untuk kalangan menengah bawah, dan Caca tidak tau jika Hendra adalah orang yang tidak seharusnya ia ajak duduk di meja kayu panjang yang membaur bersama masyarakat lain.


Tidak lama menunggu, Hendra melihat Caca datang terburu-buru masih dengan seragam kerja dan langkahnya yang sedikit terseok. Melihat kedatangan Caca, Hendra tersenyum dan mengangkat lengannya setinggi kepala untuk memberi tau keberadaannya kepada Caca.


Hendra, meskipun usianya yang sudah lewat setengah abad, masih mampu menarik perhatian setiap mata yang memandang. Dia terlalu bersinar. Semua orang tau jika yang melekat pada tubuh pria itu bukanlah barang murahan.


Caca mempercepat langkah dan mendekat kepada Hendra.


“Maaf saya telat, paman.” katanya meminta maklum.


“Nggak apa-apa. Saya juga baru sampai.”


Caca meletakkan tas punggungnya di tempat kosong disampingnya, lalu menoleh kebelakang, ke arah jalan raya dan mencari tau bagaimana cara paman super perfect ini datang ke sini.


“Paman datang sendiri?” tanya Caca ketika tidak mendapati apapun, termasuk mobil mercy yang saat itu dikendarai Hendra.


Hendra lagi-lagi tersenyum. Berada disekitar Caca itu menyenangkan bagi Hendra. Gadis ini polos, apa adanya, dan punya aura berbeda yang membuat hati tenang.


“Tidak. Saya datang bersama seseorang. Tapi saya suruh pergi dulu, dan nanti saya hubungi kalau sudah selesai.”


Caca mengangguk paham. Ia tau siapa yang dimaksud paman Hendra ini. Tidak mungkin orang seperti Hendra datang tanpa supir dan pengawalan. Mungkin kali ini Hendra hanya ingin menghargai Caca. Ya, Caca tau itu.


“Jadi, ada apa kamu ngajak bertemu saya, nak Caca?”


Selain berwibawa, Hendra juga selalu ramah dan sopan kepada Caca.


“Saya...saya kemarin malam bertemu putra paman.”

__ADS_1


Hendra sempat terkejut. Semalam, adalah hari yang entah keberapa mereka berdua beradu argumen. Nolan selalu kerasa kepala dan lari setelah merasa tidak cocok dengan Hendra tanpa mau bicara lebih jauh. Sedangkan Hendra tidak bisa mencegah apalagi menghentikan Nolan ketika putranya itu memilih pergi dan menghindarinya.


“Kamu bertemu Nolan? Lalu?”


“Saya jadi galau paman.”


Seketika itu Hendra menyemburkan tawa cukup keras karena ucapan Caca hingga menarik perhatian beberapa pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka. Dan Hendra segera membungkuk sebagai permohonan maaf telah membuat mereka terkejut.


“Galau kenapa? Apa karena putra paman itu sangat tampan?” tanya Hendra menghida.


“Bukan bukan, bukan karena itu.” sanggah Caca karena memang bukan itu yang terjadi.


“Nolan nggak akan peduli sama pertemuan kalian. Paman tau sikap Nolan yang satu itu.”


“Masalahnya, Nolan punya nomor ponsel saya, paman.”


Hendra lagi-lagi dibuat terkesima. Baru kali ini dia mendengar Nolan meminta nomor hape seorang wanita. Selama ini putra nya itu cuek dan nggak pernah mau ikut campur atau ingin tau tentang hidup orang lain, apalagi seorang wanita. Tapi Caca?


Wow, ini adalah amazing.


Hendra mengedip cepat dengan wajah 'syok' nya.


“Nolan minta nomor kamu?”


Caca mengangguk sembari menatap manik mata Hendra tanpa terputus. “Ya. Pertama, waktu kejadian nahas malam itu, dia bilang dia ingin bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi malam itu saya kasih nomor palsu karena saya tidak mau memperpanjang masalah dan menganggap semuanya sudah selesai. Lalu pertemuan kami semalam, saya tidak lagi bisa memberi nomor palsu padanya. Dia bahkan membuktikan itu langsung didepan saya.”


Hendra tergagap. Dia tidak tau mau bicara apa. Caca ini terlalu....


Ah, semoga rencananya kali ini berhasil.


Hendra tersenyum dan mengusap pundak Caca.


“Saya percayakan tugas ini sama kamu ya?”


“Ini yang mau saya bicarakan dengan paman. Alasan saya mengajak paman bertemu adalah untuk membicarakan hal ini.”


“Memangnya kenapa?” tanya Hendra menelisik. “Kamu berubah pikiran?”


Caca tertunduk. Percakapan mereka terhenti ketika seorang pramusaji wanita membawa beberapa mangkuk dalam nampan berisi menu yang selama ini ingin Caca coba, yang tanpa sengaja dipesan oleh Hendra.


Mata Caca berbinar melihat satu persatu makanan dihidangkan di atas meja.


“Paman sudah pesan?”


Hendra mengangguk. “Ya. Saya pesan menu andalan disini. Katanya banyak yang suka. Kamu suka nggak? kalau enggak saya pesankan yang lain.”


“Tidak tidak.” kata Caca sambil mengibaskan telapak tangan didepan wajahnya. Siapa yang mau menolak menu dengan harga seratus lima puluh ribu sepiring itu? Bagi Caca, dengan uang segitu mending dibuat beli beras lima kiloan dua karung biar ibunya senang, dan perut tidak terancam kelaparan. Kalau dapat gratis begini, ya...dia nggak bakalan nolak. “Ini Caca juga mau kok.”


Entah mengapa, bersama Caca Hendra tidak ingin berhenti tersenyum. Giginya sampai terasa kering.


“Ya sudah. Makan dulu biar perut kenyang.” kata Hendra membuat hati Caca menghangat. Dia merasa nyaman karena sudah lama tidak mendapat perhatian dari sosok ayah. “Biar otaknya juga kerjanya baik. Biar kamu nggak galau lagi.”


Wajah Caca memerah karena malu. Dia merasa bodoh sudah mengatakan hal konyol kepada Hendra.


“Sebenarnya bukan galau sih paman,” katanya mencoba memberi pembelaan agar tidak terlalu malu. “Saya hanya takut tidak bisa bekerja dengan baik seperti yang paman inginkan. Saya takut gagal, dan identitas saya terbongkar dengan cara memalukan didepan umum.” lanjutnya gusar. “Saya takut itu terjadi, karena Nolan...mungkin tidak akan peduli dengan itu. Nolan tidak akan peduli dengan saya.”[]

__ADS_1


...—Bersambung—...


__ADS_2